Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kehangatan di Meja Makan dan Retaknya Segel Dunia
Cahaya lembayung senja perlahan memudar di langit Kota Emerald, digantikan oleh taburan bintang yang tampak lebih terang dari biasanya.
Di dapur kediaman Kusuma, aroma harum semur daging sapi dan rempah-rempah memenuhi udara. Nadia berdiri di depan kompor dengan celemek terpasang menutupi pakaian kerjanya. Tangan kirinya memegang spatula, sementara pergelangan tangannya dihiasi gelang perak Bulan Beku yang sesekali memancarkan pendar sejuk, menyeimbangkan hawa panas dari kompor.
Ia melirik jam dinding. Pukul 18:30.
Tepat saat jarum detik berdetak, embusan angin yang sangat lembut, membawa aroma pinus dan salju yang tidak mungkin ada di negara tropis ini, menyapu ruang makan.
Nadia menoleh. Di ambang pintu kaca yang terhubung ke halaman belakang, berdirilah Arya. Jaket katunnya tidak kusut sedikit pun, dan napasnya setenang permukaan danau. Tidak ada setetes darah pun yang menempel pada dirinya, seolah ia baru saja kembali dari minimarket depan kompleks, bukan dari memusnahkan faksi terkuat di benua seberang.
"Aku pulang," ucap Arya dengan senyum tipis yang tulus. Matanya yang sebelumnya memancarkan kiamat di Pegunungan Alpen kini hanya memantulkan siluet istrinya.
Nadia meletakkan spatulanya, mematikan kompor, dan berjalan menghampiri suaminya. Ia tidak bertanya berapa banyak nyawa yang melayang hari ini. Ia hanya berjinjit sedikit, merapikan kerah jaket Arya, dan membalas senyumnya.
"Tepat waktu. Semurnya baru saja matang," kata Nadia lembut. "Perjalananmu... lancar?"
"Sangat lancar," Arya mengusap puncak kepala Nadia. "Tidak akan ada lagi lalat dari Barat yang berani terbang melewati perbatasan samudra kita. Pegunungan bersalju itu ternyata cukup rapuh saat diinjak."
Nadia tertawa pelan, meski ia tahu ucapan 'diinjak' suaminya itu pasti bermakna harfiah yang mengerikan bagi musuh-musuhnya. "Ayo makan. Paman Han mengirimkan laporan bahwa para pemegang saham asing mendadak menarik semua keluhan mereka tanpa alasan yang jelas. Kurasa itu juga ulahmu."
"Mereka hanya tiba-tiba sadar akan pentingnya kesehatan dan umur panjang," jawab Arya santai sambil menarik kursi di meja makan.
Makan malam itu berlangsung dengan damai. Tidak ada obrolan tentang dewa-dewa kuno, sekte bayangan, atau pembantaian. Mereka berbincang layaknya pasangan suami istri pada umumnya—tentang proyek pelabuhan Nadia, tentang tanaman herbal Arya di rumah kaca, dan tentang rencana ayah Nadia yang ingin segera kembali dari Eropa.
Namun, di tengah kunyahannya, gerakan Arya tiba-tiba terhenti. Matanya sedikit menyipit, menatap ke arah langit-langit ruang makan seolah pandangannya menembus atmosfer Bumi.
"Ada apa, Arya?" Nadia yang sangat peka terhadap perubahan ekspresi suaminya langsung bertanya. Gelang Bulan Beku di tangannya ikut berdengung pelan, merespons ketegangan tuannya.
Arya meletakkan sendoknya. Ia tidak terlihat marah, melainkan terkejut. Sebuah ekspresi yang sangat langka bagi sang Kaisar Abadi.
"Menarik," gumam Arya, senyum simpul mulai terbentuk di bibirnya. "Nadia, cobalah kau tutup matamu dan sirkulasikan Sutra Bulan Es Sejati selama satu tarikan napas."
Nadia menuruti perintah itu. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.
Seketika, mata Nadia membelalak. Ia terkesiap hingga nyaris tersedak. "Arya... udaranya... Qi di luar formasi rumah kita... rasanya berbeda. Siang tadi, udara di kantor terasa sangat hampa dan kotor. Tapi sekarang, rasanya seperti ada helai-helai energi yang mulai bermunculan dari tanah."
Arya mengangguk perlahan. "Saat aku menghancurkan fondasi Kuil Olympus di Barat sore tadi, aku juga membunuh eksistensi kuno yang mereka sebut Seraphim Darah. Rupanya, makhluk itu dan kuilnya bukanlah sekadar penjaga benua Barat."
Arya menatap ke luar jendela, di mana langit malam tampak menyimpan misteri yang jauh lebih dalam.
"Mereka adalah segel," jelas Arya, suaranya terdengar berat dan kuno. "Ribuan tahun yang lalu, seseorang atau sesuatu menyegel energi spiritual murni di Bumi untuk mencegah lahirnya kultivator baru, mengubah planet ini menjadi dunia fana yang mengandalkan teknologi mesin. Kuil Olympus adalah salah satu titik simpul raksasa dari formasi penyegelan global itu."
"Dan kau... baru saja menghancurkan simpul itu?" tanya Nadia, mulai menyadari skala dari apa yang telah terjadi.
"Ya. Rantai yang mengikat planet ini telah putus. Bumi sedang terbangun dari tidur panjangnya," ucap Arya.
Ia berdiri dari kursinya dan menatap Nadia dengan pandangan serius.
"Dalam beberapa minggu ke depan, dunia yang kau kenal akan berubah drastis, Nadia. Era Kebangkitan Energi telah dimulai. Manusia biasa mungkin akan mendadak memiliki kekuatan gaib. Binatang liar akan bermutasi menjadi monster spiritual. Reruntuhan kuno yang tersembunyi di dasar laut dan pegunungan akan bermunculan satu per satu."
Nadia mencengkeram tepi meja. Bayangan tentang kekacauan global melintas di benaknya. Hukum dan ketertiban dunia fana akan runtuh di hadapan kekuatan super yang tiba-tiba muncul. Grup bisnisnya yang bernilai triliunan rupiah tidak akan ada artinya di dunia yang mengagungkan kekuatan murni.
Namun, saat ia menatap mata keemasan Arya yang tenang, segala ketakutannya sirna.
"Aku mengerti," ucap Nadia, suaranya kembali stabil dan dingin bagai es. Ia bangkit dan berdiri di samping suaminya. "Jika aturan dunia berubah, maka kita akan menjadi pembuat aturan yang baru. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Arya tersenyum puas melihat keteguhan istrinya. Ratu Emerald-nya benar-benar memiliki mentalitas seorang penguasa sejati.
"Pertama, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan formasi kecil di rumah ini. Kota Emerald harus menjadi benteng mutlak kita," titah Arya. "Besok, perintahkan Han Shixiong untuk membeli tanah pegunungan di utara kota. Kita tidak akan lagi bermain di ranah bisnis fana."
Arya memutar cincin imajiner di jarinya, matanya memancarkan ambisi seorang Kaisar yang siap menaklukkan dunia baru.
"Sudah saatnya kita mendirikan sekte kita sendiri. Tempat di mana kita akan mengumpulkan kekuatan, menyambut era baru, dan menginjak siapa pun yang berani menghalangi jalan kita."
Malam itu, roda takdir dunia mulai berputar ke arah yang tidak terduga. Era teknologi dan kapitalisme bersiap tunduk pada kedatangan Era Kultivasi Global.