"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PELARIAN MAUT
Ledakan di laboratorium bawah tanah bukan sekadar suara; itu adalah getaran purba yang merobek fondasi Villa Samudera. Plafon marmer di atas Hana dan Rena retak, menjatuhkan debu putih yang menari di bawah sorot lampu alarm merah yang berputar liar. Suara sirene meraung, bersahutan dengan deburan ombak ganas yang menghantam tebing di bawah vila. Udara kini terasa berat, berbau belerang dan ozon yang terbakar.
Rena Sato berdiri tegak di tengah kekacauan itu. Wajahnya yang cantik tetap tenang, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Ia memegang pistol taktis seolah itu adalah perpanjangan dari lengannya sendiri. Di hadapannya, koridor yang tadinya megah kini berubah menjadi lorong jagal. Mayat-mayat pengawal Saikou bergelimpangan dengan luka sayat yang presisi—tanda tangan mematikan dari seorang Sato.
"Ibu... Kenzo... dia membawa pistol," bisik Hana, suaranya bergetar. Ia mencengkeram perutnya secara naluriah. Rasa sakit tumpul mulai menjalar di rahimnya, sebuah pengingat fisik akan dosa yang dilakukan Kenzo Matsuda malam itu.
Rena menoleh sedikit, matanya yang dingin bertemu dengan mata Hana yang penuh ketakutan. "Pistol hanyalah alat, Hana. Keinginan untuk membunuh adalah senjatanya. Dan malam ini, Kenzo sudah kehilangan senjatanya. Dia tidak lagi ingin membunuhmu—dia takut padamu. Dia takut pada apa yang tumbuh di dalam dirimu."
❤️❤️❤️
Mereka mulai bergerak. Pelarian ini bukan sekadar lari; ini adalah tarian maut melewati labirin keamanan yang mulai malfungsi. Pintu-pintu otomatis menutup dan membuka secara acak akibat virus Dead Silence yang ditanam Rena. Suara gerigi besi yang beradu terdengar seperti rahang raksasa yang mencoba mengunyah mereka.
"Di sana!" teriak seorang pengejar dari arah belakang.
Rena berputar dengan gerakan cair. Bang! Bang! Dua tembakan dilepaskan tanpa melihat ke belakang. Hana mendengar suara tubuh jatuh menghantam lantai kaca. Mereka terus berlari menuju Sayap Barat, satu-satunya jalur menuju dermaga rahasia.
Saat mereka melewati ruang galeri seni, Hana melihat bayangan Kenzo di balik partisi kaca buram. Pria itu tampak gila, memegang bahunya yang bersimbah darah, berteriak pada radio komunikasi yang hanya mengeluarkan suara statis.
"HANA!" suara Kenzo menggelegar, memantul di dinding galeri. "Kau tidak akan pernah keluar dari pulau ini! Anak itu adalah milikku! Eksperimenku tidak boleh gagal karena wanita jalang seperti ibumu!"
Hana berhenti sejenak. Amarah yang dingin—sesuatu yang selama ini ia tekan—mulai mendidih. Ia menatap siluet Kenzo. "Aku bukan spesimenmu, Kenzo Matsuda! Dan anak ini... dia akan menjadi kutukan bagi namamu!"
❤️❤️❤️
Mereka mencapai jembatan gantung yang menghubungkan vila dengan tebing dermaga. Di bawah sana, jurang sedalam seratus meter menanti dengan karang tajam yang siap mencabik siapa pun yang jatuh. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma lilac yang tajam—parfum favorit Rena yang kini berbaur dengan bau kematian.
"Ibu, jembatannya mulai runtuh!" Hana berteriak saat baut-baut baja mulai terlepas dari dudukannya.
Rena menahan langkahnya, menatap ke arah pintu masuk jembatan. Sesosok bayangan muncul. Bukan Kenzo, melainkan kapten keamanan elit Saikou, seorang pria raksasa dengan baju zirah lengkap dan senapan otomatis.
"Nyonya Sato," suara pria itu berat, teredam oleh helm taktisnya. "Tuan Matsuda memerintahkan agar Anda dieliminasi, dan nona muda dibawa kembali. Jangan mempersulit ini."
Rena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada moncong senjata mana pun. "Kau bicara tentang perintah pada seorang wanita yang baru saja membakar seluruh hidupnya demi putrinya? Kau sangat berani, atau sangat bodoh."
"Ibu, biarkan aku membantu," Hana melangkah maju, tangannya mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata.
"Tetap di belakangku, Hana," perintah Rena tanpa menoleh. "Kau harus belajar satu hal tentang keluarga kita. Kami tidak pernah bertarung dengan adil. Kami bertarung untuk menang."
Dalam satu gerakan kilat, Rena melempar bom flashbang. Cahaya putih membutakan koridor. Di saat yang sama, ia menerjang maju. Suara benturan logam dan erangan kesakitan terdengar di tengah cahaya yang menyilaukan. Hana hanya bisa melihat kilatan belati perak ibunya yang menari di udara, memotong arteri dengan efisiensi yang mengerikan.
❤️❤️❤️
Kapten keamanan itu tumbang, darahnya menggenangi lantai jembatan yang miring. Rena menarik Hana, memaksa mereka berlari melintasi kabel baja yang mulai putus satu per satu. Saat mereka mencapai sisi tebing, ledakan besar kedua mengguncang pusat vila.
Seluruh Sayap Utara runtuh ke dalam laut.
Di kejauhan, mereka melihat helikopter Kenzo Matsuda lepas landas dari helipad yang mulai miring. Cahaya api dari bangunan yang terbakar menyinari wajah Kenzo yang menatap mereka dari jendela helikopter. Matanya merah, penuh dendam yang tak terlukiskan. Ia mengangkat tangannya, membentuk simbol "pistol" ke arah Hana—sebuah janji bahwa perburuan ini belum berakhir.
"Dia lolos," desis Hana, napasnya tersengal-sengal di tengah badai asap
.
"Biarkan dia lari," kata Rena sambil menatap helikopter yang menjauh. "Dia menuju kehancurannya sendiri. Saikou Corp tidak memaafkan kegagalan, dan malam ini, Kenzo telah kehilangan segalanya."
❤️❤️❤️
Mereka mencapai kapal motor cepat yang disembunyikan Rena di dalam gua karang. Mesinnya menderu pelan, siap membelah ombak. Saat Hana naik ke atas kapal, ia jatuh terduduk, energinya terkuras habis. Ia melihat ke arah vila yang kini menjadi obor raksasa di tengah laut malam.
Rena menyalakan mesin dan memutar kemudi. Kapal itu melesat menjauhi pulau, meninggalkan neraka di belakang mereka.
Hana menyentuh perutnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu—bukan rasa sakit, melainkan sebuah denyutan kecil yang asing. Sesuatu yang membawa darah Matsuda dan insting Sato di saat yang sama.
"Ibu," panggil Hana saat kapal mereka menembus kabut laut yang dingin. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
Rena tidak melihat ke belakang. Matanya tertuju pada cakrawala yang gelap. "Kita akan menghilang, Hana. Kita akan menemukan tempat di mana matahari tidak pernah menyentuh tanah. Di sana, kau akan melahirkan 'masa depan' yang sangat ditakuti dunia. Dan saat anak itu tumbuh nanti..."
Rena terdiam sejenak, lalu suaranya merendah menjadi bisikan yang mencekam.
"...kita akan kembali untuk meruntuhkan setiap gedung bertuliskan Saikou, batu demi batu."
❤️❤️❤️
Kapal itu menghilang ke dalam kegelapan samudera tepat saat matahari mulai mengintip di ufuk timur. Cahaya fajar tidak membawa harapan, melainkan menyinari puing-puing Villa Samudera yang perlahan tenggelam ke dasar laut, membawa serta semua rahasia kotor Kenzo Matsuda.
Namun di bawah sana, di dalam rahim Hana Sato, sebuah rahasia yang jauh lebih berbahaya baru saja dimulai. Perang yang sesungguhnya bukan lagi tentang cinta atau obsesi, melainkan tentang kelangsungan hidup sebuah garis keturunan yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.
BERSAMBUNG...