Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
London O2 Arena malam itu bukan sekadar gedung pertunjukan; itu adalah lautan manusia yang berdenyut mengikuti dentuman bas dan kerlip lampu panggung. Ribuan orang memadati area festival, menciptakan atmosfer yang jauh dari bayangan Ezzvaro tentang duduk tenang seperti menonton bioskop. Udara pengap oleh aroma parfum, keringat, dan euforia masa muda.
Gabriel berdiri di tengah kerumunan, mengenakan topi baseball hitam yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian matanya—sebuah upaya penyamaran yang nyaris gagal karena kecantikannya tetap memancar. Yang lebih gila lagi, saat mereka bertemu di lobi tadi, Gabriel hampir tersedak melihat Garcia.
Keduanya memakai baju yang identik: atasan hitam ketat dengan rok mini putih yang kontras. "Gaya seragam sahabat sejiwa!" teriak Garcia bangkit dari kegilaannya, mengabaikan tatapan bingung Ezzvaro. Gabriel hanya bisa membisikkan kata "Terima kasih" untuk yang kesepuluh kalinya malam itu. Ia tahu, tanpa tiket "umpan" dari Garcia, ia tidak akan berdiri di sini, sedekat ini dengan napas Ezzvaro.
"Vavo, ini terlalu ramai!" teriak Gabriel di telinga Ezzvaro saat penonton mulai melompat dan bernyanyi bersama lagu pembuka.
Ezzvaro tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang tajam terus mengawasi sekitar, memastikan tidak ada pria asing yang menyenggol Gabriel terlalu keras. Namun, saat intro lagu favorit mereka—melodi piano yang lembut namun menyayat hati—mulai mengalun, tatapan Ezzvaro berubah. Ia tidak ingin berbagi momen ini dengan ribuan orang, apalagi dengan Garcia yang sibuk merekam instastory sambil berteriak-teriak.
Dengan gerakan posesif, Ezzvaro mencengkeram jemari Gabriel, menariknya menembus kerumunan. Ia membawa Gabriel menjauh dari area festival yang terang, menyelinap ke area gelap di bawah tribun penonton yang sunyi dan tersembunyi oleh pilar-pilar beton raksasa. Di sana, suara musik terdengar sedikit meredam, menciptakan ruang privat di tengah hiruk-pikuk.
Ezzvaro menyudutkan Gabriel ke dinding dingin, namun tatapannya sehangat api unggun. Tanpa aba-aba, ia memangkas jarak dan mencium bibir kekasihnya dengan sangat dalam. Ciuman yang membawa rasa rindu, rasa bersalah, dan gairah yang tak kunjung padam.
"Aku mencintaimu, Gaby... aku sangat mencintaimu," bisik Ezzvaro tepat di depan bibir Gabriel, napasnya memburu. Suaranya serak, penuh dengan ketulusan yang jarang ia tunjukkan di bawah lampu mansion.
Mendengar pengakuan itu dalam kondisi setengah sadar karena atmosfer konser, Gabriel merasa hatinya meluap. Ia menatap mata Ezzvaro yang berkilat di kegelapan.
"Vavo... apa kau akan memaafkanku jika aku melakukan kebohongan besar padamu?" tanya Gabriel lirih, memikirkan konspirasinya dengan Garcia soal perjodohan itu.
Ezzvaro menarik napas panjang, mengelus pipi Gabriel dengan ibu jarinya. "Aku akan memaafkan semuanya, Sayang. Apapun itu. Selama kau tetap di sisiku, tidak ada kebohongan yang cukup besar untuk membuatku pergi."
Mereka kembali berciuman, kali ini lebih lembut, mengikuti ritme lagu yang mengalun di kejauhan. Di bawah tribun yang gelap itu, Ezzvaro memeluk pinggang Gabriel, membiarkan wanita itu menyandarkan kepala di dadanya. Mereka bergoyang pelan, seolah dunia di luar sana berhenti berputar.
Sementara itu, di tengah kerumunan yang terang benderang, Garcia Alton berdiri dengan botol air mineral di tangan (dia berjanji pada Gabriel untuk tidak mabuk malam ini). Ia menoleh ke belakang, menyadari sahabatnya dan "calon tunangannya" sudah menghilang dari pandangan.
Garcia melihat bayangan dua orang yang sedang berpelukan erat di area gelap bawah tribun. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia berteriak heboh, melompat-lompat sendirian mengikuti irama musik.
"Go, Gaby! Sikat saja singa itu!" teriaknya, meskipun suaranya tenggelam oleh sorakan penonton lain.
Namun, di sela kegembiraannya untuk sang sahabat, Garcia menghela napas panjang. Matanya menerawang ke arah deretan kursi VIP di atas sana, tempat di mana ia berharap bisa melihat sosok Tharzeo.
"Huh, semoga Theo yang dingin juga bisa aku taklukkan suatu saat nanti," gumamnya pada diri sendiri. Semangatnya kembali berkobar. Jika Gabriel bisa menjinakkan Ezzvaro yang keras kepala, maka dia pun harus bisa meruntuhkan tembok es Tharzeo Manafe. "Tunggu saja, Tuan Robot. Aku akan membuatmu lupa cara bernapas."
Kembali ke kegelapan di bawah tribun, Ezzvaro tidak melepaskan dekapannya. Ia mengangkat tubuh Gabriel sedikit, mendudukkannya di atas sebuah kotak peralatan yang tertutup kain, sehingga wajah mereka sejajar.
"Kau cantik sekali dengan topi ini," bisik Ezzvaro sambil mengangkat sedikit pinggiran topi Gabriel. Ia menciumi kelopak mata Gabriel, hidungnya, hingga kembali ke bibirnya. "Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi, Gaby. Aku tidak peduli dengan Fank, aku tidak peduli dengan Garcia. Aku hanya butuh kau."
Gabriel melingkarkan kakinya di pinggang Ezzvaro, menarik pria itu semakin rapat. "Aku tidak akan ke mana-mana, Vavo. Selamanya."
Malam itu, di O2 Arena, musik The Lumineers menjadi saksi bagaimana dua jiwa yang sempat terpisah itu saling mengikat janji kembali. Di tengah ribuan saksi yang tidak sadar, Ezzvaro dan Gabriel merayakan cinta mereka dengan cara yang paling romantis—dalam diam, dalam gelap, dan dalam penyatuan yang melampaui segala kata.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰