kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Nostalgia di Menara
Setelah ketegangan yang memuakkan di aula utama, Panglima menuju taman istana yang tersembunyi di balik dinding-dinding batu raksasa Atlas. Penyihir Petir mengikuti di belakangnya dengan langkah yang sunyi, jubahnya berdesir lembut di atas jalan setapak yang dingin. Keduanya berjalan dalam keheningan, mencoba mencerna kegagalan ekspedisi mereka yang baru saja berakhir dengan kehinaan di mata Ratu Layla.
Delta berhenti di depan sebuah dahan pohon yang meliuk aneh. Matanya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak biasa. Seekor belalang sembah berukuran cukup besar hinggap di sana, namun gerakannya tidak natural. Mahluk itu bergerak patah-patah, seolah-olah ada benang-benang gaib yang menarik tubuhnya. Delta membungkuk untuk melihat lebih dekat, dan saat itulah ia melihat sesuatu yang menjijikkan. Dari celah-celah segmen tubuh belalang itu, keluar serat-serat halus berwarna kelabu keunguan yang berdenyut pelan.
Penyihir Petir mendekat, matanya menyipit saat melihat denyut parasit tersebut. Ia mengangkat tangannya, membiarkan percikan listrik kecil menerangi mahluk itu. "Sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di sini, Penasehat," gumam Delta,
Delta menyentuh dahan itu dengan sarung tangan besinya, membuat belalang itu terjatuh namun tetap bergerak meskipun kakinya telah patah. Parasit itu mulai keluar lebih banyak, mencoba mencari inang baru , Di tengah keheningan taman yang mencekam, Delta merasa telah menemukan potongan teka-teki yang selama ini menghilang.
Delta berdiri tegak, matanya masih terpaku pada parasit yang berdenyut di tanah. Ia berpaling ke arah Penyihir Petir dengan ekspresi yang sangat serius. "Apakah kau lihat itu, Penasehat? Apakah menurutmu parasit kecil itu yang memegang kendali penuh atas pikiran mahluk malang ini?" Delta bertanya dengan nada tegas. Ia tidak menunggu jawaban dan melanjutkan, "Lihatlah belalang itu. Gerakannya, kekosongan di matanya... ia persis seperti siluman-siluman serangga yang menghancurkan pasukan garda depan kita di perbatasan. Mereka tidak bertempur dengan taktik, melainkan dengan kegilaan yang terorganisir, seolah-olah satu otak menggerakkan ribuan tubuh."
Pikiran Delta melayang kembali pada kejadian mengerikan saat Ratu Layla diculik. "Ingatlah pria bersisik itu? Mahluk yang berani menyentuh junjungan kita ? Dia memang sudah mati, hancur berkeping-keping karena penyihir hutan berhasil melahapnya dengan mengubah dirinya menjadi pohon raksasa . Namun, kematian pria bersisik itu meninggalkan banyak pertanyaan. Aku sekarang sangat yakin, dia bukan bekerja sendirian. Dia pasti telah menanamkan parasit serupa ke dalam pusat saraf Arkhne dan koloninya untuk memastikan mereka patuh."
Penyihir Petir tersentak, tongkatnya sedikit bergetar di tangannya. "Jika apa yang kau katakan benar, Delta," bisik Penyihir Petir, "maka musuh kita bukan sekadar monster yang lapar, melainkan arsitek biologis yang bisa mengubah seluruh dunia menjadi boneka mereka."
Penasehat mencoba memberikan jawaban, namun kata-katanya tidak pasti, "Mungkin saja itu adalah sihir kuno yang sudah lama punah, atau mungkin..."
Kalimatnya terputus saat suara langkah kaki mendekat. Ratu Layla muncul dari balik bayang-bayang pilar taman, wajahnya masih memancarkan kemarahan dari kejadian di aula,
"Berhenti membuang waktu dengan serangga sialan itu!" bentak Ratu Layla, "Aku memerintahkan kalian berdua untuk segera memindahkan semua upeti dan harta yang kalian bawa dari negeri itu ke gudang rahasia di bawah menara naga. Jangan biarkan satu koin pun tertinggal di dermaga. Bergeraklah sekarang sebelum kesabaranku benar-benar habis!"
Delta menatap langsung ke mata Ratu, mencoba menyalurkan ketenangan di tengah badai kemurkaan wanita itu. "Ratuku yang agung, dengarkan aku sejenak sebelum Anda menghukum kami," ucap Delta dengan suara yang rendah .
"kami sangat lelah ratuku, berilah sedikit ruang bagi kami untuk bernafas"
Ratu Layla langsung berkata dengan kasar, "Kau adalah seorang panglima yang gagal membawa kemenangan nyata, dan sekarang kau menolak perintahku, ini adalah hukuman untukmu delta?"
Ratu Layla terus mencaci-maki Delta,
"Kalian berdua akan melakukan apa yang aku perintahkan!" Ratu Layla menunjuk ke arah dermaga "Pindahkan upeti itu sekarang juga! Jika aku mendengar satu kata lagi keluhan, aku akan memastikan lidah kalian menjadi santapan Griffon sebelum matahari terbit! Pergi dari hadapanku dan laksanakan tugas kalian sebagai pelayan yang patuh, !"
Delta dan Penyihir Petir hanya bisa menundukkan kepala sedalam mungkin di hadapan kemurkaan sang ratu, keduanya lalu meninggalkan taman, menuju dermaga untuk melakukan pekerjaan kasar yang diperintahkan.
Panglima Delta, dengan baju zirah hitamnya yang masih berlumuran debu,duduk bersandar pada sebuah pilar batu besar. Di hadapannya, Sang Penasehat—seorang penyihir petir tua yang menjadi mentor sihir Layla—sedang sibuk membolak-balik lembaran perkamen kuno. Mereka baru saja menyelesaikan penaklukan besar, memastikan seluruh Minotaur, Centaur, Griffon, tunduk sepenuhnya di bawah panji Kerajaan Atlas. Namun, istirahat mereka yang singkat itu hancur seketika.
Pintu perunggu seberat satu ton itu terbanting terbuka hingga menghantam dinding, menciptakan dentuman yang menggetarkan fondasi menara. Ratu Layla melangkah masuk dengan jubah kebesarannya yang menjuntai, namun wajahnya tidak menyiratkan kemenangan. Matanya berkilat-kilat oleh emosi, dan percikan listrik biru keluar secara tidak terkendali dari ujung jemarinya, membakar karpet bulu yang ia injak.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" teriak Layla,"Berani-beraninya kalian duduk bersantai sementara aku mendengar laporan bahwa ada sekelompok pemberontak yang mencoba melukai griffon di garis depan! Delta, kau adalah Panglimaku! Tugasmu bukan berdiam diri di menara ini sambil menghirup aroma petir!"
Layla mengarahkan tangannya ke arah meja kayu jati di tengah ruangan. Sebuah ledakan listrik menghancurkan meja itu menjadi kepingan kecil. Wajahnya memerah, napasnya memburu.
Ia mulai berjalan mondar-mandir, memaki setiap detail laporan yang ia anggap tidak sempurna, mulai dari jumlah rampasan hingga kondisi pasukan Griffon yang menurutnya terlalu lemah dalam menyergap lawan.
"Kalian pikir kerajaan ini dibangun dengan kelembutan?" Layla kembali berteriak, kini tepat di depan wajah Delta. "Aku membangun Atlas dengan darah dan sengatan listrik! Jika kalian tidak becus menjaga ketertiban pasukan Minotaur itu, aku sendiri yang akan memanggang jantung mereka dan jantung kalian!" Penasehat hanya menunduk,
Di tengah ledakan amarah yang belum kunjung reda, Delta bangkit berdiri. Ia sama sekali tidak terlihat gentar atau tersinggung oleh makian Layla.
Ia menangkap kedua tangan Layla yang masih memercikkan listrik. Meski kulit telapak tangannya terasa perih tersengat, Delta tidak melepaskannya.
"Layla, cukup," bisik Delta dengan suara yang dalam dan lembut. Ia menarik Ratu Atlas itu ke dalam pelukannya, memaksa Layla untuk berhenti bergerak. Layla sempat memberontak, mencoba mendorong dada Delta yang keras, namun kekuatan Panglima itu jauh lebih besar. Perlahan, Delta membimbing Layla untuk duduk di sebuah kursi panjang, lalu ia berlutut di hadapannya, masih memegang tangan sang Ratu.
"Apakah kau ingat?" Delta memulai pembicaraan, matanya menatap langsung ke dalam mata Layla yang mulai meredup kilatnya. "Dahulu, kita tidak memiliki takhta ini. Kita tidak memiliki pasukan Naga atau Minotaur. Kita hanya dua anak kelaparan yang bersembunyi di balik pilar batu pasar. Ingatkah kau saat kita pertama kali merampok kedai roti besar itu? Kau menggunakan sihir listrik mu yang masih kecil untuk mengejutkan kuda penjaga, dan aku berlari secepat mungkin memeluk karung gandum sambil dikejar-kejar oleh warga."
Delta terkekeh pelan,"Kau begitu galak saat itu, persis seperti sekarang. Kau memarahiku karena aku menjatuhkan sepotong daging di jalanan. Kita makan di dalam gubuk tua yang bocor, berbagi sisa tulang dan memimpikan hari di mana tidak ada yang bisa mengejar kita lagi. Saat itu, kau berjanji bahwa jika kita menjadi kuat, kita akan makan sepuasnya tanpa perlu merasa takut. Kini, kau adalah Ratu Layla, pemilik Kerajaan Atlas. Semua makanan di dunia ini ada di tanganmu. Mengapa kau masih merasa perlu membakar dunia hanya karena masalah kecil?"
Mendengar cerita itu, napas Layla mulai teratur. Bahunya yang tegang mulai merosot. Kenangan tentang rasa lapar yang melilit perut dan dinginnya gubuk tua itu seolah menyiram api di hatinya. Ia teringat bagaimana Delta selalu berdiri di depannya, melindungi punggungnya dari lemparan batu warga pasar. Kekejamannya perlahan mencair, digantikan oleh rasa rindu pada masa-masa di mana segalanya sangat sederhana, meski penuh penderitaan.