NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Universitas dan Ujian Tak Tertulis

Bab 20: Universitas dan Ujian Tak Tertulis

Mentari pagi Jakarta tidak pernah selembut di desa. Ia muncul dengan garang, memantul di kaca-kaca gedung tinggi dan memanaskan aspal yang padat.

Bagi Anindya, pagi ini adalah pagi yang paling menentukan dalam hidupnya. Dengan mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika rapi menggunakan setrika arang pinjaman pemilik kos, ia berdiri di depan gerbang salah satu universitas paling prestisius di negeri ini.

Di tangannya, ia menggenggam map plastik berisi berkas pendaftaran beasiswa jalur prestasi khusus. Ia tahu, banyak orang akan menertawakannya. Seorang lulusan Paket C, seorang mantan pelayan, mencoba masuk ke sarang para calon elit bangsa.

Namun, Anindya tidak datang dengan tangan hampa. Ia datang dengan otak yang telah ditempa oleh ribuan jam belajar dalam kesunyian gudang.

"Maaf, Dek, pendaftaran beasiswa lewat jalur ini sudah tutup kemarin," ucap seorang staf administrasi bernama Ibu Ratna tanpa melihat wajah Anindya. Ia sibuk menata tumpukan dokumen yang menggunung.

Anindya tidak bergeming. Ia meletakkan mapnya di atas meja dengan gerakan yang tenang namun tegas. "Saya tahu, Bu. Tapi saya membawa surat rekomendasi khusus dan analisis portofolio yang diminta oleh Dekan Fakultas Hukum secara personal melalui korespondensi email minggu lalu."

Ibu Ratna mendongak, matanya menyipit di balik kacamata tebalnya. "Dekan? Kamu jangan bercanda. Dekan kami sangat sibuk. Siapa namamu?"

"Anindya. Silakan cek arsip email beliau mengenai subjek 'Analisis Celah Kontrak Properti Sukasari'."

Ibu Ratna tampak ragu, namun ia tetap mengecek komputernya. Beberapa saat kemudian, wajahnya berubah dari meremehkan menjadi terkejut. "Kamu... Anindya? Gadis yang mengirimkan lima belas halaman bedah kasus sengketa tanah itu?"

Anindya hanya mengangguk kecil. Strateginya berhasil. Ia tahu ia tidak bisa masuk lewat jalur biasa. Maka, sebulan sebelum datang ke Jakarta, ia telah meriset profil sang Dekan yang terkenal sangat akademis dan idealis. Anindya mengirimkan sebuah analisis hukum yang sangat tajam mengenai proyek gagal Tuan Wijaya, tanpa menyebutkan identitas aslinya. Ia menggunakan kecerdasan sebagai umpan..

"Tunggu di sini. Dekan ingin bertemu langsung denganmu," ucap Ibu Ratna dengan nada yang jauh lebih sopan.

Anindya duduk di ruang tunggu yang dingin. Jantungnya berdegup, namun ia menenangkan dirinya dengan menghitung pola keramik di lantai. 12 \times 12 pola dalam satu blok, batinnya. Kebiasaan lamanya untuk menghitung selalu bisa meredakan kecemasannya.

Namun, di tengah penantian itu, ia melihat sesosok pria berpakaian hitam berdiri di luar lobi universitas, memperhatikannya dari balik kacamata hitam. Pria itu tampak tidak asing. Anindya menyadari bahwa peringatan Satria bukan isapan jempol. Tuan Wijaya telah mengirim orang untuk mencarinya.

"Anindya? Silakan masuk. Bapak Dekan sudah menunggu," suara Ibu Ratna membuyarkan lamunannya.

Di dalam ruangan yang penuh dengan rak buku tua dan aroma kertas, Anindya berhadapan dengan Prof. Handoko. Pria tua itu menatap Anindya dengan pandangan menyelidik.

"Duduklah. Saya membaca analisismu. Sangat berani, sangat teknis, dan... sangat personal. Kamu seperti tahu jeroan dari perusahaan Wijaya Group," ucap Prof. Handoko tanpa basa-basi.

"Saya hanya mempelajari apa yang tersedia, Prof," jawab Anindya diplomatis.

"Ijazahmu Paket C. Kamu tahu betapa sulitnya masuk ke sini dengan ijazah itu? Standar kami sangat tinggi. Beasiswa ini hanya untuk mereka yang luar biasa."

"Ijazah adalah kertas yang menunjukkan saya pernah belajar. Analisis yang saya kirimkan adalah bukti bahwa saya menguasai ilmu tersebut. Saya tidak meminta belas kasihan, Prof. Saya meminta kesempatan untuk diuji."

Prof. Handoko tersenyum tipis. "Baik. Jika kamu bisa menjelaskan teori efisiensi hukum dalam kasus yang kamu tulis tanpa melihat teks, saya akan menandatangani rekomendasi beasiswamu hari ini."

Selama satu jam berikutnya, ruangan itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang gadis yang dulunya dianggap sampah oleh Nyonya Lastri, membedah teori-teori hukum yang rumit dengan kelancaran seorang ahli. Anindya menggunakan pengalaman hidupnya sebagai referensi nyata. Ia bicara tentang keadilan yang seringkali tercekik oleh birokrasi, dan bagaimana hukum harus menjadi pedang bagi mereka yang tidak bersuara.

Prof. Handoko terpaku. "Luar biasa. Kamu tidak belajar ini dari buku teks biasa, kan?"

"Saya belajar dari kehidupan yang tidak memberikan saya pilihan lain, Prof."

Sore itu, Anindya keluar dari gedung rektorat dengan sepucuk surat sakti di tangannya. Ia diterima sebagai mahasiswa beasiswa penuh. Namun, kegembiraannya tertutup oleh kewaspadaan saat ia melihat pria berkacamata hitam tadi mulai melangkah mendekat ke arahnya di area parkir yang mulai sepi.

Anindya mempercepat langkahnya, masuk ke dalam kerumunan mahasiswa yang baru selesai kelas. Ia tahu ia tidak bisa langsung pulang ke kosannya. Pria itu pasti akan membuntutinya.

Ia memutuskan untuk masuk ke dalam perpustakaan pusat yang luas. Di sana, ia bersembunyi di antara rak-rak buku besar, tempat favoritnya. Ia mengambil sebuah buku tebal sebagai tameng dan mulai memperhatikan pergerakan pria itu dari kejauhan. Pria itu tampak bingung kehilangan jejak di dalam labirin buku.

Saat itulah, ponselnya kembali bergetar. Sebuah nomor baru meneleponnya.

"Halo?" suara Anindya berbisik.

"Nin, jangan keluar lewat gerbang depan," suara Satria terdengar panik di seberang sana. "Ayah sudah tahu kau mendaftar di universitas itu. Dia mengirim orang untuk membawamu pulang secara paksa.

Ayah menganggapmu sebagai ancaman karena data yang kau bawa."

"Aku bukan lagi milik ayahmu, Satria," jawab Anindya dingin.

"Aku tahu! Makanya aku meneleponmu. Ada taksi online atas nama 'Budi' yang sudah menunggumu di gerbang belakang kantin teknik. Sopirnya adalah teman kepercayaanku. Dia akan membawamu ke tempat yang aman untuk sementara. Cepat, Nin!"

Anindya bimbang. Haruskah ia percaya pada Satria? Pria yang pernah membiarkan bukunya dibakar? Namun, ia melihat pria berkacamata hitam itu mulai mendekati area rak tempat ia berada. Tidak ada pilihan lain.

Anindya berlari melalui lorong-lorong rahasia perpustakaan yang pernah ia baca di peta kampus tadi pagi. Ia keluar melalui pintu servis, berlari melewati kantin yang mulai tutup, dan menemukan taksi yang dimaksud Satria.

"Mbak Anindya?" tanya sopir itu.

Anindya masuk ke dalam mobil. "Jalan, Pak. Cepat."

Saat mobil melaju, Anindya melihat pria berkacamata hitam itu keluar dari gedung perpustakaan dengan wajah gusar. Ia selamat, setidaknya untuk hari ini.

"Mau ke mana, Mbak?" tanya sopir itu.

Anindya terdiam sejenak. Ia tidak bisa kembali ke kosannya malam ini. Ia memikirkan ayahnya di rumah sakit. "Ke Rumah Sakit Umum Pusat. Saya harus memindahkan Ayah saya lagi."

Di dalam taksi, Anindya menatap surat beasiswanya yang sedikit lecek. Ia menyadari bahwa di Jakarta, ia tidak hanya harus berjuang melawan kemiskinan dan kurikulum kuliah, tapi ia sedang berada dalam permainan kucing dan tikus dengan masa lalunya.

Tuan Wijaya mungkin punya uang dan orang suruhan, tapi Anindya punya sesuatu yang lebih kuat: ia tidak lagi memiliki rasa takut untuk kehilangan apa pun, karena ia sudah pernah kehilangan segalanya.

"Anda ingin bermain, Tuan Wijaya?" bisik Anindya sambil menatap lampu-lampu jalanan yang mulai mengabur. "Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan lebih lama. Seorang pria yang membangun kerajaannya di atas pasir hutang, atau seorang gadis yang membangun masa depannya di atas fondasi rasa sakit."

Malam itu, di sebuah tempat persembunyian baru yang disediakan oleh koneksi teman Satria, Anindya kembali membuka laptopnya. Ia tidak belajar hukum malam ini. Ia mulai meretas sistem CCTV di sekitar universitasnya untuk memastikan ia bisa mengenali wajah-wajah orang suruhan Wijaya lainnya.

Perang belum usai. Ini baru permulaan dari sebuah catur panjang. Dan Anindya, sang pion yang dulu diabaikan, kini telah mencapai ujung papan dan siap berubah menjadi ratu yang mematikan.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!