Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Fajar turun pelan di atas ibu kota, menyelimuti atap-atap bangunan dengan warna keemasan pucat. Dari kejauhan, kota tampak damai pasar mulai buka, asap dapur naik tipis, lonceng kuil berdentang lembut.
Terlalu damai.
Song An berdiri di depan jendela ruang kerjanya yang kini berada di paviliun utama permaisuri. Tangannya terlipat di balik lengan, matanya menatap jalan utama yang mulai ramai.
Mei masuk membawa nampan sarapan, tapi berhenti ketika melihat ekspresi tuannya.
“Yang Mulia terlihat seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak kelihatan,” katanya hati-hati.
Song An tersenyum tipis. “Karena memang begitu.”
“Masalah dari utara itu?”
“Bukan hanya utara,” jawab Song An pelan. “Ketenangan yang terlalu mulus selalu membuatku curiga.”
Mei mengerjap. “Bukankah ini yang selama ini kita perjuangkan? Negeri yang tenang?”
“Benar,” Song An mengangguk. “Tapi ketenangan sejati terasa hidup. Ini…” Ia menunjuk ke luar. “…terasa seperti seseorang menahan napas.”
Mei langsung ikut menahan napas.
Song An menoleh, menahan tawa. “Bukan begitu juga, Mei.”
Laporan yang Tidak Nyaman
Di aula rapat kecil, Kaisar Shen menerima laporan pagi dari para pejabat wilayah.
Sebagian besar kabar baik.
Panen membaik. Pajak stabil. Tidak ada pemberontakan.
Tapi satu laporan membuatnya diam sedikit lebih lama.
“Perdagangan garam di wilayah barat turun drastis?” ulang Kaisar.
Pejabat itu menunduk. “Ya, Yang Mulia. Padahal jalur dagang aman. Tidak ada perampokan.”
Song An yang duduk di samping meja langsung mengangkat kepala.
“Turun tanpa gangguan biasanya berarti ada jalur lain yang muncul.”
“Penyelundupan?” tanya pejabat keuangan.
“Bisa,” jawab Song An. “Atau seseorang sengaja mengalihkan arus barang.”
Kaisar memandang peta kecil di meja. “Garam bukan barang kecil. Siapa pun yang mengendalikannya bisa mengendalikan harga makanan.”
“Dan membuat rakyat marah tanpa perlu mengangkat senjata,” tambah Song An.
Ruangan jadi lebih sunyi.
Kaisar mengetuk meja pelan. “Selidiki. Diam-diam. Jangan buat pasar panik.”
Wajah Lama, Peran Baru
Siang itu, seorang pria dipanggil masuk istana melalui gerbang samping, bukan gerbang utama.
Ia mengenakan pakaian sederhana, wajahnya setengah tertutup topi bambu.
Song An menyambutnya di paviliun belakang.
Pria itu menurunkan topinya dan tersenyum tipis.
“Sudah lama, Yang Mulia Permaisuri.”
Song An mendengus kecil. “Kalau hanya berdua, panggil namaku saja. Aku masih belum terbiasa dipanggil begitu.”
Pria itu adalah Lin Qiao mantan pengantar pesan rahasia di masa kekacauan dulu. Kini ia memimpin jaringan informasi kecil yang bekerja langsung di bawah perintah Kaisar… secara tidak resmi.
“Apa yang kau temukan?” tanya Song An.
Lin Qiao mengeluarkan gulungan kain kecil. Di dalamnya ada peta kasar jalur dagang.
“Beberapa pedagang besar berhenti membeli garam resmi. Mereka membeli dari pemasok baru di luar catatan pajak.”
“Dari mana asalnya?”
“Tambang kecil di perbatasan barat laut. Seharusnya sudah tutup bertahun-tahun lalu.”
Song An menyipitkan mata. “Tambang mati tidak bisa hidup sendiri.”
“Ada yang membiayai pembukaannya kembali,” lanjut Lin Qiao. “Dan orang itu sangat berhati-hati. Semua transaksi lewat perantara.”
Song An menghela napas pelan.
“Bayangan baru… atau sisa bayangan lama yang belum kita bersihkan?”
Lin Qiao tersenyum tipis. “Bedanya tipis sekali.”
------
Malam itu, Song An melapor langsung pada Kaisar di ruang pribadinya.
Lampu minyak menyala redup, membuat bayangan mereka panjang di dinding.
“Garam?” ulang Kaisar setelah mendengar penjelasannya.
“Kelihatannya sepele,” kata Song An, “tapi kalau harga makanan melonjak, keresahan rakyat bisa dimanfaatkan.”
“Tanpa perlu pasukan,” gumam Kaisar.
Song An mengangguk. “Musuh kali ini mungkin belajar dari kegagalan sebelumnya. Tidak menyerang istana… tapi fondasinya.”
Kaisar menatap meja rendah di depan mereka. “Kita perkuat cadangan pangan. Turunkan pajak garam sementara.”
Song An tersenyum kecil. “Dan pura-pura tidak tahu ada penyelundupan?”
“Untuk sementara,” Kaisar membalas. “Biarkan mereka merasa berhasil.”
Song An menatapnya kagum. “Yang Mulia makin pandai bermain sabar.”
Kaisar tersenyum tipis. “Guru saya galak.”
Song An menunjuk diri sendiri. “Aku?”
“Siapa lagi yang berani memarahiku karena melewatkan makan siang?”
“Prioritas negara dimulai dari perut kaisar,” jawab Song An serius pura-pura.
------
Beberapa hari kemudian, surat datang dari Selir Li.
Tulisan tangannya lebih rapi dari Zhang Mei, tapi selalu penuh emosi tersembunyi.
Song An,
Desa kami mulai menanam kembali pohon teh lama yang dulu ditinggalkan. Orang-orang tertawa lebih sering sekarang. Tapi ada pedagang asing yang datang menawarkan harga garam sangat murah. Kepala desa merasa aneh.
Aku teringat nasihatmu, kalau sesuatu terlalu mudah, biasanya ada maksud lain.
Jadi aku kirim kabar ini.
— Li Hua
Song An membaca surat itu dua kali sebelum menyerahkannya pada Kaisar.
“Bahkan sampai desa kecil,” gumam Kaisar.
“Berarti jaringnya luas,” jawab Song An. “Dan mereka bergerak cepat.”
Kaisar menatapnya. “Kau ingin memancing mereka keluar lagi?”
Song An tersenyum tipis. “Tidak. Kali ini kita potong akarnya pelan-pelan.”
Orang Biasa yang Melihat Lebih Jauh
Di pasar ibu kota, seorang nenek penjual sup mengeluh pada pelanggan tetapnya.
“Harga garam aneh belakangan ini,” katanya. “Yang murah terlalu asin, yang mahal terlalu sedikit.”
Pelanggan itu yang sebenarnya mata-mata Lin Qiao tertawa kecil. “Nenek selalu tahu hal duluan.”
Nenek itu mendengus. “Kalau rasa sup berubah, pelanggan kabur. Itu urusan hidup mati buatku.”
Dan dari keluhan sederhana itulah laporan lain sampai ke istana.
Song An membaca ringkasan laporan itu sambil tersenyum kecil.
“Kadang intel terbaik tidak pakai pedang… cuma pakai sendok sup.”
----
Malam tanpa bulan.
Di gudang kecil dekat sungai barat, beberapa pria memindahkan karung-karung tanpa tanda resmi.
Salah satu dari mereka berbisik, “Kirim sebagian ke selatan. Harga mulai naik.”
“Bagaimana dengan istana?”
“Masih tenang. Tidak ada gerakan.”
Mereka tidak tahu, di atap bangunan seberang, dua bayangan memperhatikan.
Salah satunya berbisik, “Jangan tangkap. Ikuti sampai pemasok utama.”
Yang lain mengangguk.
Perintah Song An jelas, jangan putuskan rantai terlalu cepat.
----
Di paviliun dalam, Song An duduk di lantai dengan peta kecil terbuka di depannya. Benang merah tipis menghubungkan titik-titik wilayah.
Kaisar masuk membawa dua cangkir teh.
“Kau belum tidur lagi.”
“Kau juga,” jawab Song An.
Ia menunjuk benang itu. “Lihat polanya. Mereka tidak menyerang pusat. Mereka menggigit tepi, pelan-pelan.”
“Kita bisa menghentikan dengan paksa.”
“Bisa,” Song An mengangguk. “Tapi kalau kita salah tangkap, rakyat kecil yang terlibat karena terpaksa ikut menderita.”
Kaisar duduk di seberangnya. “Jadi kita sabar lagi.”
Song An tersenyum. “Kerajaan ini dibangun bertahun-tahun. Tidak akan runtuh hanya karena kita bergerak pelan.”
Kaisar menatapnya lama. “Kadang aku lupa kau dulu bukan orang sini.”
Song An mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena cara berpikirmu… selalu seperti melihat dari atas, bukan dari dalam.”
Song An tertawa kecil. “Keuntungan pernah hidup di dunia yang lebih kacau.”
Titik yang Hampir Terlihat
Tiga minggu kemudian, laporan dari Lin Qiao datang tergesa.
“Kami menemukan nama yang sama muncul di beberapa transaksi tambang,” katanya.
“Siapa?” tanya Song An.
Lin Qiao menelan ludah. “Seorang bangsawan kecil… yang dulu pendukung diam-diam Pangeran Dao.”
Song An tidak tampak terkejut.
“Jadi sisa-sisa masa lalu belum sepenuhnya hilang.”
“Perintah?” tanya Lin Qiao.
Song An memandang halaman istana yang tenang.
“Belum. Awasi terus. Kita butuh bukti bahwa dia bukan hanya pedagang serakah.”
Lin Qiao mengangguk dan menghilang seperti biasa.
Tenang Bukan Berarti Selesai
Malam itu, Song An berdiri di balkon lagi.
Lampu kota berkelip seperti bintang jatuh ke bumi.
Kaisar berdiri di sampingnya tanpa bicara.
“Apa kau lelah?” tanyanya akhirnya.
Song An berpikir sebentar.
“Tidak lelah. Hanya… sadar bahwa menjaga lebih sulit daripada merebut kembali.”
Kaisar mengangguk pelan. “Dulu kita melawan musuh yang terlihat. Sekarang kita melawan hal-hal kecil yang bisa tumbuh jadi besar.”
Song An tersenyum tipis.
“Seperti rumput liar.”
“Kita cabut satu-satu?”
“Pelan-pelan,” jawabnya. “Sampai tanahnya benar-benar bersih.”
Angin malam bertiup lembut, menggerakkan tirai sutra di belakang mereka.
-----
Tapi di balik kedamaian, benang-benang tipis sedang ditarik—pelan, hati-hati—oleh tangan-tangan yang tidak terlihat.
Dan Song An tahu,
pertempuran berikutnya tidak akan diumumkan oleh genderang perang.
Ia akan datang lewat harga garam, keluhan pedagang, dan gudang sunyi di tepi sungai.
Pertempuran sunyi.
Yang hanya bisa dimenangkan oleh kesabaran.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....