Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. SI CADEL ELARA
Langit siang di atas Akademi Sihir Oberyn mulai berubah lebih sejuk ketika Aaron Oberyn akhirnya meninggalkan gerbang utama akademi. Angin musim semi berhembus lembut melewati halaman luas yang biasanya dipenuhi para murid yang berlatih sihir atau berduel pedang.
Namun kini ....
Banyak murid masih berdiri di sekitar halaman, membisikkan sesuatu dengan penuh rasa penasaran.
Semua mata tertuju pada satu sosok kecil menggemaskan yang berada dalam gendongan Aaron.
Elara Ravens.
Atau lebih tepatnya Elara versi empat tahun.
Seragam akademi yang telah disesuaikan ukurannya oleh sihir Aaron kini tampak rapi di tubuh mungil Elara. Rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin, sementara matanya yang besar penuh rasa ingin tahu memandang sekeliling.
Di belakang Aaron, dua orang mengikuti dengan langkah cepat.
Leonhart dan Evangeline.
Aaron sebenarnya berniat langsung pulang. Namun entah bagaimana, kedua orang itu dengan santai ikut berjalan di belakangnya.
Aaron menoleh sedikit ke belakang dengan ekspresi datar.
"Kalian mau ikut sampai kapan?" tanya Aaron.
Leonhart menjawab tanpa ragu. "Sampai Elara kembali normal."
Aaron menghela napas.
Evangeline bahkan lebih terang-terangan. "Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan melihat Elara kecil!"
Aaron menutup mata sejenak. Sebenarnya alasan ia ingin segera membawa Elara pulang cukup sederhana.
Pertama, ia tidak ingin Elara kecil merasa tertekan karena terlalu banyak orang.
Kedua ... ia tidak ingin terlalu banyak pria melihat sisi menggemaskan Elara dalam bentuk kecilnya ini.
Aaron mengenal betul daya tarik gadis itu.
Bahkan dalam wujud dewasa saja Elara sudah memiliki banyak pengagum di akademi ini tanpa ia sadari.
Bayangkan jika orang-orang melihat Elara dalam wujud sekecil ini.
Aaron mendengus pelan. "Cukup kalian berdua saja yang melihatnya."
Leonhart mengangkat alis. "Ketua, itu terdengar sangat posesif."
Aaron tidak menjawab. Ia hanya berjalan terus menuju gerbang akademi.
Elara yang berada dalam gendongannya tampak sibuk memainkan kancing seragam Aaron.
"Kakak?" panggil Elara.
Aaron menatapnya. "Ada apa, Lala?"
Elara menunjuk langit. "Awan itu cepelti kue buatan Mama!"
Aaron tersenyum tipis. "Iya. Benar."
Leonhart dan Evangeline saling pandang. Keduanya langsung memegang dada mereka.
"Ini terlalu menggemaskan," ujar Evangeline dramatis.
Leonhart bahkan mengangguk serius. "Aku merasa jantungku tidak kuat."
Aaron pura-pura tidak mendengar.
Beberapa waktu kemudian, kereta keluarga Oberyn berhenti di depan gerbang besar kediaman Duke Arram.
Bangunan megah itu berdiri dengan elegan di tengah taman luas yang dipenuhi bunga musim semi.
Begitu Aaron turun dari kereta sambil menggendong Elara ... seorang pelayan yang berdiri di pintu langsung membeku.
"Tu-Tuan Muda?"
Pelayan itu menunjuk Elara dengan bingung.
Aaron menjawab singkat. "Ini Elara."
Pelayan itu berkedip.
Namun sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah cepat terdengar dari dalam rumah.
Daria Oberyn muncul di pintu.
"Aaron?! Kata pelayan kau membawa anak kecil?!" seru sang Daria.
Aaron sempat hendak menjelaskan.
Namun Daria berhenti begitu melihat sosok kecil di pelukan putranya.
Ia membeku.
Matanya melebar. Tidak mungkin Daria tidak mengenali sosok mungil di pelukan Aaron.
"Elara?"
Gadis kecil itu menatap Daria dengan rasa ingin tahu. Kemudian ia tersenyum lebar.
"Halo!" sapa Elara.
Daria menutup mulutnya. "Astaga, Elara jadi kecil!" Ia langsung mendekat dengan langkah cepat. "Apa yang terjadi pada anak ini?! Kenapa dia jadi seperti dulu!"
Aaron menjelaskan singkat. "Kesalahan rapalan mantra di kelas."
Daria memegang pipi Elara. "Oh, kasihan sekali."
Elara hanya berkedip bingung.
Daria lalu menoleh pada para pelayan dan berseru, "Cepat! Kirim orang ke kota!"
Para pelayan langsung siaga.
"Belikan pakaian anak-anak! Yang paling lembut! Dan sepatu kecil juga! Beli semuanya diperlukan secepatnya!" perintah Daria penuh semangat.
Seluruh rumah tiba-tiba menjadi kacau.
Pelayan berlari ke sana kemari.
Beberapa orang langsung keluar menuju kota.
Leonhart berbisik pada Evangeline, "Aku belum pernah melihat rumah Duke seramai ini."
Evangeline mengangguk. "Ini seperti festival hanya karena seorang bocah kecil."
Elara sendiri tampak tidak terlalu peduli..Ia justru tertarik pada taman bunga di samping rumah.
"Bunga!" seru Elara.
Aaron berjalan ke arah taman dan akhirnya menurunkan Elara di sana. Tentu saja Aaron selalu ingat taman adalah tempat favorit Elara saat kecil, karena bocah itu tidak mau diam dan suka melihat banyak hal.
Taman itu luas, dipenuhi bunga mawar musim semi dan hijau yang terawat dengan rapi.
Elara langsung berlari kecil ke sana kemari.
Evangeline tidak meninggalkan sisinya sedetik pun.
"Elara! Hati-hati! Jangan lari-lari kau bisa jatuh!" ujar Evangeline.
Namun sebenarnya Evangeline yang lebih sibuk memandang wajah Elara dengan mata berbinar.
"Kenapa kamu bisa se-imut ini, Elara," ucap Evangeline menganggumi Elara.
Elara memiringkan kepalanya. "Apa itu imut?"
"Imut itu sama dengan cantik," jawab Evangeline.
"Tapi kakak lebih tantik," kata Elara dengan senyum lebar.
Evangeline hampir pingsan kegirangan.
Leonhart tertawa keras. Ia kemudian mengangkat Elara dengan mudah dan mendudukkan Elara ke pundaknya.
"Ayo kita terbang!"
Elara langsung tertawa riang. "Telbang!"
Leonhart berlari mengelilingi taman.
Tawa Elara menggema di seluruh halaman.
Aaron berdiri tidak jauh dari mereka. Ia tidak ikut bermain. Namun ia tidak berhenti tersenyum.
Di tangan pria itu, sebuah bola kristal kecil memancarkan cahaya lembut.
Aaron sedang merekam.
Setiap tawa Elara kecil.
Setiap ekspresi wajahnya.
Semua ia simpan di dalam bola kristal itu.
Leonhart akhirnya kembali setelah beberapa putaran.
Elara tertawa sampai pipinya memerah.
"Telbang lagi!" pinta Elara penuh semangat.
Leonhart terengah. "Nanti lagi, Bocah. Kau benar-benar tidak ada takutnya sejak kecil ya ternyata."
Saat itu Daria muncul membawa nampan besar.
Di belakangnya para pelayan membawa banyak makanan.
Kue kecil.
Biskuit.
Buah.
Dan jus.
Daria langsung mengangkat Elara dari Leonhart.
"Kalau begitu, sekarang main dengan Bibi!" kata Daria. Ia mencium pipi Elara berkali-kali.
Elara tertawa geli.
Leonhart duduk ke kursi taman bersama Aaron dan Evangeline lalu berkata sambil tersenyum, "Duchess terlihat sangat senang bersama Elara."
Aaron duduk di kursi taman. "Ibuku memang sangat menyukai anak perempuan.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian berkata pelan, "Dulu ibuku seharusnya memiliki seorang anak lagi dan itu perempuan yang sangat dia tunggu."
Leonhart langsung mengerti.
Semua orang di kerajaan tahu cerita itu.
Kecelakaan kereta kuda.
Serangan bandit.
Rahim Duchess rusak.
Dan anak keduanya tidak pernah lahir.
Leonhart berkata pelan, "Duchess adalah wanita yang kuat."
Evangeline mengangguk. "Aku yakin kehadiran Elara menjadi obat baginya."
Aaron tersenyum kecil. "Kalian benar."
Pria itu menatap Elara yang sedang tertawa bersama ibunya di kejauhan dan berkata, "Justru yang menyembuhkan ibuku dulu adalah Elara."
Leonhart dan Evangeline menoleh.
Aaron melanjutkan, "Dulu ibuku sangat lemah karena kehilangan bayinya, mentalnya terguncang. Tapi ketika Elara pertama kali datang ke Oberyn bersama keluarganya. Ia menyapa ibuku dengan berani. Dan bermain dengannya seharian. Sejak saat itu ibuku mulai membaik."
Evangeline tersenyum lembut. "Elara memang seperti matahari."
Leonhart mengangguk. "Aku setuju."
Aaron menatap Elara yang sedang tertawa. Sinar matahari jatuh di rambut hitam gadis itu.
Membuat gadis kecil itu tampak bersinar.
Aaron bergumam pelan, "Dia lebih dari matahari. Dia memiliki cahaya yang tidak dimiliki orang lain. Bahkan aku sendiri tidak bisa berhenti kecanduan pada cahaya itu."
Saat itu Elara berlari kecil menuju mereka.
"Kakak! Ayo main!" Ia menarik lengan Aaron. "Bibi Dalia bilang mau lihatin Lala naga!"
Leonhart dan Evangeline langsung membeku.
"Hah?"
"Naga?"
Aaron tertawa. Ia tahu maksudnya.
"Yang dia maksud adalah patung naga di belakang rumah," beritahu Aaron pada Leonhart dan Evangeline.
Mereka berjalan ke halaman belakang.
Di sana berdiri patung naga batu raksasa yang menjadi hiasan taman keluarga Oberyn.
Begitu Elara melihatnya matanya berbinar.
"NAGAAA! BECALLL!"
Gadis itu berlari mendekat.
Leonhart dan Evangeline tertawa.
Aaron mengangkat tangannya. Ia merapalkan mantra kecil.
Cahaya sihir berkumpul di udara.
Kemudian seekor naga kecil dari cahaya muncul.
Bentuknya mirip patung naga itu.
Namun bisa bergerak dan terbang.
Elara menjerit kegirangan. "Naga hidup!"
Gadis mungil itu berlari mengejar naga cahaya itu. Tawa kecilnya menggema di seluruh taman.
Sepanjang hari itu tawa Elara tidak pernah berhenti.
Dan kediaman Duke Oberyn dipenuhi suara kebahagiaan yang benar-benar membuat siapa pun ikut merasakan kebahagiaan ketika mendengarnya.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣