Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam itu, udara Jakarta terasa lebih menggigit dari biasanya. Lia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di taman kecil yang terletak tepat di samping gedung apartemennya. Lampu-lampu taman yang temaram menciptakan bayangan panjang yang seolah mengikuti setiap langkah ragunya.
Ia duduk di sebuah bangku kayu yang dingin, menatap kosong ke arah kolam ikan yang tenang. Namun, pikirannya justru terseret paksa melintasi waktu, kembali ke lima tahun yang lalu.
Dulu, setiap Jumat malam adalah waktu yang paling ia tunggu. Apartemen kecilnya yang hanya seluas petak saku akan mendadak terasa hangat dan hidup. Ia bisa mendengar kembali suara kunci yang diputar, lalu sosok Regas akan muncul dengan kemeja kantor yang lengannya sudah digulung, membawa kantong belanjaan penuh bahan makanan.
"Lia, hari ini aku mau coba masak pasta udang. Aku dengar ini favoritmu, kan?" suara Regas yang berat dan lembut seolah bergema di telinganya.
Lia memejamkan mata. Ia masih bisa membayangkan aroma bawang putih yang ditumis di dapur sempitnya, tawa mereka yang pecah saat Regas hampir menumpahkan saus karena terlalu asyik menggodanya, hingga momen di mana mereka duduk di lantai—karena ia tak punya meja makan—hanya untuk menikmati masakan yang sebenarnya tidak terlalu enak, namun terasa luar biasa karena dimakan bersama.
Regas yang seorang mahasiswa Teknik favorit, seorang calon CEO, rela berkutat dengan asap dapur hanya untuk seorang mahasiswi sastra yang saat itu belum punya apa-apa. Perhatian-perhatian kecil itu—seperti Regas yang hafal jenis teh yang Lia suka saat ia sedang flu, atau bagaimana Regas selalu tahu kapan Lia butuh pelukan tanpa perlu diminta—adalah kehangatan yang dulu menjadi pelindungnya dari dinginnya dunia.
Namun, kenangan itu kini terasa seperti duri.
"Semuanya palsu, Lia," bisiknya pedih pada angin malam. "Kehangatan itu sekarang sudah jadi milik orang lain. Pasta itu mungkin sekarang dimasak untuk Elena."
Setetes air mata jatuh tanpa permisi. Lia merasa bodoh karena masih menyimpan detak jantung yang sama untuk laki-laki yang sudah memberikannya "pengganti" dalam bentuk seorang istri yang sedang hamil. Sukses di London tidak memberinya mantra untuk menghapus kenangan di Jakarta.
Tepat saat ia hendak berdiri untuk mengakhiri siksaan ingatannya, aroma parfum yang sangat ia kenal—campuran kayu cendana dan hujan—mendadak menyeruak terbawa angin.
Lia membeku. Langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari balik bayangan pohon besar di belakangnya. Langkah yang berat, berirama, dan sangat maskulin.
"Taman ini belum banyak berubah," sebuah suara rendah memecah kesunyian malam. "Sama seperti caramu duduk saat sedang banyak pikiran. Kamu masih suka menautkan jari-jarimu, Lia."
Lia menoleh dengan cepat, jantungnya seolah melompat dari tempatnya. Di sana, bersandar pada lampu taman dengan kedua tangan di saku celana, berdiri Regas Adhitama. Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang sangat lelah, namun penuh dengan kerinduan yang tak lagi ia sembunyikan.
Lia segera menghapus jejak air mata di pipinya dengan gerakan kasar. Ia berdiri, menarik napas panjang untuk membungkus kembali hatinya dengan lapisan es yang paling tebal.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku tinggal di sini?" tanya Lia, suaranya tajam dan penuh kecurigaan. "Apa menjadi CEO memberimu hak untuk melanggar privasi orang lain dan melacak alamat mereka?"
Regas melangkah maju, cahaya lampu taman menyinari wajahnya yang tampak kuyu. "Data administrasi sekolah Ghea, Lia. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja setelah kejadian di gerbang tadi pagi."
"Aku baik-baik saja. Dan aku akan jauh lebih baik jika kamu tidak muncul di hadapanku," balas Lia dingin. Ia menyampirkan tasnya ke bahu, bersiap untuk pergi. "Pergilah, Regas. Pulanglah ke rumahmu. Istrimu sedang hamil, dia lebih membutuhkanmu daripada aku yang hanya 'masa lalu' yang mengganggu pikiranmu."
"Lia, dengarkan aku dulu—" Regas mencoba meraih lengan Lia, namun Lia menghindar dengan gerakan refleks yang menyakitkan bagi keduanya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Lia, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Jangan bawa aroma masakan atau kenangan apartemen lama itu ke sini. Itu sudah mati sejak aku menginjakkan kaki di pesawat menuju London. Pergi sekarang, atau aku akan melaporkan ini pada pihak keamanan apartemen sebagai tindakan penguntitan."
Regas tertegun, tangannya menggantung di udara. Ia melihat kebencian dan luka yang begitu dalam di mata wanita yang dulu selalu menatapnya dengan penuh kekaguman. "Kamu benar-benar sudah tidak ingin mengenalku lagi?"
"Tidak. Bagiku, Regas yang memasak pasta di lantai apartemen sempit itu sudah hilang. Yang ada di depanku sekarang hanyalah Pak Regas, wali murid Ghea yang sudah punya keluarga sempurna," ucap Lia telak.
Tanpa menoleh lagi, Lia membalikkan badan dan melangkah seribu menuju lobi gedung apartemennya. Ia menekan tombol lift dengan tidak sabar, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia membiarkan Regas berdiri mematung di tengah taman yang sunyi, sendirian di bawah temaram lampu yang mulai berkedip.
Begitu sampai di dalam unitnya, Lia langsung mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Ia merasa mual. Bukan karena benci, tapi karena ia menyadari bahwa meski ia sudah mengusir laki-laki itu, aroma parfum kayu cendana dan hujan milik Regas seolah masih menempel di kulitnya, menolak untuk pergi.