NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Di sudut lain Kota London, terdapat sebuah rumah tua yang nyaris runtuh, tersembunyi di balik barisan pohon willow yang berjajar ngeri mengelilingi danau besar di daerah Hartfield.

Di sanalah, di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh puluhan lilin hitam yang aromanya menusuk seperti bau kematian, Stefanny berdiri dengan lutut gemetar. Wanita yang biasanya angkuh dan dingin itu kini tampak seperti pelayan yang ketakutan di hadapan sosok yang duduk di singgasana beludru merah di ujung ruangan.

Sosok itu adalah seorang wanita. Kulitnya sepucat rembulan, rambutnya hitam legam tergerai hingga menyentuh lantai dan matanya tidak memiliki binar manusia. Warna irisnya adalah perak terang yang berpendar setiap kali ia menarik napas.

Dia adalah Seraphine Vale. Seorang Aethern murni yang keberadaannya telah menghantui sejarah manusia selama lebih dari dua belas abad.

Sepuluh abad yang lalu, di sebuah biara tua di pegunungan terpencil Eropa, Seraphine adalah segalanya bagi Julian. Mereka adalah sepasang kekasih yang terikat oleh sumpah abadi selama hampir empat abad. Namun, keabadian memiliki cara yang kejam untuk memisahkan dua jiwa itu. Julian dengan nuraninya yang masih memegang teguh cahaya dan kemanusiaan, memilih untuk melindungi mereka yang lemah. Sementara Seraphine yang merasa bahwa kaum Aethern adalah dewa di atas tanah, memilih jalan kegelapan.

Perbedaan keyakinan itu menjadi jurang maut bagi mereka. Julian meninggalkannya, mengubur kenangan tentang Seraphine di bawah lapisan waktu, sementara Seraphine memelihara dendam yang tumbuh menjadi obsesi gila selama enam ratus tahun. Baginya, Julian adalah miliknya yang hilang dan ia akan menghancurkan apa pun yang dicintai Julian hanya untuk melihat pria itu kembali bersimpuh di kakinya.

"Bagaimana progresnya, Stefanny?" suara Seraphine mengalun, rendah dan merdu, namun mengandung getaran yang sanggup meruntuhkan mental siapa pun yang mendengarnya.

Stefanny tertunduk dalam, jari-jemarinya saling bertaut dengan gemetar hebat. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, membasahi lantai kayu tua yang berdebu. Ia tahu bahwa satu kata yang salah bisa berarti akhir dari kehidupannya.

"Maafkan saya, Yang Mulia." suara Stefanny nyaris menghilang. "Darah yang Lyana dapatkan dari pagar besi itu, hasilnya gagal. Saya sudah susah payah mencoba meraciknya menjadi serum keabadian murni, namun saat diujikan pada inang hewan, darah itu menolak untuk menyatu. Kelinci itu malah berubah menjadi monster yang menyiksa dirinya sendiri hingga hancur. Sepertinya darah sang The Constant memiliki pertahanan alami yang tidak bisa ditembus begitu saja."

Keheningan yang mencekam menyusul ucapan itu. Seraphine tidak bergerak, namun lilin-lilin hitam di ruangan itu tiba-tiba berkobar tinggi, apinya berubah warna menjadi merah yang tajam. Seraphine berdiri dari singgasananya, langkah kakinya tidak bersuara, namun auranya terasa seperti gunung yang siap runtuh menimpa Stefanny.

Seraphine mendekati sebuah cermin air yang berada di tengah ruangan. Ia menggerakkan jemarinya di atas permukaan air yang jernih dan seketika bayangan Kenzie yang sedang berdiri di pelukan Julian di teras rumah muncul. Seraphine memicingkan mata, iris peraknya berpendar terang.

"Gagal?" Seraphine mendesis, suaranya kini terdengar seperti gesekan logam. "Tentu saja gagal, dasar manusia bodoh. Kau mencoba mengolah sisa darah yang sudah tercemar karat dan udara? Darah The Constant tidak akan menyerahkan kekuatannya pada benda mati."

Tiba-tiba Seraphine menggeram, tangannya menghantam permukaan air hingga bayangan itu buyar. "Lihat itu! Dia sudah sembuh. Luka yang seharusnya membusuk karena racun sihir besimu, kini hilang tak berbekas. Julian memberikan bagian dari jiwanya untuk menyelamatkannya. Dia kembali menggunakan inti Aethern-nya hanya untuk gadis kecil sialan itu!"

Kemarahan Seraphine meledak. Tanpa menyentuh Stefanny, sebuah kekuatan tak kasat mata menghantam tubuh wanita itu hingga terpental ke dinding. Stefanny mengerang kesakitan, merasakan tulang rusuknya retak, namun ia tidak berani berteriak.

"Kau membiarkan mereka semakin terikat, Stefanny! Semakin banyak Julian memberikan jiwanya pada gadis itu, semakin sulit bagiku untuk memisahkan mereka!" Seraphine melangkah mendekat, mencengkeram rahang Stefanny dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan batu. "Aku tidak butuh sisa darah di pagar besi. Aku butuh darah segar langsung dari jantungnya! Aku butuh Kenzie dalam keadaan hidup agar energinya tidak memudar saat aku mengambilnya!"

Seraphine melepaskan cengkeramannya, membuat Stefanny tersungkur di lantai. Wanita pucat itu kemudian menatap ke arah jendela, menembus kegelapan menuju Kota London yang mulai disinari fajar.

"Beritahu putrimu. Suruh dia berhenti bermain-main dengan kapten basket itu jika tidak membawa hasil. Katakan padanya untuk mencari celah terkecil di sekolah. Aku ingin mereka terdesak. Aku ingin Julian melihat bahwa perlindungannya tidak ada artinya di hadapanku."

Seraphine tersenyum miring, sebuah senyum yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. "Aku sudah menunggu enam ratus tahun, Julian. Kau pikir kau bisa bersembunyi di balik gadis The Constant itu? Kau hanya memberiku alasan lebih untuk menghancurkan kalian berdua."

Julian yang saat ini masih memeluk Kenzie di teras rumahnya, tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakangnya. Sebuah perasaan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, sebuah gema dari masa lalu yang ia kubur dalam-dalam di biara tua Eropa sepuluh abad yang lalu.

Julian tidak tahu. Ia benar-benar tidak menyadari bahwa dalang di balik semua kekacauan ini, sosok yang memberikan kekuatan dan perintah pada Stefanny, adalah wanita yang pernah ia cintai lebih dari nyawanya sendiri. Julian berpikir bahwa Seraphine Vale telah musnah dalam perang besar kaum Aethern berabad-abad silam.

Namun Seraphine ada di sini. Di Kota ini. Menunggu saat yang tepat untuk muncul dan merenggut segalanya.

"Julian? Kau tidak apa-apa?" Kenzie mendongak, merasakan tubuh Julian yang tiba-tiba menegang.

Julian mencoba tersenyum, meski matanya tetap waspada. "Hanya dingin karena angin pagi, Kenzie. Ayo masuk. Kita harus bersiap. Jika Hallen benar-benar menjadi target selanjutnya, kita harus menemukannya sebelum Lyana melakukannya."

Kenzie mengangguk, namun dalam hatinya, ia merasakan beban energi biru Julian di nadinya berdenyut gelisah. Seolah-olah energi itu sedang memperingatkannya akan sebuah badai yang tidak hanya akan menghancurkan raga, tapi juga jiwa mereka.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!