Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Keluarga
Putri merangkul lututnya dan duduk di atas sofa, malam itu ia tak bisa tidur.
Tangisnya tak bersuara, mengalir deras membasahi pipi. Ia telah kehilangan segalanya, impian masa depan, kehangatan keluarga, bahkan kebebasan untuk memilih takdirnya sendiri.
Kini, ia terperangkap dalam sangkar emas ini, bersama seorang pria yang menganggapnya pengganti, bayangan dari wanita lain.
Keesokan harinya, Devan bersikap seperti biasa. Ia bangun pagi, bersiap ke kantor, dan sarapan dalam keheningan.
Putri mencoba membantu di dapur, tapi Devan hanya menatapnya sekilas dan berkata. "Tidak perlu. Ada Bibi yang akan mengurusnya."
"Aku bisa..." Putri mencoba, ingin membuktikan bahwa ia juga bisa berguna.
"Tidak perlu," potong Devan tajam, "aku tidak ingin kau melakukan apa pun yang tidak kau inginkan. Pernikahan ini bukan apa-apa bagiku, jadi jangan bersikap seolah-olah kamu adalah istri yang sesungguhnya. Aku tidak pernah mencintai kamu, dan tidak akan pernah. Camkan itu!"
Kata-kata itu bagai tamparan keras di wajah Putri. Ia merasa sakit, namun tak bisa menyalahkan Devan. Ia tahu, Devan juga korban dalam drama ini.
Hari-hari berlalu dalam rutinitas yang sama. Devan pergi pagi dan pulang malam, terkadang tidak pulang sama sekali.
Putri menghabiskan waktunya ditemani kesunyian dan buku-buku. Ia mencoba mendekorasi ulang, menghadirkan sentuhan pribadinya, tapi setiap kali ia melakukannya, ia merasa sia-sia. Rumah ini bukan miliknya, begitu juga hidup ini bukan miliknya.
Sore hari, ketika Devan sudah di rumah. Saat itu ia sedang duduk di luar sambil menikmati secangkir kopi buatan Putri, yang Devan ketahui adalah buatan bi Rena.
"Mas Devan," panggil Putri pelan.
Devan mengangkat kepala, menatapnya dengan pandangan dingin. "Ada apa?"
"Aku... aku ingin bertanya," kata Putri, tangannya saling meremas gugup. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tentang hubungan kita ini, tentang pernikahan kita?"
"Tidak perlu melakukan apa-apa, duduk saja dengan tenang dan nikmati kebahagiaanmu!" ketus Devan seraya kembali menatap ke depan.
Lagi-lagi Putri gagal untuk meruntuhkan tembok besar di atara dirinya dan Devan. Lelaki itu... dia mungkin tidak akan pernah memberinya hati.
"Mas masih berharap kak Mara kembali?"
Putri lanjut bertanya, ia belum menyerah pada sikap dingin suaminya.
Devan tersenyum sinis, ia pandangi Putri dari atas sampai ke bawah. "Kalian berdua bahkan tidak layak untuk dibandingkan, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tamara. Tamara, dia benar-benar perempuan yang ingin aku jadikan pelabuhan terakhir, sayangnya takdir malah memilih kamu."
"Tapi..."
"Cukup! Jangan teruskan lagi, aku enggak mau denger apa pun kejelekan tentang Tamara keluar dari mulut kamu, nyebut namanya aja kamu enggak pantas. Pergi sana! Jangan buat suasana hati aku tambah kacau hari ini!" pungkas Devan.
Putri terdiam lagi, dia kehabisan kata-kata. Namun, hatinya masih berharap, dia belum menyerah.
***
Udara malam terasa menusuk di tubuh Putri, dua bulan setelah pernikahan mereka berlangsung, Devan mengumumkan bahwa mereka akan makan malam di rumah orang tuanya.
Sebuah undangan yang lebih menyerupai perintah, untuk menunjukkan kepada seluruh keluarga besar bahwa aib telah tertutup rapi dengan pernikahan mendadak ini.
Putri mengenakan gaun sederhana berwarna biru laut, pilihan yang paling ia rasa aman dan tidak menarik perhatian. Ia tahu posisinya. Ia bukan menantu idaman, hanya pelarian untuk menutupi sebuah skandal.
Saat mobil Devan memasuki gerbang megah kediaman keluarga Pramudita, rasa gugup mulai mencengkeram.
Rumah besar dengan taman yang terawat rapi itu dipenuhi cahaya lampu dan suara tawa, tanda bahwa keluarga besar Devan telah berkumpul.
Begitu Devan dan Putri melangkah masuk, semua mata tertuju pada mereka. Beberapa tatapan simpati, beberapa lagi penuh rasa ingin tahu, dan sisanya... tatapan menilai yang membuat Putri ingin menghilang.
"Devan! Putri!" seru ibu Devan, bu Ambar.
Dengan senyum yang sedikit dipaksakan ia memeluk Devan erat, lalu menoleh ke arah Putri dengan senyum tipis. "Selamat datang, Nak."
Putri membalas senyum itu, berusaha terlihat sopan dan ramah. Ia merasakan cengkeraman tangan Devan di pinggangnya, sinyal agar ia tetap menunjukkan sandiwara ini di depan umum.
Makan malam berlangsung meriah di meja panjang yang dipenuhi hidangan lezat.
Tawa renyah, obrolan ringan, dan candaan memenuhi ruangan. Namun, Putri merasa seperti patung tak kasat mata yang duduk di sudut meja.
Devan sibuk berbincang dengan papa dan om-om nya mengenai bisnis, sementara bu Ambar lebih banyak menanyakan kabar Tamara, kakaknya Putri yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.
Tidak ada yang bertanya tentang Putri, tentang perasaannya, atau bahkan sekadar basa-basi tentang hari-harinya. Ia hanya sesekali tersenyum kaku saat pandangannya bertemu dengan salah satu anggota keluarga, lalu kembali menunduk, menyendokkan makanan ke piringnya tanpa selera.
Setelah hidangan utama, suasana sedikit mencair. Beberapa sepupu Devan mulai bernyanyi dan bermain piano.
Putri diam-diam menyelinap keluar, mencari udara segar. Ia berjalan ke halaman belakang, yang sepi dan remang-remang diterangi lampu taman.
Udara malam yang sejuk menyentuh kulitnya, sedikit meredakan sesak di dada. Putri menemukan sebuah bangku taman di bawah pohon kamboja yang rindang. Ia duduk di sana, menyepi, membiarkan pikirannya melayang.
Ia memandang langit bertabur bintang, yang tampak begitu jauh dan acuh tak acuh seperti dirinya.
Sejak lahir, ia merasa selalu diabaikan. Ibunya meninggal, ayahnya tak pernah menoleh, ibu tirinya memandangnya sebagai beban. Dan kini, suaminya, yang seharusnya menjadi pelabuhan, juga tak memberikannya kehangatan.
Anak yang tak pernah diinginkan..." bisik Putri pada dirinya sendiri, suaranya tercekat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya. Ia tak boleh menangis di tempat asing ini, ia harus kuat.
"Ibu, Putri rindu. Kenapa ibu pergi dan ninggalin Putri di sini? Seharusnya ajak Putri, bu." Putri menyeka kedua sudut matanya yang mulai meneteskan air mata.
Ia ingat cerita mbok Sumi di rumah ayahnya, bagaimana ibunya berjuang melahirkannya, tanpa didampingi ayahnya, hanya ditemani mbok Sumi dan rasa sakit yang luar biasa.
Ayahnya kala itu sedang menemani Anggun yang pura-pura sakit di rumah sakit lain, untuk menghindari kelahiran Putri. Sebuah kisah yang menggoreskan luka, menjelaskan bahwa ibunya memang tidak pernah dicintai oleh ayahnya.
"Mereka tidak saling mencintai, tapi kenapa menikah?" tanya Putri pada diri sendiri, suaranya kecil, nyaris tak terdengar jelas. Namun, siapa sangka kalau seseorang mendengar pertanyaan itu.
"Apa yang ibumu rasa, itu adalah apa yang kamu rasakan sekarang. Memiliki raga, tapi tidak dengan jiwa. Bersama, tapi merasa sendiri." Devan tersenyum sinis, ia berdiri di samping Putri yang masih duduk di bangku panjang yang ada di halaman belakang.
Putri mendongak, menatap Devan dengan mata berkaca-kaca.
"Mas Devan tahu tentang keluarga aku juga?"
Devan menatap Putri cukup lama, dia diam dalam keheningan.
Putri menunggu, ia menunggu Devan untuk kembali bicara. Mengatakan apa yang ia tahu tentang keluarganya, sesuatu yang dia sendiri belum tahu sepenuhnya.