Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
“Nay?” panggil Citra pelan.
Naya menoleh. “Kenapa?”
“Lo… udah baikan?” tanya Citra ragu.
Naya mengangguk kecil. “Udah, Ra. Eh, Bu Tia tadi masuk kelas nggak?”
“Nggak, Nay. Cuma ngasih tugas doang,” jawab Citra, lalu terdiam sejenak. “Nay…”
“Sorry,” Citra buru-buru.
Naya tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Ra. Kalau lo jadian sama kakak gue juga silakan aja. Gue nggak bakal bocorin ke Mommy.”
Citra melongo. “Lo nggak marah?”
Naya menggeleng. “Enggak.”
Bel pulang akhirnya berbunyi. Citra dan Naya melangkah keluar kelas barengan. Di parkiran, Reno dan Kenzo sudah menunggu.
Reno menoleh ke Kenzo. “Nitip adek gue.”
Kenzo menaikkan alis. “Kayak barang aja.”
“Udah deh, anterin bimbel sono,” Reno melirik jam.
“Gila lo,” Kenzo terkekeh.
Reno pergi lebih dulu bersama Citra.
Naya masuk ke mobil Kenzo dan duduk di kursi depan. Kenzo menyalakan mesin lalu melirik ke samping.
“Kemana dulu?” tanya Kenzo.
“Makan dulu nggak sih?” jawab Naya santai.
Kenzo tersenyum miring. “Baik, tuan putri.”
Naya terkekeh kecil.
Sampai di restoran, Kenzo memarkir mobil di area parkir yang agak sepi. Mesin dimatikan, suasana mendadak hening.
Kenzo membuka kancing seragam sekolahnya di dalam mobil. Refleks, Naya langsung menutup mata dengan kedua tangan.
“Ngapain nutup mata?” Kenzo menoleh sambil setengah senyum.
“Yaelah,” Naya manyun. “Refleks.”
Kenzo terkekeh pelan. “Gue double T-shirt, Nay. Tenang aja.”
“Bilang dong dari tadi,” Naya mengintip sedikit, lalu menurunkan tangannya. “Gue kira—”
“Kira gue apaan?” Kenzo mendekat dikit, nada suaranya sengaja direndahin.
“Enggak apa-apa,” Naya cepat memalingkan wajah. “PD amat.”
Kenzo menyeringai sambil melepas seragamnya, tinggal kaos hitam di dalam.
“Lo lucu kalo panik gitu.”
“Berisik,” Naya nyengir tipis tapi pipinya hangat.
Sebelum turun, Kenzo membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kaos hitam polos.
“Pake ini,” katanya sambil menyerahkan ke Naya.
Naya menatap kaos itu. “Hah?”
“Biar nggak pake seragam sekolah,” jawab Kenzo santai. “Ntar banyak yang liat.”
Naya mendengus kecil, tapi tetap menerima kaos itu. “Kegedean tau.”
“Bagus,” Kenzo tersenyum. “Jadi keliatan kecil.”
“Apaan sih,” Naya memutar mata, lalu cepat-cepat melepas jaket seragamnya dan mengenakan kaos Kenzo di atasnya. Kaos itu memang kebesaran, menutupi sebagian rok yang ia pakai.
Kenzo melirik sekilas, lalu cepat mengalihkan pandangan. “Udah?”
Naya mengangguk. “Udah.”
“Yaudah, turun. Laper kan,” kata Kenzo sambil membuka pintu.
Naya ikut turun dari mobil, tanpa sadar kaos Kenzo itu masih menyisakan wangi khas pemiliknya—dan bikin jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Kenzo meraih jaketnya. “Ayo turun sebelum lo makin salah fokus.”
Naya mendengus kecil sambil membuka pintu mobil.
Dalam hati, dia nyadar satu hal—
kenapa hal receh kayak gini aja bisa bikin deg-degan sih?
Reno menarik pergelangan tangan Citra pelan sampai Citra duduk di sofa di sebelahnya.
“Duduk,” ulang Reno, suaranya rendah tapi nggak kasar.
Citra menoleh. Tatapan mereka ketemu—agak canggung, agak hangat. Citra reflek menurunkan pandangan, jemarinya meremas ujung baju.
“Kenapa sih dari tadi lo liatin gue mulu?” Citra akhirnya buka suara, setengah bercanda.
Reno tersenyum tipis. “Rumah lo… isinya lo semua.”
Ia mengangguk ke arah rak piala. “Dari kecil udah ambisius ya.”
Citra nyengir. “Dipaksa juga sih. Bokap nyokap perfeksionis.”
Reno mengangguk pelan. “Mirip.”
“Hah?” Citra menoleh cepat
“Nyokap gue juga,” Reno menyandarkan punggung ke sofa. “Bedanya… adek gue yang kena paling banyak.”
Citra terdiam sebentar. “Naya?”
“Iya.” Reno menghela napas. “Makanya gue protektif.”
Sunyi sebentar. Angin dari jendela masuk, tirai bergerak pelan. Citra melirik Reno dari samping.
“Makanya lo jutek ke cowok-cowok yang deketin dia?” tanyanya hati-hati.
Reno terkekeh kecil. “Salah satunya.”
“Termasuk Kenzo?” Citra mengangkat alis.
Reno melirik ke arahnya. “Kenzo beda. Gue kenal dia lama.”
Citra mengangguk pelan. “Dia keliatan nakal, tapi perhatian.”
Reno tersenyum samar. “Lo jeli.”
Citra tersenyum balik. Jarak mereka nggak jauh, tapi cukup bikin jantung Citra berdetak lebih cepat. Reno meraih gelas es jeruknya, minum sedikit.
“Ra,” panggil Reno pelan.
“Hm?”
“Makasih ya,” kata Reno, tulus. “Udah jagain adek gue… yang ribet.”
Citra terkekeh. “Itu karena gue sayang sama Naya.”
Reno menatapnya lebih lama dari sebelumnya. “Gue tau.”
Hening lagi. Tapi kali ini nggak canggung—lebih ke nyaman yang aneh. Reno menggeser duduknya sedikit lebih dekat.
“Lo nggak keberatan kan… kalo gue deket sama lo?” tanyanya, lebih jujur dari biasanya.
Citra menelan ludah, lalu menggeleng. “Kalo gue keberatan, gue nggak bakal ajak lo naik ke sini.”
Reno tersenyum. Hangat. Bukan sok jago.
Di luar, suara air kolam beriak pelan.
Dan tanpa disadari, sore itu berubah jadi sesuatu yang… mulai berarti.
Reno menatap Citra beberapa detik lebih lama. Tangannya yang tadi bertumpu di sandaran sofa perlahan naik, berhenti di pipi Citra—ragu, tapi niatnya jelas.
“Ra…” panggilnya pelan, seolah minta izin.
Citra nggak langsung jawab. Napasnya sedikit tercekat, tapi dia nggak menjauh. Matanya terangkat, bertemu mata Reno, lalu… mengangguk kecil.
Reno mendekat. Pelan. Hati-hati.
Bibir mereka bertemu—singkat, ringan, nyaris cuma sentuhan. Bukan ciuman yang terburu-buru, lebih ke kecupan yang penuh perasaan.
Citra terdiam beberapa detik setelahnya, matanya membesar sedikit. Reno juga membeku, lalu buru-buru menarik wajahnya menjauh.
“Gue—” Reno menghela napas, agak gugup.
“Maaf. Kalau lo nggak nyaman—”
Citra buru-buru menggeleng. “Enggak.”
Lalu, dengan suara lebih kecil, dia nambah, “Cuma… kaget aja.”
Reno tersenyum, lega. “Gue juga.”
Citra menunduk, pipinya memanas. “Jangan bilang siapa-siapa ya.”
Reno tertawa kecil. “Rahasia kita.”
Mereka duduk berdampingan lagi. Jaraknya masih dekat, tapi kali ini beda—ada sesuatu yang baru, pelan-pelan tumbuh, dan sama-sama mereka rasakan.
Reno mengangkat tangannya lagi, kali ini lebih yakin. Ibu jarinya mengusap pipi Citra dengan gerakan pelan, seolah takut merusak momen. Citra menahan napas, matanya setengah terpejam.
Reno mendekat sampai kening mereka bersentuhan. Hangat. Dekat. Sunyi di antara mereka terasa nyaman, bukan canggung.
Mereka diam lagi. Nafas saling bertemu, detak jantung sama-sama terasa cepat. Reno mencium bibir citra dengan lembut menarik citra lebih dekat lagi.
Kenzo mengantar Naya ke tempat bimbel. Mobil berhenti di pinggir jalan.
“Masih lima belas menit. Nunggu di sini aja deh,” kata Naya sambil melirik jam di ponselnya.
Kenzo mengangguk santai. Ia merogoh saku jaket, mengeluarkan rokok, menyelipkannya di bibir, lalu membuka setengah jendela mobil.
Tangannya sudah siap menyalakan pematik.
Belum sempat api menyala, Naya sigap merebut pematik itu.
“Jangan ngerokok. Aku nggak suka,” katanya cepat.
Kenzo menoleh, alisnya terangkat. “Yaudah, sini.”
Ia mengulurkan tangan, tapi Naya langsung menyembunyikan pematik di balik punggung.
“Eits, nggak kena,” ucap Naya dengan nada menang, bibirnya nyengir tipis.
Detik berikutnya terjadi begitu cepat. Kenzo bergerak, menarik Naya ke arahnya dengan mudah, lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuannya.
Kenzo menyeringai tipis melihat reaksi Naya yang refleks memeluk lehernya supaya nggak jatuh.
“Kenzo!” Naya kaget, setengah marah setengah panik.
“Turunin!”
“Tenang,” ucapnya rendah. “Gue pegang.”ujar Kenzo santai, satu tangannya menahan pinggang Naya biar seimbang. “Gue nggak ngerokok kalo lo nggak suka.”
Kenzo terkekeh rendah. “Gak dapet pematiknya,” katanya dekat sekali, “gue dapet yang megangnya.”
Naya terdiam, jantungnya langsung berisik. Wajah mereka terlalu dekat, napas Kenzo hangat di pipinya.
“Lo curang,” gumam Naya pelan.
“Strategi,” balas Kenzo santai.
“Lain kali jangan sok jahil,” katanya sambil tersenyum kecil.
Kenzo mengambil rokoknya, mematahkannya, lalu menaruhnya di cup holder. Jendela ditutup kembali.
Kenzo cuma nyengir tipis. Tangannya melingkar di pinggang Naya, menahannya supaya nggak jatuh.
Naya diam. Tubuhnya kaku, tapi detak jantungnya justru makin kencang. Jarak mereka terlalu dekat. Dada Kenzo tepat di depan wajahnya. Wangi parfum dan sabun mandi Kenzo bikin kepala Naya agak pusing.
Kenzo menarik Naya lebih dekat, bukan kasar—
pelukan.
Hangat. Aman. Tapi berbahaya.
Kepala Naya tanpa sadar bersandar di bahu Kenzo. Beberapa detik mereka cuma diam, dengerin suara hujan tipis di luar mobil dan napas masing-masing yang belum juga tenang.
Naya menelan ludah. Tangannya masih mencengkeram jaket Kenzo, tapi sekarang bukan karena kaget—
karena nggak mau dilepas.
‘Kok bisa-bisanya gue betah dipeluk cowok kayak gini…’ batin Naya.
Pelukan itu bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Jarang-jarang ada yang bisa bikin gue nurut.”
Naya menatapnya sebentar, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Jantungnya lagi-lagi nggak bisa diajak kompromi.
“Udah,” katanya akhirnya. “Turunin. Orang bisa liat.”
"Nggak akan, kaca mobil gue gak tembus dari luar"
“Lima belas menit doang kok.”
Kenzo lalu menurunkannya pelan ke kursi semula.
Naya merapikan bajunya, pura-pura fokus ke tas.
Dalam hati dia ngedumel,
Bahaya. Ini cowok bener-bener bahaya.
"Gue masuk dulu"
"Nay?"
Naya menoleh, kenzo lengan nya terulur, jarinya mengusap pipi naya, bergerak ketengkuknya, dan melumat bibir Naya, agak sedikit menekan.
Tautan keduanya terputus.
"Masuk! Gue tunggu disini"
Naya mengangguk, keluar dari mobil dan berjalan menuju ruang bimbel.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...