Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: SAMPAH DI SURGA PEDANG
Angin pagi berhembus lembut melewati puncak Gunung Hwa, membawa serta aroma dedaunan basah dan tanah yang baru saja diguyur hujan semalam. Di atas gunung itulah berdiri megah perkumpulan persilatan terkemuka di wilayah barat Murim, Klan Pedang Kang. Puluhan bangunan beratap lengkung berjejer rapi, dengan paviliun latihan terluas di bagian tengah, tempat para murid muda biasa mengasah teknik pedang mereka sejak matahari terbit.
Namun, di sudut paling belakang kompleks Klan Kang, di luar tembok batu yang tinggi dan kokoh, ada satu bangunan reyot yang hampir roboh. Atapnya bocor di tiga tempat, dinding kayunya lapuk dimakan usia, dan halaman depannya hanya tanah kering yang ditumbuhi ilalang liar. Itulah gudang penyimpanan peralatan usang. Dan di halaman gudang itulah, seorang pemuda kurus berkaus lusuh sedang menyapu dedaunan kering dengan gerakan lambat dan tanpa semangat.
Kang Ha-neul.
Dulu, nama itu disebut dengan nada kagum dan iri. Tiga tahun lalu, saat usianya baru lima belas tahun, ia berhasil mencapai level 3 Bintang Roh Pedang—rekor termuda dalam sejarah Klan Pedang Kang. Para tetua meramalkan ia akan menjadi penerus klan berikutnya. Ayahnya, Kang Jin-ho, yang waktu itu menjabat sebagai pemimpin klan, menepuk pundaknya dengan bangga. Ibunya tersenyum haru di samping adik perempuannya, Soo-ah, yang masih berusia tiga belas tahun dan bertepuk tangan riang.
Itu dulu.
Sekarang, Kang Ha-neul hanyalah kenangan. Yang tersisa hanyalah "sampah", "kegagalan", "aib klan"—sebutan-sebutan yang setiap hari ia dengar dari mulut orang-orang yang dulu membungkuk hormat padanya.
Swishh...
Sapunya bergerak pelan, mengumpulkan dedaunan kering ke satu tumpukan. Debu-debu beterbangan, membuatnya terbatuk kecil. Ia berhenti sejenak, mengusap keringat di dahi dengan lengan bajunya yang sudah kusam.
"HAHAHAHA! Lihat tuh si sampah, udah pagi-pagi udah keringatan aja!"
Tawa cemooh terdengar dari arah gerbang belakang. Tiga orang pemuda berpakaian latihan serba abu-abu melangkah masuk ke area gudang. Yang paling depan, dengan dada membusung dan senyum sinis, adalah Kang Dae-ho. Sepupu Ha-neul sendiri, putra dari paman Ha-neul yang kini menjabat sebagai pemimpin klan sementara.
Dae-ho kini berusia sembilan belas tahun, dengan postur tegap dan wajah yang selalu penuh kesombongan. Ia baru saja mencapai level 2 Bintang Roh Pedang—masih di bawah rekor Ha-neul dulu, tapi ia adalah yang terkuat di antara murid generasi muda saat ini. Di belakangnya, dua orang pengikut setianya, Kang Sung-min dan Kang Jae-won, ikut tertawa seperti anjing yang setuju dengan tuannya.
Ha-neul tidak menjawab. Ia menunduk dan kembali menyapu.
"Woi, sampah! Gw ngomong sama lo, dengerin dong!" Dae-ho melangkah mendekat. Dengan sengaja, ia menginjak sapu Ha-neul hingga patah. Krak!
Ha-neul mengangkat wajah. Matanya sayu, tanpa ekspresi. "...Ada perlu apa ke mari?"
"Wah, berani juga nanya? Lo pikir lo siapa, hah? Berdiri di sini aja udah bikin malu klan. Masih aja sombong kayak dulu." Dae-ho menyeringai lebar. "Gua baru dengar kabar gembira, nih. Bentar lagi Paman (panggilan untuk ayah Dae-ho) bakal ngumumin secara resmi kalau lo dicoret dari daftar penerus. Udah pas, lah. Sampah kayak lo emang ga pantes jadi penerus."
Sung-min menimpali, "Iya, daripada jadi aib, mending jadi kuli aja terus. Lumayan, gudangnya jadi bersih."
Mereka tertawa lagi.
Tangan Ha-neul mengepal di samping tubuh. Dalam hati, api kecil menyala. Tiga tahun ia menahan semuanya. Tiga tahun ia menerima hinaan, tendangan, ludahan, tanpa pernah sekali pun membalas. Tapi setiap kali, api itu terus membara, meski ia berusaha mati-matian untuk memadamkannya.
"Kenapa diem? Sakit hati, ya?" Dae-ho mencondongkan tubuh, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Ha-neul. "Lo mau ngelawan? Ayolah, gebuk gua. Buktikan kalau lo masih layak disebut murid Klan Pedang Kang. Tapi lo bisa? Sekarang tenaga lo aja udah kayak cacing, mana bisa lawan gua?"
Ha-neul menarik napas panjang. Perlahan, ia melepaskan kepalan tangannya.
"...Urusanku dengan klan bukan urusanmu. Aku hanya menyapu halaman ini karena diperintahkan. Jika urusanmu sudah selesai, pergilah."
Dae-ho mengerjap. Ia tidak menyangka akan mendapat respons sedatar itu. Biasanya, ia ingin melihat raut sakit, marah, atau bahkan tangis dari Ha-neul. Tapi pemuda kurus di depannya ini seperti tembok batu. Tidak ada ekspresi apa pun.
"Tch." Dae-ho meludah ke samping. "Dasar pecundang. Ayo, kita pergi. Ngomong sama sampah ga ada gunanya."
Ketiganya berbalik. Sebelum pergi, Dae-ho berhenti dan menoleh.
"Oh iya, nanti sore ada rapat keluarga. Lo juga harus datang. Panggilan resmi dari ayah gua. Jangan telat, ya. Ga enak kalau sampai diusir paksa."
Tawa mereka kembali terdengar, lalu lenyap di balik gerbang.
Ha-neul berdiri diam. Angin kembali berembus, menerpa wajahnya yang pucat. Ia memandangi sapu yang patah di tanah. Perlahan, ia membungkuk dan mengambilnya.
Di balik pintu gudang yang reyot, terdengar suara langkah kecil. Seorang gadis muda berusia enam belas tahun keluar, berlari kecil mendekati Ha-neul. Wajahnya bulat dengan mata yang selalu bersinar hangat. Ia mengenakan baju sederhana tambalan, sama lusuhnya dengan pakaian kakaknya.
"Kang Oppa!" panggilnya. Suaranya cemas. "Aku dengar suara Dae-ho tadi. Ia apa-apain kamu lagi?"
Ha-neul menoleh, dan untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum kecil yang hangat.
"Tidak apa, Soo-ah. Hanya bicara biasa."
Soo-ah—adik satu-satunya—mengerutkan kening. "Bohong. Aku tahu suara Dae-ho kalau lagi ngejek. Ia selalu kasar sama Oppa."
"Sudah biasa." Ha-neul mengangkat potongan sapu. "Lihat, sapunya patah. Nanti kita perbaiki."
Soo-ah memajukan bibirnya, kesal, tapi kemudian menghela napas pasrah. Ia tahu kakaknya tidak akan pernah mengeluh. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan bungkusan kain kecil.
"Ini." Ia menyodorkannya. "Aku ambil jatah sarapanku tadi pagi. Lumayan, masih ada nasi dan sedikit sayur."
Ha-neul menatap bungkusan itu, lalu menatap adiknya. "Soo-ah, kamu harus makan cukup. Kamu masih tumbuh."
"Oppa lebih butuh. Aku udah kenyang, kok." Soo-ah tersenyum lebar, tapi matanya berkata lain.
Ha-neul diam sejenak. Dadanya terasa sesak. Ia adalah kakak, seharusnya ia yang memberi makan adiknya. Tapi lihat sekarang. Justru Soo-ah yang selalu menyisihkan jatahnya untuknya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya setiap kali ini terjadi.
"Simpan saja," katanya akhirnya. "Nanti kita makan bareng saat siang."
Soo-ah menggeleng. "Oppa harus makan sekarang. Nanti kalau siang, Dae-ho bisa datang lagi dan ganggu. Aku ga mau Oppa latihan dalam keadaan lapar."
"Latihan?"
"Ya, Oppa kan pasti latihan lagi di balik gudang, 'kan? Meski Oppa pikir aku ga tau, aku tau kok." Soo-ah menyeringai. "Setiap malam, Oppa selalu keluar dengan pedang kayu dan baru balik pas subuh."
Ha-neul tertegun. Ia tidak menyangka adiknya memperhatikan.
"Jangan khawatir." Soo-ah meletakkan bungkusan itu di telapak tangan Ha-neul. "Aku ga akan bilang siapa-siapa. Tapi Oppa harus janji, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Oppa tetap Oppa-ku yang paling hebat, meski semua orang bilang sebaliknya."
Ha-neul menatap adiknya lama. Matanya terasa perih, tapi ia menahannya. Ia tidak boleh menangis. Bukan di depan Soo-ah.
"...Makasih, Soo-ah."
Soo-ah mengangguk senang. Ia lalu berjingkat, menepuk pundak kakaknya. "Aku ke dapur dulu, bantu-bantu Nyonya Min. Nanti kalau ada sisa, aku ambil buat Oppa. Sampai nanti!"
Ia berlari kecil meninggalkan halaman belakang.
Ha-neul menatap kepergian adiknya hingga sosoknya hilang di balik gerbang. Lalu ia menunduk, membuka bungkusan kain itu. Nasi putih dengan sedikit sayur hijau. Sederhana, tapi baginya itu adalah harta karun.
"Kau harus bertahan, Ha-neul," bisiknya pada diri sendiri. "Bukan untuk klan. Bukan untuk harga diri. Tapi untuk Soo-ah. Untuk satu-satunya keluarga yang tersisa."
Ia duduk di undakan kayu gudang yang reyot, mulai menyuap nasi itu perlahan. Semburat mentari pagi mulai meninggi, menembus celah-celah atap yang bocor. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh para murid yang memulai latihan pagi. Suara pedang beradu, teriakan semangat, dan tepuk tangan riuh.
Dunia di luar sana berputar. Dunia di mana ia dulu menjadi pusat perhatian.
Dan di sudut gudang ini, Kang Ha-neul, sampah Klan Pedang Kang, hanya bisa mengunyah nasi dingin sambil menatap langit.
Ia tidak tahu bahwa di dalam saku celananya, sebuah cincin giok hitam peninggalan ayahnya—yang selalu ia bawa ke mana-mana sebagai jimat—bergetar samar. Sangat samar. Hampir tak terasa.
Seperti ada sesuatu yang mulai terjaga dari tidur panjang.