"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PASAR MAYAT DI DERMAGA SUNYI
Perahu motor itu membelah air sungai yang hitam pekat, meninggalkan kepulan asap dari klinik dr. Gunawan yang perlahan mengecil di cakrawala Bekasi. Sasmita duduk meringkuk di lantai perahu, memegangi bahunya yang berdenyut hebat. Setiap guncangan mesin perahu terasa seperti belati yang diputar di dalam dagingnya. Di sampingnya, Sakti terus waspada, matanya memindai tepian sungai yang rimbun dengan pohon bakau dan sampah industri.
Bramasta duduk di haluan, diam seribu bahasa. Wajahnya yang babak belur tampak kaku terkena angin malam yang lembap. Keheningan di antara mereka bertiga lebih berat daripada suara mesin motor yang menderu. Mereka baru saja kehilangan dr. Gunawan—satu lagi nyawa yang dikorbankan demi sebuah "perang" yang seolah tidak punya ujung.
"Nona, kita hampir sampai di Muara Gembong," suara Sakti memecah keheningan. "Ada seorang pria di sana. Namanya Bong. Dia adalah 'Broker Informasi' yang paling tidak tersentuh di pesisir utara. Jika Aris mencoba keluar dari Jakarta lewat jalur laut, Bong pasti tahu."
Sasmita mendongak, matanya yang merah karena kurang tidur dan rasa sakit tampak berkilat tajam. "Berapa harga yang dia minta, Sakti?"
"Bong tidak minta uang, Nona. Dia minta rahasia. Sesuatu yang bisa dia jual lagi kepada orang yang lebih berkuasa," Sakti menghela napas. "Tapi dengan situasi Nona sekarang, rahasia tentang Waskita Group adalah mata uang paling berharga di pasar bawah tanah."
Perahu itu akhirnya merapat di sebuah dermaga kayu yang sudah reyot, tersembunyi di balik barisan kapal nelayan yang membusuk. Bau amis ikan dan solar yang tumpah menusuk hidung. Sasmita turun dengan kaki gemetar, dipapah oleh Sakti. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang becek menuju sebuah gudang penyimpanan garam yang lampunya remang-remang.
Di dalam gudang, seorang pria tambun dengan tato naga yang melingkari lehernya sedang duduk santai sambil mengasah pisau lipat. Di sekelilingnya, beberapa pria bertubuh kekar berjaga dengan senjata api tersampir di pinggang.
"Sakti... sudah lama kamu tidak mampir ke lubang tikusku," ujar pria itu tanpa menoleh. Suaranya serak, khas perokok berat. "Dan siapa wanita yang berbau darah ini? Jangan bilang ini adalah buronan nomor satu yang sedang dicari Agatha Waskita."
Sasmita melangkah maju, melepaskan rangkulan Sakti meskipun hampir terjatuh. "Aku Sasmita. Dan aku punya sesuatu yang lebih berharga daripada kepalaku sendiri untukmu, Bong."
Bong berhenti mengasah pisaunya. Ia berdiri, perut buncitnya bergoyang saat ia mendekati Sasmita. Ia mengendus udara di sekitar Sasmita seolah sedang mengidentifikasi mangsa. "Sasmita Janardana... atau Saga? Berita kematianmu di Bogor adalah lelucon favoritku minggu ini. Jadi, apa yang dibawa oleh seorang mayat hidup ke dermagaku?"
Sasmita mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari balik balutan perbannya. "Ini adalah daftar sepuluh 'perusahaan bayangan' milik Agatha Waskita yang digunakan untuk menyuap para menteri di kabinet periode lalu. Nilainya lebih dari cukup untuk membuatmu menjadi raja di pesisir ini, atau untuk menghancurkan Agatha jika kamu cukup berani."
Mata Bong berbinar. Ia meraih flashdisk itu, namun Sasmita menariknya kembali.
"Informasi dulu, Bong. Di mana Aris?"
Bong tertawa, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas. "Aris... bocah jenius itu memang licin. Dia tidak keluar lewat laut. Dia justru kembali ke pusat kota, bersembunyi di lantai basement sebuah apartemen mewah yang sudah disita bank di kawasan Kuningan. Dia sedang membangun 'menara pengawas' digital baru di sana. Dia tahu kamu mengunci asetnya, dan sekarang dia sedang mencoba mencari cara untuk memintas sidik jari biologismu melalui teknologi rekonstruksi DNA."
Sasmita menegang. Rekonstruksi DNA? Itu berarti Aris sedang mencoba menciptakan "kunci palsu" dengan menggunakan sampel darah Sasmita yang tertinggal di gudang Cikarang semalam. Jika Aris berhasil, nyawa Sasmita tidak lagi berharga bagi Agatha. Ia akan segera dieksekusi begitu aset itu terbuka.
"Satu hal lagi, Nona Sasmita," Bong mendekat, berbisik di telinga Sasmita. "Agatha tidak hanya mengirim Aris. Dia telah menyewa 'Lembaga Pembersih' dari Singapura. Mereka bukan preman pasar. Mereka adalah profesional yang tidak meninggalkan jejak. Dan mereka sudah tahu tentang Sakti."
Sakti yang mendengar itu segera menarik Sasmita ke belakangnya. "Kita harus pergi sekarang, Nona."
"Tunggu," Sasmita menahan Sakti. Ia kembali menatap Bong. "Bong, aku butuh senjata. Bukan pistol biasa. Aku butuh pengacau sinyal (EMP) dan pelacak frekuensi militer. Aris tidak bisa dikalahkan dengan peluru, dia harus dikalahkan dengan kegelapan."
Bong terdiam sejenak, lalu ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengambil sebuah tas koper besi dari dalam lemari besi. "Ini adalah peralatan yang aku curi dari pengiriman logistik militer bulan lalu. Ambil. Tapi ingat, Sasmita... jika kamu tertangkap, kamu tidak pernah mengenalku. Jika namaku disebut, aku sendiri yang akan memastikan mayatmu ditemukan di perut hiu."
Sasmita mengambil koper itu. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Di dunia ini, terima kasih adalah tanda kelemahan. Ia hanya memberikan flashdisk tadi kepada Bong, lalu berbalik pergi.
Saat mereka kembali ke perahu, suasana semakin mencekam. Kabut laut mulai turun, menutupi pandangan. Tiba-tiba, Sakti menghentikan langkahnya di tengah dermaga. Ia mengangkat tangannya, memberi kode agar Sasmita dan Bramasta berhenti.
"Ada yang tidak beres," bisik Sakti.
Sunyi. Terlalu sunyi. Suara ombak yang biasanya menghantam tiang dermaga seolah menghilang. Tiba-tiba, sebuah titik merah kecil (laser) muncul di dada Sakti.
"TIARAP!" teriak Sakti sambil mendorong Sasmita jatuh ke air payau di bawah dermaga.
Zzzzt!
Suara tembakan dengan peredam suara menyambar tiang kayu tepat di tempat kepala Sasmita berada beberapa detik lalu. Tim pembersih dari Singapura sudah sampai. Mereka tidak menggunakan helikopter atau mobil mewah; mereka bergerak seperti bayangan di antara kabut.
Sasmita terengah-engah di dalam air yang dingin dan berbau busuk. Bahunya yang terluka terasa sangat perih terkena air garam, namun adrenalin membuatnya lupa akan rasa sakit itu. Ia melihat Sakti membalas tembakan dari balik peti garam, sementara Bramasta mencoba merangkak menuju perahu motor.
"Sakti, mereka terlalu banyak!" teriak Bramasta.
"Nona, lari ke arah rawa-rawa! Jangan ke perahu! Itu jebakan!" sahut Sakti sambil melemparkan sebuah granat asap untuk mengaburkan pandangan para penembak runduk (sniper).
Sasmita berenang dengan susah payah menyusuri kolong dermaga. Di dalam kegelapan, ia melihat salah satu anggota tim pembersih sedang memasang bahan peledak di mesin perahu mereka. Benar kata Sakti, mereka sudah diincar.
Sasmita teringat koper besi yang ia bawa. Dengan tangan gemetar, ia membuka koper itu di atas sebuah sampan kecil yang terikat di pilar dermaga. Ia menyalakan perangkat pengacau sinyal (EMP) portabel.
"Jika aku tidak bisa melihat mereka, mereka juga tidak boleh melihatku," gumam Sasmita.
Ia menekan tombol aktivasi. Seketika, semua alat elektronik di radius seratus meter mati total. Teropong malam (night vision) milik para pengejar mati, komunikasi radio mereka terputus, dan drone yang mengintai di atas kepala jatuh berputar-putar ke laut.
Dalam kegelapan total itu, Sasmita menjadi pemburu. Ia mengenal medan ini lebih baik dalam kondisi buta daripada para profesional yang bergantung pada teknologi. Ia merangkak keluar dari air, mengambil sebilah pisau dari pinggangnya—pisau yang ia ambil dari gudang Bong tadi.
Ia melihat bayangan seorang pria yang sedang kebingungan dengan teropong malamnya yang mati. Sasmita mendekat dengan langkah tanpa suara, seperti hantu yang lahir dari lumpur. Tanpa ragu, ia menghunjamkan pisaunya ke celah rompi antipeluru pria itu.
Satu jatuh.
Namun, bahunya kembali berdarah hebat. Kesadarannya mulai menipis. Sakti berhasil mendekatinya dan menariknya masuk ke dalam sebuah mobil jip tua milik nelayan yang kuncinya masih tertinggal.
"Bramasta mana?!" tanya Sasmita saat Sakti mulai menjalankan mobil dengan lampu mati.
"Dia tertembak di kaki, tapi dia berhasil naik ke perahu lain! Dia akan memancing mereka ke arah laut lepas agar kita bisa masuk ke Kuningan!" jawab Sakti dengan wajah yang dipenuhi jelaga.
Sasmita menatap ke belakang. Ia melihat ledakan besar di dermaga. Bramasta mengorbankan dirinya sekali lagi untuk menjadi umpan. Rasa benci Sasmita pada Bramasta perlahan berubah menjadi rasa kasihan yang mendalam. Bramasta sedang mencoba menebus dosa yang tidak akan pernah bisa dimaafkan, dengan cara yang paling tragis.
Mobil jip itu melesat menjauhi pesisir, menuju jantung kota Jakarta yang penuh cahaya namun tak punya hati. Sasmita memegang koper besinya dengan erat. Ia memiliki alamat Aris sekarang. Ia memiliki alat untuk mematikan dunianya.