NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Masuk ke Dalam Novel Picisan

"Bu! Kowe nindih dadane anakmu!" Tarikan keras Pak Purnomo melerai pelukan maut itu.

Marni terjerembap ke belakang. Matanya membelalak panik melihat Sukma yang mengap-mengap mencari pasokan udara. Wajah pucat putrinya membiru.

"Gusti... Sukma... Ibu nggak sengaja, Nduk!"

Pak Purnomo kalang kabut. Peci hitamnya miring berantakan.

"Tunggu kene! Aku golek mantri dhisik! Nek diterus-terusne mati temenan anakmu!" Langkah kaki tua itu berderap membelah pintu reyot, meninggalkan Marni yang gementar memegangi pinggiran dipan.

Kepala Sukma serasa dibor. Nyeri hebat merambat dari pelipis hingga ke ubun-ubun.

Kilatan-kilatan visual asing menghantam kesadarannya tanpa permisi.

Potongan kehidupan masa lalu milik Sukma Ayu berebut masuk.

Lembaran buku novel bersampul norak yang baru ia ingat sekarang, novel yang sempat ia baca sekilas di ruang rawat inap rumah sakit Jakarta tiba-tiba terbayang jelas.

Sialan. Ia masuk ke dalam novel picisan tahun sembilan puluhan.

Bukan jadi pahlawan wanita, melainkan pemeran pembantu paling busuk sedunia.

Ibu tiri jahat. Istri dari Sutrisno Priyanto, seorang mantan tentara beranak empat.

Potongan ingatan itu berputar liar. Suara-suara cacian dari masa depan anak-anak tirinya menggema di telinga Sukma.

"Ibu yang mukul Sigit pakai gagang sapu! Pantas Sigit jadi preman pasar!"

"Gara-gara ibu nyolong uang jatah makan, Gito nekat jadi penadah barang curian!"

"Sinta dijual ke rentenir tua biar ibu bisa beli kalung emas, kan?!"

Tubuh Sukma gemetar hebat di atas dipan. Ujung kukunya mencengkeram tikar pandan sampai robek.

Tragedi gila macam apa ini? Ia bahkan mengingat dengan jelas akhir hidup Sutrisno dalam lembar novel itu.

Pria itu jadi gila, luntang-lantung menyusuri desa membawa kebaya kumal miliknya, lalu terjun ke sungai berarus deras di tengah malam yang membeku. Mati konyol.

Sedangkan dalang kehancuran keluarga ini, sang tokoh utama wanita yang tak lain adalah Jamilah, hidup bergelimang harta dan puja-puji.

Langkah kaki gontai membuyarkan isi kepalanya. Pak Purnomo masuk menyeret seorang pria paruh baya menenteng tas kulit cokelat pudar. Mantri Haris.

"Minggir dulu, Bu Marni." Mantri Haris meletakkan tasnya di atas peti kayu. Bau alkohol medis dan yodium langsung memenuhi ruangan pengap itu.

Marni mundur perlahan. Tangannya meremas ujung jariknya yang basah oleh keringat.

Kapas tebal dicelupkan ke botol cairan bening. Tanpa aba-aba, Mantri Haris menekan gumpalan kapas basah itu tepat ke luka sobek di dahi Sukma.

"Aargh!" Jeritan Sukma pecah. Tubuhnya melengkung ke atas. Perihnya luar biasa, air garam! Mantri desa ini membersihkan lukanya pakai air garam mentah!

"Tahan. Biar kotoran sapinya luntur." Tangan kekar Mantri Haris menahan bahu Sukma.

"Luka di dahi ini lumayan dalam. Untung nggak retak tulang tengkoraknya."

Perban kasa membebat kepala Sukma beberapa menit kemudian. Napas perempuan itu tersengal. Keringat sebesar biji jagung membasahi lehernya.

"Obatnya diminum sehari tiga kali. Jaga jangan sampai demam." Mantri Haris memasukkan botol-botolnya kembali ke tas.

"Berapa, Pak Mantri?" Suara Pak Purnomo bergetar. Tangannya merogoh saku celana komprangnya yang jelas-jelas kempis.

"Tiga ribu perak. Mahalnya di obat bubuk ini."

Pak Purnomo menelan ludah. Marni ikut pucat. Mereka lari kemari tanpa membawa uang sepeser pun dari seberang sungai.

"Bu..." Sukma menunjuk sebuah lemari kayu kecil di sudut ruangan dengan jari gemetar. "Buka laci paling bawah. Ada kaleng biskuit karatan. Ambil uang di situ."

Marni bergegas membuka laci. Kepingan uang logam seratusan perak berpindah ke tangan Mantri Haris.

Laki-laki itu mengangguk kaku. Langkahnya berbalik menuju pintu.

"Tunggu... Pak Haris."

Langkah sang mantri terhenti.

"Tolong saya." Napas Sukma putus-putus.

"Di luar... ibu mertua saya pasti tanya keadaan saya. Tolong bilang ke dia, luka saya parah banget. Bilang... saya butuh istirahat total di kasur minimal setengah tahun. Kalau nggak, nyawa saya melayang."

Mantri Haris berbalik cepat. Alisnya menukik tajam. "Kamu mau nipu Lasmi biar bisa lepas dari kerjaan kebun, iya?!"

"Anak saya hampir mati, Pak! Kok tega ngomong begitu!" Marni tidak terima.

Mantri Haris mendengkus keras. "Ibu nggak tahu kelakuan anak ibu ini! Dia mau malas-malasan biar anak-anak tirinya yang masih kecil itu yang banting tulang!"

Sukma memaksa tubuhnya duduk. Tulang rusuknya menjerit protes. Matanya menatap lurus ke arah sang mantri.

"Saya janji, Pak Haris." Suara Sukma tak lagi bergetar. Dingin dan tajam.

"Mulai hari ini, nggak ada lagi yang berani sentuh sehelai rambut pun dari kepala anak-anak. Termasuk saya sendiri. Tapi saya butuh bantuan Bapak hari ini. Enam bulan. Tolong bilang begitu ke keluarga Priyanto."

Mantri Haris terdiam lama. Entah dorongan dari mana, tatapan tajam Sukma hari ini terasa berbeda. Tak ada kelicikan murahan seperti biasanya.

Pria itu memutar knop pintu tanpa sepatah kata pun.

Di teras depan, Lasmi dan Jamilah sudah berjaga.

"Gimana, Pak Mantri? Menantu saya nggak apa-apa, kan? Tadi Jamilah bilang cuma lecet kena rumput gajah."

Mantri Haris melirik Jamilah sesaat.

"Lecet apanya. Dahinya robek dalam. Tulang dadanya memar parah kena hantaman tanduk." Mantri Haris membenarkan letak tasnya.

"Kalau umurnya panjang, ya setengah tahun baru bisa turun dari dipan. Itu pun kalau nggak ada infeksi susulan. Permisi."

Darah di wajah Lasmi surut seketika. Tubuhnya oleng menabrak tiang teras.

"Setengah tahun?!" Mulut Lasmi menganga lebar. Matanya beralih menatap Jamilah dengan nyalang.

"Cuma lecet katamu?! Heh, perempuan bawa sial! Kalau sampai dia mati, orang sekampung bakal nuduh keluarga kita sengaja bunuh menantu demi kuasai hartanya! Suamimu bisa dipecat dari kelurahan!"

"Lho, kok nyalahin aku, Bu?!" Jamilah mundur selangkah. Tangannya bersendekap tak terima.

"Kan sapi Pak Kades yang buta nabrak dia!"

Joko, suami Jamilah, buru-buru menengahi dari ambang pintu ruang tamu.

"Udah, Bu, Jamilah! Jangan berantem di sini! Di dalam masih ada bapak ibunya Mbak Sukma. Daripada mereka teriak-teriak lapor ke kantor desa, mending kita kasih makan dulu. Perut kenyang, mulut pasti diam."

Lasmi mengusap wajahnya kasar. "Cepat ambilkan sepiring nasi sama sisa sayur lodeh tadi pagi! Bawa ke kamarnya!"

Di dalam kamar pengap itu, suasana justru berbanding terbalik.

Sukma membongkar isi laci bawah lemari. Sepotong bolu kukus keras dan setengah bungkus biskuit kelapa ia sodorkan paksa ke tangan orang tuanya.

"Makan sekarang, Bu, Pak. Nggak ada waktu buat nangis. Sebentar lagi perang."

Marni menggeleng kuat. Air matanya belum kering. "Buat kamu saja, Nduk. Kamu sakit."

"Aku bilang makan!" Sukma mendesis menahan sakit di dada.

"Bapak sama Ibu butuh tenaga buat lari. Dengar aku baik-baik. Selama ini anakmu ini terlalu bodoh."

Pak Purnomo dan Marni saling pandang, mengunyah biskuit kelapa dengan raut bingung.

"Bapak tahu rumah di depan yang tiga kamar itu? Yang baru selesai dibangun Mas Sutris sebelum berangkat?"

"Ya tahu toh, Nduk. Kan suamimu bangun itu biar kamu sama anak-anak nggak sumpek tidur di kamar belakang ini."

"Ndak ono!" Sukma menyapu pandangannya ke dinding tanah yang lembap.

"Jamilah yang tempati rumah itu. Alasannya pinjam sementara buat nikahan sama Mas Joko. Janjinya mau bayar sewa dua ribu sebulan ke aku. Nyatanya? Sampai detik ini seperak pun aku nggak pernah pegang uangnya. Giliran aku ditabrak sapi gara-gara disuruh Jamilah ngarit rumput di lahan sengketa, mereka malah enak-enakan makan lodeh di depan."

Marni tersedak remah bolu kukus. Matanya melotot nyaris copot. "Anak setan! Bajingan tengik memang keluarga ini! Berani-beraninya mereka nipu anakku!" Marni menggulung lengan kebayanya tinggi-tinggi. Urat di lehernya bermunculan.

"Aku labrak sekarang si Jamilah!"

"Jangan pakai otot, Bu." Tangan Sukma menahan lengan Marni. Sebuah senyum miring, tipis namun mematikan, terbit di bibirnya. Otak bisnisnya dari tahun 2026 mulai bekerja.

"Kita pakai panggung. Ibu ambil kertas krep merah bekas hiasan agustusan di atas lemari itu."

Marni menuruti perintah anaknya dengan bingung. Segulung kertas merah lecek kini berpindah tangan.

"Celupin ke gelas air minum itu. Basahin yang banyak."

Air putih di gelas enamel langsung berubah warna menjadi merah pekat seperti darah segar.

"Sekarang, usap air merah itu ke ujung bibir Ibu. Ke dahi Bapak juga. Bikin seolah-olah kalian habis dipukul pakai balok kayu."

Tangan Pak Purnomo bergetar saat mengusapkan air pewarna murahan itu ke wajah keriput istrinya.

Penampilan keduanya kini tak ubahnya korban pengeroyokan warga. Baju berantakan, rambut awut-awutan, dan noda merah menetes dari dagu.

"Gini, Nduk?" Marni menatap wajahnya sendiri di pantulan kaca lemari yang buram.

"Sempurna." Sukma memajukan tubuhnya. Napasnya ditahan sejenak.

"Dengar instruksiku. Begitu hitungan ketiga, Ibu dobrak pintu ini. Lari sekencang-kencangnya ke arah balai desa. Teriak sepanjang jalan. Bilang keluarga ini nyiksa anak Ibu sampai sekarat, lalu mengeroyok Ibu sama Bapak waktu ketahuan nipu soal rumah di depan."

Bibir Pak Purnomo bergetar hebat. "Nduk... ini nggak bahaya ta? Urusannya bisa panjang sama polisi desa."

"Makin panjang makin bagus, Pak! Tujuannya memang bikin malu satu desa sekalian!" Sukma menggeser posisinya.

"Bapak jangan ikut lari ke balai desa. Bapak cari anak-anak. Beritahu mereka... aku hampir dibunuh nenek dan tantenya sendiri."

Langkah kaki terdengar dari lorong luar. Suara piring beradu dengan nampan seng.

Jamilah sedang berjalan menuju kamar membawa sepiring nasi sisa.

"Satu..." Bisik Sukma.

Tangan Marni meraih gagang pintu. Napasnya memburu.

"Dua..."

Bayangan Jamilah terlihat dari celah bawah pintu kayu.

"Tiga. Hancurkan mereka, Bu."

Pintu kayu itu ditendang terbuka hingga engselnya menjerit keras.

Bruk!

Nampan di tangan Jamilah terlempar ke udara. Piring kaleng menghantam lantai tanah. Kuah sayur lodeh muncrat ke mana-mana.

Marni menerjang keluar bak banteng ketaton, menabrak bahu Jamilah hingga perempuan muda itu terpelanting menabrak dinding anyaman bambu.

"Tolong! Tolong warga! Keluarga pembunuh! Keluarga besanku mau bunuh anakku demi warisan rumah!" Lengkingan suara Marni merobek keheningan siang bolong di Desa Sumber Brantas, Batu, Malang.

1
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
SENJA
pinter sukma 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!