NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. The Price of a Secret

Suasana kemenangan di kantor pusat Vincentius Group tidak berlangsung lama bagi Jennie. Saat para pemegang saham bersorak karena dana perusahaan aman, pandangan Jennie mendadak mengabur. Telinganya berdenging hebat, dan rasa nyeri yang tajam menusuk perut bagian bawahnya.

“Jangan sekarang... kumohon, jangan sekarang,” batinnya sambil mencengkeram pinggiran meja jati itu hingga buku jarinya memutih.

Limario, yang sejak tadi tidak melepas pandangannya dari Jennie, segera menyadari perubahan raut wajah istrinya. Ia mengabaikan asistennya yang masih bicara dan langsung menyambar tubuh Jennie sebelum wanita itu jatuh ke lantai.

"Rapat selesai! Semuanya keluar!" teriak Limario dengan suara yang menggelegar, membuat seisi ruangan gemetar.

Komplikasi dan Pengakuan

Limario membawa Jennie ke ruang istirahat pribadinya di dalam kantor. Dokter pribadi keluarga Vincentius segera dipanggil. Setelah pemeriksaan yang menegangkan, sang dokter keluar dengan wajah serius.

"Tuan, Nyonya Jennie mengalami stres fisik dan mental yang luar biasa. Detak jantung janin sempat tidak stabil. Jika Nyonya terus memaksakan diri atau memikirkan hal-hal yang terlalu berat, kita bisa kehilangan bayinya," jelas dokter itu.

Limario duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Jennie yang terasa dingin. Matanya merah karena amarah sekaligus rasa takut yang mendalam. Saat Jennie perlahan membuka matanya, ia melihat tatapan Limario yang tidak lagi bisa dibohongi.

"Katakan padaku, Jennie," suara Limario rendah, sarat dengan luka. "Bagaimana kau bisa tahu tentang perusahaan cangkang Dante? Bagaimana kau bisa tahu tentang proyek Utara? Dan bagaimana kau bisa tahu apa yang akan Dante lakukan bahkan sebelum dia memikirkannya?"

Jennie terdiam. Air matanya mengalir membasahi bantal. Rahasia ini terasa semakin berat seiring berjalannya waktu.

"Lim... jika aku mengatakannya, kau mungkin akan menganggapku gila," bisik Jennie parau.

"Aku sudah mencintai wanita yang mencoba menghancurkanku selama bertahun-tahun, Jennie. Anggap saja aku sudah cukup gila untuk mempercayai apa pun yang keluar dari bibirmu," balas Limario sambil mencium jemari Jennie.

Akhirnya, dengan suara gemetar, Jennie menceritakan semuanya. Tentang kematiannya di gudang kotor, tentang pengkhianatan Reynard, tentang kematian Ibu Maurel yang ia sebabkan sendiri, hingga kehancuran Limario di masa depan. Ia menceritakan bagaimana ia terbangun kembali di hari pertama ia diberi kesempatan kedua.

Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit. Limario terpaku, mencerna setiap kata yang terdengar seperti plot film fantasi. Namun, saat ia mengingat perubahan drastis Jennie, semuanya mulai masuk akal.

"Jadi... kau kembali hanya untuk menyelamatkanku?" tanya Limario lirih.

"Aku kembali karena aku sadar, hanya kau yang benar-benar mencintaiku, Lim. Dan aku tidak akan membiarkan takdir yang sama terulang," jawab Jennie terisak.

Limario menarik Jennie ke dalam pelukannya, sangat erat. "Bodoh. Kau mempertaruhkan nyawamu dan anak kita hanya untuk beban masa lalu itu? Dengar, Jennie. Masa depan yang kau lihat itu sudah mati. Sekarang, akulah yang akan memegang kendali."

Langkah Terakhir Dante

Di luar sana, Dante Vincentius sudah kehilangan segalanya. Dana yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun lenyap dalam semalam. Sarah, yang juga mulai panik, menatap Dante dengan ketakutan.

"Dante, kita harus lari! Limario sudah tahu segalanya!" teriak Sarah.

"Lari?" Dante tertawa gila, matanya merah karena kurang tidur. "Tidak ada tempat lari dari seorang Vincentius. Jika aku tidak bisa memiliki takhta itu, maka tidak ada yang boleh memilikinya."

Dante mengambil sebuah detonator kecil dari sakunya. Ia telah bekerja sama dengan kartel lawan untuk menanam peledak di jalur logistik utama Vincentius Group yang akan dilewati oleh konvoi Limario sore ini.

"Dia pikir dia menang karena punya istri peramal? Mari kita lihat apakah ramalannya bisa menghentikan ledakan ini," desis Dante.

Pertempuran di Jalanan

Sore itu, Jennie yang masih lemah tiba-tiba merasakan firasat buruk. Ia teringat sebuah fragmen ingatan masa lalu: Kematian Dante terjadi di sebuah jembatan saat ia mencoba melakukan serangan bunuh diri.

"Lim! Jangan lewat jembatan layang sektor 4!" teriak Jennie saat Limario hendak berangkat untuk mengurus sabotase di gudang logistik.

Limario berhenti. Ia menatap Jennie dari sebarang, lalu mengangguk tanpa bertanya lagi. Ia kini sepenuhnya percaya pada "insting" istrinya. Ia segera menghubungi tim taktisnya.

"Ubah rute. Kirim unit penjinak bom ke jembatan sektor 4. Dan temukan Dante. Hidup atau mati."

Konvoi Limario berputar arah, namun Dante yang sudah memantau dari jauh menyadari rencana mereka berubah. Dante memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengejar konvoi Limario sambil melepaskan tembakan.

Aksi kejar-kejaran sengit terjadi di jalanan kota. Suara tembakan dan derit ban memecah keheningan sore. Limario, dengan tenang, mengeluarkan senjata otomatisnya dari bawah kursi.

"Jaga orang di rumah, Hans. Aku akan menyelesaikan tikus ini," perintah Limario melalui radio komunikasi.

Tepat di ujung jalan buntu, mobil Dante terpojok. Limario turun dari mobilnya, berjalan dengan langkah tenang namun mematikan ke arah Dante yang sudah bersimbah darah di balik kemudi.

"Kau benar, Dante," ucap Limario sambil mengarahkan senjatanya ke kepala sepupunya. "Masa depan tidak mudah diubah. Tapi kau lupa satu hal... di masa depan mana pun, aku adalah orang yang akan membunuh siapa pun yang menyentuh Jennie-ku."

DOOR!

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Dante tewas, namun Sarah berhasil meloloskan diri dengan membawa dokumen penting yang bisa mengungkap identitas "pembantu" rahasia Jennie (para peretas). Di sisi lain, Jennie jatuh pingsan di mansion, dan kondisi kehamilannya kritis.

Limario segera menyimpan senjatanya saat Hans memberikan laporan bahwa area telah disterilkan. Ia tidak menoleh lagi pada jasad Dante; baginya, pengkhianat tidak layak mendapatkan tatapan terakhir. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Jennie.

Taruhan Nyawa

Saat Limario tiba di mansion, suasana terasa mencekam. Ia menemukan Ny. Maurel menangis di depan kamar utama, sementara Kenzhi dipeluk erat oleh seorang pengasuh di sudut ruangan.

"Lim... Jennie pingsan lagi. Dokter bilang pendarahannya tidak berhenti," isak Maurel.

Limario mendobrak pintu kamar. Di dalam, bau obat-obatan menyeruak. Jennie terbaring pucat dengan selang infus terpasang di tangannya. Dokter pribadi mereka tampak panik, berusaha menstabilkan kondisi Jennie yang terus menurun.

"Tuan Vincentius, Nyonya mengalami syok saraf. Seolah-olah otaknya dipaksa bekerja melampaui batas. Ini berhubungan dengan apa pun yang dia pikirkan atau... 'ingat'," bisik dokter itu ketakutan.

Limario berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Jennie yang tak berdaya. "Jennie, dengar aku. Berhenti memikirkan masa depan. Berhenti mencoba menyelamatkanku. Aku sudah di sini, aku aman! Jangan korbankan dirimu untuk takdir yang sudah lewat!"

Di dalam ketidaksadarannya, Jennie merasa sedang berada di ruang hampa yang gelap. Ia melihat bayangan masa lalunya yang kelam mencoba menariknya kembali. Suara Dante bergema: "Kau tidak bisa mengubah segalanya tanpa membayar harganya."

Namun, suara Limario menembus kegelapan itu. Suara itu bukan lagi penuh otoritas Mafia, melainkan suara seorang pria yang memohon pada dunianya agar tidak hancur.

Perlahan, kelopak mata Jennie bergetar. Ia melihat wajah Limario yang hancur karena kesedihan—pemandangan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian mana pun.

"Lim..." suara Jennie hampir tak terdengar.

"Sstt, jangan bicara. Tetaplah di sini bersamaku," bisik Limario, mencium keningnya berkali-kali.

Penyelesaian Terakhir: Tikus yang Terpojok

Di saat yang sama, Sarah, yang sedang bersembunyi di sebuah apartemen kumuh, berusaha mengunggah data peretas Jennie ke jaringan musuh-musuh Limario. Ia ingin menghancurkan reputasi Jennie sebagai "Ratu Mafia" sebelum ia tertangkap.

"Jika aku mati, kau juga harus mati, Jennie!" teriak Sarah histeris.

Namun, layar laptopnya tiba-tiba menjadi hitam. Sebuah logo singa emas muncul—simbol pribadi Limario Vincentius.

"Permainan selesai, Sarah," sebuah suara mekanik terdengar dari speaker laptop.

Pintu apartemen itu didobrak oleh tim elit Vincentius. Sarah tidak diberikan kesempatan untuk bicara. Hans masuk dan mengambil laptop tersebut, lalu menatap Sarah dengan dingin.

"Tuan Vincentius punya pesan untukmu: Di kehidupan ini, tidak ada tempat sembunyi bagi orang yang mencoba menyentuh keluarganya."

Fajar yang Tenang

Satu minggu kemudian.

Matahari pagi menyinari balkon mansion. Jennie duduk di kursi malas dengan selimut menutupi kakinya. Perutnya yang mulai sedikit membuncit terasa hangat di bawah sinar matahari. Pendarahannya telah berhenti, dan dokter menyatakan janinnya kuat—sebuah keajaiban medis yang tidak bisa dijelaskan.

Limario datang membawa nampan berisi sarapan dan susu cokelat kesukaan Jennie. Ia meletakkan nampan itu, lalu duduk di lantai di samping kursi Jennie, menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya.

"Dante sudah dimakamkan secara tertutup. Sarah dan jaringan keluarga Choi sudah bersih total. Tidak ada lagi ancaman, Jennie. Tidak ada lagi masa depan yang perlu kau takuti," ucap Limario lembut.

Jennie mengusap rambut hitam suaminya. "Aku merasa... ingatan masa depan itu mulai memudar, Lim. Seolah-olah tugas mereka sudah selesai."

Limario mendongak, menatap mata Jennie dengan penuh cinta. "Baguslah. Aku ingin kau hanya mengingat masa depan yang akan kita buat mulai hari ini. Masa depan di mana kita menua bersama."

Kenzhi berlari masuk ke balkon, melompat ke pelukan mereka berdua. "Mummy, Daddy! Lihat! Aku menggambar adik bayi!"

Mereka tertawa bersama. Di bawah langit yang cerah, Jennie menyadari bahwa harga dari kesempatan kedua ini bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk membangun sebuah cinta yang mampu menghapus semua trauma di garis waktu mana pun.

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!