NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu Terbuka

Tepat pukul 17.00, suasana lobi lantai satu Sinclair Mall sedikit kasak-kusuk. Para staf yang biasanya melihat Alessia dan Nathaniel melintas dengan langkah terburu-buru untuk urusan bisnis, kini tertegun melihat sang putri mahkota mendorong kereta belanja di supermarket terlengkap milik mall mereka sendiri.

Manajer supermarket yang mengenakan rompi hijaunya tampak berkeringat dingin, berniat memberikan pelayanan protokoler layaknya kunjungan kenegaraan. Namun, Nathaniel segera mengangkat tangannya, memberikan gestur penolakan yang sopan namun tegas.

"Santai saja. Kami di sini sebagai pelanggan biasa, bukan untuk inspeksi mendadak. Silakan kembali bertugas," kata Nathaniel dengan nada rendah yang menenangkan sang manajer.

Maka dimulailah "misi penyelamatan kulkas" yang dipimpin oleh Alessia. Dengan semangat, ia menyusuri lorong demi lorong, mengambil selusin telur organik, beberapa bungkus mie instan rasa favoritnya, susu segar, berbagai jenis keju, selai kacang, hingga roti gandum utuh.

"Ini terlalu banyak, Alessia. Aku bahkan terlalu malas untuk menyusunnya di rak nanti malam," gumam Nathaniel saat melihat tumpukan belanjaan di dalam troli mulai menggunung. Ia menatap deretan selai dan roti itu seolah-olah itu adalah dokumen audit yang sangat rumit.

Alessia tertawa kecil sambil memasukkan satu kotak sereal ke dalam troli. "Tenang saja... ada aku yang akan menyusunnya! Aku tidak akan membiarkan bahan makanan ini berantakan begitu saja di dapurmu yang kaku itu."

Nathaniel menghela napas, namun ia tetap mengikuti langkah Alessia, tangannya kini mengambil alih kendali troli agar Alessia bisa lebih bebas memilih.

"Kamu benar-benar serius soal ini, ya?" tanya Nathaniel, memperhatikan bagaimana Alessia sangat teliti mengecek tanggal kedaluwarsa setiap produk.

"Tentu saja! Ayah benar, Kak. Kamu terlalu sibuk mengurus hidup orang lain sampai lupa mengurus dirimu sendiri. Setidaknya, kalau kamu pulang malam dan lapar, kamu tidak perlu menunggu ojek daring hanya untuk makan sepotong roti," jawab Alessia tulus.

Saat mereka melewati lorong bumbu dapur, Alessia mendadak berhenti. Ia mengambil sebotol saus pasta dan menunjukkannya pada Nathaniel. "Bagaimana kalau malam ini aku masakan pasta sederhana sebagai perayaan karena kulkasmu tidak lagi sedih?"

Nathaniel terdiam sejenak. Menatap Alessia yang tampak begitu antusias di antara rak-rak supermarket, ia merasakan kehangatan yang asing namun menyenangkan. "Boleh. Tapi jangan salahkan aku kalau rasanya tidak seenak restoran Spanyol tadi siang."

Alessia mendengus jenaka. "Jangan meremehkan bakat terpendamku, Kak Mentor!"

Apartemen Nathaniel yang biasanya sunyi dan beraroma maskulin kini mendadak terasa lebih hidup. Nathaniel memberikan salah satu kaos putih polos berbahan katun tebal miliknya dan celana training hitam dengan tali serut yang harus ditarik Alessia sekuat tenaga agar tidak melorot.

Alessia keluar dari kamar tamu dengan langkah terseret-seret, ujung celananya menumpuk di atas lantai, sementara lengan kaosnya menutupi hingga ujung jarinya. Ia tampak seperti anak kecil yang sedang mencoba pakaian ayahnya.

"Kak, ini tidak manusiawi! Ini ukuran raksasa!" protes Alessia sambil mengangkat kedua tangannya, membuat kain kaos itu menjuntai lucu. "Aku merasa seperti sedang memakai tenda pramuka."

Nathaniel, yang sedang meletakkan kantong belanjaan di atas meja counter dapur, menoleh sejenak. Sudut bibirnya berkedut, menahan tawa yang nyaris pecah melihat pemandangan menggemaskan itu.

"Itu bukan ukuran raksasa, kamu saja yang terlalu kecil," sahut Nathaniel datar, meski matanya memancarkan binar jenaka yang jarang terlihat. "Anggap saja itu gaya oversized yang sedang tren sekarang."

Ia kemudian melepas jam tangan mahalnya dan meletakkannya di nakas. "Aku akan berganti pakaian juga sebentar. Ingat pesanku: jangan membakar dapurku ya, Nona Sinclair. Aku tidak punya stok alat pemadam kebakaran cadangan malam ini."

"Ih, tenang saja! Aku ini calon koki handal kalau tidak jadi direktur mall!" balas Alessia sambil menggulung lengan kaos kegedean itu hingga ke siku.

Nathaniel masuk ke kamarnya, meninggalkan Alessia sendirian di dapur. Alessia mulai mengeluarkan bahan-bahan pasta yang mereka beli tadi. Ia bersenandung kecil, menata bawang putih, tomat, dan botol saus di atas meja. Ada perasaan hangat yang aneh saat ia berada di ruang pribadi Nathaniel, mengenakan pakaian pria itu, dan bersiap memasak untuknya.

Beberapa menit kemudian, Nathaniel kembali dengan kaos hitam santai dan celana pendek rumahan. Ia tampak jauh lebih rileks, helai rambutnya yang biasanya tertata rapi kini jatuh menutupi dahi.

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Nathaniel sambil berdiri di samping Alessia, membuat gadis itu mendadak merasa dapurnya menjadi sangat sempit karena kehadiran sosok jangkung itu.

"Kakak kupas bawang putihnya saja, tapi jangan pakai gaya kantoran ya, santai saja!" perintah Alessia sambil menyerahkan segenggam bawang.

Mereka pun mulai memasak bersama. Di tengah kepulan uap air mendidih dan aroma bawang yang mulai ditumis, ketegangan profesional yang biasanya menyelimuti mereka di kantor Sinclair seolah luruh sepenuhnya.

Dapur yang biasanya sunyi itu kini dipenuhi suara denting sudip kayu dan tawa kecil. Alessia tampak sangat serius di depan kompor, sesekali menyibakkan rambutnya yang mulai mengganggu konsentrasi.

"Aku hanya pernah melihat temanku, Ledy, membuatnya sekali. Tapi aku tidak yakin rasanya akan lebih enak atau bagaimana," ucap Alessia ragu-ragu di tengah kesibukannya mengaduk pasta. Ia menatap wajan dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang memecahkan kode brankas perusahaan.

Nathaniel yang sedang bersandar di konter dapur sambil melipat tangan di dada hanya bisa menahan senyum. "Ini hanya spaghetti instan, Alessia. Masa gagal? Instruksinya sudah tertulis jelas di balik kemasannya," ejek Nathaniel dengan nada datar yang menyebalkan.

Alessia menoleh kilat, memberikan tatapan tajam yang jenaka. "Kak... semuanya harus diperhitungkan dengan presisi, sekalipun yang instan! Tekstur al dente itu butuh insting, tahu!" jawab Alessia penuh percaya diri.

"Oke, siap! Kak Nathan duduk saja di meja makan. Aku akan siapkan semuanya. Jangan berani-berani mengintip rahasia dapurku," ujar Alessia sambil mengusir lembut Nathaniel dari area kompor.

Beberapa menit kemudian, Alessia datang membawa dua piring spaghetti dengan saus yang warnanya sedikit terlalu pekat dan tekstur mie yang tampak sedikit terlalu lunak karena direbus terlalu lama.

Mereka pun akhirnya duduk berhadapan di meja makan minimalis itu. Nathaniel menatap piringnya sejenak. Jujur saja, untuk seukuran spaghetti instan, ini terlihat agak buruk. Aromanya sedikit hangus di bagian bawang putihnya, dan bumbunya tidak tercampur rata. Namun, melihat binar mata Alessia yang penuh harap dan teringat bagaimana gadis itu tenggelam dalam kaos putih kebesarannya demi memasak untuknya Nathaniel tidak tega untuk berkomentar pedas.

Nathaniel menggulung spaghetti itu dengan garpunya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

"Bagaimana?" tanya Alessia tidak sabar, tangannya menopang dagu.

Nathaniel mengunyah perlahan. Rasanya agak terlalu asin dan mienya terlalu lembek, tapi ia menelannya dengan mantap. "Lumayan. Setidaknya ini bisa dimakan dan tidak beracun," jawab Nathaniel pelan.

Alessia mencoba sesuap miliknya sendiri, dan matanya langsung membelalak. "Aduh! Kok asinn banget! Kak, jangan dimakan kalau tidak enak!" Ia mencoba menarik piring Nathaniel, namun pria itu justru menahan piringnya dengan tangan yang lain.

"Sudah kubilang, ini hadiah karena rapat hari ini lancar. Aku akan menghabiskannya," kata Nathaniel dengan tenang, terus menyuap pasta buatan Alessia seolah itu adalah hidangan bintang lima.

Alessia tertegun, menatap Nathaniel yang makan dengan lahap meski masakan itu gagal total. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, jauh lebih hangat daripada uap pasta di depannya.

Suasana di meja makan yang kecil itu mendadak terasa jauh lebih sunyi, hanya menyisakan denting garpu yang sesekali beradu dengan piring porselen.

Alessia menatap Nathaniel lurus-lurus, mengabaikan rasa asin di lidahnya. Ia ingin menanggalkan sejenak topeng formalitas yang selama ini memisahkan mereka di gedung pencakar langit Sinclair.

"Kak, lupakan dulu jabatan kita di kantor. Malam ini, aku hanya Alessia, dan Kakak hanya Nathaniel Luca," ucap Alessia dengan nada suara yang dalam dan tulus.

Nathaniel menghentikan gerakannya sejenak. Ia menyuap sisa spaghetti yang lembek itu dengan tenang, lalu menatap Alessia balik. "Kenapa? Ada sesuatu yang penting yang mau kamu bicarakan?" tanyanya, suaranya melembut, tidak lagi sedingin saat ia memberikan instruksi rapat.

Alessia menarik napas panjang. "Aku serius soal yang Ayah katakan tadi. Kakak butuh pendamping hidup. Kalau memang sudah ada seseorang, beri tahu aku, atau Ayah dan Ibu. Kami tidak akan menghakimi."

Ia terdiam sebentar, jemarinya memainkan pinggiran taplak meja. "Aku hanya ingin Kakak mencari pasangan yang bisa menyayangi Kakak seutuhnya. Seseorang yang akan menyambut Kakak pulang saat aku sedang sibuk, atau saat Ayah sudah lelah. Tapi..."

Alessia menelan ludah, suaranya sedikit bergetar, "kalau memang Kakak memutuskan untuk tidak membangun keluarga sendiri, tenang saja. Rumah Sinclair selalu terbuka. Kamu punya kami."

Nathaniel tertegun. Kalimat terakhir Alessia seolah meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan yang ia bangun selama sepuluh tahun ini. Ia meletakkan garpunya, lalu perlahan tangannya menjulur ke depan, mengusap lembut puncak kepala Alessia, sebuah gestur kasih sayang yang sangat jarang ia tunjukkan secara terang-terangan.

"Tenang saja, aku baik-baik saja, Al," ucap Nathaniel dengan nada bariton yang menenangkan. "Kalian adalah segalanya bagiku, aku tahu itu. Aku tahu kalian tidak akan pernah menolakku, apa pun jalan yang kupilih."

Ia menatap mata Alessia cukup lama, seolah ingin meyakinkan gadis itu bahwa kesendiriannya bukanlah sebuah penderitaan selama ia masih memiliki keluarga Sinclair di sisinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada satu rahasia yang tidak bisa ia katakan: bahwa mencari "pendamping hidup" akan terasa mustahil jika standarnya adalah seseorang yang sehebat dan setulus gadis yang kini duduk di depannya mengenakan kaos kebesarannya.

"Habiskan makananmu. Jangan memikirkan masa depanku terus, pikirkan saja bagaimana caranya agar besok kamu tidak telat bangun setelah makan karbohidrat sebanyak ini," goda Nathaniel, mencoba mengembalikan suasana ceria yang tadi sempat hilang.

Alessia tertawa kecil, meski matanya masih sedikit berkaca-kaca. "Ih, Kak Nathan merusak suasana haru saja!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!