Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Kabut
Shen Yi sedang membalik tanah di bedengan kumis kucing ketika suara langkah kaki pelan terdengar dari jalur setapak. Bukan langkah biasa penduduk desa yang sudah terbiasa naik-turun gunung—ini langkah hati-hati, seperti orang yang takut terpeleset atau takut mengganggu. Lian'er, yang sedang menyiram bunga bulan salju di sisi utara danau, langsung menoleh.
Seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun muncul dari balik pohon pinus. Baju katun birunya sudah lusuh dan berdebu panjang, sepatunya compang-camping, tapi matanya tajam dan penuh tekad. Di punggungnya dia bawa keranjang anyaman yang tertutup kain putih, dan di tangan kirinya ada tongkat kayu yang sepertinya dipakai untuk menyangga langkah.
“Maaf mengganggu,” kata pemuda itu sambil membungkuk dalam. Suaranya lelah tapi jelas. “Apakah ini rumah Tabib Shen Yi dari Gunung Qingyun?”
Shen Yi meletakkan cangkulnya, menghapus keringat di dahi. “Iya, ini tempatnya. Kau dari mana, Nak? Kelihatannya jauh perjalananmu.”
Pemuda itu menurunkan keranjangnya pelan, lalu membuka kain penutupnya. Di dalam ada anak laki-laki kecil—mungkin enam atau tujuh tahun—terbaring lemas, wajahnya pucat abu-abu, bibirnya kebiruan, napasnya pendek dan tersengal. Di dada dan leher anak itu ada bintik hitam kecil yang sudah menyebar jadi pola jaringan halus, seperti akar pohon mati yang tumbuh di bawah kulit.
Lian'er langsung berlari mendekat. “Bawa dia masuk! Cepat!”
Shen Yi membantu mengangkat anak itu ke dalam gubuk. Mereka merebahkan tubuh kecil itu di tikar tebal dekat tungku. Lian'er segera menyalakan api lebih besar, sementara Shen Yi memeriksa nadi anak itu.
“Nadi sangat lemah… dingin ekstrem di meridian jantung dan paru-paru. Bintik hitam ini… mirip wabah dulu di kota, tapi lebih dalam dan lebih cepat. Ini bukan sisa es hitam biasa. Ini seperti… dingin yang sudah menyatu dengan darah.”
Pemuda itu berlutut di samping tikar, matanya berkaca-kaca. “Nama saya Chen Hao. Adik saya, Chen Xiao, sudah sakit dua minggu. Kami dari desa kecil di lereng utara Gunung Tianwu—tiga hari perjalanan kaki dari sini. Semua tabib di desa kami sudah menyerah. Mereka bilang ini ‘penyakit dingin abadi’, tak ada obatnya. Aku dengar dari seorang pedagang obat di pasar bawah bahwa Tabib Shen pernah selamatkan bupati dari penyakit serupa. Jadi aku bawa adikku ke sini… meski ibu bilang mungkin tak sampai.”
Lian'er memeriksa bintik hitam di dada anak itu. “Ini sudah masuk ke meridian utama. Kalau tak ditangani hari ini, dia mungkin tak bertahan sampai besok pagi.”
Shen Yi mengangguk serius. “Kita mulai sekarang. Lian'er, siapkan ramuan penghangat dasar—jahe merah, ginseng gunung, daun dewa. Aku akan akupunktur dulu untuk buka meridian yang tertutup dingin.”
Chen Hao memandang mereka dengan mata penuh harap dan ketakutan. “Bisa disembuhkan? Berapa biayanya? Aku… tak punya apa-apa lagi. Semua sudah kujual untuk perjalanan ini.”
Shen Yi menggeleng pelan sambil mempersiapkan jarum perak. “Kami tak minta bayaran. Kalau berhasil, cukup kau ceritakan pada orang lain bahwa ada harapan. Itu saja.”
Chen Hao menunduk, air mata jatuh ke lantai tanah. “Terima kasih… terima kasih banyak…”
Shen Yi mulai akupunktur. Jarum demi jarum masuk ke titik Shaoyin (jantung), Taiyin (paru-paru), dan beberapa titik khusus yang dia pelajari dari catatan Lin Qingzhu. Setiap jarum yang masuk, anak itu tersentak kecil, tapi napasnya mulai lebih teratur.
Lian'er menyiapkan ramuan di tungku kecil. Dia menggiling daun dewa segar sampai jadi pasta, mencampur dengan bubuk kunyit hitam dan sedikit ekstrak bunga bulan salju. Aroma hangat pedas bercampur dingin lembut mengisi ruangan. Dia menuang air panas dari danau teratai, mengaduk pelan sampai warnanya jadi hijau keemasan dengan kilau ungu samar.
“Ramuan Teratai Tenang versi baru,” kata Lian'er sambil menuang ke mangkuk kecil. “Aku tambah sedikit madu hutan supaya Xiao enak diminum.”
Shen Yi selesai akupunktur. Dia mengangkat kepala anak itu pelan, membantu Lian'er memberi minum ramuan itu. Anak itu menelan dengan susah payah, tapi setelah beberapa teguk, wajahnya mulai memerah hangat. Bintik hitam di dada dan lehernya bergetar, lalu mulai memudar pelan—seperti tinta yang dicuci air hangat.
Chen Hao menangis haru. “Dia… napasnya lebih baik. Dinginnya berkurang.”
Shen Yi mengangguk, tapi wajahnya tetap serius. “Ini baru langkah pertama. Dinginnya sudah masuk ke jantung dan paru-paru terlalu dalam. Ramuan ini bisa tahan tiga–empat hari, tapi kalau tak temukan sumber dinginnya dan bersihkan dari akar, dingin itu akan kembali lebih kuat.”
Lian'er memeriksa bintik hitam di tangannya sendiri—masih ada, meski kecil. “Aku juga masih merasakan dingin samar. Mungkin penyakit ini bukan dari satu sumber saja. Mungkin ada ‘inti dingin’ kecil yang tersebar di beberapa tempat setelah wabah dulu.”
Shen Yi mengangguk. “Kita harus cari tahu dari mana asalnya. Chen Hao, adikmu mulai sakit setelah apa? Apa ada yang aneh sebelumnya?”
Chen Hao mengingat dengan susah payah. “Sebulan lalu, ada pedagang keliling datang ke desa kami. Dia jual obat ‘penghangat tubuh dari pegunungan utara’. Ibu beli satu botol untuk adikku yang sering pilek. Setelah minum obat itu, adikku malah semakin lemas. Bintik hitam muncul seminggu kemudian. Pedagang itu… sudah pergi sejak lama.”
Shen Yi dan Lian'er saling pandang. “Obat penghangat… tapi malah bikin dingin. Ini mirip modus yang pernah dipakai paman bupati dulu—jual obat palsu yang sebenarnya mengandung es hitam encer.”
Lian'er menghela napas. “Kalau benar begitu, sumbernya bukan dari alam, tapi dari manusia. Pedagang itu mungkin masih beredar di kota atau desa sekitar.”
Shen Yi bangkit. “Kita harus cari pedagang itu. Tapi sebelum itu, kita stabilkan kondisi Xiao dulu. Aku akan buat ramuan dosis lebih tinggi malam ini. Lian'er, kau istirahat. Bintik di tanganmu jangan sampai memburuk.”
Lian'er menggeleng. “Aku masih bisa bantu. Aku mau coba kombinasi baru—daun dewa + bunga bulan salju + akar ginseng gunung untuk ramuan pemulihan energi. Kalau berhasil, mungkin bisa bantu Xiao pulih lebih cepat.”
Shen Yi tersenyum lelah. “Baik. Kita kerjakan bareng.”
Malam itu, gubuk kecil itu penuh aroma ramuan. Shen Yi menggiling, Lian'er mengaduk, Chen Hao duduk di samping adiknya, memegang tangan kecil itu sambil berdoa pelan.
Ramuan baru selesai menjelang tengah malam. Warnanya hijau keemasan dengan kilau ungu lembut, aromanya hangat tapi menenangkan. Shen Yi memberi minum pada Xiao setetes demi setetes.
Anak itu membuka mata pelan. “Kakak… aku nggak dingin lagi.”
Chen Hao menangis haru. “Terima kasih… terima kasih banyak…”
Shen Yi memeriksa nadi Xiao lagi. “Dinginnya mundur 70%. Bintik hitam hampir hilang. Tapi kita harus terus beri ramuan ini selama seminggu. Dan kita harus temukan pedagang itu—supaya tak ada lagi korban.”
Lian'er memandang Shen Yi. “Besok pagi kita ke kota kabupaten lagi. Cari tahu pedagang keliling yang jual ‘penghangat tubuh dari pegunungan utara’. Kalau dia masih ada, kita hentikan sebelum lebih banyak orang sakit.”
Shen Yi mengangguk. “Iya. Tapi kau harus istirahat dulu. Bintik di tanganmu masih ada. Aku tak mau kau kambuh lagi.”
Lian'er tersenyum tipis. “Aku janji. Tapi kau juga harus janji—kau tak boleh pakai dirimu sendiri sebagai obat. Kalau noda hitam itu bangkit lagi karena kau terlalu pakai energi teratai… aku yang akan marah besar.”
Shen Yi tertawa pelan. “Janji. Kita jaga satu sama lain.”
Chen Hao memandang mereka berdua. “Aku… boleh ikut besok? Aku mau bantu cari pedagang itu. Aku ingat wajahnya. Dan aku mau pastikan tak ada lagi anak kecil yang sakit seperti adikku.”
Shen Yi mengangguk. “Boleh. Kau istirahat dulu malam ini. Besok pagi kita berangkat.”
Malam itu, gubuk kecil itu penuh kehangatan—api tungku menyala, aroma ramuan menguar, suara napas Xiao yang sudah teratur, dan suara angin lembut yang menyentuh teratai di danau.
Shen Yi dan Lian'er duduk di beranda setelah Chen Hao dan Xiao tertidur.
“Kita mulai lagi,” kata Lian'er pelan. “Perjalanan baru. Tapi kali ini… kita lebih kuat.”
Shen Yi memeluknya dari samping. “Karena ada kau. Dan karena kita tahu… dingin apa pun bisa dicairkan, selama ada hati yang hangat.”
Mereka memandang danau teratai yang mekar di bawah bulan. Tanaman obat di sekitar gubuk berdiri tegak, siap membantu menyembuhkan lagi—satu pasien, satu hari, satu harapan pada satu waktu.