Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Ketahuan
Sementara Mr Jonas dan Mr Lawson menenangkan Mrs Kartein, Mrs Lauren pergi ke kelas 12-A untuk memanggil Sierra, Eugene, dan Melissa ke kantor kepala sekolah.
Begitu mereka bertiga pergi, suasana kelas dipenuhi bisik-bisik meskipun di depan kelas ada guru yang sedang mengajar.
"Apa kalian sudah dengar? Ibu Eugene, Mrs. Kartein, sedang mengamuk di ruang kepala sekolah," bisik seorang siswa. "Katanya dia tidak terima putranya terseret dalam skandal ini."
"Apa Sierra dan Eugene akan dikeluarkan dari olimpiade?" timpal yang lain. "Atau malah dikeluarkan dari sekolah? Tapi kudengar keluarga Kartein itu termasuk donatur terbesar di sekolah. Mana mungkin Eugene kena hukuman? Paling-paling cuma Sierra."
Di kerumunan lain, Tamara dan kelompoknya mulai berani berspekulasi dengan suara keras. "Keluarga Moore tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Kartein. Semua orang tahu Mrs. Kartein punya koneksi ke dunia mafia. Sierra sudah pasti tamat hari ini, karena berani menyeret Eugene yang selama ini dikenal anak baik-baik dalam skandal."
Nora hanya berdiri di tengah-tengah mereka, wajahnya tertunduk dengan raut prihatin yang dipaksakan, meski binar kemenangan sulit disembunyikan dari matanya. Sementara itu, Anastasia dan Gwen berdiri mematung di dekat loker. Wajah mereka pucat pasi.
"Sierra akan baik-baik saja, kan?" gumam Gwen, meremas ujung roknya.
"Dia pasti baik-baik saja, Sierra jelas tidak pernah melakukan hal semacam itu. Tidak ada alasan untuk Sierra dihukum," jawab Anastasia tegas, meski tangannya gemetar saat mencoba mengirim pesan tambahan kepada pamannya.
Di dalam ruang kepala sekolah yang luas dan kedap suara, suasana tampak tegang. Begitu kaki Sierra melewati ambang pintu, sebuah bayangan bergerak cepat.
Tangan Mrs Kartein melayang ke wajah Sierra tanpa peringatan. Tentu saja tangan itu tidak akan bisa mendarat di wajah Sierra begitu saja. Pergelangan tangan Mrs. Kartein dicengkeram Sierra dengan sangat kuat. Meskipun menghadapi serangan mendadak, Sierra punya insting dan refleks yang cepat untuk menangkisnya.
"Kurang ajar!" teriak Mrs. Kartein, wajahnya yang penuh riasan mahal kini memerah karena amarah dan rasa sakit. "Lepaskan tanganku! Beraninya kau menyentuhku, dasar anak tidak tahu sopan santun! Apa ini pendidikan yang diajarkan padamu?! Kau tidak tahu caranya menghargai orang tua?!"
"Mama! Apa yang mama lakukan?! Kenapa mama mau menampar Sierra?!", tegur Eugene.
Sierra tidak melepaskannya. Matanya yang dingin menatap tepat ke manik mata Mrs. Kartein tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Anda bukan orang tua saya. Lagipula, Anda yang kurang ajar duluan dengan menyerang saya secara fisik. Saya tidak pernah memprovokasi Anda, tapi kalau Anda memprovokasi saya, jangan harap saya akan tinggal diam."
Sierra menghempaskan tangan wanita itu hingga Mrs. Kartein mundur selangkah, terengah-engah karena syok.
"Kau... mulutmu benar-benar tajam ya!" Mrs. Kartein menunjuk wajah Sierra dengan jari gemetar. "Lihat saja, aku akan memastikan kau didepak dari sekolah ini hari ini juga! Tapi, jika kau masih punya sedikit rasa malu dan ingin menyelamatkan muka keluargamu, setidaknya mundurlah dari Olimpiade Matematika sekarang."
"Mom, cukup!" Eugene maju, mencoba berdiri di antara ibunya dan Sierra. "Ini bukan salah Sierra. Foto itu..."
"Diam, Eugene!" potong ibunya tajam. "Jangan ikut campur. Kau harus fokus pada masa depanmu, bukan malah pacar-pacaran dengan gadis pembawa sial seperti dia!"
Sierra tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Kenapa aku harus mundur? Jangan bilang Anda sebenarnya tidak percaya pada kemampuan putra Anda sendiri?"
Mrs. Kartein tertegun. "Apa maksudmu?"
"Anda takut jika aku ikut, Eugene tidak akan mendapatkan Juara 1, kan? Jadi Anda menggunakan skandal ini sebagai alasan untuk menyingkirkan aku, saingan terberatnya?" Sierra melirik Eugene yang berdiri kaku. "Apa kau juga berpikir begitu, Eugene? Kau takut kalah dariku?"
"Tentu saja tidak, Sierra!" jawab Eugene dengan nada tinggi yang jujur. "Aku justru merasa senang siapapun yang menang selama itu membawa nama baik sekolah kita. Keberadaanmu membuatku semakin terpacu untuk belajar. Aku percaya diri pada kemampuanku sendiri. Kamu mengalahkan peringkatku di ujian semester dan aku ingin bersaing sekali lagi denganmu lewat kompetisi ini. "
Wajah Mrs. Kartein semakin gelap. "Eugene, dia sudah membuat namamu tercemar! Keluar dari perlombaan adalah hukuman yang pantas untuknya. Lihat citra macam apa yang dia bawa selama ini? Semua rumor buruk tentang Sierra , apa kmau pikir semuanya palsu? Tidak mungkin tiba-tiba muncul rumor buruk jika dia benar anak baik-baik! Bagaimana bisa dia masih punya muka tampil di hadapan publik mewakili sekolah ini?!"
"Memangnya citraku kenapa?" Sierra melangkah maju, membuat Mrs. Lauren dan Mr. Lawson waspada. "Saya tidak menyangka, Mrs. Kartein yang terhormat ternyata orang dengan pikiran sependek ini. Menilai seseorang hanya berdasarkan rumor dan foto palsu."
"Sudah, cukup! Tolong semuanya tenang," sela Mr. Jonas mencoba menengahi, namun suaranya tenggelam oleh ketegangan di ruangan itu.
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka kembali. Dua pria berpakaian formal masuk. Yang pertama adalah James, asisten pribadi yang sering terlihat di acara-acara kelas atas Metropolia sebagai perwakilan bisnis. Namun, sosok pria di sampingnya membuat atmosfer ruangan berubah drastis dalam sekejap.
Pria itu tinggi, dengan aura otoritas yang begitu pekat hingga membuat Mr. Jonas langsung berdiri tegak dengan sikap sangat hormat.
"Mr. Blackwood! Selamat datang," sapa Mr. Jonas dengan nada suara yang jauh lebih ramah.
Mrs. Lauren dan Mr. Lawson saling lirik. Mereka mengenali pria itu, dia pernah datang saat pengambilan rapor Sierra semester lalu. Saat itu mereka hanya mengira dia adalah wali Sierra, tapi melihat reaksi kepala sekolah, mereka menyadari bahwa identitas pria ini tidak biasa.
Mrs. Kartein ternganga. "Mr. Harrington?" sapa wanita itu kepada James, pria yang ia kenali sering mewakili keluarga Blackwood di berbagai pesta. "Kenapa Anda ada di sini? Apa ada anggota keluarga Harrington yang bersekolah di sini?"
James tersenyum tipis, lalu memberi isyarat pada pria di sampingnya. "Saya di sini mendampingi Mr. Adrian Blackwood. Beliau hadir sebagai wali dari Sierra."
Dunia seolah runtuh bagi Mrs. Kartein. "Adrian Blackwood? Pria yang menguasai separuh ekonomi di negara ini? Setahunya, keluarga Moore hanyalah keluarga menengah atas biasa, tidak ada hubungan kekerabatan atau bisnis dengan Blackwood. Namun, melihat cara Adrian berdiri di samping Sierra, jelas ada kedekatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata", batinnya.
Seketika, nyali Mrs. Kartein menciut. Amarahnya yang meluap-luap tadi kini ia telan bulat-bulat, digantikan oleh senyum kaku yang dipaksakan.
"Saya dengar Anda ingin mengeluarkan Sierra dari sekolah dan olimpiade," ucap Adrian.
"Itu... itu hanya masalah kesalahpahaman, Mr. Blackwood," sahut Mrs. Kartein dengan suara yang tiba-tiba lembut. "Saya hanya... saya berpikiran pendek karena mengkhawatirkan reputasi putra saya. Saya tidak tahu bagaimana solusi terbaik untuk masalah ini."
Eugene dan Melissa hanya bisa bengong. Mereka tahu siapa Adrian Blackwood dari majalah bisnis dan berita ekonomi, tapi wajahnya tidak pernah ditampilkan. Keluarga Blackwood memang hampir semuanya low profile kecuali Jasper Blackwood yang menjabat menjadi menteri. Mereka benar-benar terkejut saat tahu wali Sierra ini ternyata adalah Adrian Blackwood.
"Solusinya sangat sederhana," Sierra menyela, suaranya tenang namun tajam. Ia mengangkat ponselnya. "Silakan cek kembali forum sekolah detik ini juga. Kalian akan tahu siapa sutradara di balik drama ini."
Semua orang di ruangan itu mengeluarkan ponsel mereka. Di forum sekolah, sebuah postingan anonim baru saja meledak. Isinya adalah sebuah pengungkapan yang sangat mendetail.
Terdapat tangkapan layar percakapan di dark web antara seorang pengguna dengan nama samaran dan seorang hacker sewaan. Di sana tertera jelas bukti pembayaran yang dilakukan menggunakan akun yang terlacak atas nama Nora. Tidak hanya itu, bukti pelacakan alamat IP (Internet Protocol) yang diungkapkan secara publik menunjukkan bahwa foto tersebut pertama kali diunggah dari perangkat milik Nora saat ia berada di lingkungan sekolah.
Yang paling mematikan adalah lampiran foto asli yang dikirimkan Nora kepada sang hacker. Di foto asli itu, Sierra dan Eugene hanya duduk berhadapan dengan tumpukan buku di meja kelas tambahan Mr. Lawson. Mereka tampak sedang berdiskusi serius tentang penyelesaian soal kalkulus kompleks, tanpa ada kontak fisik sedikit pun.
Adrian Blackwood menatap layar ponselnya, lalu melirik ke arah Sierra. "Orang yang kumintai bantuan saja belum mendapatkan bukti sedetail ini dalam waktu sesingkat ini. Hacker yang dibayar Nora bukan hacker sembarangan, dia sangat sulit terlacak", pikirnya dalam hati. "Apa Sierra yang melakukannya sendiri? Atau dia punya koneksi hacker yang lebih baik?", pikir Adrian.
James pun tercengang. "Ini... luar biasa. Bukti pembayarannya bahkan menyertakan nomor referensi bank yang valid."
"Jadi," Sierra menatap Mrs. Kartein yang kini wajahnya pucat pasi seperti kertas. "Apakah Anda masih berpikir hukuman yang pantas adalah mengeluarkan saya dari olimpiade?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Mr Jonas, Mr. Lawson, dan Mrs Lauren menghela napas lega, sementara Mrs. Kartein hanya bisa terdiam dengan rasa malu yang membakar hingga ke leher.