Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 30 - SURAT CINTA
Via kembali ke kelas tujuh menit setelah Gill.
Bukan waktu yang terlalu lama, tapi cukup untuk Ara menyelesaikan setengah bekalnya dengan cara yang tidak sepenuhnya sadar karena pikirannya sedang di tempat lain, dan cukup untuk beberapa orang di kelas yang masih memperhatikan situasi hari ini untuk mencatat bahwa Via kembali sendirian tanpa Gill.
Ara melihat Via masuk.
Via melihat Ara melihatnya.
Dan terjadi sesuatu di wajah Via yang sangat jarang terjadi di sana, sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai canggung, ekspresi yang tidak pernah benar-benar cocok di wajah Via yang biasanya sudah tahu caranya berada di ruangan manapun, tapi sekarang ada di sana dengan jelas dan tidak bisa disembunyikan.
Via berjalan ke bangkunya.
Duduk.
Menatap bekalnya yang sudah ia tutup tadi.
Lalu, tanpa menoleh ke Ara, berkata dengan nada yang sedikit lebih pelan dari nada normalnya, "Jangan salah paham dulu."
Ara meletakkan sendoknya. "Hm."
"Aku juga kaget waktu dia ajak." Via masih menatap bekalnya. "Santai, kami nggak macem-macem. Dia cuma jadi kurir."
"Kurir?" Ara menoleh ke Via sepenuhnya.
Via menghela napas dengan cara yang sudah memutuskan bahwa penjelasan ini perlu diberikan dan lebih baik diberikan sekarang daripada dibiarkan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dari yang seharusnya.
Ia memasukkan tangannya ke tas.
Mengeluarkan sesuatu.
Selembar kertas yang dilipat dua dengan cara yang rapi, bukan rapi yang terburu-buru tapi rapi yang sudah dipikirkan, dengan nama Via ditulis di bagian luarnya dengan tulisan tangan yang cukup besar dan cukup tulus untuk ukuran tulisan di bagian luar surat.
Ara menatap kertas itu.
"Surat cinta?" Ara berkata.
"Iya."
"Dari siapa?"
Via meletakkan surat itu di atas meja dengan cara yang tidak terlalu dramatis tapi juga tidak terlalu santai. "Marco."
---
Hening tiga detik di antara mereka.
Ara menatap surat itu. Lalu menatap Via. Lalu kembali ke surat itu.
Di dalam dirinya ada dua hal yang bergerak bersamaan ke arah yang berbeda dan keduanya sama-sama nyata.
Yang pertama adalah sesuatu yang ia kenali sebagai lega, sesuatu yang turun dari tempat yang tadinya terasa kencang tanpa ia sadari sudah kencang, penurunan tekanan yang sangat kecil tapi sangat terasa karena kontrasnya dengan kondisi sebelumnya.
Yang kedua, tepat di belakang rasa lega itu, adalah penasaran yang langsung aktif dan langsung menghasilkan pertanyaan yang belum ia putuskan mau atau tidak mau ia tanyakan.
Kenapa Gill mau jadi kurir.
Dan bagaimana Marco bisa suka Via.
Ara membuka mulutnya.
Menutupnya lagi.
Via menatapnya dengan cara yang sudah sangat Via, cara yang membaca lebih banyak dari yang terlihat di permukaan. "Mau tanya sesuatu?"
"Tidak." Ara kembali ke bekalnya. "Itu urusan kamu."
"Ara."
"Hm."
"Wajahmu bilang berbeda."
Ara menatap bekalnya.
Via menghela napas satu kali, panjang, dengan cara seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak membiarkan sahabatnya bergumul dengan pertanyaan yang sebetulnya bisa langsung dijawab. "Oke. Aku cerita."
---
Ternyata tidak serumit yang Ara bayangkan.
Gill, yang Via ketahui ternyata sudah cukup tahu bahwa Marco menyimpan sesuatu untuk Via dari cara Marco bereaksi setiap kali nama Via disebut dalam konteks game online, memutuskan hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri penderitaan Marco yang sudah berlangsung cukup lama.
Caranya adalah dengan mengajak Via ke lantai tiga dengan alasan yang tidak ia jelaskan, lalu mengantarkan Via ke sudut koridor di mana Marco sudah ada di sana dengan wajah yang sudah sangat merah bahkan sebelum Via sampai.
Marco menyerahkan suratnya langsung.
Dengan tangan yang sedikit gemetar tapi dengan cara yang sungguhan, cara seseorang yang sudah mempersiapkan dirinya dan sudah memutuskan bahwa lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali.
Via syok.
Bukan syok yang tidak menyenangkan, lebih syok yang belum punya respons yang tepat untuk situasi yang tidak ia antisipasi sama sekali, jadi yang keluar adalah: "Aku tidak bisa jawab langsung."
Marco mengangguk dengan cara yang memperlihatkan bahwa ia sudah mengantisipasi kemungkinan ini dan sudah menerimanya bahkan sebelum mendengarnya.
Gill sudah tidak ada di sana ketika seluruh itu terjadi karena setelah mengantarkan Via, ia langsung berbalik dan pergi seperti seseorang yang sudah menyelesaikan tugasnya dan tidak perlu menyaksikan hasilnya.
"Itu semuanya," Via mengakhiri ceritanya. Kembali ke bekalnya dengan cara yang sudah selesai menyampaikan informasi yang perlu disampaikan.
Ara duduk dengan sendok yang masih di tangannya dan pikiran yang sedang memproses dua hal sekaligus.
"Marco suka kamu," Ara berkata akhirnya. Bukan pertanyaan.
"Rupanya."
"Dari kapan?"
"Surat itu bilang sejak pertama kali kita main bareng online." Via minum airnya. "Beberapa bulan."
Ara menatap Via dari sudut matanya. "Dan kamu?"
Via tidak langsung menjawab.
Menutup botol minumnya dengan cara yang sedikit lebih lambat dari biasanya. "Aku bilang tidak bisa jawab langsung."
"Itu jawaban untuk Marco."
"Itu juga jawaban untuk pertanyaanmu."
Ara menatap sahabatnya.
Via yang sudah sangat lama menyimpan sesuatu untuk Mike, Via yang memilih untuk mendukung bahkan ketika tidak mudah, Via yang sekarang duduk di sebelahnya dengan surat Marco di atas mejanya dan ekspresi yang lebih kompleks dari yang terlihat.
Ara tidak mendorong lebih jauh.
Hanya berkata, pelan, "Via."
"Hm."
"Apapun yang kamu putuskan. Aku di sini."
Via tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi sesuatu di bahunya turun setengah sentimeter, relaksasi yang sangat kecil tapi sangat ada, dan itu sudah cukup.
---
Pertanyaan yang tersisa menggantung sampai beberapa menit kemudian ketika Ara akhirnya tidak bisa tidak menanyakannya.
"Via."
"Hm."
"Kenapa Gill mau jadi kurir." Ara memilih kata-katanya. "Dia bukan tipe yang ikut campur urusan orang lain."
Via meletakkan sendoknya. Menatap Ara dengan ekspresi yang mengandung sesuatu yang Ara tidak bisa langsung urai. "Mana aku tahu. Tanya sama pacarmu sendiri."
Ara membuka mulutnya.
Lalu menutupnya.
Pacarmu sendiri.
Dua kata yang dalam konteks lain selalu terasa seperti pengingat tentang situasi yang mereka semua tahu sudah jauh lebih kompleks dari labelnya, tapi hari ini mendarat dengan cara yang berbeda karena ada sesuatu yang bergerak di Ara sejak tadi siang yang belum sepenuhnya ia beri nama.
Ia tidak menanyakan ke Gill.
Bukan karena tidak punya pertanyaan. Tapi karena di samping penasaran itu ada sesuatu lain yang lebih keras volumenya, sesuatu yang aneh karena tidak punya alasan yang jelas tapi sangat ada.
Sesuatu yang terasa seperti kesal.
Bukan kesal yang besar. Tapi kesal yang konsisten, kesal yang tidak mau pergi meski Ara sudah mencoba mendorongnya ke tempat yang tidak terlihat.
Kesal yang, kalau ia benar-benar jujur dengan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya tentang Gill mengajak Via tanpa menjelaskan alasannya. Lebih tentang cara Gill melakukannya, cara yang sangat Gill, yang tidak meminta izin dan tidak memberi konteks dan kemudian pergi begitu saja seperti tidak ada yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut.
Ara memutuskan satu hal sebelum jam istirahat selesai.
Ia tidak akan bicara ke Gill sebelum Gill minta maaf.
Untuk apa, ia belum sepenuhnya bisa menjelaskan. Tapi keputusannya sudah dibuat dan sudah terasa cukup memuaskan untuk saat ini.
---
Malam itu Ara sudah di kamarnya, buku terbuka di depannya tapi matanya tidak di halaman yang seharusnya, ketika ponselnya bergetar di sisi meja.
Notifikasi dari Gill.
*Minggu warnet lagi. Kamu bisa?*
Ara menatap pesan itu.
Meletakkan ponselnya menghadap bawah.
Dua menit berlalu.
Ponselnya bergetar lagi.
*Ara?*
Ara menatap notifikasi itu dari sudut mata tanpa mengambil ponselnya.
Tiga puluh menit berlalu dengan Ara membaca halaman yang sama enam kali tanpa memproses satu kalimat pun darinya.
Ponselnya bergetar lagi.
Ara mengambilnya kali ini, sudah siap untuk tetap tidak membalas tapi tidak bisa menahan diri untuk tidak membaca.
*Ara mau liat t-rex makan roti ga?*
Ara menatap kalimat itu.
T-rex makan roti.
Ia tidak tahu harus merespons seperti apa kalimat itu karena tidak ada referensi yang cukup untuk konteksnya. Tapi sebelum ia selesai memutuskan, notifikasi berikutnya masuk.
Gambar.
Ara membukanya.
Di dalam gambar itu ada mainan dinosaurus, t-rex kecil berwarna hijau dengan tangan kecil yang tidak proporsional khas t-rex, dan di antara dua tangan kecil yang tidak proporsional itu ada sepotong roti tawar yang sudah sangat jelas diposisikan dengan tangan manusia supaya terlihat seperti t-rex sedang memegang dan memakan rotinya.
T-rex itu menatap kamera dengan ekspresi yang sangat serius untuk mainan plastik yang sedang makan roti.
Ara menatap gambar itu.
Satu detik.
Dua detik.
Tawanya keluar sebelum ia sempat mencegahnya, tawa yang pendek dan langsung ia tutup dengan telapak tangan karena pintu kamarnya masih terbuka, tawa yang keluar dari tempat yang tidak minta izin terlebih dahulu.
Ia meletakkan ponselnya.
Mengambil napas.
Masih tertawa sedikit di balik telapak tangannya.
Lalu berhenti.
Karena ia ingat bahwa ia sedang mengabaikan Gill dan tawa itu hampir membuat ia lupa tentang keputusan yang sudah ia buat dengan cukup serius tadi siang.
Ara menegakkan posisinya.
Meletakkan ponselnya menghadap bawah lagi.
Gill memang menyebalkan. Dan mainan t-rex itu memang lucu. Tapi dua hal itu bisa benar sekaligus dan tidak ada alasan bagi yang kedua untuk membatalkan yang pertama.
Ia kembali ke bukunya.
Membaca halaman yang sama untuk ketujuh kalinya.
Dan di sampingnya, layar ponsel yang menghadap bawah menyimpan gambar t-rex yang makan roti dengan sangat serius, menunggu di sana tanpa dibalas, di antara dua pesan sebelumnya yang juga belum dibalas.
Ara membaca sampai baris ketiga halaman itu sebelum akhirnya mengangkat bukunya lebih tinggi untuk menutupi senyum yang naik ke bibirnya tanpa diminta.
Besok.
Ia akan tetap mengabaikannya besok.
Setidaknya sampai ada yang layak dijadikan alasan untuk berhenti.