NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: HINAAN DARI PERMAISURI PERANCIS

Angin laut membawa aroma cengkeh dan lada ke pelabuhan, aroma yang membuat bangsa-bangsa datang dari jauh dan lupa bahwa tanah ini sudah memiliki pemilik sebelum mereka menamainya.

Kapal Perancis merapat menjelang siang.

Bendera biru-putih-merah berkibar di antara deretan kapal Belanda dan Inggris, warna yang tampak seperti pernyataan: dunia tidak pernah dimiliki satu kekuasaan saja.

Orang-orang desa tidak mengerti politik internasional. Mereka hanya tahu setiap kapal baru berarti lebih banyak perintah, lebih banyak kerja, lebih banyak mata asing menilai tanah mereka seperti barang dagangan.

Di kota, gedung residen kembali bersiap.

Jamuan lagi. Pertemuan lagi. Senyum lagi.

Dan Melati kembali dipanggil.

Ia duduk diam ketika pelayan merapikan rambutnya. Gerakan mereka sudah terbiasa, seperti merawat benda yang sering dipamerkan. Tidak ada yang bertanya bagaimana perasaannya. Tidak ada yang perlu tahu.

Kain yang ia kenakan lebih mahal dari sebelumnya.

Itu membuatnya semakin kecil.

Ibunya menatap dari pintu, mata merah yang tidak lagi banyak bicara. Sejak malam di paviliun, ada kesunyian baru di antara mereka—bukan jarak, tetapi kesadaran bahwa dunia telah mengambil sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.

“Jangan lama,” bisik ibunya, kalimat yang lebih mirip doa.

Melati mengangguk.

Ia sudah belajar: hidupnya kini sering ditentukan oleh orang lain.

Gedung residen lebih ramai dari biasanya.

Bahasa Perancis bercampur Belanda, Inggris, Melayu. Gelas berbunyi, sepatu menggesek lantai marmer, musik mengalir seperti sesuatu yang sengaja dibuat agar tidak ada yang memikirkan apa yang terjadi di luar pagar.

Di luar, pekerja masih ada.

Jalan semakin panjang.

Kota semakin rapi.

Dan tubuh manusia tetap menjadi biaya.

Melati berdiri di sisi ruangan, posisi yang familiar—cukup dekat untuk terlihat, cukup jauh untuk tidak dianggap setara.

Willem datang terlambat.

Tatapannya langsung mencarinya.

Ia tidak tersenyum, tetapi berdiri sedikit lebih dekat dari sebelumnya. Kepemilikan tidak selalu diucapkan; sering cukup ditunjukkan melalui jarak.

“Kau baik?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu terdengar aneh setelah semua yang terjadi.

“Saya di sini, Tuan,” jawab Melati.

Willem menatapnya lama, seolah jawaban itu terlalu kecil untuk sesuatu yang lebih besar yang tidak ia tahu bagaimana memperbaikinya.

Keributan di pintu memotong percakapan.

Perancis datang.

Lucien masuk dengan keanggunan yang berbeda dari Edward. Jika Edward seperti pemain catur, Lucien seperti seseorang yang terbiasa menjadi pusat ruangan tanpa berusaha.

Di sampingnya berjalan Permaisuri Isabelle.

Cantik dengan cara yang tajam. Gaun berlapis, perhiasan berkilau, tatapan yang tidak perlu keras untuk terasa merendahkan. Ia melihat ruangan bukan sebagai tempat orang berkumpul, tetapi panggung tempat sesuatu harus sesuai standar.

Perkenalan berlangsung panjang. Tawa sopan. Politik dalam kalimat indah.

Lalu Isabelle melihat Melati.

Berhenti.

Itu hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk mengubah arah perhatian.

Isabelle berbisik sesuatu pada Lucien. Lucien melirik, lalu kembali tersenyum ke pejabat lain—tidak terlalu tertarik.

Isabelle berbeda.

Ia berjalan mendekat.

Willem menegang sedikit.

Melati menunduk.

“Aku mendengar banyak cerita,” kata Isabelle dalam bahasa Melayu yang beraksen halus namun jelas. “Dan rupanya cerita itu benar.”

Sunyi kecil muncul.

Isabelle mengamati Melati dari kepala sampai kaki, cara yang Melati kenal terlalu baik.

“Jadi ini gadisnya.”

Tidak ada kemarahan. Hanya penilaian.

Willem bicara sebelum Melati.

“Permaisuri.”

Isabelle tersenyum tipis.

“Tenang, Pangeran. Aku hanya penasaran.”

Ia berdiri sangat dekat, cukup dekat untuk membuat Melati mencium parfum mahal yang berbeda dari aroma Eropa lain—lebih dingin, lebih tajam.

“Kau tahu,” kata Isabelle pelan tetapi cukup keras untuk didengar orang sekitar, “bangsawan Eropa punya kebiasaan aneh di koloni.”

Beberapa orang menahan napas.

“Mereka menyebutnya eksotisme. Aku menyebutnya… kelemahan.”

Tatapannya tidak meninggalkan Melati.

“Kau mengerti apa artinya itu?” tanyanya.

Melati menelan.

“Tidak, Yang Mulia.”

Isabelle tersenyum, tetapi tidak hangat.

“Itu berarti sesuatu yang kecil bisa menyebar seperti penyakit.”

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Willem menegang. “Permaisuri—”

“Aku tidak bicara pada Anda,” potong Isabelle halus. “Aku bicara pada gadis ini.”

Melati merasakan semua mata.

Ia ingin menghilang.

“Di istana kami,” lanjut Isabelle, “reputasi adalah mata uang. Moral adalah pakaian. Dan hal seperti ini…” ia memberi isyarat samar ke arah Melati, “…adalah noda.”

Kata itu jatuh perlahan.

Noda.

Isabelle mencondongkan kepala sedikit.

“Kau mungkin tidak berniat. Wabah jarang berniat.”

Beberapa orang terlihat tidak nyaman. Tidak ada yang menghentikan.

Melati menatap lantai. Jantungnya berdetak keras, tetapi tubuhnya tetap diam—diam yang lahir dari terlalu sering diposisikan sebagai objek pembicaraan.

“Saya tidak bermaksud merusak apa pun,” katanya pelan.

Isabelle tertawa kecil.

“Mereka selalu berkata begitu.”

Ia berbalik ke Willem.

“Kau pintar, Pangeran. Tapi pria pintar sering kalah oleh keinginan sederhana.”

Willem tidak menjawab.

Isabelle kembali ke Melati, suara menurun tetapi semakin tajam.

“Masalahnya bukan kau,” katanya. “Masalahnya dunia yang membiarkan gadis seperti kau berada di meja yang salah.”

Kalimat itu terdengar seperti analisis. Namun rasanya seperti penghinaan.

Melati merasakan sesuatu di dadanya runtuh lagi—bukan karena kata baru, tetapi karena pengulangan.

Ia bukan orang.

Ia simbol kesalahan orang lain.

Lucien akhirnya mendekat, lebih karena ingin menutup adegan daripada peduli.

“Isabelle,” katanya ringan, “kau menakuti tamu.”

Isabelle tersenyum manis, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku hanya jujur.”

Lucien menatap Melati sekilas—bukan hina, bukan tertarik. Lebih seperti seseorang melihat detail kecil dalam lukisan besar.

“Koloni selalu penuh cerita,” katanya. “Dan cerita jarang sederhana.”

Ia pergi lagi.

Namun kata Isabelle sudah tinggal.

Jamuan berlanjut, tetapi Melati merasa suara menjadi jauh. Tawa terdengar seperti dari ruangan lain. Lampu terlalu terang. Kain terlalu berat.

Ia berdiri di dekat jendela.

Di luar, pekerja duduk di tanah makan malam sederhana. Mereka tidak tahu di dalam ruangan ada perempuan Eropa menyebut seorang gadis desa wabah.

Atau mungkin mereka tahu dunia bekerja seperti itu.

Willem mendekat. Suaranya rendah.

“Jangan dengarkan dia.”

Melati tidak menoleh.

“Saya sudah sering mendengar hal yang sama, hanya dengan kata berbeda.”

Willem menutup mulut. Tidak ada pembelaan yang cukup.

“Aku tidak menyesal,” katanya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri.

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam Melati terasa semakin sunyi.

“Saya bukan sesuatu yang bisa disesali atau dibanggakan, Tuan,” bisiknya.

Willem menatapnya lama, seperti baru menyadari bahwa di balik diam ada kedalaman yang tidak ia pahami.

Ketika malam selesai, Melati keluar sendirian sebentar sebelum kereta datang.

Udara malam terasa lebih nyata.

Ia berdiri di pinggir jalan baru—jalan yang dibangun oleh tangan yang tidak akan pernah berjalan di pesta.

Lampu gedung residen bersinar di belakangnya seperti dunia lain.

Wabah.

Noda.

Simpanan.

Kata-kata itu tidak melukai seperti pisau. Mereka menempel seperti debu yang tidak bisa dibersihkan.

Melati memandang tangannya sendiri.

Masih tangan yang sama. Tangan yang dulu menanam, menimba air, memegang sajadah.

Namun dunia melihatnya berbeda.

Dan perlahan, ia takut mulai melihat dirinya dengan cara yang sama.

Malam itu di rumah, ia tidak langsung salat.

Ia duduk lama di tikar.

Sunyi.

Ibunya tidak bertanya. Hanya duduk di dekatnya, kehadiran yang lembut seperti dulu saat Melati masih anak kecil.

“Aku capek, Bu,” bisik Melati.

Ibunya memegang tangannya.

“Ibu tahu.”

Melati akhirnya sujud.

Tangisnya tidak keras. Lebih dalam.

“Ya Allah… jika mereka melihatku seperti sampah… jangan biarkan aku mempercayainya…”

Zikirnya pelan, berulang, seperti seseorang yang mencoba memegang dirinya sendiri agar tidak terlepas.

Di gedung besar, mereka berbicara tentang moral, kekuasaan, reputasi.

Di tikar kecil itu, seorang gadis hanya mencoba bertahan dari perasaan bahwa dirinya telah menjadi benda dalam perebutan yang tidak pernah ia pilih.

Dan malam itu, Melati mengerti sesuatu yang menyakitkan: dalam permainan kekuasaan, yang paling rapuh sering bukan yang kalah—tetapi yang dijadikan alasan pertarungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!