Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Benang yang Terputus di Ambang Pintu
Pagi itu, langit Dharmawangsa seolah ikut berduka. Mendung kelabu menggantung rendah, menutupi sinar matahari yang biasanya menghangatkan teras kediaman Danola. Di dalam rumah, suasana jauh lebih dingin dari udara di luar. Kathryn sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Dengan mata sembab dan hati yang mengeras, ia memasukkan beberapa potong pakaian, buku kuliah, dan perlengkapan seadanya ke dalam tas ransel besarnya. Ia tidak butuh kemewahan ini jika harganya adalah kejujuran yang diabaikan.
Tanpa memoles wajahnya dengan riasan, Kathryn melangkah menuruni tangga. Ia melewati ruang makan di mana aroma nasi goreng kesukaan Sean sudah tercium, namun ia tidak berhenti. Perutnya terasa mual, bukan karena lapar, tapi karena rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Kathryn? Kamu mau ke mana pagi-pagi begini? Sarapan dulu, Kakak sudah buatkan kopi," suara Paul terdengar dari arah dapur. Pria itu mencoba bersikap seolah keributan hebat semalam tidak pernah terjadi, sebuah upaya canggung untuk mencairkan suasana.
Kathryn menghentikan langkahnya tepat di depan pintu utama. Ia tidak menoleh. "Aku berangkat kuliah sekarang. Dan Kak Paul... jangan jemput aku nanti siang. Jangan cari aku."
Paul meletakkan spatula kayu dengan kasar ke atas meja. Ia berjalan cepat menghampiri adiknya. "Apa maksud kamu jangan jemput? Jangan bicara sembarangan, Kath. Kamu masih emosi soal semalam?"
Kathryn berbalik, menatap kakaknya dengan pandangan yang kosong namun tajam. "Aku tidak bicara sembarangan. Aku tidak akan kembali ke rumah ini untuk sementara waktu. Aku butuh napas, Kak. Aku butuh tempat di mana tidak ada bayang-bayang kebohongan Mas Dimas atau tekanan dari Kakak."
Wajah Paul seketika berubah merah padam. Urat-urat di lehernya menonjol. Emosinya yang labil karena stres pekerjaan dan masalah Becca kini kembali meledak. Ia menyambar pergelangan tangan Kathryn dengan kuat, menahannya agar tidak membuka pintu.
"Masuk ke dalam, Kathryn! Jangan jadi anak kecil!" bentak Paul. "Kamu mau ke mana? Kamu mau luntang-lantung di jalanan hanya karena egomu yang setinggi langit itu? Kakak melarangmu pergi!"
Air mata Kathryn tumpah seketika. Ia mencoba meronta, melepaskan cengkeraman tangan kakaknya yang terasa menyakitkan. "Lepaskan, Kak! Kakak selalu begini! Kakak tidak pernah mau mengerti perasaanku! Kakak lebih sayang pada pria itu, kan? Kakak lebih membela Mas Dimas daripada adik Kakak sendiri!"
"Aku membela kebenaran! Aku membela pria yang sudah menyelamatkan keluarga ini!" balas Paul, suaranya menggelegar hingga Sean yang baru saja terbangun di lantai atas mulai menangis ketakutan.
"Kebenaran versimu, Kak! Bukan versiku!" teriak Kathryn histeris. "Dulu Kakak adalah pahlawanku, tapi sekarang Kakak hanya orang asing yang memaksa kehendak. Kakak sudah tidak sayang lagi padaku! Pergi saja sana dengan miliarder pujaanmu itu!"
Paul, yang dikuasai amarah dan rasa frustrasi karena merasa tidak dihargai niat baiknya, justru kehilangan kendali. Bukannya melunakkan suara atau meminta maaf atas kekasaran bicaranya semalam, ia malah semakin memarahi adiknya. "Kalau kamu pergi sekarang, jangan pernah anggap aku kakakmu lagi! Kamu benar-benar tidak tahu diuntung, Kathryn! Kamu hidup nyaman di sini karena siapa? Dan sekarang kamu mau membuang semuanya hanya karena masalah sepele?"
Tepat pada saat pertikaian itu mencapai puncaknya, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar. Dimas turun dengan wajah yang sangat cemas. Ia tidak bisa tidur semalaman setelah panggilannya pada Paul justru memperburuk keadaan. Begitu ia melangkah masuk ke halaman, ia bisa mendengar teriakan demi teriakan dari dalam rumah.
Dimas mempercepat langkahnya dan masuk melalui pintu yang tidak terkunci sempurna. Ia mematung melihat Paul yang sedang menarik paksa lengan Kathryn, sementara gadis itu menangis sesenggukan dengan ransel di punggungnya.
"Paul! Lepaskan dia!" teriak Dimas.
Paul menoleh, napasnya memburu. "Lihat ini, Dim! Lihat adikku yang keras kepala ini! Dia mau kabur dari rumah karena membencimu!"
Dimas mendekat, matanya menatap nanar pada pergelangan tangan Kathryn yang mulai memerah karena cengkeraman Paul. Ia memberikan isyarat tangan pada Paul, sebuah kode agar Paul menurunkan nada bicaranya dan melepaskan Kathryn. Dimas menggeleng pelan, memberi tanda bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan apa pun.
Namun Paul justru menggeleng balik dengan frustrasi. "Tidak bisa, Dim! Dia harus diberi pelajaran agar tidak manja!"
Kathryn melihat interaksi bisu antara kedua pria itu. Rasa muaknya memuncak. Baginya, pemandangan Dimas yang memberikan isyarat pada kakaknya adalah bukti nyata bahwa mereka memang berada di kubu yang sama untuk menekannya.
Dengan satu sentakan kuat yang menguras seluruh tenaganya, Kathryn berhasil melepaskan tangannya dari Paul. Ia terhuyung ke belakang, menabrak meja pajangan kecil hingga sebuah vas bunga retak.
"Jangan pernah sentuh aku lagi, Kak Paul," bisik Kathryn, suaranya kini bergetar karena rasa sakit yang luar biasa.
Ia membenahi letak ranselnya yang miring. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan Dimas. Dimas mencoba membuka mulut untuk mengatakan sesuatu mungkin kata maaf, atau permohonan agar ia tetap tinggal namun Kathryn mendahuluinya.
Kathryn menatap tajam ke dalam manik mata Dimas. Tidak ada lagi binar kekaguman yang dulu selalu ia tunjukkan pada "Dokter Dimas". Yang ada hanyalah kebencian yang murni dan luka yang menganga. Tanpa mengucapkan satu kata pun, tanpa sepatah penjelasan, Kathryn memalingkan wajah dan berlari keluar menuju gerbang.
"Kathryn! Tunggu!" Dimas hendak mengejar, namun Paul menahan bahunya.
"Biarkan dia, Dim! Biar dia tahu rasanya hidup susah tanpa dukungan keluarga!" teriak Paul, suaranya masih penuh emosi meski di matanya mulai terpancar rasa sesal yang amat dalam.
Dimas menyentak tangan Paul dengan kasar. "Kamu bodoh, Paul! Kamu baru saja menghancurkan satu-satunya jembatan yang tersisa antara aku dan dia!" Dimas menatap ke arah jalan raya di mana Kathryn baru saja naik ke dalam sebuah angkutan umum yang lewat.
Dimas mengacak rambutnya dengan frustrasi. Ia menatap Paul yang kini terduduk lemas di teras, menutupi wajah dengan kedua tangannya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Dimas segera merogoh ponselnya, menghubungi Adrian dengan nada mendesak. "Adrian! Tolong Kerahkan semua orang kepercayaanmu. Ikuti Kathryn Danola. Pastikan dia sampai di tempat tujuannya dengan aman. Jangan biarkan dia tahu kau mengikutinya. Dan satu lagi... cari tahu di mana dia akan tinggal. Aku tidak peduli berapa biayanya, aku ingin dia tetap dalam jangkauan perlindunganku tanpa dia sadari."
Dimas berdiri di ambang pintu rumah Danola, menatap aspal yang kini mulai basah oleh tetesan air hujan pertama. Ia tahu, mulai hari ini, ia bukan lagi sekadar harus memenangkan hati Kathryn, tapi ia harus menebus dosa besar karena telah merusak hubungan kakak beradik yang paling harmonis yang pernah ia kenal.
Di dalam angkutan umum yang sesak, Kathryn duduk memojok, memeluk tasnya erat-erat. Ia tidak tahu akan ke mana, ia hanya tahu satu hal, ia harus sejauh mungkin dari pria yang berbohong demi cinta, dan dari kakak yang membela kebohongan itu atas nama hutang budi.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰