"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Aluna
Setelah pintu ruangan tertutup dengan dentuman berat, kesunyian yang mencekam menyelimuti ruang CEO tersebut. Azeus menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit, menunduk dengan napas yang masih memburu. Ia menyentuh sudut bibirnya yang robek, merasakan denyut perih yang tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya karena memikirkan Aluna.
Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Erena melangkah masuk dengan gaya elegan dan tenang, seolah tidak terjadi badai besar beberapa menit lalu. Ia membawa segelas kopi panas yang aromanya menyerbak, lalu meletakkannya di atas meja kopi di depan Azeus.
"Minumlah, Ze. Kamu butuh ini untuk menenangkan pikiran," ucap Erena lembut, mencoba menjadi sosok penghibur yang pengertian di saat Azeus terpuruk.
Azeus sama sekali tidak menoleh. Ia justru menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata sambil mengurut dahinya yang pening. Kehadiran Erena baginya hanyalah gangguan lain yang menambah beban di kepalanya. "Keluar, Er. Gue nggak butuh kopi atau apa pun dari lo," gumam Azeus parau, suaranya dingin dan penuh penekanan.
Erena tidak membantah. Ia berdiri diam, memperhatikan wajah maskulin Azeus yang tampak hancur. Dari raut wajah dan tindakan impulsif Azeus di kampus tadi, Erena sekarang sadar sepenuhnya: Azeus benar-benar punya pacar dan sangat terobsesi pada gadis itu.
Namun, alih-alih panik, Erena justru tetap santai. Ia tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat. Sebagai wanita yang Manipulatif, ia tahu bahwa emosi Azeus yang sedang tidak stabil adalah celah baginya. Belum waktunya, batin Erena. Ia hanya perlu menunggu momen di mana hubungan Azeus dan Aluna retak karena sifat posesif Azeus sendiri, lalu ia akan datang sebagai "penyelamat" yang profesional.
"Baiklah, aku permisi. Tapi ingat, investor tidak suka menunggu lama. Aku sudah siapkan laporannya di meja," tutup Erena sopan sebelum berbalik pergi dengan langkah anggun.
Azeus tetap bergeming, tenggelam dalam penyesalan mendalam. Ia merogoh ponselnya, menatap layar yang masih gelap. Tak ada pesan dari Aluna. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada tamparan sang Ayah di pipinya
..
Suasana di apartemen mewah itu terasa begitu menyesakkan bagi Aluna. Sudah berhari-hari ia hanya mengurung diri, menangis tengkurap memeluk bantal di atas ranjangnya. Isakannya pecah setiap kali bayangan di perpustakaan itu muncul; kepalan tangan Azeus yang membabi buta dan rasa panas di hidungnya yang berdarah.
Aluna benar-benar tak menyangka. Candaannya di pesan singkat tempo hari hanyalah bumbu kecil untuk menggoda kekasihnya, namun respon Azeus justru menghidupkan monster obsesi yang mengerikan. Aluna merasa tercekik. Ia hanya ingin kuliah dengan tenang, berteman dengan siapa saja secara murni profesional, tanpa harus takut ada nyawa yang terancam hanya karena sapaan ramah.
Waktu bergulir dengan sangat lambat. Satu minggu berlalu, dan koridor di depan unit 1205 itu tetap sunyi. Azeus yang biasanya akan menggedor pintu atau mengirimkan ribuan pesan posesif, kini mendadak hilang ditelan bumi. Tidak ada satu pun panggilan dari kontak bernama "Ayang ❤️".
Aluna mulai gelisah. Setiap malam ia duduk di sofa, menatap pintu apartemennya dengan perasaan campur aduk. Ada bagian dari dirinya yang sangat rindu akan kehadiran pria narsis itu, namun ada bagian lain yang masih trauma dan ketakutan akan sikap kasarnya.
"Apa dia marah? Atau... apa dia benar-benar menyerah?" bisik Aluna parau.
Ia merasa terombang-ambing. Kebebasan yang ia inginkan kini terasa hambar tanpa gangguan posesif dari sang CEO muda. Aluna mulai mempertanyakan hubungan mereka. Jika dalam satu minggu saja Azeus bisa menghilang setelah melakukan kesalahan besar, apakah itu artinya cinta Azeus memang hanya sebatas ambisi untuk menguasai fisiknya saja?
Aluna tidak tahu bahwa di kantor pusat, Azeus sedang disekap oleh pekerjaan dan pengawasan ketat Irwan sebagai hukuman. Namun bagi Aluna, kebisuan Azeus adalah luka baru yang lebih dalam dari sekadar lebam di wajah.
^^^
Hari ini, Aluna memantapkan niatnya. Rasa sesak di dada karena diabaikan selama seminggu jauh lebih menyiksa daripada rasa takutnya. Ia tidak tahan lagi bergelut dengan pikiran negatif. apakah Azeus menyerah, atau justru sedang asyik dengan wanita lain? Jika Azeus memang sudah berpaling, Aluna bersumpah akan mundur dan menghilang selamanya.
Langkah kaki Aluna yang dibalut sepatu flat yang elegan namun sederhana, membawanya sampai ke pelataran gedung pencakar langit yang megah.
Azeus Tower - Branch Executive Office.
Gedung yang didominasi kaca gelap dan baja tahan karat itu tampak begitu dingin dan mengintimidasi, seolah mencerminkan kekuasaan pria yang mengelolanya.
Aluna melangkah masuk ke lobi yang luasnya hampir seperti lapangan bola, dengan lantai marmer putih yang begitu mengkilap hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya yang sedikit pucat. Di balik meja marmer hitam yang panjang, seorang petugas resepsionis cantik menyapa dengan senyum ramah yang profesional.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya... saya ingin mencari Kak—maksud saya, Pak Azeus," suara Aluna terdengar kecil, ia merasa asing di wilayah kekuasaan kekasihnya sendiri.
"Apakah Sudah ada janji sebelumnya dengan asisten Pak Azeus?" tanya petugas itu dengan nada yang tetap sopan namun menyelidik.
Aluna menggeleng pelan.
"Belum ada."
"Mohon maaf, tanpa janji temu, Anda tidak bisa—"
Kalimat resepsionis itu terputus saat suara pintu lift khusus eksekutif berdentum terbuka. Aluna refleks menoleh, dan saat itu juga, dunianya seolah berhenti berputar.
Dari dalam lift, keluar serombongan orang yang mengenakan setelan formal. Di tengah-tengah mereka, berdirilah Azeus. Penampilannya benar-benar berbeda dari "Kakak" yang sering menggodanya di apartemen. Azeus tampak begitu dewasa dan berwibawa dalam balutan jas berwarna abu-abu gelap yang sangat pas di tubuh atletisnya. Rambutnya disisir rapi tanpa cela, dan wajahnya dingin, datar, tanpa ekspresi sedikit pun—sebuah topeng CEO muda yang sangat sempurna.
Aluna terpesona. Aura kepemimpinan yang memancar dari Azeus begitu kuat, membuatnya terlihat sangat maskulin dan tak tersentuh. Azeus berjalan dengan langkah tegap, diiringi oleh Erena yang berjalan di sisi kirinya. Erena tampak sangat profesional dengan kemeja sutra dan rok pensil, tangannya memegang tablet sambil membisikkan sesuatu ke arah Azeus. Di sisi lain, Irwan mengekor di dekat Erena, sesekali memberikan kode kepada staf keamanan agar membuka jalan.
Azeus terlihat sedang mendengarkan laporan Erena dengan serius. Tidak ada senyum, tidak ada siulan narsis. Ia tampak seperti penguasa yang sedang memikul beban berat di pundaknya.
Aluna hanya bisa berdiri mematung di sudut lobi, menyembunyikan dirinya di balik pilar besar. Jantungnya berdegup gila. Di satu sisi, ia tenang melihat Azeus sedang sibuk bekerja, tapi di sisi lain, hatinya mencelos melihat betapa serasinya Azeus dan Erena dalam dunia profesional yang sangat eksklusif ini. Aluna merasa dirinya hanyalah gadis kecil yang tidak cocok masuk ke dalam dunia Azeus yang begitu megah.
Azeus terus berjalan menuju pintu keluar lobi tanpa menyadari bahwa "nyawanya" sedang berdiri gemetar hanya beberapa meter darinya.
.
Aluna segera memalingkan wajahnya, jantungnya berdebum kencang di balik rusuk. Ia merasa seperti penyusup di tengah kemegahan Azeus Tower. Namun, lamunannya buyar saat petugas resepsionis tadi memanggilnya sedikit lebih keras karena Bingung melihat Aluna yang tiba-tiba mematung.
"Mbak? Mbak yang cari Pak Azeus?"
Suara itu menggema di lobi yang hening, memicu sensor tajam dalam diri Azeus. Secara naluriah, Azeus menghentikan langkah tegapnya dan menoleh ke arah sumber suara. Detik itu juga, pandangan mereka bertemu.
Azeus membeku. Di balik topeng CEO-nya yang dingin, jantungnya seolah meledak karena kegirangan.
"Nana... kamu ke sini?"teriak batinnya yang paling dalam. Ingin rasanya ia berlari dan merengkuh gadis itu di depan semua orang, menunjukkan pada dunia bahwa alasannya tetap hidup selama tiga tahun ini ada di sana.
Namun, Azeus tertahan oleh realita. Hari ini ia sedang dalam pengawasan ketat sang Ayah dan Irwan untuk menghadiri Penandatanganan Kontrak Strategis dengan investor asing di hotel seberang gedung Grup Perusahaan Utama. Jika ia membatalkannya lagi demi urusan pribadi, ayahnya tidak akan segan-segan menjauhkan Aluna selamanya.
Azeus tetap memasang wajah datar, mencoba mempertahankan Etika Profesionalisme di depan Irwan dan Erena. Ia hanya menatap Aluna sekilas, lalu kembali memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya keluar lobi tanpa sepatah kata pun.
Aluna terpaku. Ia melihat punggung Azeus yang kian menjauh, diiringi Erena yang berjalan anggun di sampingnya. Rasanya sesak, seolah oksigen di lobi itu habis seketika. Aluna merasa asing, merasa tidak dianggap, dan merasa Azeus benar-benar telah berubah menjadi orang asing yang dingin.
"Ternyata... aku memang sudah tidak ada artinya," bisik Aluna parau, menahan air mata yang hampir jatuh di depan meja marmer mewah itu.