Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Ada harga yang harus dibayar untuk setiap inci keindahan yang dipamerkan di depan mata dunia. Di aula perjamuan Aethelgard malam ini, harga itu adalah kejujuran. Ruangan itu dipenuhi oleh aroma lilin lebah yang mahal, berbaur dengan parfum floral yang begitu kuat hingga sanggup membuat seseorang pusing dalam hitungan menit. Di atas meja panjang yang ditutupi kain linen putih tanpa cela, deretan piring perak mencerminkan cahaya lampu gantung kristal yang berpijar terang, seolah-olah sedang menertawakan siapa pun yang berani memiliki noda di pakaian mereka.
Arlo Valerius duduk di kursi tinggi dengan sandaran beludru merah, merasa seperti seekor binatang buruan yang dipajang di tengah pesta kemenangan. Mahkota kecil yang melingkari kepalanya terasa lebih dingin dari biasanya. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah piring berisi daging rusa panggang yang sama sekali tidak disentuhnya.
Di sampingnya, Putri Helena duduk dengan punggung tegak yang sempurna, seolah-olah ada penggaris tak kasat mata yang menopang tulang belakangnya. Jemari Helena yang lentik, dengan kuku yang dipoles warna merah muda pucat, menggenggam gagang gelas kristal dengan keanggunan yang sangat terlatih. Setiap kali ia menyesap anggurnya, ia akan memastikan gelas itu tidak meninggalkan bekas bibir yang berlebihan.
"Aethelgard jauh lebih... berdebu daripada yang saya bayangkan, Pangeran," suara Helena memecah keheningan di antara mereka, meskipun di sekeliling mereka suara tawa para bangsawan terdengar riuh. Suaranya halus, namun ada nada merendahkan yang terselip di tiap suku kata.
Arlo menoleh lambat, matanya menangkap kilaunya berlian di leher Helena yang putih. "Restorasi sedang berjalan. Istana tua memang punya cara untuk menunjukkan umurnya, Putri."
Helena tersenyum tipis, senyum yang hanya menggerakkan sudut bibirnya tanpa sedikit pun mencapai matanya yang berwarna biru pucat. "Vandellia tidak pernah membiarkan rakyatnya melihat 'umur' sebuah bangunan. Kami lebih suka meruntuhkan yang lama dan membangun yang baru. Lebih bersih. Lebih... pantas."
Jemari Arlo bergerak di bawah meja, meraba ujung lengan kemeja sutranya. Di sana, tersembunyi di balik lipatan kain, masih ada setitik noda putih kering yang ia dapatkan tadi siang di Sayap Barat. Noda itu terasa kasar di bawah kulit jarinya, dan entah kenapa, sentuhan tekstur kasar itu jauh lebih menenangkan daripada halusnya kain sutra yang ia kenakan.
"Kadang-kadang, sesuatu yang lama hanya butuh sedikit warna baru untuk kembali hidup," gumam Arlo, pikirannya tiba-tiba melayang pada wajah seorang gadis yang menunjuk dadanya dengan berani. "Bukan dihancurkan."
"Anda terlalu sentimental untuk seorang calon penguasa, Arlo," balas Helena dengan nada yang sedikit lebih tajam. Ia meletakkan gelasnya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Arlo. "Ayah saya bilang, pemimpin yang baik tahu kapan harus membuang sampah. Dan menurut saya, Sayap Barat itu lebih mirip gudang kumuh daripada bagian dari istana agung."
Arlo mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menatap Helena, memperhatikan bagaimana riasan wajah wanita itu begitu tebal hingga Arlo ragu apakah Helena bisa mengernyit tanpa merusak lapisan bedaknya. "Sayang sekali Anda tidak menyukainya. Karena di sanalah saya menghabiskan sebagian besar waktu saya hari ini."
Raja Valerius, yang duduk di kursi utama, berdehem keras. Matanya yang tua namun tajam menatap Arlo dengan peringatan yang tidak bisa dibantah. Arlo tahu apa artinya itu: Berhenti bersikap sulit, dan mulailah bersikap seperti pangeran yang ingin menikah.
Arlo mengembuskan napas panjang. Ia berdiri tiba-tiba, membuat kursi beratnya berderit keras di atas lantai marmer, memotong suara musik harpa yang sedang dimainkan di sudut aula. Seluruh ruangan seketika hening. Ratusan pasang mata menoleh ke arahnya.
"Saya butuh udara segar," ucap Arlo datar.
"Arlo, duduklah. Perjamuan belum selesai," suara ayahnya terdengar berat dan menekan.
"Udara di sini terlalu penuh dengan parfum, Ayah. Saya takut saraf saya akan mati jika bertahan semenit lagi," Arlo membungkuk sedikit ke arah Helena—sebuah gestur formalitas yang terasa sangat hambar—lalu berbalik dan melangkah keluar tanpa menunggu izin.
Ia bisa merasakan tatapan menusuk dari ayahnya dan pandangan terhina dari Helena di punggungnya. Arlo terus berjalan, melewati barisan pengawal yang hanya bisa menunduk bingung melihat sang Putra Mahkota melarikan diri dari pestanya sendiri. Begitu ia keluar dari aula perjamuan dan pintu besar itu tertutup di belakangnya, Arlo merasa beban sepuluh ton baru saja terangkat dari bahunya.
Ia melepaskan jubah beludrunya, melemparkannya begitu saja ke tangan seorang pelayan yang kebetulan lewat, dan mulai berlari kecil menuju Sayap Barat. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa harus melihat retakan tembok itu lagi. Atau mungkin, ia hanya ingin membuktikan bahwa masih ada hal yang nyata di istana ini.
Koridor Sayap Barat gelap, hanya diterangi oleh beberapa obor dinding yang jaraknya berjauhan. Suasana di sini dingin dan berdebu, kontras dengan aula perjamuan yang panas dan pengap. Arlo melambat saat mendekati aula besar yang tadi siang ia kunjungi.
Ia mendengar suara sesuatu yang beradu dengan lantai batu. Sruk. Sruk. Sruk.
Arlo berhenti di ambang pintu. Aula itu hanya diterangi oleh satu lampu minyak kecil yang diletakkan di atas lantai. Di bawah cahaya yang temaram dan bergoyang itu, ia melihat sosok yang sama. Kalea Elara.
Gadis itu sedang berlutut di lantai, menggosok sisa-sisa cat yang tercecer di marmer dengan sekuat tenaga. Ia sudah tidak memakai kemeja panjangnya, hanya sebuah kaus dalam berwarna abu-abu yang memperlihatkan otot lengannya yang ramping namun kencang. Rambutnya makin berantakan, dan wajahnya terlihat sangat letih.
"Bukankah kau bilang pekerjaanmu selesai sore tadi?" tanya Arlo, suaranya memecah kesunyian.
Kalea tersentak kaget, bahunya terangkat tinggi. Ia menoleh cepat, matanya membelalak saat melihat sosok pria yang berdiri di kegelapan. Ia segera berdiri, memegang sikat pembersihnya seperti senjata. Begitu cahaya lampu minyak mengenai wajah Arlo, mata Kalea menyipit.
"Anda lagi?" Kalea mengembuskan napas kasar, melempar sikatnya ke dalam ember berisi air keruh. "Kenapa orang-orang seperti Anda selalu punya bakat muncul di saat yang paling tidak diinginkan?"
Arlo melangkah masuk, mengabaikan debu yang kini mulai menempel di celana kain mahalnya. "Orang-orang seperti aku?"
"Ya. Orang-orang yang tidak punya kerjaan dan merasa seluruh dunia adalah taman bermain mereka," Kalea berdiri tegak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan noda hitam baru di sana. "Kenapa Anda belum pergi ke pesta? Saya dengar Putri dari Vandellia itu sudah datang. Kenapa pangerannya malah berkeliaran di gudang debu seperti ini?"
Arlo berhenti tepat di depan lampu minyak, membuat bayangannya memanjang di dinding yang belum selesai dicat. "Bagaimana kau tahu aku pangeran?"
Kalea mendengus, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Seluruh istana heboh saat pangeran mereka menghilang tadi siang. Dan melihat baju sutra Anda yang harganya mungkin bisa membeli rumah saya, tidak sulit untuk menebaknya. Tapi jangan harap saya akan bersujud atau memanggil Anda 'Yang Mulia'. Bagi saya, Anda tetaplah orang asing yang mengotori lantai yang baru saja saya bersihkan."
Arlo menunduk, menatap sepatu botnya. Benar saja, ia baru saja menginjak area yang baru saja dipel oleh Kalea. "Maaf."
Kalea melebarkan matanya, terkejut mendengar kata itu keluar dari mulut seorang bangsawan. Namun kekagetannya hanya bertahan sedetik sebelum ia kembali memasang wajah dingin. "Simpan maaf Anda. Lebih baik Anda pergi. Saya harus menyelesaikan pembersihan ini sebelum pengawas datang besok pagi. Dan kehadiran Anda di sini benar-benar mengganggu fokus saya."
"Apa kau selalu segalak ini pada semua orang?" Arlo mendekat, mencoba melihat lebih jelas wajah Kalea di balik temaram cahaya.
Kalea melangkah mundur, menjaga jarak. "Saya hanya tidak suka membuang waktu. Hidup saya tidak semudah hidup Anda, Tuan Pangeran. Kalau saya tidak bekerja, saya tidak makan. Kalau saya tidak makan, saya mati. Jadi, silakan kembali ke perjamuan Anda, makan daging rusa yang enak, dan biarkan saya bekerja dalam damai."
Arlo menatap ember air yang keruh di samping kaki Kalea. Ia tiba-tiba merasa sangat konyol dengan segala keluhannya tentang mahkota dan Helena. Di depannya ada seorang gadis yang berjuang untuk bertahan hidup, sementara ia menangis karena harus menikahi wanita cantik.
"Kenapa kau bekerja sampai selarut ini? Di mana ayahmu?" tanya Arlo lagi, mengabaikan perintah pengusiran Kalea.
Kalea terdiam sejenak. Ia menatap dinding yang retakannya sudah ia tutupi dengan lapisan semen tipis. "Ayah saya... dia tidak akan bisa bekerja lagi dalam waktu dekat. Jadi saya mengambil shift ganda. Puas?"
Ada getaran halus di suara Kalea yang berusaha ia sembunyikan dengan nada ketus. Arlo menyadarinya. Ia melihat jemari Kalea yang kemerahan karena terlalu lama memegang sikat kasar.
"Berikan sikatnya padaku," ucap Arlo tiba-tiba.
Kalea mengernyitkan dahi. "Apa?"
"Berikan sikatnya. Aku akan membantumu menggosok lantai itu," Arlo mulai menggulung lengan kemeja sutranya yang mahal.
Kalea tertawa, kali ini tawa yang benar-benar meremehkan. "Anda bercanda? Pangeran Aethelgard mau menggosok lantai Sayap Barat? Jangan melucu. Pergi saja dan mainkan harpa Anda."
Arlo tidak menjawab. Dengan gerakan cepat yang tidak terduga, ia membungkuk dan menyambar sikat dari dalam ember. Air keruh menciprat ke kemeja putihnya, namun ia tidak berkedip. Ia berlutut di lantai yang dingin, tepat di samping lampu minyak, dan mulai menggosok noda cat kering dengan gerakan kaku.
"He-hei! Apa yang Anda lakukan?!" Kalea berteriak kecil, mencoba merebut kembali sikatnya. "Berhenti! Anda hanya akan merusak baju Anda! Itu sutra!"
"Ini hanya kain, Kalea," Arlo menepis tangan Kalea dengan halus, namun tetap tegas. "Dan lantai ini tidak akan bersih jika kau hanya berdiri di sana dan mengomel."
Kalea terpaku. Ia berdiri membeku melihat sang Putra Mahkota—pria yang tadi pagi ia hina—kini benar-benar sedang menggosok lantai kusam dengan tangan yang biasanya memegang pedang upacara. Bau cat dan debu mulai menyatu dengan aroma tubuh Arlo, menciptakan suasana yang sangat ganjil.
"Anda gila," bisik Kalea.
Arlo terus menggosok, napasnya mulai sedikit memburu karena ia tidak terbiasa dengan kerja fisik semacam ini. "Mungkin. Tapi ini jauh lebih baik daripada duduk di samping Putri Helena dan mendengarkan dia menghina istanaku."
Kalea perlahan berlutut di seberang Arlo, mengambil sikat lain yang ada di dalam kotak peralatannya. Mereka kini berhadapan, hanya dipisahkan oleh lampu minyak yang cahayanya mulai meredup.
"Dia menghina istana ini?" tanya Kalea pelan, mulai menggosok bagian lantai di sisi lain.
"Dia bilang Aethelgard berdebu. Dia bilang tempat ini lebih mirip gudang kumuh," jawab Arlo tanpa menoleh.
Kalea mendengus, namun kali ini tidak ada kebencian dalam suaranya. "Yah, dia benar soal debunya. Tapi dia salah soal lainnya. Tempat ini punya jiwa. Ayah saya selalu bilang, setiap batu di Aethelgard punya cerita. Hanya orang-orang yang terlalu sibuk melihat berlian yang tidak bisa mendengarnya."
Arlo berhenti menggosok. Ia mendongak, menatap Kalea yang kini juga sedang menatapnya. Di bawah cahaya remang itu, noda cat di wajah Kalea tidak lagi terlihat mengganggu. Matanya yang cokelat tampak berkilau, memancarkan kejujuran yang tidak akan pernah ditemukan Arlo di mata Helena.
"Kau benar," ucap Arlo lirih. "Dia tidak akan pernah bisa mendengarnya."
Mereka terdiam selama beberapa saat, hanya suara gesekan sikat di atas batu yang mengisi aula. Ada ketegangan yang aneh di udara. Bukan lagi kebencian murni, tapi sesuatu yang lebih tajam, seperti gesekan antara dua permukaan kasar yang mulai saling mengikis.
"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Kalea tiba-tiba. Tangannya berhenti bergerak. "Maksud saya, bantuan ini. Ini tidak akan membuat saya tiba-tiba menyukai Anda atau bersikap sopan."
Arlo menatap sikat di tangannya yang kini sudah hitam terkena kotoran. "Aku tidak butuh kau menyukaiku, Kalea. Aku hanya butuh merasa... berguna untuk sesuatu yang nyata. Bukan untuk protokol, bukan untuk politik. Hanya untuk lantai ini."
Kalea menatap Arlo cukup lama, mencari kebohongan di mata pria itu. Namun ia hanya menemukan keletihan yang sama dengan yang ia rasakan. Ia menghela napas, lalu kembali menggosok lantai.
"Kalau begitu, gosok lebih keras, Tuan Pangeran. Bagian sebelah sana masih sangat kotor," ucap Kalea dengan nada memerintah, namun sudut bibirnya sedikit terangkat—nyaris tak terlihat.
Arlo tersenyum kecil. Ia kembali bekerja dengan semangat yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun, kedamaian kecil itu hancur saat suara langkah kaki yang berat dan teratur kembali terdengar dari koridor. Kali ini lebih banyak. Suara denting baju zirah dan perintah-perintah pendek memenuhi udara.
"Mereka mencari Anda lagi," bisik Kalea, matanya menatap ke arah pintu dengan cemas. "Cepat pergi. Jika mereka melihat Anda di sini dengan kondisi seperti ini... saya yang akan dipersalahkan karena dianggap menghasut Anda."
Arlo berdiri, menatap kemejanya yang kini hancur total. Noda air keruh, debu, dan cat memenuhi permukaannya. Ia tampak seperti gelandangan daripada seorang pangeran.
"Aku akan kembali besok," ucap Arlo tegas.
"Jangan gila!" Kalea berdiri, mendorong bahu Arlo menuju pintu belakang. "Anda punya putri cantik yang menunggu! Urusi saja pernikahan Anda dan jangan ganggu rakyat kecil seperti saya!"
Arlo berhenti di depan pintu, menoleh ke arah Kalea. "Aku tidak suka pernikahan itu."
"Dunia tidak peduli apa yang Anda suka atau tidak, Arlo," Kalea menyebut namanya untuk pertama kali tanpa gelar, dan itu membuat jantung Arlo berdesir aneh. "Sekarang pergilah!"
Arlo melangkah keluar ke kegelapan malam tepat saat sekelompok pengawal masuk ke aula dari pintu depan. Dari balik bayangan, ia melihat Kalea segera menunduk dan berpura-pura sangat sibuk dengan sikatnya, seolah-olah ia tidak pernah berbicara dengan siapa pun.
Arlo berjalan menjauhi Sayap Barat, menyusuri taman istana yang sunyi. Ia tahu, mulai malam ini, tidurnya tidak akan pernah tenang lagi. Helena mungkin memiliki kecantikan yang sanggup memikat satu kerajaan, tapi Kalea memiliki keberanian untuk meludahi kemunafikan yang selama ini Arlo telan bulat-bulat.
Sesampainya di kamarnya melalui balkon, Arlo melepaskan kemeja kotornya dan melemparkannya ke lantai. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit lecet.
Besok, ia harus berdiri di samping Helena lagi. Besok, ia harus tersenyum lagi. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Arlo Valerius merasa bahwa retakan dalam hidupnya bukanlah sesuatu yang harus ditutupi. Retakan itu adalah jalan keluar.
Dan jalan itu, entah bagaimana, dimulai dari seorang gadis pemarah yang memiliki noda cat di wajahnya.