Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu sama : 22
“Tuduhanmu tak berdasar. Sama sekali tidak benar,” jawabnya berkelit, nadanya terdengar bergetar.
“Nuha, bukankah kita telah sepakat untuk saling jujur?” tanyanya lirih.
Kamal mendesah, sejenak memejamkan mata guna menetralkan rasa agar tak tertangkap oleh netra tajam Intan, lalu dia menatap hangat wajah cantik calon istrinya.
“Intan, aku sudah jujur padamu. Dari mulai pendidikan, pekerjaan, keluarga, pergaulan, sampai pendapatan per bulan pun selalu kuberi tahu, apa masih kurang transparan kah?”
Intan tersenyum tipis, tak memutuskan pandangan mereka. “Kesannya aku seperti wanita tak tahu malu ya? Mengharapkan segala informasi tentangmu yang masih belum menjadi suamiku. Nuha, terima kasih kau telah secara terang-terangan membeberkan semuanya. Satu hal, dan mungkin selamanya kau akan tetap bungkam … Lanira, dirimu tak jujur tentangnya.”
“Darimana datangnya pemikiran liar ini, Intan? Kau jelas tahu, dan semua orang juga mengetahuinya kalau Lanira bersahabat dengan Rania, kita juga tumbuh besar bersamanya. Kami tak ada hubungan apa-apa selain berteman, bertetangga.” Kamal memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“Bukan tentang hubungan macam itu yang ku maksud, aku percaya kalau kalian tak bermain api dibelakang pasangan masing-masing. Tolong kejujuranmu, janganlah membuat diri ini layaknya wanita pencemburu, Kamal!” intonasi Intan naik satu oktaf. Dia lelah fisik serta mental, dan tengah kedinginan.
"Apapun itu, takkan mempengaruhi kita di masa sekarang maupun masa depan,” seraya berkata, matanya menutup sebentar, menghindari tatapan menyelidik.
“Yakin sekali kau. Belum apa-apa panggilan telepon dariku kau abaikan. Dia meminta singgah di rumah makan langganannya, langsung kau iyakan, padahal aku sebagai tunanganmu tengah menanti macam orang idiot di teras ruko kosong. Itu yang dirimu bilang takkan membawa pengaruh apa-apa?!" tuntutnya.
"Hanya kebetulan saja, Intan. Sebaiknya kita bicara lagi esok hari saat dirimu jauh lebih tenang. Malam ini, menginap lah disini, aku akan meminta Rania meminjamkan pakaiannya," putusnya, tidak menginginkan pembahasan lebih lanjut.
“Sejak kapan?” Intan enggan menurut, sudah cukup dia menunggu kejujuran dalam diam, berharap suatu saat nanti Kamal dengan senang hati berkata sendiri tanpa dipinta, dipancing.
Kala Kamal bungkam, hanya menatap lelah, Intan kembali mencerca pertanyaan telah lama ia simpan. “Apa sewaktu dia remaja? Atau sebelum dirinya dijodohkan dengan Fatan? Jangan-jangan ketika ia telah menikah? Sejak kapan kau jatuh hati kepada adik sepupuku itu, Nuha?”
“Tak penting, Intan _”
“Kau salah besar, Kamal! Bagiku teramat penting, sampai rasanya ingin sekali ku tanyakan langsung ke Lanira agar hati ini puas, tak lagi menyimpan praduga. Apa sebaiknya ku temui saja dia sekarang, kebetulan sedang ada di sini.” Intan baru saja menggeser kakinya sehingga posisi berdiri menyamping, pengakuan Kamal membuatnya urung keluar dari dalam ruang kerja.
“Tujuh tahun lalu, saat kita berumur delapan belas tahun dan dia berusia lima belas tahun. Jauh sebelum dirinya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Sama sepertimu, aku jua memendam cinta dalam diam,” akhirnya dia jujur.
“Kenapa kau tak pernah mengatakan padaku?” Intan memandang penuh curiga, dari rasa hormat yang selama ini terjaga, tersimpan ekspresi kecewa pada raut wajahnya. “Apa kau ingin dianggap pahlawan oleh kedua orang tuaku? Secara tak langsung, pertunangan kita menyelamatkan nama Rasyid dari rasa malu. Benarkah, Nuha?”
“Tidak. Aku tak sepicik itu, Intan! Memanfaatkan keadaan demi dianggap pahlawan kesiangan. Pertunangan kita murni keinginan diri ini, tanpa ada niat terselubung _”
“Bohong! Setidaknya kau dan aku memiliki tujuan sama. Berusaha melupakan orang yang kita cinta dengan cara memilih sosok lain,” tuduhnya tepat sasaran, dan Kamal pun sejenak bungkam, tak dapat menyanggah.
“Mengapa kau tak jujur sedari awal? Atau memang tak ada niatan memberi tahu hingga akhir hayat. Apa mungkin gambaran keluarga harmonis yang kau janjikan, aslinya bakalan jadi ironis?”
"Aku takkan main-main dengan pernikahan, Intan _”
“Rasa percayaku mulai luntur, Kamal. Tindakanmu kini sudah mengungkapkan sedikit gambaran masa depan kita nanti kalau jadi menikah.” Intan menghela napas berat, air mata mengalir dari sudut matanya. “Kau memilih memendam, tapi diam-diam teramat perhatian bahkan ikut campur rumah tangga Lanira. Sengaja menyembunyikan semuanya dariku _”
“Intan Rasyid, jangan ngelantur kemana-mana! Hentikan berpikiran tak terkontrol mu itu! Aku hanya ingin mendamaikan dia dan suaminya, tak lebih _”
“Siapa kau?” Intan membalas memotong kalimat tunangannya. “Siapa kau, sampai merasa berhak ikut campur urusan rumah tangga orang lain?”
Kamal Nugraha kehilangan kata-katanya, tak mampu menjawab, hanya bisa menatap kosong, tertohok oleh pernyataan tajam.
“Kau cuma orang luar, tak ada hubungan saudara langsung. Kau hanyalah sosok yang mengenalnya dari kecil, bertetangga, tak lebih dari itu. Dirimu tidak pantas masuk dalam praha rumah tangga Lanira, dia masih memiliki orang tua, keluarga kandung,” Intan tidak lagi mau diam.
“Janganlah sekali-kali kau berkeinginan mengambil kesempatan dalam kesempitan, memanfaatkan keadaan demi menarik simpati atau apalah itu. Perbuatanmu ini malah membuat masalah semakin runyam kalau sampai keluarga besar kita mengetahuinya. Jelas-jelas status Lanira masih bersuamikan Fatan, berani sekali kau menampungnya di hunian ini.” Intan berkacak pinggang, menggelengkan kepalanya.
“Aku kira, selama ini diriku sangat zalim kepadamu. Tak bersyukur memiliki calon suami nyaris sempurna, malah dengan kurang ajarnya masih menyimpan namanya dalam hati, tapi sekarang … alhamdulilah, rasa tak enak itu sedikit berkurang. Nuha, tentang pernyataanku tadi di hadapan adik dan wanita tercintamu, aku serius _”
“Jangan memutuskan apapun dalam keadaan tengah emosi, Intan! Ini bukan hanya tentang kita, tapi keluarga besar _”
“Kalau kau paham, harusnya kau hentikan!” Intan memekik, menunjuk berani wajah Kamal Nugraha, berkata dengan nada rendah. “Jujur aku mulai lelah, hal paling kubenci adalah kebohongan. Sementara rukunnya sebuah pernikahan berlandaskan kejujuran, saling percaya, dan cinta. Dari ketiga hal ku sebutkan tadi, tak satupun yang kita miliki. Lantas, apa mungkin tercipta keluarga bahagia?”
Kamal maju dan berdiri tepat di hadapan Intan, kedua tangannya menyentuh lengan atas yang tertutup kain lembab. “Intan, tolong beri kesempatan sekali saja. Aku akan bereskan semua ini, dan kedepannya lebih terbuka padamu, bersedia ‘kan?”
.
.
Bersambung.
legaaaaa meskipun belum tuntas kecewaku,,
setidaknya keluarga besar sudah otw ke hunian ayah tua
sikamal suka SMA siapa sich
ingat akn ada balasan... dri setiap prbuatan burukmu...🙄🙄