Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 34
MENCARI SESUATU
"Nyonya Soraya... Nyonya Soraya!” panggil Cili yang berhasil menarik Soraya dari alam bawah sadarnya.
Wanita itu menatap sekilas ke pelayan tadi, kamu berkerut alis mengingat tentang kejadian di masa mudanya dulu. Kematian Cedric Holloway, adiknya yang terkahir. “Bukan Vale... Aku yakin ada sesuatu yang aneh. Ibuku..” Gumam Soraya yang mencoba didengar oleh Cili, namun dia tak bisa mendengarnya dengan jelas.
Soraya bergegas pergi, mengenakan mantel dan membawa mobil sendiri. Tentu, dia akan mencari keberadaan ibunya, mungkin dia akan menemukannya atau tidak sama sekali. Entah kemana dia pergi, namun Soraya yakin, sejak dulu ada sesuatu yang tidak beres dari ibunya, Esperance.
...***...
Hampir menjelang siang. Eliza terbangun dari tidurnya— wanita yang bangun di siang bokong. Astaga... Mungkin karena tidur terlalu larut, Eliza tak seperti wanita anggun dari Taylor karena tidak bangun di pagi hari.
Namun dia tertolong karena mimpi sesuatu yang sangat mengerikan.
“Tidurmu nyenyak?”
Ia menoleh ke kanan, melihat Nathaniel Vale yang berdiri di samping ranjangnya seraya menatap lekat, serta pakaian yang serba hitam bak malaikat maut.
“Em.. ya.” Jawab Eliza yang segera mengenakan rompi gaun tidurnya sedikit gugup. Ya, meski mereka sudah pernah berhubungan, namun rasa malu masih Eliza rasakan.
“Kau tidak ke kantor mu?”
“No. (Tidak). Beberapa jam lagi semuanya akan berakhir, mungkin besok malam kita akan menikah.”
Eliza mengerutkan keningnya, antara kaget dan heran. “Secepat itu? Maksudku... itu tidak masuk akal, semuanya terlalu cepat.” ujarnya benar-benar kaget.
Vale berjalan mendekatinya, menyibak rambut panjang Eliza dan menyentuh leher, lebih tepatnya luka Eliza, “Sudah kubilang, ini akan lebih cepat dari yang kau pikirkan.” Ucapnya.
Bulu kuduk Eliza berdiri tatkala sentuhan Vale membuatnya merinding di area lehernya, hingga pria itu menyentuh sudut bibir Eliza dengan ibu jarinya, meraba bekas luka di sana hingga pria itu sedikit berkerut alis dan menarik kembali tangannya.
“Bersiaplah, kita akan pergi ke makam.” Kata Vale.
“Makam? Makam siapa?” Eliza yang penasaran pun namun hatinya berdebar.
Pria itu tak berbalik maupun menoleh, dia masih berdiri membelakangi Eliza.
“Keluargamu.”
Wanita itu hanya bisa melihat punggung Vale yang keluar dari kamarnya, namun ajakan itu benar-benar berarti bagi Eliza. Dia pikir dia tak akan bisa menemuinya meski melihat makamnya saja, Eliza akan berterima kasih.
Ia menunduk, merasakan kesedihan dan dukacita yang ia rasakan atas kehilangan keluarganya. Dia bahkan belum sempat memeluk kedua adiknya saat itu.
Tak butuh waktu lama, Eliza bersiap, mengenakan dress hitam polos selutut dengan mantel hitam panjang. Begitu juga Vale, yang mengenakan kaos hitam, celana hitam dan mantel yang sama seperti Eliza. Jangan lupakan kacamata hitamnya juga.
Di satu mobil hanya ada Vale dan Eliza, sementara di dua mobil lainnya, ada Lou dan anak buah Vale.
Langit Birmingham kelabu seperti kain kafan yang digantung terlalu rendah. Mobil hitam Vale berhenti beberapa meter dari gerbang pemakaman tua di pinggir kota. Tidak ada wartawan. Tidak ada polisi. Hanya angin dingin yang menyusup di antara nisan dan pohon cemara yang berdiri seperti barisan hakim bisu.
Vale turun lebih dulu. Ia tidak membuka pintu Eliza dengan tergesa. Ia menunggu. Seperti memberi ruang pada kematian untuk menyapa lebih dahulu.
Eliza keluar perlahan. Sepatu hitamnya menjejak tanah basah. “Berapa menit?”
“Sampai kau merasa puas.” Jawab Vale santai.
Tangannya gemetar di balik mantel panjang. Matanya memerah, tapi bibirnya terkunci rapat. Tak ada satu kata pun keluar. Eliza menatap ke nisan yang tertulis nama ayah, ibu dan kedua saudarinya.
Bibirnya bergetar, kedua tangannya mengepal. -‘Maafkan aku... Harusnya aku tidak meninggalkan kalian. Aku akan membuat Luis menyesalinya...’ Batin Eliza yang kalut dalam kesedihannya.
Sementara Vale. Pria itu yang tadinya menatap lurus dan tegas, kini dia menoleh ke kiri. Mata peraknya semakin tajam dibalik kacamata hitamnya, ketika dia melihat wanita pirang yang akan dan selalu dia kenal. Veronica Vale.
Wanita itu berdiri sedikit jauh, bersandar di mobil merahnya sembari merokok santai menatap ke kakaknya.
Vale tak menunjukkan reaksi berlebihan, dia masih tenang dan kembali menatap lurus. Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya mereka kembali ke mobil masing-masing.
“Bagaimana kau bisa menemukan mereka?” tanya Eliza ketika duduk diam di dalam mobil.
“Mencari sesuatu sangatlah mudah jika kau memiliki niat.” Jawab Vale.
Eliza bersandar mencoba tenang, hingga Vale membelokkan setir mobilnya sementara kedua anak buahnya masih melaju lurus.
“Kita beda jalur?”
“Ya. Ada seseorang yang harus kutemui.”
Eliza hanya bisa berkerut alis saat Vale semakin menambah kecepatan mobilnya, seolah-olah tengah mengikuti mobil merah yang ada jauh di depan mereka.
Sampai di tempat yang sepi hendak menuju ke jalanan ladang tak berujung. Mobil merah berhenti tepat di depan mobil Vale. Brakk!!
Sosok wanita cantik, berambut pirang dan bermata perak seperti Vale. Ya! Eliza mengenali wajah cantik itu. “Veronica...” ucapnya pelan lalu menoleh ke Vale.
“Tetaplah di dalam.” Pinta pria itu yang keluar mobil.
Veronica menatap ke Eliza seraya tersenyum devil, lalu ke kakaknya.
“Senang melihatmu sehat!” kata Veronica tanpa ada rasa hormat ke pria dan anak yang lebih tua darinya.
Vale masih diam menatap ke adiknya dengan tajam. Sedangkan Veronica kembali melirik ke Eliza. “Kenapa dia tidak turun? Kau takut aku akan mengincarnya juga?”
“Sudahi permainan mu. Dan aku akan melupakan semuanya.” Tegas Nathaniel Vale yang malah membuat Veronica menyeringai kecil 3 detik sebelum tatapannya kembali datar.
“Aku belum puas.” Balasnya.
.
.
.
Soraya menempelkan keningnya ke setir mobil tatkala dia tidak menemukan keberadaan ibunya. Mungkin karena jarak waktu mereka yang cukup lama. Namun, Soraya tak tinggal diam, dia akan mencarinya lagi meski langit sudah menunjukkan siang bolong, ia terus melajukan mobilnya.
(“Kau harus membalas mereka, atau mereka juga akan membunuh kita semua, sayang...”)
Ingatan yang mulai muncul hampir membuat Soraya menabrak mobil orang lain, tapi untungnya ia langsung banting setir dan menabrak paving jalan.
“Fuck!!” umpat seorang pria yang hampir tertabrak oleh mobil Soraya.
Sementara Soraya menguak lebar matanya, saat dia samar-samar mengingat ucapan ibunya, antara benar dan salah. Dan itu sudah sangat lama.
Tok! Tok!
Sebuah ketukan di kaca mobil membuat Soraya menoleh dan ketegangan diwajahnya berubah menjadi lebih tenang saat ia melihat Carlitos.
Ya, mereka memutuskan untuk berbincang di cafe terbuka, lebih tenang dan baik-baik. Terlihat bagaimana Soraya hanya bisa menunduk diam saat pria berjas hitam itu terus menatapnya dengan emosi tertahan.
“Tingkahmu hampir saja mencelakai orang lain, Soraya. Apa kau tidak bisa berubah? Kau mengikuti ku hanya untuk memata-matai Kim? Jika dia tahu, dia akan marah.”
“Tidak. Tidak Carlitos... Aku tidak mengikuti mu, okay... Aku bersalah karena tidak fokus menyetir. Tapi aku tidak mengikuti mu,” kata Soraya benar-benar serius.
Carlitos menatap dengan alis tegas.
“Lalu apa yang kau lakukan sampai hampir membuat kecelakaan hah?”
Soraya terdiam, dia bingung harus berkata apa, dia juga sadar kalau Carlitos bukan lagi suaminya yang bisa dia curhati.
“Entahlah. Aku ingin mencari sesuatu tentang keluargaku. Mungkin ucapanmu dulu ada benarnya, seharusnya aku mencaritahu.” ungkap Soraya yang tersenyum kecil hampir tak terlihat.
Mendengar itu, Carlitos seperti terkejut. “Kau akan dalam masalah jika melakukannya. Aku sudah memperingatkan mu sebelumnya.” Balas Carlitos yang meneguk habis kopinya laku bangkit dari duduknya. Soraya tentu saja ikut berdiri.
“Awasi saja ibumu, dia yang harus diselidiki.” Kata pria itu sebelum akhirnya masuk ke mobilnya.
Sementara Soraya hanya diam, memandangi kepergian mantan suaminya. Ucapannya masih sama seperti dulu, seolah Carlitos memang tidak menyukai Esperance. Why?