“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTANYAAN ANEH LUNA
Senin pagi di kantor divisi pemasaran biasanya riuh dengan aroma kopi mesin yang pahit dan suara denting sendok yang beradu dengan gelas keramik. Bagi Jingga, ini adalah medan perang kedua setelah insiden inspeksi dapur oleh ibunya kemarin malam. Kepalanya masih sedikit pening karena kurang tidur, efek dari perdebatan panjang dengan Sinta soal siapa yang harus mencuci piring sisa rendang sebelum mereka tidur.
Jingga berdiri di depan mesin kopi otomatis di area pantri, menunggu cairan hitam pekat itu memenuhi gelas kertasnya. Tak lama kemudian, Luna muncul dengan senyum manisnya yang selalu terlihat sempurna. Pagi ini, Luna tampak segar dengan blus berwarna pastel, kontras dengan Jingga yang merasa jiwanya masih tertinggal di kasur.
"Pagi, Sayang. Kamu sudah bikin kopi?" sapa Luna sambil merangkul lengan Jingga manja, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu pria itu.
"Pagi, Lun. Iya nih, butuh asupan kafein biar nggak tumbang pas rapat proyek Lumiere nanti," jawab Jingga sambil mengusap kepala Luna pelan, mencoba menunjukkan afeksi yang seharusnya dirasakan seorang pacar.
Tepat saat itu, pintu pantri terbuka dan Sinta melangkah masuk. Dia tampak sangat kusut. Rambutnya diikat asal-asalan, dan ada gurat kelelahan yang nyata di bawah matanya. Sinta langsung menuju dispenser air, mengabaikan keberadaan Jingga dan Luna seolah-olah mereka hanyalah pajangan dinding. Sinta tampak sedang memijat pelipisnya, mulutnya berkomat-kamit kecil—mungkin sedang merutuki tenggat waktu desain yang menggila.
"Eh, Sinta. Mau kopi juga? Kamu kelihatan kurang tidur banget," tanya Luna ramah, meskipun ada nada sedikit formal dalam suaranya. Sejak proyek Lumiere berjalan, Luna memang menjadi lebih waspada terhadap interaksi antara pacarnya dan rekan kerjanya yang satu ini.
Sinta menoleh kaku, mencoba memasang wajah profesional. "Eh, iya Lun. Maaf ya, mata gue masih sepet banget."
Jingga, yang sedang memegang gelas kopinya, secara otomatis melihat ke arah mesin. Tanpa sadar, tanpa perintah dari otaknya yang logis, tangannya bergerak secara naluriah. Dia menjangkau botol sirup hazelnut di rak atas—posisi tersembunyi yang hanya dia yang tahu karena dia yang merapikannya di pantri minggu lalu—lalu dia menekan tombol double shot espresso di mesin kopi.
"Nih, kopi lu. Hazelnut dua pump, tanpa gula, airnya jangan kepenuhan biar nggak kembung maag lu. Gue tahu lu belum sarapan kan?" ucap Jingga sambil menyodorkan gelas itu ke arah Sinta dengan gerakan yang sangat luwes, seolah-olah dia sudah melakukan ini ribuan kali.
Hening mendadak menyelimuti pantri yang sempit itu.
Sinta terpaku. Tangannya yang sudah terlanjur menjulur untuk mengambil gelas itu membeku di udara. Dia menatap Jingga dengan tatapan ngeri, sementara Jingga baru menyadari apa yang baru saja dia lakukan setelah melihat pantulan wajahnya sendiri di pintu kaca mesin kopi. Dia baru saja memberikan kopi dengan resep yang sangat spesifik—resep yang biasa dia buatkan untuk Sinta di dapur apartemen mereka setiap pagi selama tiga bulan terakhir.
Luna melepaskan rangkulannya dari lengan Jingga. Tangannya jatuh ke samping tubuhnya. Matanya yang biasanya lembut kini menyipit, menatap gelas kopi itu lalu beralih ke wajah Jingga dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam. Atmosfer di pantri itu mendadak turun beberapa derajat, terasa lebih dingin daripada suhu di dalam kulkas dua pintu di pojok ruangan.
"Lho? Jingga?" suara Luna naik satu oktav, ada getaran kecurigaan yang tertahan di sana. "Kok kamu tahu Sinta suka hazelnut dua pump? Terus... sejak kapan kamu tahu dia lagi sakit maag dan nggak suka kopi yang terlalu banyak air?"
Jingga menelan ludah dengan susah payah. Dia bisa merasakan jakunnya bergerak naik-turun. Keringat dingin mulai muncul di tengkuknya, membasahi kerah kemeja yang baru saja disetrika Sinta tadi pagi (dengan penuh gerutuan).
"Eh... itu... anu, Lun! Itu cuma... observasi! Iya, observasi rekan kerja yang teladan!" Jingga mencoba tertawa, tapi suaranya lebih terdengar seperti orang yang sedang tersedak biji salak.
"Observasi?" Luna menaikkan sebelah alisnya, melangkah selangkah lebih dekat ke arah Jingga. "Aku saja yang sudah jadi pacar kamu hampir setahun, kamu sering lupa kalau aku alergi susu gandum. Tapi kamu ingat takaran sirup Sinta sampai ke detail masalah lambungnya? Hebat banget daya ingat kamu, Jing."
Sinta, menyadari bahwa kapal mereka sedang berada di ambang karang yang tajam, segera mengambil alih situasi dengan tawa yang terdengar sangat hambar dan dipaksakan. Dia buru-buru menyambar gelas kopi itu dari tangan Jingga sebelum Luna sempat memeriksa isinya lebih lanjut.
"Hahaha! Aduh Luna, jangan dianggap serius. Jingga ini emang orangnya suka sok tahu dan tukang pamer," ujar Sinta sambil menepuk bahu Jingga dengan keras—terlalu keras untuk ukuran rekan kerja biasa. "Dia pernah lihat gue pesen kopi begini di kedai kopi bawah sebulan lalu pas kita lagi bahas revisi desain. Terus dia kayaknya mau ngeledek gue karena pesenan gue ribet banget. Ya kan, Jing? Lu mau pamer memori lu yang kayak gajah itu kan?"
Sinta memberikan tatapan "Bantu-Gue-Atau-Gue-Bakar-Koleksi-Sepatu-Lu" kepada Jingga.
"Bener banget, Lun! Kan aku ini calon manajer masa depan, harus hafal detail kecil dari rekan satu tim. Biar sinergi kerjanya bagus, kayak yang sering dibilang Pak Adrian di rapat koordinasi," tambah Jingga cepat, suaranya mulai kembali stabil meski hatinya masih berdegup kencang seperti genderang perang.
Luna tidak tampak sepenuhnya yakin. Dia mengambil gelas kopi itu dari tangan Sinta. Luna mencium aroma kopi itu dengan sangat teliti, seolah-olah dia sedang memeriksa bukti forensik di tempat kejadian perkara. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia menaruh kembali gelas itu di meja dengan gerakan yang sedikit kasar.
"Oh, gitu ya? Hebat banget ya memori kamu buat hal-hal yang 'nggak penting' begini," ucap Luna dengan nada sindiran yang sangat kentara. "Ya sudah, aku ke meja duluan ya. Kamu jangan lama-lama di sini, rapat sama klien Lumiere mulai sepuluh menit lagi. Jangan sampai terlambat hanya karena sibuk... mengobservasi bumbu kopi orang lain."
Luna keluar dari pantri dengan langkah kaki yang menghentak keras di atas lantai marmer, memberikan efek suara yang sangat intimidatif. Begitu pintu tertutup dan suara langkahnya menghilang di kejauhan koridor, Sinta langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja pantri sambil mengeluarkan erangan frustrasi yang panjang.
"JINGGA! LU BENER-BENER ANJING!" desis Sinta dengan suara rendah namun penuh emosi yang meledak-ledak. Dia memukul lengan Jingga dengan gelas kertas kopinya.
"Mana gue tahu kalau tangan gue bakal gerak sendiri?!" Jingga membela diri, wajahnya masih pucat pasi. "Gara-gara tiga bulan ini gue selalu buatin lu kopi sebelum berangkat karena lu selalu telat bangun, otak gue jadi terprogram otomatis! Itu refleks, Sin! Refleks rumah tangga yang terbawa ke kantor!"
"Refleks rumah tangga otak lu! Pakai bilang 'jangan kepenuhan' segala lagi! Sekarang Luna pasti mikir yang macem-macem!" Sinta mengambil gelas kopi itu dan meminumnya dengan sekali teguk, seolah-olah kopi panas itu bisa membakar rasa takutnya. "Gue nggak mau ya rencana warisan ini hancur cuma gara-gara satu gelas kopi hazelnut!"
"Duh, maaf deh. Tadi gue beneran nggak sadar," gumam Jingga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue tadi cuma liat muka lu yang pucat banget, gue pikir kalau lu pingsan pas presentasi, proyek kita bakal kacau."
"Alasan! Mulai sekarang, jangan pernah sapa gue di depan Luna kalau nggak perlu banget. Dan jangan pernah, ever, buatin gue apa-apa lagi di kantor! Lu anggep aja gue orang asing yang cuma kebetulan satu tim sama lu!" Sinta membanting gelas plastik kosong itu ke tempat sampah dan melesat keluar dari pantri secepat kilat, meninggalkan Jingga sendirian di tengah aroma kopi yang mendadak terasa menyesakkan.
Jingga berdiri mematung di depan dispenser. Dia menyadari satu kenyataan yang mengerikan: batas antara sandiwara di apartemen dan realitas di kantor mulai mengabur tanpa dia sadari. Dia mulai terlalu mengenal Sinta. Dia tahu kapan Sinta butuh kafein, dia tahu kapan Sinta mulai stres hanya dari cara wanita itu mengikat rambut, dan dia tahu rahasia kecil tentang maag Sinta yang bahkan mungkin tidak diketahui oleh Adrian, pria yang selama ini disukai Sinta.
Sisa hari itu berjalan dengan sangat canggung, seolah-olah ada benang tak kasat mata yang menarik mereka berdua namun mereka berusaha keras untuk memutuskannya. Di ruang rapat, Jingga sengaja duduk di pojok ruangan, sejauh mungkin dari posisi Sinta. Namun, setiap kali Sinta berdiri untuk mempresentasikan progres desain perhiasan koleksi terbaru, mata Jingga secara otomatis tertuju padanya.
Dia memperhatikan bagaimana Sinta terus-menerus memutar pulpennya—kebiasaan yang Sinta lakukan kalau dia sedang tidak percaya diri dengan argumennya. Jingga juga melihat bagaimana Sinta beberapa kali memegang perutnya, sebuah pertanda bahwa lambungnya memang sedang tidak bersahabat.
Luna, yang duduk tepat di sebelah Jingga, memperhatikan setiap pergerakan mata pacarnya dengan teliti. Luna tidak mencatat poin presentasi, dia justru mencatat frekuensi Jingga menatap ke arah Sinta.
"Jingga," bisik Luna di tengah presentasi yang sedang berlangsung serius.
"Ya?" sahut Jingga tanpa menoleh.
"Kamu... beneran cuma observasi ya soal kopi tadi pagi?" tanya Luna lagi. Suaranya sangat kecil, nyaris tenggelam oleh suara Sinta yang sedang menjelaskan konsep gemstone, namun nadanya mengandung ancaman yang tidak bisa diabaikan.
Jingga tersentak, hampir menjatuhkan tabletnya. "Iya, Lun. Beneran. Kenapa sih nanya itu lagi? Aku lagi fokus nih, Pak Adrian lagi merhatiin kita."
"Nggak apa-apa. Cuma... aku ngerasa kamu jadi lebih sering merhatiin detail tentang Sinta daripada tentang aku akhir-akhir ini. Mungkin karena proyek ini besar banget ya, jadi kalian sering 'koordinasi' di luar jam kantor?" Luna tersenyum, tapi matanya memancarkan rasa tidak aman yang besar.
"Iya, mungkin karena proyeknya. Aku cuma pengen ini sukses biar bonus kita cair, Lun," dalih Jingga, meskipun di dalam hatinya dia merasa sangat bersalah sekaligus bingung dengan perasaannya sendiri.
Setelah rapat berakhir, Jingga melihat Adrian mendekati meja Sinta. Pak bos yang karismatik itu tampak memberikan semangat sambil sesekali menyentuh bahu Sinta ringan, memberikan pujian atas presentasi yang luar biasa. Jingga merasakan desiran panas yang aneh di dadanya—rasa tidak suka yang membakar yang sulit dia jelaskan. Gue cuma nggak mau penyamaran kita kebongkar kalau Sinta terlalu deket sama Adrian, itu aja, pikirnya menenangkan diri sendiri, meskipun dia tahu itu adalah sebuah kebohongan besar bagi hatinya.
Sore harinya, saat jam pulang kantor tiba, Jingga sengaja berlama-lama di kubikelnya. Dia berpura-pura sibuk memeriksa email padahal tujuannya adalah menghindari Luna yang biasanya meminta diantar pulang sampai lobi bawah. Dia menunggu sampai kantor benar-benar mulai sepi dan lampu-lampu di beberapa sudut ruangan mulai dimatikan.
Saat dia hendak melangkah menuju lift, dia melihat Sinta masih duduk diam di mejanya. Wanita itu tampak sangat lelah, kepalanya bersandar di atas meja dengan kedua tangan sebagai bantal.
Jingga mendekat dengan langkah ragu. "Woi, Sinting. Belum balik?"
Sinta mendongak perlahan, matanya terlihat sayu dan merah. "Bentar lagi. Gue masih ngerapiin draf buat besok pagi. Lu ngapain masih di sini? Mana Luna? Tumben nggak nempel kayak prangko."
"Gue bilang ada kerjaan tambahan, jadi dia balik duluan sama tim finansial," jawab Jingga sambil duduk di pinggiran meja Sinta. Dia melihat botol air minum Sinta yang sudah kosong. "Soal tadi pagi di pantri... gue minta maaf ya. Gue beneran nggak sengaja, otot gue kayak gerak sendiri."
Sinta menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar sangat berat. "Gue takut, Jing. Luna itu bukan orang bego. Dia itu perempuan, dan insting perempuan itu lebih tajam dari silet. Tadi pas di toilet, dia nanya ke gue apakah gue sering lembur bareng lu di luar kantor. Dia bahkan tanya apakah gue tahu lu punya alergi apa nggak."
Jingga tertegun, tubuhnya menegang. "Terus lu jawab apa?"
"Gue bilang gue nggak tahu apa-apa soal pribadi lu dan kita cuma komunikasi profesional lewat grup WhatsApp," Sinta memijat keningnya. "Tapi gue rasa dia nggak percaya. Tatapannya itu... kayak dia lagi nyusun puzzle di kepalanya. Kita harus lebih hati-hati, Jing. Satu kecerobohan lagi, dan pernikahan kontrak kita bakal jadi berita utama di grup gosip kantor."
Jingga mengangguk setuju. Dia menatap Sinta sejenak dalam keheningan kantor yang mulai sepi. Ada rasa iba yang muncul melihat Sinta harus menanggung beban kebohongan ini sendirian di kantor, sementara dia masih bisa berpura-pura bahagia di depan Luna.
"Ya udah, gue balik duluan ya. Jangan kemaleman, nanti apartemen gue kunci dari dalem kalau lu telat," ucap Jingga, mencoba mencairkan suasana dengan ejekan kecilnya yang biasa.
"Iya, Anjing. Sana pergi, sebelum gue timpuk pakai stapler!" sahut Sinta, meskipun dia sedikit tersenyum kecil.
Jingga berjalan menuju lift dengan perasaan yang sangat tidak menentu. Pertanyaan Luna hari ini bukan sekadar kecemburuan biasa, itu adalah peringatan dini. Dia menyadari bahwa setiap hari yang dia lalui satu atap dengan Sinta, dia secara perlahan mulai menanam "bom waktu" berupa kebiasaan-kebiasaan domestik yang bisa meledak kapan saja di kantor.
Sesampainya di lobi gedung, langkah Jingga mendadak terhenti. Di depan pintu keluar, Luna berdiri menunggunya dengan wajah yang tidak berekspresi. Dia tidak pulang duluan seperti yang dia katakan tadi.
"Jingga, kita perlu bicara," ucap Luna dingin, matanya menatap tajam ke arah Jingga seolah sedang mencari kejujuran di balik bola matanya.
Jingga menelan ludah. "Bicara apa, Lun? Kok kamu belum pulang?"
"Tentang Sinta. Dan tentang kenapa tadi aku liat kamu masih di kubikel dia padahal kamu bilang ada kerjaan tambahan di meja kamu sendiri. Ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku, Jingga?"
Pertanyaan Luna kali ini bukan lagi soal kopi. Itu adalah konfrontasi langsung yang membuat pertahanan Jingga goyah. Di dalam hatinya, Jingga tahu bahwa sandiwara besar ini baru saja memasuki babak yang paling berbahaya.