AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Jika apa...?" tanya Ren yang tertarik pada akhirnya.
"Jika Anda menyukai betina. Tapi menurut kepribadian anda, aku rasa itu sama sekali tidak mungkin. Anda adalah psikopat yang tidak memiliki hati, tidak mungkin anda bisa menyukai betina...miau..." kalimat yang diucapkan oleh sang kucing dengan mata berkaca-kaca, berharap majikannya tidak melemparkannya kali ini.
Ren menghela napas, pada akhirnya menurunkan kucingnya."Benar itu tidak mungkin, ini mungkin seperti aku menyukai resep masakan baru, dan ingin memasaknya setiap hari. Tapi, tidak akan memasaknya lagi setelah bosan."
"Terserah apa yang ada di otakmu saja..." itulah yang ada di otak sang kucing, berguling di tanah terlihat begitu imut.
"Miau-miau jadilah kucing besar..." perintah Ren.
"Anda dapat terbang, atau berteleportasi. Kenapa harus naik ke punggungku?" sang kucing mengeluh tapi pada akhirnya menurut. Berubah menjadi kucing raksasa seukuran gajah.
"Tidak mungkin aku menunjukkan kemampuan di depan Sarah. Dia berteman dengan Ren yang lemah." pemuda yang naik ke atas kucing raksasa, atau kita dapat katakan harimau putih seukuran gajah.
"Berteman? aku rasa betina itu ingin kawin." Benar-benar mulut yang terus terang, seekor kucing yang mulai berlari mengejar Sarah.
Sedangkan Ren, tidak begitu mempedulikan kata-kata kucing ini, pasalnya kucingnya memang sering bicara omong kosong. Mengikuti wanita yang tengah berlari ini. Dirinya hanya merasa Sarah orang baik yang membuatnya nyaman.
Harimau yang pada akhirnya mengimbangi kecepatan Sarah.
"Nona Sarah! Ayo kita balapan!" teriak Ren tertawa memegangi bulu kucing, tidak ingin terlempar dari punggung Miau-miau.
Sarah tertegun, menatap semilir angin menyibakkan rambut pemuda itu. Senyumnya dan tawanya membuatnya terlihat jauh lebih rupawan, seperti matahari pagi yang cerah. Benar-benar sial! karena kedua orang tuanya membahas, dirinya mengingat kata-kata itu.
Dunia akan berakhir? atau tidak akan berakhir? jika berakhir mati dalam kesendirian, juga bukan hal yang bagus. Apa sebaiknya bersama dengan orang ini?
"Aku dapat bergerak lebih cepat darimu..." Sarah berlari semakin cepat, berusaha mengimbangi harimau putih.
"Miau-miau! Kejar dia!" Seru Ren.
Dirinya sama sekali tidak pernah seperti ini, bahkan sebelum kiamat terjadi. Hanya seseorang yang bereinkarnasi ke dalam cerita novel, menjadi bayi bernama Sarah. Itulah dirinya, yang dari kecil mempersiapkan segalanya tentang dunia kiamat. Hanya belajar untuk mencintai Kelvin seorang. Walaupun itu hal yang sulit.
Tapi pada akhirnya, kiamat tetap terjadi, dirinya tidak mendapatkan apapun termasuk cinta.
Menatap ke arah Ren, benar! Kali ini harus diakui olehnya, dirinya jatuh cinta. Tapi tidak dapat dan tidak berani untuk mengungkapkannya. Biarlah menunggu pemuda ini yang berucap.
***
Mereka menghentikan perjalanan, di area dekat sungai. Hari mungkin saat ini malam, mengingat keadaan yang lebih gelap daripada biasanya.
Beberapa cahaya obor, melintasi area dekat sungai.
Sarah terdiam sejenak, lagi pula dirinya memiliki kemampuan, juga persenjataan. Jika ada bahaya, tentu akan tetap selamat.
"Hai!! Hai!!" panggilnya melambaikan tangan, di dekat api unggun yang dibuatnya dengan Ren, untuk memancing ikan. Tentu saja ikan yang pengaruh radiasinya telah dinetralkan oleh sang pemuda.
Beberapa iringan cahaya obor itu, mungkin menyadari keberadaan mereka. Perlahan mendekat ke arah mereka.
"Kenapa Sarah memanggil orang sembarangan?" tanya Ren pada akhirnya, bersembunyi bagaikan ketakutan.
"Tidak apa-apa, aku memiliki kemampuan, jika ada bahaya aku akan melindungimu. Lagi pula, kita memerlukan beberapa orang baik yang dapat dipercaya, untuk memelihara ekosistem buatan bawah tanah." Gumam Sarah, mengingat impiannya untuk membuat peradaban baru.
Hingga, kala orang-orang itu mendekat, Sarah terdiam dan tertegun. Lima orang yang terdiri dari, satu orang dokter, dua orang Hunter, dan dua orang tentara.
"Rupanya kamu di sini!" salah satu dari mereka, yang menggunakan pakaian tentara, menarik kerah pakaian Ren.
"A...aku..." ucapkan tertunduk gugup.
"Kamu apa!? Masih hidup tapi tidak kembali pada kelompok!? Kami mencarimu kemana-mana! Badan lebih sedikit berisi, pasti mendapatkan sumber makanan bukan!? Berikan pada kami!?" pria berpakaian tentara itu, hendak memukul Ren.
Bug!
Tapi sang pria, terlempar dengan sekali hantaman oleh Sarah.
Sang dokter, kedua orang Hunter, serta satu orang tentara lainnya, juga Ren membulatkan matanya, melihat apa yang dilakukan oleh Sarah. Benar-benar amat sangat terkejut.
Tidak ada yang menyadari, sang kucing menipiskan bibir menahan tawanya, inilah betina musim kawin."Begitu galak..." gumam sang kucing dengan suara kecil.
"Ka...kamu..." tentara itu mencoba bangkit, memegangi perutnya yang terasa sakit. Hanya dengan satu kepalan tangan oleh seorang wanita cantik bertubuh ideal, dirinya dapat terlempar?
"No..nona Sarah, Ren tidak bermaksud meninggalkan kelompok. Tapi---" kalimat Ren yang terlihat tidak berdaya disela.
"Ren, tenang saja aku akan melindungimu." Sarah memeluknya, menatap nyalang kearah orang-orang ini.
"Kamu siapa!? Ren adalah anggota kelompok kami. Dia yang bertugas untuk memasak, sebagai imbalannya kami bertugas melindunginya." itulah yang diucapkan oleh sang pria berkacamata, berpakaian rapi. Dari jasnya, pakaian medis, jelas terlihat bahwa orang ini adalah seorang dokter.
"Anggota kelompok kalian!?" tawa seorang Sarah terdengar, mengingat bagaimana dirinya pertama kali bertemu dengan Ren. Pria yang begitu malang, ditinggalkan oleh kelompoknya dalam keadaan terluka. Meminta pertolongan tapi tidak ada yang datang, pria ini... adalah miliknya sekarang.
"Benar! Ren adalah anggota kelompok kami. Dia kebetulan tertinggal, jadi Kami sempat mencarinya. Ren! kemari!" perintah pria, Yang sepertinya seorang Hunter (pemburu monster).
Ren gemetar ketakutan, masih bersembunyi di belakang Sarah."Aku tidak ingin meninggalkan Sarah..." ucapnya dengan suara kecil. Benar-benar teh hijau berkualitas tinggi.
"Ren! kamu akan lebih terlindung jika ikut bersama kami! untuk apa mengikuti seorang wanita yang---" kalimat Hunter itu terhenti, Sarah tiba-tiba menodongkan katananya pada leher sang Hunter.
"Yang apa!? Setidaknya aku tidak pernah meninggalkan Ren sebagai umpan monster. Tidak seperti kalian yang seenaknya meninggalkannya, setelah memanfaatkannya... aku juga dapat memenuhi kebutuhannya... tidak seperti kelompok kalian yang tidak menghargainya." Itulah kalimat pelan penuh senyuman yang dipaksakan oleh Sarah.
Jika tahu seperti ini, lebih baik dirinya tidak memanggil orang-orang ini.
"Nona, sebaiknya kamu mundur, biarkan Ren kembali ikut bersama kami." satu Hunter lagi maju, pria yang memiliki kemampuan khusus mengeluarkan bola api yang melayang di atas tangannya.
Tapi.
Pria yang sebelumnya hanya gemetar ketakutan bersembunyi di belakang Sarah. Tiba-tiba saja maju, merentangkan kedua tangannya, berucap dengan keraguan, tapi penuh tekad yang dipaksakan.
"Louis! jangan serang Nona Sarah! Dia baik padaku, jika tidak ada dia, mungkin aku sudah mati... asalkan kalian tidak melukai Nona Sarah, A... aku bersedia kembali ikut bersama kalian."
Samar Sarah melihatnya, air mata mengalir di pipi Ren. Hal yang membuat sang wanita tertegun, hatinya bagaikan luluh tidak berdaya, bagaimana ada pria seperti ini...
"Betina semakin memanas..." batin sang kucing.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...