NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: KUIL DI PUNCAK GUNUNG

Tiga hari perjalanan ke utara membawa mereka semakin dekat ke langit.

Pepohonan mulai menipis, digantikan oleh semak-semak kerdil dan bebatuan licin. Udara berubah dingin—bukan dingin biasa, tapi dingin yang menusuk sumsum, membuat tulang terasa rapuh. Napas mereka membentuk awan-awan kecil di depan wajah.

Ren menggigil hebat meskipun digendong Sera yang membungkusnya dengan kain tebal. Anak itu batuk-batuk—batuk kering yang tidak kunjung reda.

"Ibu... dingin..." rengeknya lemah.

Sera memeluknya erat. "Sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi kita sampai."

Tapi Aldric tahu itu bohong. Ia melihat peta kusut di tangannya—coretan Mora tentang lokasi kuil kuno. Masih setidaknya dua hari perjalanan lagi. Mungkin lebih dengan kondisi mereka.

Elara berjalan pincang di sampingnya. Demamnya kambuh lagi—pengaruh luka yang belum sembuh total dan udara dingin. Ia berusaha tegar, tapi Aldric bisa melihat bibirnya membiru.

"Berhenti," perintahnya. "Kita istirahat."

"Tapi pengejar—"

"Biarkan mereka mengejar. Kalian mati kedinginan lebih dulu jika terus begini."

Mereka mencari perlindungan di balik batu besar yang menjorok, membentuk gua kecil alami. Sera segera mengeluarkan kayu kering dari bawaannya—persediaan terakhir—dan menyalakan api unggun kecil.

Ren duduk di dekat api, masih menggigil. Elara merebahkan diri di atas tikar darurat, matanya terpejam.

Aldric berdiri di mulut gua, mengawasi langit. Burung-burung hitam masih berputar di kejauhan—mata-mata Shadow Council. Mereka tidak menyerang, hanya mengikuti, melaporkan posisi.

Mereka ingin kita lelah dulu, pikirnya. Lalu menyerang saat kita paling lemah.

"Varyn pernah bilang aku bisa memanggilnya lewat Ren," gumamnya. "Tapi itu risiko."

"Apa risikonya?" suara lemah dari belakang. Elara membuka mata.

"Ren bisa kehilangan jiwanya. Atau Varyn bisa menguasai tubuhnya."

Elara diam. Lalu, "Tapi kau tetap melakukannya saat itu, di hutan."

"Terpaksa. Kau hampir mati."

"Dan sekarang? Kita hampir mati lagi."

Aldric menatapnya. Elara benar. Mereka hampir mati—lagi.

Ia berjalan mendekati Ren. Anak itu sedang terbaring di pangkuan ibunya, matanya terpejam, napasnya tidak teratur.

"Ren," panggilnya lembut. "Ren, bangun."

Ren membuka mata—sebentar, lalu terpejam lagi. "Om..."

"Om mau minta tolong. Tapi ini berbahaya. Ren mau?"

Ren mengangguk lemah. "Ren mau... bantu Om..."

Sera menatap Aldric dengan pandangan campur aduk—takut, cemas, tapi juga pasrah. Ia tahu ini satu-satunya jalan.

"Jaga dia," kata Aldric. "Jika ada yang aneh, bangunkan."

Ia meletakkan tangan di dahi Ren. "Ren, panggil Varyn. Bilang Aldric butuh bicara."

Ren memejamkan mata lebih dalam. Tubuhnya mulai bergetar—bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lain. Dari mulutnya, suara aneh keluar—suara berat, dalam, berlapis.

"Kau main api, Nak."

Varyn.

Aldric menarik napas lega. "Kita butuh bantuanmu."

"Aku tahu. Aku bisa lihat semuanya lewat mata Ren. Kau terpojok."

"Ada kuil di puncak gunung. Kata Mora, itu pintu kembali ke dunia bawah."

"Mora benar. Tapi ia tidak bilang satu hal."

"Apa?"

"Kuil itu dijaga. Oleh sesuatu yang lebih tua dariku."

Aldric mengerutkan dahi. "Lebih tua darimu?"

"Aku hidup ribuan tahun, Nak. Tapi yang menjaga kuil itu... sudah ada sejak dunia ini diciptakan. Ia bukan iblis, bukan dewa. Ia adalah penjaga batas."

"Bisakah kita melewatinya?"

"Tergantung. Penjaga itu tidak mempan kekuatan fisik. Ia hanya bereaksi pada... niat."

"Niat?"

"Apa yang kau cari di dunia bawah? Perlindungan? Atau kekuatan untuk balas dendam?"

Aldric terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya rumit.

"Aku ingin melindungi mereka. Elara, Sera, Ren."

"Dan setelah itu?"

"Setelah itu... aku ingin membunuh Darius. Menghancurkan Shadow Council."

Varyn terdiam. Lalu tawa aneh keluar dari mulut Ren.

"Dendam dan perlindungan. Dua niat yang berbeda. Penjaga akan mengujimu, Nak. Ia akan memilih mana yang lebih kuat dalam dirimu."

"Apa maksudmu?"

"Kau akan tahu saat menghadapinya. Tapi ingat—jika dendammu lebih kuat, kau tidak akan bisa masuk. Kau akan terlempar kembali, atau lebih buruk—kau akan kehilangan dirimu selamanya."

Ren menggeliat, matanya terbuka—kembali normal. Anak itu terbatuk-batuk, kelelahan.

"Om... Ren sudah panggil teman..."

"Ya, Nak. Terima kasih." Aldric mengusap rambutnya. "Sekarang tidur."

Ren terlelap dalam hitungan detik. Sera memeluknya erat, menangis diam-diam.

Aldric kembali ke mulut gua. Langit mulai gelap. Burung-burung hitam masih berputar, menunggu.

Dendam atau perlindungan?

Ia tidak tahu jawabannya.

Mereka melanjutkan perjalanan keesokan paginya, meskipun semua kelelahan. Udara semakin dingin, salju mulai turun—pertama kalinya bagi Ren melihat salju, tapi anak itu terlalu sakit untuk senang.

Elara semakin parah. Aldric harus menggendongnya separuh jalan. Sera berjuang dengan Ren di punggungnya, napasnya tersengal.

"Kita... hampir... sampai..." Aldric memberi semangat, meskipun ia sendiri tidak yakin.

Menjelang sore, mereka melihatnya.

Di puncak gunung, tersembunyi di balik kabut abadi, sebuah bangunan kuno menjulang. Terbuat dari batu hitam yang tidak ditumbuhi salju, dengan pilar-pilar tinggi menjulang dan ukiran-ukiran aneh di setiap permukaan. Pintu gerbangnya—dua lempengan batu raksasa—tertutup rapat.

Kuil itu.

"Di sana," bisik Aldric. "Kita hampir sampai."

Sisa tenaga mereka kumpulkan untuk mendaki lereng terakhir. Kaki terasa berat, napas seperti api, tapi mereka terus maju.

Akhirnya, mereka tiba di depan pintu gerbang.

Ukiran di pintu itu menggambarkan pertempuran—manusia melawan monster, dewa melawan iblis, cahaya melawan gelap. Tapi anehnya, tidak ada yang menang. Semua gambar berakhir imbang, seimbang.

Aldric mendekat, menyentuh permukaan batu.

Pintu itu bergerak.

Bukan terbuka—bergerak. Ukiran-ukirannya hidup, berputar, berubah. Dari dalam batu, suara bergema—dalam, tua, seperti bumi berbicara.

"Siapa yang berani mengganggu peristirahatanku?"

Aldric mundur selangkah. Elara dan Sera berdiri di belakangnya, memeluk Ren erat.

"Aku Aldric Veynheart. Aku mencari perlindungan."

"Perlindungan?" Suara itu tertawa—tawa yang membuat gunung bergetar. "Atau kekuatan? Kau tidak bisa bohong padaku, anak manusia. Aku bisa membaca hatimu."

Tiba-tiba, Aldric merasakan sesuatu menekan dadanya—bukan fisik, tapi mental. Pikirannya seperti dibuka paksa, semua rahasia terkuak.

Ia melihat dirinya sendiri: dendam pada Darius, amarah pada Shadow Council, keinginan membunuh yang membara. Tapi di balik itu, ada yang lain: keinginan melindungi Elara, kasih sayang pada Ren, rasa terima kasih pada Sera.

"Dua hati dalam satu dada," gumam suara itu. "Manusia dan iblis. Dendam dan cinta. Kau makhluk yang aneh."

"Aku hanya ingin mereka selamat."

"Dan setelah mereka selamat? Kau akan kembali ke jalan dendammu?"

Aldric tidak menjawab.

"Aku tahu jawabannya. Tapi aku tidak akan menghakimi. Tugasku hanya menjaga pintu. Dan pintu ini..."

Pintu batu itu mulai terbuka—perlahan, berat, dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

"...terbuka untuk siapa pun yang punya niat murni. Dan niatmu—melindungi mereka—cukup murni. Untuk saat ini."

Di balik pintu, bukan lorong gelap seperti dugaan Aldric. Tapi cahaya—cahaya hangat, seperti matahari musim semi. Dan aroma—aroma bunga, rumput, kehidupan.

"Masuk. Di dalam, kau akan aman. Pengejarmu tidak bisa mengikutimu."

Aldric berbalik pada Elara, Sera, dan Ren. "Ayo."

Mereka melangkah masuk bersama, melewati ambang pintu kuno.

Saat kaki terakhir—kaki Aldric—melewati pintu, suara penjaga terdengar lagi.

"Tapi ingat, anak manusia. Kau tidak bisa bersembunyi selamanya. Suatu hari, kau harus keluar. Dan saat itu, kau harus memilih: dendam atau cinta. Tidak ada jalan tengah."

Pintu batu tertutup di belakang mereka, meninggalkan gunung dan pengejar di luar.

Di dalam kuil, dunia berbeda.

Mereka berdiri di sebuah lembah hijau yang luas—sangat luas, dengan langit biru cerah dan matahari hangat. Di kejauhan, terlihat bangunan-bangunan kuno, reruntuhan peradaban yang sudah lama mati. Tapi di antara reruntuhan itu, tanaman tumbuh subur, bunga-bunga bermekaran, sungai mengalir jernih.

"Ini..." Sera terpesona. "Ini surga?"

"Bukan surga." Aldric mengamati sekeliling. "Tapi tempat di antara dunia. Antara atas dan bawah."

Elara tersenyum—pertama kalinya dalam berhari-hari. "Kita aman?"

"Untuk sementara."

Mereka berjalan menyusuri lembah, mencari tempat berlindung. Di dekat sungai, mereka menemukan reruntuhan bangunan yang masih cukup utuh—dinding batu, atap setengah roboh, tapi bisa dijadikan tempat tinggal sementara.

Sera segera membersihkan area, membuat tempat tidur dari daun-daun kering. Elara merebahkan diri, napasnya mulai membaik—mungkin karena udara hangat. Ren duduk di samping ibunya, matanya mulai bersinar lagi.

Aldric berdiri di ambang reruntuhan, menatap lembah hijau.

Di sini, damai. Tidak ada pengejar, tidak ada pertarungan, tidak ada kematian.

Tapi di dalam hatinya, damai itu tidak bertahan lama.

Karena ia tahu—mereka tidak bisa bersembunyi selamanya.

Dan saat mereka keluar, ia harus memilih.

Dendam atau cinta?

Di luar kuil, di lereng gunung yang bersalju, komandan pasukan kerajaan mengamati pintu batu dengan frustrasi.

"Di mana mereka?"

Pramuka menggeleng. "Hilang, Komandan. Jejak mereka berhenti di depan pintu ini."

"Dobrak pintunya!"

Mereka mencoba—puluhan prajurit mendorong, merusak, bahkan mencoba meledakkan. Tapi pintu batu itu tidak bergerak. Tidak goyah. Seolah ia bagian dari gunung itu sendiri.

Dari langit, burung-burung hitam hinggap di batu, mata merah mereka mengamati.

Salah satu Shadow Council turun dari bayang-bayang. Ia mendekati pintu, menyentuhnya, lalu mundur cepat—tanganya seperti terbakar.

"Kuil Penjaga," desisnya. "Mereka masuk ke Kuil Penjaga."

"Apa itu?"

"Tempat di antara dunia. Tidak bisa dimasuki paksa. Hanya mereka yang diizinkan yang bisa masuk."

"Lalu bagaimana? Kita tunggu di sini?"

Shadow Council itu tersenyum di balik topeng. "Tidak perlu. Mereka akan keluar sendiri. Cepat atau lambat. Dan saat mereka keluar—" ia mengepalkan tangan, "—kita akan menyambut mereka."

--- BERSAMBUNG KE BAB 18: LEMBAH ANTARA DUNIA ---

Di dalam kuil, waktu terasa berbeda. Hari berganti malam, tapi tidak ada yang tahu berapa lama. Ren mulai sembuh, Elara pulih, dan bahkan Sera tersenyum lagi.

Tapi Aldric gelisah.

Ia bermimpi setiap malam—mimpi tentang Darius, tentang tahta, tentang darah. Api dendam tidak pernah padam, hanya tertunda.

Di lembah hijau itu, ia menemukan sesuatu—sebuah altar kuno dengan ukiran yang sama seperti di pintu masuk. Saat ia mendekat, ukiran itu berbicara padanya.

"Kau bisa tinggal di sini selamanya," bisiknya. "Hidup damai bersama orang-orang yang kau cintai. Tidak ada pertarungan, tidak ada kematian. Hanya kedamaian."

Tawaran yang menggoda.

Tapi di balik tawaran itu, ada syarat: ia harus melepaskan dendam. Melupakan masa lalu. Menerima bahwa Darius menang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!