Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Setelah selesai melakukan senam jantung, Nolan memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan memejamkan mata di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.
Nolan merasa kesulitan untuk tertidur, pikirannya masih terbayang-bayang akan keindahan tubuh Qiara yang tak bisa ia lupakan.
Ketika raga Nolan hampir terlelap dalam alam mimpi, tiba-tiba... Plaak! Ada seseorang yang menampar pipinya dengan keras, membuatnya langsung kembali sadar.
Nolan berusaha membuka matanya perlahan, masih dalam kebingungan.
"Qi... Qiara," ucap Nolan lemah, kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat Qiara di depannya. Wajahnya merah padam, mencerminkan kemarahan yang memuncak.
"Kurang ajar! Apa nggak cukup semalam lo itu mengambil segel milik gue!" bentak Qiara dengan nada marah. "Kalau semalam gue itu maklum, karena lo memang dalam keadaan mabuk. Tapi kenapa barusan lo melakukan hal yang sama?"
Ekspresi wajah Qiara sulit untuk dijelaskan, seperti campuran rasa marah, kecewa, dan kesal.
Nolan sadar bahwa ia telah melanggar batas yang seharusnya tidak ia lakukan. Dalam hati Nolan, ia merasa sangat bersalah dan bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Qiara mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Qiara ... Sebenarnya yang terjadi ... " Nolan sendiri nampak menjeda ucapannya, ia membiarkan Qiara untuk mengeluarkan amarahnya.
"Gue tahu. Kalau nantinya lo itu bakal bertanggung jawab, tapi sebelum lo itu bertanggung jawab beneran. Harusnya lo itu tidak boleh melakukan hal itu sama gue. Karena melakukan hubungan suami istri sebelum menikah itu sangat di larang di agama gue," ujar Qiara sembari memukul wajah Nolan dengan sangat keras.
Bugh, hal itu sungguh membuat hidung Nolan langsung mimisan.
**
"Qiara ... Seperti nya lo itu salah paham," ujar Nolan sembari memegang hidungnya yang mengeluarkan darah.
Mendengar kata "hubungan suami istri" yang baru saja terlontar dari bibir Qiara, Nolan tersadar bahwa gadis yang saat ini sedang menindih tubuhnya itu ternyata salah paham tentang situasi yang sebenarnya terjadi.
Baru saja nyawanya kembali, dia malah dikejutkan dengan pukulan keras yang dilayangkan Qiara ke wajahnya. Bahkan, ia harus menatap wajah Qiara yang menyeramkan dan penuh kesumat dendam.
"Apakah lo itu sungguh berpikir kalau gue sejahat itu, Qiara? Apakah ini bayangan dalam otak lo tentang gue?" gumam Nolan dalam hati. Dia merasa kecewa, karena tak menyangka niat baiknya menolong Qiara harus berakhir dengan tuduhan keji seperti ini.
"Bagaimana caranya agar kau tahu betapa besar salah paham ini, Qiara? Semua tidak seperti yang kau lihat," ujar Nolan lembut, ia berusaha menjelaskan yang terjadi pada Qiara.
Dengan amarah yang benar benar sudah tidak terbendung, Qiara pun menyela apa yang barusan keluar dari bibir tampan Nolan.
"Maksud lo itu, tidak seperti yang gue lihat apanya Nolan?" teriak Qiara dengan tatapan mata tajam, bahkan dirinya juga mulai terisak.
"Kenapa lo tega melakukan saat tubuh gue itu terkapar tidak berdaya? Bukankah itu seperti lo yang menginjak injak harga diri gue dengan menggunakan tubuh gue," kata Qiara dengan nada sedih. Ia bangkit dari tubuh Nolan yang sebelumnya tidur di sofa.
"Qiara, dengarkan gue sekarang, sumpah gue tidak melakukan apa-apa sama lo," sahut Nolan dengan tegas.
"Tapi waktu gue bangun, baju gue itu tersingkap," kata Qiara dengan wajah kecewa.
"Memang, ketika gue tidurin tubuh lo di atas di atas ranjang, baju lo itu tersingkap. Tapi itu karena tidak sengaja, dan sumpah, gue tidak berbuat apa-apa sama lo," jelas Nolan dengan tulus.
Ucapan Nolan membuat mata Qiara membulat sempurna, seolah-olah terkejut akan keterusterangan lelaki di depannya.
Melihat ekspresi wajah Qiara yang berubah melunak, Nolan pun melanjutkan ucapannya, "kalau lo memang gak percaya, coba cek area bawah lo! Apakah sakit seperti kemarin? Atau ada bekas tidak?"
Qiara yang polos reflek memasukan tangannya sendiri, untuk mengecek apakah dia masih memakai celana dalam atau tidak dan ia juga mengecek apakah ada sebuah cairan kental yang menempel di bagian tubuh bawahnya.
Sementara Nolan, yang bisa menduga apa yang Qiara lakukan, ia pun nampak memalingkan pandangannya ke arah lain.
Dan damn. Wajah Qiara pun terlihat memucat.
Qiara lagi lagi hanya bisa merutuki kebodohannya, bahkan ia merasa begitu malu pada Nolan. Sehingga membuat ke dua pipinya sejarang ini memerah.
"Nolan ... Gue minta maaf," kata Qiara tanpa berani untuk melihat ke arah Nolan.
Nolan hanya menjawab ucapan Qiara dengan hembusan nafas kasar.
"Biar gue ambil kotak P3K dulu!" kata Qiara, karena untuk menyembunyikan rasa malunya. Rasanya ia ingin sekali bisa kabur menghilang dari muka bumi ini.
***
"Qiara, sini biar gue ngobatin luka di hidung gue sendiri," kata Nolan, ia nampak berusaha mengambil kasa yang ada di tangan Qiara, untuk membantu menyumbat hidung nya.
"Gak papa, Nolan. Ini salah gue, biarin gue yang bertanggung jawab buat menghentikan mimisan di hidung lo!" ujar Qiara, ia nampak menyingkirkan tangan Nolan yang berusaha untuk mengambil kasa yang ada di tangannya.
"Masalahnya, darah gue ini masih ngalir terus, Ra. Karena lo ngobatin, tapi gak mau lihat ke arah wajah gue," tegur Nolan yang kesabarannya mulai habis. Karena Qiara malah mengelap bagian lain di wajahnya bukan di area hidung yang mengeluarkan darah.
Qiara tidak berani melihat ke arah wajah Nolan, karena dirinya itu merasa sangat bersalah karena menuduh Nolan melakukan hal buruk padanya. Ia merasa malu, tapi ia juga sadar bahwa ia harus bertanggung jawab dan mengobati luka di hidung Nolan, yang di akibatkan karena ulahnya.
"Aku harus lebih fokus dan menyingkirkan perasaan maluku," batin Qiara sambil mengambil nafas dalam-dalam. Ia pun akhirnya memutuskan untuk memperhatikan lebih jeli wajah Nolan, meski rasa malu mendera dirinya, demi menunjukkan bahwa ia peduli dan ingin menebus kesalahan yang telah ia perbuat.
Ketika mata Qiara dan Nolan saling bertemu, bola mata hitam legam Qiara beradu dengan bola mata biru laut milik Nolan.
Qiara terlihat sibuk menyapukan kasa dan menyumbat hidung Nolan yang sedang mimisan. Hatinya merasakan perasaan yang sangat aneh. Dia tahu ini bukan pertama kalinya dia begitu dekat dengan seorang pria, seperti dulu waktu SMP bersama Angga.
Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini, yang membuat hati Qiara bergemuruh.
Begitu pula dengan Nolan, dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Seolah-olah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dadanya. Ia ingat bahwa Kinara pernah menjadi cinta pertamanya dan meski sudah putus 6 bulan lalu, rasa itu masih ada dalam hatinya.
Tetapi, perasaan yang muncul saat dekat dengan Qiara sungguh terasa berbeda dan membuatnya penasaran. "Ada apa dengan perasaan ini? Apakah ini hanya perasaan sesaat atau sesuatu yang lebih dari itu?" batin Nolan dalam hati.