Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Pintu apartemen mewah di kawasan Knightsbridge tertutup dengan denting halus, mengunci keriuhan London di luar sana. Apartemen ini jauh lebih luas daripada tempat mereka di Berlin, dengan desain interior minimalis yang didominasi warna gading dan abu-abu.
Namun, bagi Lucky, suasana dingin tempat ini seketika berubah menjadi hangat hanya karena kehadiran sosok wanita yang duduk di sampingnya.
Lucky menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di ruang TV, menarik napas dalam-dalam seolah udara di ruangan itu kini terasa lebih segar. Renata duduk di sampingnya, masih tampak sedikit canggung, matanya berpendar menatap sekeliling.
Tak butuh waktu lama, Freya muncul dari arah dapur dengan gerakannya yang selalu efisien dan tenang. Tanpa suara, ia meletakkan nampan berisi sarapan hangat—omelet dengan jamur truffle, roti panggang, dan dua cangkir kopi aroma Hazelnut kesukaan Lucky. Tak lupa, ia juga menyajikan beberapa cemilan ringan dan buah-buahan yang sudah dipotong rapi.
"Makanlah dulu, Luc. Kau belum makan sejak di pesawat," ucap Freya lembut dari balik maskernya.
Lucky mendongak, menatap asistennya dengan binar yang tulus. "Makasih, Freya," ucap Lucky dengan senyuman lebar yang jarang diperlihatkan kepada orang lain. "Kau memang tahu apa yang kubutuhkan."
Renata memperhatikan interaksi itu dengan saksama. Ada rasa syukur yang besar di hatinya melihat Lucky dirawat dengan begitu baik. Sebagai seseorang yang pernah mendampingi Lucky di masa-masa sulit dulu, ia tahu betapa berantakannya pria itu jika tidak ada yang mengurus kebutuhannya. Namun, di balik rasa syukurnya, ada secercah keheranan yang mulai tumbuh.
Kenapa dia betah sekali memakai masker itu? batin Renata. Di dalam ruangan pribadi seperti ini, di mana tidak ada kamera atau penggemar, asisten itu tetap menyembunyikan wajahnya. Namun, Renata memilih untuk tidak bertanya. Ia menghargai privasi gadis yang telah menjaga kekasihnya selama ia pergi.
"Aku akan di kamar sebelah untuk memeriksa jadwal wawancara sore nanti. Panggil aku jika kalian butuh sesuatu," kata Freya pamit, lalu berbalik meninggalkan mereka.
Begitu sosok Freya menghilang di balik pintu, keheningan yang intim langsung menyergap. Lucky tidak lagi bisa menahan diri. Ia bergeser mendekat, menangkup wajah Renata dengan kedua tangannya yang hangat. Matanya menelusuri setiap inci wajah Renata, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar mimpi di pagi hari.
Tanpa kata, Lucky mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibir Renata. Itu adalah ciuman yang lembut, dalam, dan sarat akan kerinduan yang telah menumpuk selama tiga tahun. Renata memejamkan matanya, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama. Sejak masa SMA di Berlin, mereka memang sudah sering berciuman, namun Lucky selalu memegang prinsip untuk menjaga Renata. Ia tidak pernah meminta lebih, karena baginya, Renata adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak ingin ia rusak.
"Aku sangat merindukanmu, Renata," bisik Lucky di depan bibir gadis itu. Napasnya masih menderu pelan. "Sangat merindukanmu hingga rasanya aku hampir gila."
Renata menatap mata Lucky yang berkaca-kaca. Ia sudah menyiapkan ribuan kalimat penjelasan tentang ancaman orang tua Lucky, tentang ketakutannya sebagai anak yatim-piatu yang tak punya kuasa. Namun, yang mengejutkannya, Lucky tidak bertanya sepatah kata pun. Tidak ada tuntutan penjelasan tentang mengapa ia menghilang atau kenapa ia memutus semua kontak.
Lucky seolah-olah tidak peduli pada masa lalu yang kelam. Baginya, kenyataan bahwa Renata ada di sini, di depannya, sudah lebih dari cukup untuk menghapus ribuan hari yang sunyi.
"Bagaimana kabarmu, Ren?" tanya Lucky lembut, jemarinya mengusap pipi Renata yang kemerahan.
Renata tersenyum kecil, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. "Aku baik, Lucky. Aku berkuliah di sini, mencoba melanjutkan hidup... meski sulit tanpamu."
Obrolan itu mengalir begitu saja, menghangat dengan cepat seperti kekasih yang baru bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Lucky seolah berubah menjadi pria yang sangat ekspresif. Setiap kali Renata bercerita tentang kehidupannya di London, Lucky akan memberikan kecupan kecil di bibirnya. Saat Renata tertawa, Lucky mengecup pipinya. Saat Renata memegang cangkir kopi, Lucky mengambil tangannya dan mengecup jemarinya satu per satu, lalu berakhir dengan ciuman lembut di kening.
"Kau tidak tahu betapa seringnya aku ingin terbang ke setiap kota di dunia hanya untuk mencarimu," gumam Lucky, menyandarkan keningnya ke kening Renata.
Di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Freya berdiri diam. Ia awalnya bermaksud mengambil jadwal yang tertinggal di atas meja konsol dekat ruang TV, namun langkahnya terhenti.
Ia melihat semuanya.
Ia melihat bagaimana Lucky menatap Renata dengan binar yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun. Ia melihat setiap kecupan kecil, setiap belaian lembut, dan setiap tawa bahagia yang keluar dari mulut Lucky. Semua kehangatan yang selama ini ia coba berikan kepada Lucky sebagai asisten, ternyata hanya butuh kehadiran Renata untuk meledak sepenuhnya.
Hati Freya Montgomery terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum halus. Perih, namun ia tidak bisa berpaling. Ia melihat pria yang ia cintai secara rahasia—pria yang pernah ia potret saat membagi roti di jalanan Berlin—kini telah menemukan kembali separuh jiwanya.
Di balik masker hitamnya, Freya menarik napas panjang. Air matanya sudah kering. Ia tidak merasa marah, hanya ada rasa hampa yang besar di dadanya. Namun, melihat Lucky tertawa begitu lepas, melihat Lucky tidak lagi memasang wajah dingin yang angkuh, Freya memaksakan sebuah senyuman kecil yang tersembunyi.
Aku senang melihatmu bahagia, Luck, bisiknya dalam hati. Meski alasan bahagiamu bukan aku. Meski aku harus terus menjadi bayangan di belakangmu, selama senyum itu tetap ada di wajahmu, aku akan tetap di sini.
Freya kemudian perlahan menutup pintu kamar itu sepenuhnya, tidak ingin mengganggu momen sakral tersebut. Ia berjalan menuju jendela kamarnya yang menghadap ke jalanan London yang sibuk.
Di sana, ia kembali menjadi Freya sang asisten yang efisien. Ia mengambil ponselnya, mengabaikan rasa sakit di hatinya, dan mulai mengatur jadwal pertemuan Lucky untuk memastikan tidak ada satu pun orang yang mengganggu waktu Lucky bersama Renata hari ini.
Ia adalah seorang Montgomery, wanita yang memiliki segalanya, namun di kamar ini, ia hanya seorang gadis yang belajar bahwa mencintai terkadang berarti merayakan kebahagiaan orang lain di atas puing-puing hatinya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt