Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat Sang Panglima
DUAARR!
Tubuh Reyd kembali terpental. Menghantam tanah dengan keras. Debu beterbangan tinggi.
Napasnya berat. Tangannya gemetar sedikit saat mencoba bangkit.
“Hah… hah…”
Mana sihirnya terkuras. Serangan bertubi-tubi sebelumnya terlalu banyak digunakan. Angin biru di sekitarnya mulai melemah.
Di kejauhan, Durkes masih berdiri tegak. Tanpa luka berarti. Tanpa kelelahan yang terlihat.
“Apa sudah habis?”
Tanyanya singkat.
Reyd tidak menjawab. Ia memejamkan mata. Merasakan sisa mana di dalam tubuhnya.
Sedikit.
Namun… masih cukup.
“Belum.”
Jawabnya pelan.
Reyd perlahan berdiri. Angin kembali berputar, namun kali ini berbeda. Lebih terkonsentrasi. Lebih terarah. Tidak liar seperti sebelumnya.
Durkes memperhatikan. Matanya sedikit menyipit.
“Teknik apa lagi yang Anda keluarkan?”
Reyd mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam.
Lalu, ia melangkah.
Bukan di tanah… di udara.
Angin terbentuk di bawah kakinya. Menopang. Mendorong.
Kilatan Angin.
WHOOOOSH!!
Dalam sekejap Reyd menghilang dari pandangan. Melesat seperti cahaya biru. Jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Durkes langsung bereaksi.
DANG!!
Serangan Reyd ditahan. Namun kali ini tekanannya berbeda. Durkes terdorong satu langkah. Tanah di bawah kakinya retak.
Reyd tidak berhenti. Ia melesat lagi. Dari udara. Dari samping. Dari belakang.
Serangannya kini tidak bisa dibaca semudah sebelumnya. Angin membantunya bergerak. Seolah ia bebas dari batas tanah.
“Teruskan.”
Kata Durkes. Nada suaranya berubah sedikit. Lebih serius.
DANG! DANG! DANG!
Benturan terus terjadi. Cepat. Kuat.
Namun kini, Reyd mampu mengimbangi. Setiap gerakannya semakin tajam. Semakin presisi.
Meski mana sihirnya terbatas, tekniknya meningkat.
Durkes mulai menggunakan kedua tangannya. Menangkis dengan lebih serius. Tatapannya fokus.
“Ini baru duel.”
Reyd melesat dari atas. Pedangnya berkilau biru.
“Masih belum selesai!”
BOOM!!
Benturan besar terjadi di udara. Gelombang angin menyebar ke segala arah. Membuat pepohonan bergoyang kuat.
Dari kejauhan, orang-orang yang melihat hanya bisa terdiam.
Karena kini, pertarungan itu bukan lagi latihan biasa. Melainkan benturan dua kekuatan yang mulai seimbang.
---
BOOM!!
Benturan terakhir menggema di udara. Gelombang angin menyapu area latihan. Debu dan daun beterbangan ke segala arah.
Sesaat kemudian, Reyd dan Durkes sama-sama terdorong mundur. Kaki mereka menyentuh tanah. Meninggalkan jejak retakan.
Napas Reyd terdengar berat. Dadanya naik turun. Mana sihirnya hampir habis.
Namun… tatapannya tetap tajam.
Durkes berdiri tegak.
Sunyi beberapa detik.
Lalu, Durkes mengangkat tangannya.
“Cukup sampai di sini.”
Satu kata itu… menghentikan semuanya.
Angin di sekitar Reyd perlahan mereda. Ia menurunkan pedangnya. Masih mencoba mengatur napas.
“Kenapa berhenti, Paman?”
Tanya Reyd.
Durkes menatapnya.
“Karena ini sudah cukup untuk disebut duel.”
Jawabnya tenang.
Ia melangkah mendekat. Langkahnya berat. Namun tidak mengancam.
“Pangeran Kedua.”
Reyd menatapnya.
Durkes berhenti di depannya.
“Pertumbuhanmu sangat jelas.”
Katanya jujur.
“Terutama saat Anda terdesak.”
Reyd sedikit terdiam.
Durkes melanjutkan.
“Anda tidak berhenti. Anda mencari cara. Dan Anda menemukan titik celah serangan.”
Tatapannya tajam.
“Kilatan Angin itu bukan teknik yang bisa digunakan tanpa pemahaman.”
Reyd tidak menjawab. Namun dalam hatinya, ia menerima itu.
Durkes kemudian menyilangkan tangan.
“Namun…”
Nada suaranya berubah.
“Ada satu hal yang harus kau pahami, anak muda.”
Reyd fokus.
“Emosi.”
Kata Durkes singkat.
Reyd sedikit mengernyit.
Durkes melanjutkan.
“Jika Anda mencampurkan emosi dengan mana sihirmu… sihirmu akan menjadi liar.”
Ia menatap langsung ke mata Reyd.
“Dan saat itu terjadi… gerakanmu akan mudah terbaca.”
Sunyi.
Reyd mengingat pertarungan tadi. Serangannya yang sempat tidak terarah. Terlalu terburu-buru.
“Lawan berpengalaman akan memanfaatkan itu.”
Durkes melanjutkan.
“Seperti aku.”
Reyd terdiam. Menyadari kebenaran itu.
Durkes mengangguk kecil.
“Gunakan emosi sebagai bahan bakar. Tapi jangan biarkan itu mengendalikan arah.”
Kalimat itu sederhana. Namun berat.
Reyd menghela napas pelan.
“Aku mengerti.”
Durkes berbalik. Mengambil sarung tangannya kembali.
“Kalau begitu…”
Ia melangkah pergi.
“Anda punya peluang.”
Reyd menatap punggungnya.
“Peluang?”
Durkes berhenti sejenak. Tanpa menoleh.
“Untuk memenangkan pertarungan nanti.”
Jawabnya singkat.
Lalu ia kembali berjalan. Meninggalkan Reyd di tengah lapangan.
Angin berhembus pelan. Kini lebih tenang.
Reyd menunduk sejenak. Merasakan sisa mana di tubuhnya.
Dan kata-kata itu… terpatri jelas dalam pikirannya.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?