Monster itu menginginkan darah, aku berlari menjauh darinya. Dia selalu menemukan keberadaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ins, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darahmu memanggilku!
"Aku, aku, sebenarnya aku, aku ingin." Irna bicara tergagap.
"Aiishhh kenapa lidahku tiba-tiba terasa kelu." Bisik Irna dalam hatinya karena tiba-tiba merasa lidahnya tidak bisa bicara dengan leluasa.
Gadis itu kebingungan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Irna menoleh kesana-kemari mencari sesuatu sambil terus berusaha melepas diri dari genggaman tangan Rian.
Melihat sekarang tubuhnya sudah berada di atas tubuh pria yang ingin diusirnya dari dalam rumahnya dan menatap mata di bawah wajahnya sekarang.
Rian dengan tidak sabar membalik posisi, kini Irna menjadi di bawah tubuhnya. Pria itu sengaja menahan kedua tangan Irna agar gadis itu tidak bisa kabur lagi.
"Apa? apa yang ingin kamu lakukan? kita tidak boleh begini. Ini tidak benar, jangan seperti ini. Biarkan aku pergi, aku minta maaf sudah membangunkanmu tapi aku benar-benar tidak sengaja melakukannya." Ujar Irna dengan bibir tergagap.
"Rian, aku mohon jangan lakukan hal ini, kamu pria tampan dan berpendidikan jadi kamu tidak mungkin akan menindas wanita lemah yang tinggal seorang diri bukan?" Bisik Irna karena pria itu semakin mendekatkan wajahnya.
"Rian, kenapa kamu malah diam saja dan tidak bicara sama sekali?" Bisiknya lirih.
"Rian aku tahu aku sudah salah karena terus memaki-maki dirimu sepanjang hari, aku janji aku tidak akan melakukannya lagi jadi lepaskan tanganku oke?!" Irna terus bicara, tapi pria itu masih tidak bergeming sama sekali.
Irna sudah tidak tahu harus mengatakan sesuatu atau bagaimana, dia hampir pasrah jika hari ini detik ini pria itu melakukan sesuatu padanya.
Dia sudah lelah meronta dan berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuhnya. Rian terus menatap Irna yang ada di bawah tubuhnya. Pandangan matanya tetap mengarah pada wajah gadis yang ingin melepaskan diri dari pelukannya.
Irna beberapa saat menggigit bibir bawahnya sendiri. Gadis itu sangat hawatir pada dirinya sendiri. Jika sampai pria ini melakukan hal itu dia tidak akan pernah bisa menatap wajah Fredian lagi dengan kepala yang tegak.
Dia tidak ingin hidup dengan rasa bersalah sepanjang waktu. Dia masih tidak ingin kehilangannya, jauh di sudut hatinya dia masih menginginkan pria yang sudah melemparkan dirinya itu.
Dia satu-satunya pria yang diinginkannya, satu-satunya pria yang diharapkan akan merengkuhnya tanpa ingin melepasnya.
Tapi apalah daya seorang gadis lemah, dan di situasi sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengharapkan keberuntungan saja. Semoga pria ini tidak melakukan apapun padanya.
Sejenak nafas gadis itu terhenti. Rian terus menatap wajah gadis itu lekat-lekat, mendekatkan bibirnya. Jarak antara mereka semakin dekat. Nafas hangat Rian menyapu lembut wajah Irna.
"Tidak bisa begini... aku harus melakukan sesuatu, tetapi kedua tanganku terkunci." Jerit Irna dalam hatinya.
"Bibirnya semakin dekat, aku harus bagaimana?" Bisiknya dalam hati sambil memejamkan matanya rapat-rapat.
Tiba-tiba ketika bibir mereka hendak bersentuhan, Irna dengan secepat kilat menggeser kepala sembari memalingkan wajahnya ke dinding.
Membuat Rian mencium bantal.
"Woaaaaahhh aku baru tahu kalau kamu sangat mencintai bantalmu!" Nyengir ke arah Rian. Sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Irna masih terus mencoba untuk membebaskannya diri dari genggaman tangan Rian.
"Waah wah, ternyata istriku sangat cerdik!" Ujarnya membalas ejekan Irna.
Irna sibuk untuk melepaskan tangannya, Rian tahu gadis itu sedang lengah.
Dengan sekejap meraih kepala Irna menggigit bibirnya.
"Mmmm!" Irna menggumam tidak jelas, tangan Irna mencoba mendorong pria itu agar menjauh darinya. Namun usaha Irna sia-sia.Tubuh atletis pria itu menghimpit tubuh mungil Irna.
Sampai Rian melepaskan ciumannya, Irna dengan nafas terengah-engah kembali bicara.
"Pria macam apa kamu?! kamu tahu aku istri syah Fredian!" Gadis itu bersungut-sungut berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Rian sudah melepaskan tangannya jadi dia bisa mendorong tubuhnya menjauh sedikit.
"Itu sebelum kamu bangun tidur, setelah kamu membuka mata di penginapan kamu istriku!" Jelas Rian tersenyum puas membisikkan lembut di telinga Irna.
"Apa maksudmu mengatakan itu? tidak mungkin Fredian menceraikan aku! itu pasti hanya candaanmu saja kan!?" Teriak Irna tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Tubuhnya mendadak lemas tidak bertenaga, pria satu-satunya yang dia harapkan sudah membuangnya. Pria itu benar-benar sudah membuangnya ke dalam pelukan pria lain yang saat ini bersamanya.
"Apa yang bisa aku harapkan lagi? dia benar-benar tidak menginginkanku lagi! hatiku sangat sakit sekali!" Bisik Irna sambil mengusap air matanya.
Rian terus menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna dan turun ke leher jenjang miliknya.
"Rian, jangan! lepaskan aku, akh!" Pekiknya ketika Rian menggigit keci lehernya. Pria itu menahan kedua tangan Irna lagi. Dan menciumi dada gadis itu dengan lembut.
Irna terus meronta mencoba melepaskan diri dari pelukan Rian.
"Jangan-jangan kamu juga sengaja mencuri Cap jariku????!!!" Irna mengangkat jempol jari tangannya, tersentak tidak percaya.
"Astaga mereka berdua benar-benar tega sekali! kamu kenapa tega sekali melakukan hal ini padaku? apa salahku padamu? tidak bisakah kamu membiarkan aku hidup sendiri?" Tanya Irna sambil memandang lekat-lekat wajah Rian.
"Kamu tidak tertarik memeriksa koperku? Di sana ada surat nikah kita, beserta surat cerai kamu." Tambah Rian, sembari memagut bibir gadis itu, dan dia hendak mengecup kening Irna.
"Duaaak!! Duak!" Dengan keras membenturkan jidatnya ke bibir Rian membuat bibir Rian berdarah.
Kening Irna pun juga terluka, sama berdarahnya.
"Kamu mau cium kan? nih cium lagi! cium sepuasnya!" Bicara penuh amarah dengan kesal terus berteriak kasar. Irna sudah tidak bisa menahan emosinya lagi Irna terus membenturkan kepalanya.
Rian melihat kening Irna berdarah, pria itu segera beranjak bangun mengambil kotak obat.
"Dia mau apa?" Tanya gadis itu dalam hati.
Rian hendak membersihkan kening Irna dengan antiseptik.
"Tidak perlu! aku bisa melakukannya sendiri! jangan menyentuhku! aku tidak suka!" Ujar Irna dengan kasar merebutnya dan melakukan sendiri. Irna tidak menggunakan cermin jadi asal saja mengoles.
Rian tersenyum menatap gadis di depannya terus menerus cerewet dan memarahinya.
Kemudian Rian perlahan berjongkok di depan Irna. Tersenyum menatap bibir gadis itu cemberut ke arahnya.
"Kamu pria jahat yang egois, aku sangat membencimu!" Irna memukul bahunya dengan kepalan tangannya. Rian menangkap kedua tangannya kemudian dia berkata.
"Ketika melihatmu pertama kali aku sudah yakin jika kamu adalah jodohku." Tutur Rian pada Irna sambil terus tersenyum lembut.
"Kamu tidak mengenalku! kamu hanya melihatku sepintas, kamu tidak tahu jika aku terus diikuti mahluk buas yang menyeramkan." Irna mencoba menjelaskan pada Rian tentang hal yang selalu di alaminya selama ini.
"Ah sudahlah kamu juga tidak akan mengerti, tidurlah di sini, aku akan tidur di sana." Irna menunjuk ke arah sofa.
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat di dalam kamar selama dua detik, lalu menerobos keluar jendela.
"Dia, sudah menemukanku." Ujar Irna dengan bibir bergetar.
Rian tidak mengerti apa yang dimaksud Irna.
"Kamu sudah melihatnya bukan? akan berbahaya jika kamu terus bersamaku, kamu harus pergi meninggalkan rumah ini dan pergilah ke tempat yang jauh." Irna bertanya dengan wajah menunduk.
"Segala sesuatu yang tidak kamu mengerti juga tidak akan bisa masuk dalam logikamu, mulai saat ini kamu akan menemuinya. Dan itu terjadi hanya saat ketika kamu berada di dekatku..."
Ungkap Irna melangkah keluar kamar dengan tatapan kosong, meninggalkan Rian terdiam dengan seribu pertanyaan.
"Hal diluar logika? namun ada, keberadaannya tidak diketahui.. " Gumam Rian sambil terus berfikir.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Fredian?" Rian kembali mengingat hubungan rumit antara mereka berdua adalah darah yang mengalir di dalam tubuh Irna.
Pada waktu menyelidiki kasus Fredian, Rian menemukan sesuatu bahwa sebenarnya darah yang dibutuhkan Fredian bukan hanya darah gadis perawan, namun darah gadis perawan yang terlahir ketika bulan bulat penuh atau bulan purnama, dengan reshus tertentu.
Di tubuh Irna darah itu mengalir, ketika tubuhnya terluka akan tercium aroma harum dari kalangan mahluk halus. Seakan semacam sebuah undangan khusus.
Pada situasi tersebut Irna setiap saat terancam bahaya.
Rian melangkah ke tempat Irna tidur terbaring, membalut luka di kening Irna dengan plester.
Spontan Irna menahan tangan Rian.
"Kamu harus menjauhiku, kamu tidak boleh terlibat denganku. Aku tidak bisa melindungi dirimu, melindungi diriku sendiri saja sudah sangat sulit." Ujar Irna dengan wajah sangat serius.
"Kamu lihat itu..." Dengan mata masih terpejam Irna menunjuk bayangan hitam dengan kuku runcing di luar jendela, mengendus kesana-kemari mencari sesuatu.
"Kenapa? apa kamu ketakutan?" Irna membuka kelopak mata perlahan, bertanya padanya.
"Apa kamu sendiri tidak merasa takut?" Balik bertanya pada gadis di depannya itu.
"Selama lukaku tidak mengalirkan darah, itu tidak seberapa buruk, dibandingkan ketika haid" Ujar Irna sambil tersenyum.
"Jika aku melepaskan kamu, apakah kamu akan kembali pada Fredian?" Tanya Rian pada Irna dengan wajah serius.
Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis itu, jadi dia tidak akan menerima jika Irna kembali ke pelukan Fredian. Dia tidak ingin memberikan Irna pada Fredian.
Terlepas dari konsekuensi apapun akan ditanggungnya. Karena terlanjur jatuh hati padanya.
Dia juga tidak berniat meninggalkan Irna sama sekali apalagi setelah melihat gadis itu berada dalam bahaya sepanjang waktu. Perasaan ingin melindungi dan ingin memeluknya saat gadis di hadapannya itu terluka
Rasa sayang dan hawatir jika terjadi sesuatu terhadapnya. Rian telah jatuh ke dalam perangkap Irna.
"Entahlah, aku sekarang tidak ada keinginan untuk kembali pada siapapun. Aku nyaman sendirian tanpa harus mendapatkan dan juga tanpa harus ketakutan untuk kehilangan." Ujar Irna dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Rian semakin cinta mendengar penuturan Irna apa adanya dan tidak ada kepura-puraan di dalam pancaran jernih sinar matanya.
"Aku merasakan sakit, dan banyak kehilangan sejak usia sepuluh tahun, mungkin karena terlalu banyak luka yang tumpang tindih jadi mati rasa" Tambah Irna lagi sambil menatap wajah pria di depannya itu.
"Lalu untuk sementara ini biarkan aku berada di sisimu" Meraih tangan Irna, meremas dengan lembut kemudian menciumnya.
"Aku masih tidak mencintaimu!" Nada suara Irna kembali ketus dan menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Rian.
Rian tersenyum melihat wajah Irna kembali marah.
"Maka aku akan memberikan cinta sedikit demi sedikit sampai hatimu penuh dengan cinta." Merengkuh Irna dalam pelukan hangat tubuhnya.
Irna mencoba melepaskan diri darinya tapi Rian tidak membiarkannya.
Dia terus menahan Irna agar tetap berada di dalam pelukannya.
"Tetaplah seperti ini sebentar, gadis keras kepala!" Perintah Rian pada Irna sambil mencium kepalanya.
"Mulai detik ini, aku akan memberikan apapun untuk melindungi gadis ini, betapa sulitnya hidupnya selama ini... kehilangan segalanya, bahkan diikuti iblis ketika tubuhnya terluka..." Begitu janji Rian pada hatinya sendiri.
"Bukankah ini terlalu lama...?!" Mendorong tubuh Rian menjauh.
"Kamu tidak boleh tidur di sini" Tanpa menunggu jawaban, segera mengangkat tubuh Irna membawanya ke dalam kamarnya.
"Turunkan aku Rian!!"
Rian mengabaikan perintah Irna, membuat gadis itu berontak.
Saat akan merebahkan tubuh Irna di kasur. Irna terus menendang-nendangkan kakinya ke udara. Membuat Rian hilang keseimbangan hingga membuat keduanya jatuh bersama.
"Ah!" Pekik Irna tertahan, tubuhnya tertindih tubuh Rian.
"Apa kamu terluka? mana yang sakit?!" Penuh rasa hawatir. Tanpa berfikir untuk mencoba bangkit.
Entah kenapa dia merasa sangat nyaman bersentuhan kulit dengan gadis yang baru di kenalnya itu. Membuatnya ingin terus dan terus memeluknya tanpa memberikan celah padanya untuk melepaskan diri.
"Riannnn..." Irna tersenyum mesra, membuat bulu kuduk Rian berdiri seketika.
"Ada apa sayaaaaang.... ?" Sahut Rian tak kalah mesra.
"Tidakkah kamu tahu? kalau badanmu membuat tulang sekujur badanku remuuuuuuuuk!????" Berteriak kencang, sampai membuat telinga Rian berdengung.
Rian tersadar lalu merebahkan tubuhnya di samping Irna.
"Apa kamu berniat tidur bersamaku??!" Irna menopang kepalanya mendelik ke arah Rian.
"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu! aku hanya akan berbaring diam di sini!" Telungkup di bawah selimut.
"Palingan kamu juga yang tidak tahan lalu menyentuhku!" Tambah pria itu lagi sambil tersenyum bergumam kecil.
"Apa katamu?! coba bicara lagi!?" Membuka selimut yang menutupi wajah Rian dengan kasar.
"Kamu lupa siapa yang terakhir kali memelukku kemudian menendangku ke lantai???!" Tanya Rian dengan tiba-tiba.
"Itu... aku!" Jawab Irna tersenyum kecil.
"Jika kamu bisa menyentuhku sesukamu, kenapa aku tidak? bukankah itu tidak adil untukku??" Rian bertanya lagi pria itu menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Oke! Sekarang kita impas, dan jaga jarak. Tidak ada saling sentuh!" Ujar Irna serius tanpa ragu sedikitpun.
"Dan yang menyentuh duluan harus di beri hukuman!" Tambah Rian lagi.
"Apa itu?" Tanya Irna tidak mengerti mencermati wajah di depannya dengan serius.
"Ciuman!" Mengerling menatap wajah Irna dengan tatapan nakal.
"Sudah! sudah! batalkan saja perjanjiannya!" Gadis itu segera membalikkan badannya menghadap ke dinding.
"Apa-apaan itu, dia hanya akan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri!" Gerutu Irna kesal. Gadis itu menendang selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
*bersambung....
Jangan lupa like+favorit & tinggalkan komentar 👉👉❤️😚😘
view juga koleksi judul lainnya, cek di profil ku*.
Dukungan kalian menambah imunitasku untuk terus berkarya ....!! I Love you viewer.. bantu aku vote 😂😭😭😭😭
aku jg mau🤭🤭