NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 11: chrysanthemum: flower of november [4]

HAMON melaporkan bahwa kematian 20 orang yang tadi malam kubantai telah dimakamkan dengan layak dan keluarga mereka telah diberi uang kompensasi yang lumayan besar. Meski demikian, tentu saja itu tidak bisa meredam kesedihan karena ditinggalkan dengan tragis. Walaupun penduduk Petunia marah dan tidak terima, mereka tetap tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah pada keadaan. Tidak ada pilihan selain tunduk patuh sembari meredam keinginan balas dendam. Sebagai kaum yang tidak memiliki kekuatan, diam dan patuh adalah sebuah usaha untuk bertahan hidup.

Malam itu menjadi sejarah kelam Petunia yang sialnya terjadi tidak lama setelah bergabung ke dalam Adenium. Kejadian yang akan membekas di seluruh ingatan karena takdir Petunia yang mempunyai pemimpin sepertiku. Atau haruskah disebut sebagai kemalangan? Sebab kata takdir terlalu bagus untuk menggambarkan tragedi tersebut.

Kedinginan musim gugur menyebar pada atmosfer pagi ini. Ksatria berbaris di sisi kanan dan kiri, lalu di belakangnya penduduk Petunia menunduk hormat. Aku berjalan lurus mengabaikan mereka. Tidak mengharap pelepasan yang norma apalagi senyuman palsu. Datang untuk mengantar kepergianku pun juga merupakan kesulitan besar.

“Selamat jalan, Yang Mulia.” Duke of Astello mewakili semua orang berkata dengan ramah. Dia menunduk hormat melepas kepergianku diikuti Count of Cantaloupe dan seluruh Petunia. Meski harus memasang wajah seperti tidak ada yang terjadi, atmosfer yang berbeda ini selalu mengatakan kejujuran. 

Kusir menutup pintu kereta kuda begitu aku duduk. Seperti sewaktu ke sini, perjalanan  menuju istana juga ditempuh dengan membuka portal sihir yang berada di perbatasan antara Petunia dan Burnet. Menempuh waktu kurang lebih 25 menit, kita akan tiba di tanah lapang yang sangat luas dan dikelilingi dengan hutan di kanan dan kirinya. 

Salah satu jalur tempuh kereta kuda melintas adalah jalan setapak dekat hutan yang menjadi tempat pertemuan pertamaku dengan Elora. Ingatan tentang hari itu muncul kembali ketika melewatinya. Saat perompak itu muncul dari balik hutan, saat aku mengalahkan mereka, saat Elora muncul dari dalam karung goni, dan saat Elora akhirnya ingin kubunuh, tetapi aku memilih mempertahankannya di sisiku.

“Papa.”

Aku menoleh. Tangannya yang menggenggam sesuatu dia ulur ke depan, menarik sudut bibir ke atas, panadngan yang bersinar, lalu pipi tembem yang terangkat dia berkata dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi.

“Dion membeliku ini,” ucapnya sembari menunjukkan sekuntum bunga krisan  berwarna kuning yang sudah diawetkan menggunakan [mana]. “Cantik, ‘kan? Katanya ini milip dengan lambut El.”

Aku mengerutkan dahi. “Dion?”

“Dia teman balu El!”

“Teman?”

“Ya.”

Aku melipat tangan di depan dada, memicingkan mata, bertanya, “Sejak kapan?”

“Kemalin.” Dia menarik tangan, meletakkannya di atas paha. “Saat belkeliling, Dion menghampili El dan membelikan ini. Lalu, Hamon membuatnya tidak layu.”

Dia terus memandangi bunga itu tanpa melepas senyum lebar di wajah. Seluruh perhatiannya mengarah ke sana. Kereta kuda jadi tidak bising dan aku tidak perlu membuang tenaga menjawab pertanyaan atau rasa ingin tahunya. Namun, tiba-tiba aku penasaran. Seandainya waktu berputar dan aku kembali lagi ke saat itu; apakah pilihan membunuh Elora adalah keputusan yang lebih tepat atau malah keputusan membiarkannya hidup adalah yang terbaik?

Aku menjadi lebih penasaran terhadap bagaimana nasibku ke depannya.

***

Memasuki ruang kerja dan duduk, Leocadio membuka pintu begitu saja setelah satu kali mengetuk. Tanpa basa-basi berjalan cepat ke arah meja dengan sorot mata tajam dan kerutan vertikal di antara alis yang menukik ke bawah. Dari ekspresinya, aku sudah menduga bahwa kabar mengenai kejadian baru-baru ini telah tersampaikan dengan sangat baik. 

“Yang Mulia, saya mendengar bahwa Anda membunuh penduduk Petunia yang dapat menjadi ujung tombak kemajuan wilayah. Saya sangat mengapresiasi ketika sakit kepala Anda kambuh, tetapi Ada tetap dapat mengontrol diri dan memmbunuh lansia.” Dia memberi jeda. “Walaupun itu sejujurnya bukanlah hal yang bisa dikatakan tepat. Tetapi, bukankah terakhir kali Anda dapat tetap mengontrol diri dan berpikir?”

“Terjadi begitu saja.”

“Apakah tingkat sakitnya tidak sama seperti dulu?” Dia memegang kening, menghela napas, kemudian menggeleng. “Pasti begitu. Frekuensi sakit yang tidak menentu dan tingkat kesakitan yang berbeda-beda tiap kali kambuh. Jika ditambah dengan kejadian ini, kalau tidak salah sudah empat kali, bukan?”

“... benar.”

“Sebaiknya, kita meminta bantuan menara sihir dan alkemia.” Dia memejamkan mata sembari menggaruk dagu. Lalu setelah beberapa saat menatapku kembali dan berkata, “Yang terpenting adalah Anda telah membuat Putri melihat adegan tersebut! Bagaimana bisa Anda membuat anak kecil yang imut seperti kelinci sepertinya ternoda!”

Aku memicingkan mata. “Apa tujuan awalmu memang hanya ingin membahas Elora?”

“Tentu saja tidak, Yang Mulia.” Dia berdeham, menatapku serius, lalu melanjutkan, “Tetapi, Putri yang polos itu pasti sangat ketakutan dan tidak bisa melupakan kejadian tersebut. Apakah Yang Mulia masih ingat dengan kejadian waktu itu? Saat Anda mengajaknya menonton pembunuhan!” Dia menggeleng dramatis. “Saya masih ingat bagaimana Putri terbaring lemas di tempat tidur dan–”

“Kau pasti sangat ingin ke neraka, kan?” Aku menyeringai. “Makanya kau menjadi sangat berani seperti ini.”

Dia membuka mulut ingin membela diri, tetapi sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, aku menjentikkan jari dan seketika suara orang itu tidak terdengar lagi, sekuat apa pun dia berteriak. Ini adalah kemurahan hati yang dapat kuberi karena telah membuatku melihat dan mendengar hal yang tidak jelas, mengatakan sesuatu yang berlebihan sembari menggerakkan anggota tubuh, seolah bertingkah layaknya seorang aktor orchestra yang saraf-saraf otaknya telah putus tak bersisa.

Si sialan di depanku akhirnya menggebrak meja. Sorot mata serius yang menatapku itu seperti meminta untuk dibunuh. Meski sangat ingin menghilangkan nyawanya, sayangnya aku masih membutuhkan kepintaran pria itu. Maka, menjentikkan jari kembali dengan malas, teriakan Leocadio akhirnya terdengar. Dia nampak terkejut dan juga lega setelah memegang jakunnya dan menatapku kembali.

“Hamba yang rendah ini mengucapkan terima kasih.”

Aku mengaitkan jemari tangan sebagai penopang dagu, memberikan tatapan tajam, berkata, “Sebaiknya, kau segera menyelesaikan laporanmu sebelum suaramu benar-benar hilang dan tidak kembali.”

Dia sertamerta terbatuk-batuk sebelum berdeham singkap dan membuka mulut. “Saya akan segera mengontak menara sihir dan alkemia–”

“Tidak perlu.”

“Ya? Tetapi, jika terus dibiarkan–”

“Kau kan juga tahu.” Aku memotong. “Sakit kepala ini tidak bisa diobati dengan sihir ataupun obat-obatan yang dicampur sihir.”

Leocadio menolak pinggang sembari menghela napas panjang. “Meski demikian, kita harus menyelidiki penyebab perubahan yang mendadak ini, Yang Mulia. Jika puluhan nyawa hanya cukup meredakan sakit kepala Yang Mulia selama satu atau dua hari, berapa banyak nyawa yang harus melayang ke depannya?” Dia memegang dahi. “Bisa-bisa penduduk kekaisaran ini habis.”

“Kau khawatir?”

Air mukanya berubah. Menurunkan tangan ke sisi tubuh, mengepalnya, lalu menatapku serius. “Tentu saja saya khawatir.”

Leocadio sebagai Perdana Menteri memang sangat wajah mencemaskan hal tersebut. Bahkan aku memaklumi jika dia marah. Sebab keberadaannya pun tidak jauh berbeda dengan individu yang bisa kubunuh kapan saja jika sakit kepala sialan ini datang. Namun, sejak awal aku memang tidak peduli meski seluruh manusia di bumi ini habis. Ya, kupikir itu berlaku selama beberapa saat sebelum Elora hadir di hidupku.

“Yang Mulia?”

Aku mengalihkan pandangan menatap Leocadio dengan serius. “Katanya, dia bisa meredakannya.”

“Ya?”

“Dia datang menemuiku dan mengatakan bahwa dia bisa menyembuhkan sakit kepalaku. Jadi, tunggulah sebentar sampai anak itu membuktikan perkataannya. Lagipula, aku juga harus menyelidiki maksud kedatangannya. Sekarang kembalilah.”

Meski di wajahnya tertulis banyak pertanyaan, Leocadio tetap patuh dan memilih mengalah. “Semoga keberkahan selalu mengelilingi Bintang Adenium.” Setelah memberi hormat, dia berbalik dan beranjak keluar. Namun, aku melirik ketika hanya mendengar suara gagang pintu yang ditarik ke bawah.

“Apa Yang Mulia berpikir bahwa sakit kepala yang datang tiba-tiba dan tidak beraturan itu berkaitan dengan Putri?” Dia memberi jeda sebelum melanjutkan kembali, “Lalu, apakah Anda menyadari Yang Mulia? Bahwa atmosfer di sekitar Anda mulai tidak semenyeramkan dulu? Meski tipis, itu adalah perubahan yang cukup besar.”

Setelah bunyi pintu ditutup rapat terdengar, aku terdiam memikirkan perkataan terakhir Leocadio. Mungkinkah aku telah terkena pengaruh Elora?[] 

1
Sinchan Gabut
Jadi apa ad hub sama Permasuri yg dpenggal kah?

Putri Puding Coklat kenapa nangis sayang? 🤗🍮
Aruna02
di bawa terbang ini 😱😱
Aruna02
ya ampun asli nya pengen ketemu elola 😭😭😭
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!