Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan, Kopi, dan Masa Lalu
Raka berlari secepat mungkin menuju kafe. Jas kerjanya sedikit basah karena hujan yang tidak terduga, rambutnya berantakan, dan sepatu mengeluarkan suara licin di trotoar. Hatinya berdebar tak terkendali.
"Lala ketemu Nadia?!" pikirnya berulang kali sambil hampir menabrak beberapa pejalan kaki yang membawa payung.
Begitu tiba, Raka mendorong pintu kafe dengan agak kasar. Aroma kopi yang hangat dan musik jazz lembut biasanya menenangkan, tapi hari ini… semuanya terasa berbeda.
Di meja dekat jendela, Lala duduk tegap, mata sedikit berbinar tapi cemas, sementara di depannya, Nadia terlihat santai, menyeruput latte dengan senyum tipis.
Raka menelan ludah, menatap dua wanita yang kini berdiri di hadapannya dalam satu frame yang sama.
"Eh… hai," Raka mencoba terdengar santai, tapi suaranya terdengar sedikit panik.
Lala menoleh, tersenyum canggung. "Kamu datang cepat… maksudku… Raka," katanya sambil menepuk meja, memberi tanda agar ia duduk.
Raka mendengus. Ia tahu, ini bukan momen yang bisa ia kendalikan sepenuhnya. Duduk, ya, tapi duduk dengan senyum, tenang, dan percaya diri? Itu sepertinya mustahil hari ini.
Nadia menatapnya sambil mengangkat alis. "Raka… aku dengar kamu pacaran dengan Lala." Suaranya tenang, tapi ada nada ringan yang membuat Raka merasa… lega. Sedikit.
"Ya… iya," jawab Raka, mencoba tetap menatap mata Nadia. "Dan… aku senang begitu."
Lala memegang tangannya di meja, seolah ingin menenangkan jantungnya yang berdetak cepat. Senyum Raka membuatnya sedikit lega, tapi tetap… keberadaan Nadia di sini membuatnya sadar bahwa masa lalu bisa muncul kapan saja.
Nadia tersenyum tipis. "Aku nggak datang buat ribut. Aku cuma ingin memastikan bahwa kamu nggak lagi bilang 'ya mungkin besok' soal hubungan kalian."
Lala tersenyum pelan, mengingat percakapan mereka beberapa jam lalu. "Aku sudah ingat itu."
Raka menatap kedua wanita ini dan berpikir keras. Bagaimana mungkin dua orang berbeda, tapi sama-sama penting dalam hidupnya, duduk di satu kafe?
Tiba-tiba, hujan di luar semakin deras, dan tetesan air menimpa jendela dengan ritme yang lucu. Nadia menatap Raka sambil tertawa kecil. "Kamu kelihatan panik."
Raka menggaruk kepala. "Ya… mungkin… ya mungkin… aku sedikit panik," gumamnya canggung.
Lala menatapnya dan tersenyum tipis. Ada rasa hangat dan kepercayaan yang muncul sedikit demi sedikit. Nadia juga tersenyum, tapi dengan ekspresi penuh pengertian.
"Aku cuma ingin bilang… masa lalu itu untuk belajar, bukan untuk menakut-nakuti," kata Nadia dengan lembut. "Dan aku senang kalian bisa menemukan satu sama lain."
Raka menghela napas panjang. "Terima kasih… aku… kita… aku sangat menghargai itu."
Lala menggenggam tangannya lebih erat. "Lihat? Raka bisa berterima kasih. Kadang ia cuma butuh… sedikit dorongan."
Nadia tertawa kecil. "Kalau begitu aku pergi dulu. Aku punya janji." Ia bangkit, merapikan jas hujannya, dan menatap keduanya. "Jangan bilang 'ya mungkin besok' lagi ya. Hari ini cukup untuk perubahan kalian."
Dengan langkah mantap, Nadia meninggalkan kafe, meninggalkan Raka dan Lala di tengah aroma kopi hangat dan suara hujan yang pelan.
Raka menatap Lala. "Aku… aku janji. Aku nggak akan bilang 'ya mungkin besok' lagi… setidaknya hari ini."
Lala tersenyum, rasa lega mengalir di dadanya. "Aku senang mendengarnya."
Dan di luar, hujan perlahan mereda. Matahari sore menembus awan, memantulkan cahaya di genangan air. Raka dan Lala menatap jendela, tangan mereka saling menggenggam, merasakan bahwa kadang, perubahan kecil atau keberanian kecil bisa membuat hidup terasa lebih hangat.
Hari ini, mereka belajar satu hal penting: masa lalu bisa datang, tapi masa depan bisa mereka ciptakan bersama, satu hari sekaligus.
Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa bahwa "besok" bisa menunggu… karena hari ini sudah cukup indah.