Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Fajar baru saja menyingsing, menyisakan semburat kelabu di kaki langit ketika Dante Volkov meninggalkan kediamannya. Urusan mendesak di pelabuhan terkait pengiriman kargo ilegal yang disita otoritas memaksanya bergerak lebih awal. Ia sempat menatap Alana yang masih terlelap dalam posisi meringkuk, jejak-jejak kelelahan masih membekas jelas di wajah cantiknya. Dengan satu kecupan singkat yang hampir tak terasa di kening istrinya, sang Predator pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam mansion.
Satu jam setelah kepergian Dante, kesunyian itu pecah oleh suara erangan tertahan.
Alana terbangun bukan karena alarm atau sinar matahari, melainkan karena gelombang mual yang naik secara paksa dari ulu hatinya menuju kerongkongan. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas perutnya dengan kasar. Wajahnya yang semula merah muda karena hangatnya selimut, seketika berubah menjadi pucat pasi, hampir seputih sprei sutra yang ia gunakan.
"Ugh... hoek..."
Alana menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Ia mencoba menelan ludahnya, namun rasa asam yang pahit justru semakin mendesak. Tanpa sempat mengenakan jubah mandi, Alana melompat dari ranjang. Rasa nyeri di paha dan panggulnya akibat pergulatan beringas semalam sempat membuatnya terhuyung, namun dorongan dari dalam perutnya jauh lebih mendesak.
Ia berlari tertatih menuju kamar mandi, kakinya yang telanjang menapak dingin di atas lantai marmer. Begitu sampai di depan wastafel marmer hitam yang mewah, Alana berlutut dengan lemas.
"Hoekk! Hoek..."
Ia memuntahkan cairan bening dan asam karena perutnya memang kosong sejak semalam. Tubuhnya berguncang hebat setiap kali ia memuntahkan isi perutnya. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, membasahi helai-helai rambut yang menempel di pipinya yang tirus. Rasa mual itu datang bergelombang, seolah tidak memberi Alana kesempatan untuk sekadar menghirup oksigen.
"Dante... t-tolong..." bisiknya parau di sela-sela muntahannya, meski ia tahu pria itu tidak ada di sana.
Setelah hampir lima belas menit tersiksa di lantai kamar mandi, Alana merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis. Ia merasa sangat ringan, kepalanya berputar-putar dalam vertigo yang menyiksa. Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia jatuh kembali ke lantai dingin, napasnya memburu, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.
Ia menyadari bahwa ia butuh bantuan. Namun, bel darurat untuk memanggil pelayan atau Arthur terletak di nakas, tepat di samping ranjang besar yang kini terasa berkilo-kilometer jauhnya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Alana mulai merangkak. Pemandangan itu sungguh memilukan; seorang wanita cantik, istri dari pria paling berkuasa di kota ini, merangkak di atas lantai marmer yang dingin dengan tubuh yang gemetar hebat. Setiap inci gerakan terasa seperti siksaan bagi otot-ototnya yang sudah remuk.
"Sedikit lagi... hnggh..." Alana merintih. Ia menyeret tubuhnya melewati pintu kamar mandi, masuk kembali ke area kamar yang luas. Gaun tidur sutra putihnya menyapu lantai, menjadi kusam oleh keringat dan debu halus.
Tangannya yang mungil dan pucat menggapai pinggiran ranjang, mencoba menarik tubuhnya naik. Butuh waktu beberapa menit bagi Alana hanya untuk bisa mencapai posisi duduk di tepi kasur. Dengan napas yang putus-putus, ia mengulurkan tangan yang gemetar ke arah tombol bel perak di atas nakas.
Ting! Ting! Ting!
Alana menekan tombol itu berkali-kali dengan gerakan panik sebelum akhirnya tubuhnya terkulai lemas di atas tumpukan bantal. Pandangannya menggelap, dan hal terakhir yang ia dengar adalah suara pintu kamar yang terbuka dengan kasar serta suara teriakan Arthur yang panik.
"Nyonya! Nyonya Alana!"
***
Di sisi lain kota, di tengah rapat yang tegang dengan para petinggi organisasinya, Dante Volkov tiba-tiba merasakan dadanya berdenyut aneh. Ia terdiam di tengah kalimatnya, membuat seluruh anak buahnya menahan napas ketakutan. Dante meraba saku jasnya, mengambil ponsel pribadinya yang terhubung dengan sistem keamanan internal mansion.
Ia melihat notifikasi darurat dari kamar utamanya.
Wajah Dante yang biasanya tanpa ekspresi kini mengeras. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada para mitra bisnisnya, ia berdiri, menyambar senjatanya, dan keluar dari ruangan dengan langkah yang menggetarkan lantai. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun insting predatornya mengatakan bahwa mawar kecilnya sedang dalam bahaya—sebuah bahaya yang tidak bisa ia lawan dengan peluru atau kekuasaan, melainkan sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahim istrinya.
Sama klau bisa request yg dominan cewenyabdongggg
kecewa😔😔😔