Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FIRASAT SANG IBU
Dengarkan saya baik-baik. Seluruh rekening pribadi Anda sudah di bekukan atas perintah negara. Jadi "kontrak kerja kita otomatis berakhir, Pak Hafiz. Saya tidak bekerja secara gratis."
"Aset-aset perusahaan, apartemen, hingga koleksi mobil mewah Anda juga sedang dalam proses penyitaan untuk ganti rugi investor."
"Heru! Kita sudah berteman lama, bantu aku!" teriak Hafiz, namun Hendra tetap melangkah menuju pintu.
"Dalam bisnis tidak ada teman, Pak Hafiz. Hanya ada kepentingan. Selamat berjuang dengan kasus Anda," ucap Heru dingin sebelum menghilang di balik pintu.
Hafiz tertunduk lesu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi meja besi yang dingin itu.
Ia teringat kata-kata ibunya lagi. Gusti Allah itu zat yang membolak-balikkan hati manusia dalam sekejap mata.
"Bu... Hafiz takut..." bisiknya lirih, namun tak ada siapa pun yang mendengarnya di ruangan itu.
Malam itu, Hafiz terpaksa bermalam di sel sementara kepolisian, sebuah ruangan sempit dengan bau pesing yang menusuk.
Ia harus berbagi ruangan dengan dua orang tersangka pencurian yang menatapnya dengan pandangan lapar dan benci.
"Wah, ada orang kaya masuk kandang kita nih," celetuk salah satu tahanan yang bertato di seluruh lengannya.
Hafiz hanya meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri sambil menatap jeruji besi yang dingin.
Setiap menit terasa seperti satu tahun. Ia terus membayangkan Robi yang mungkin sekarang sedang bersulang di sebuah pantai mewah di luar negeri.
Pagi harinya, Hafiz kembali dipanggil untuk pemeriksaan lanjutan, namun kali ini ada seorang tamu yang menunggunya.
Seorang pria berseragam bank, membawa tumpukan dokumen penyitaan aset yang sah di hadapan penyidik.
"Saudara Hafiz, kami baru saja mendapat konfirmasi dari pihak imigrasi," ucap penyidik itu sambil memberikan selembar foto.
"Robi, asisten Anda, sudah meninggalkan wilayah Indonesia tadi malam pukul 03.00 pagi menggunakan jet pribadi yang disewa atas nama Anda."
Hafiz menatap foto cctv bandara itu. Robi tampak melambai ke arah kamera dengan senyum yang sangat lebar.
Ia benar-benar pergi. Membawa semua aset liquid, semua uang tunai, dan meninggalkan semua hutang atas nama Hafiz.
"Dia bukan cuma mencuri uang saya... dia mencuri hidup saya," bisik Hafiz dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Bukan hanya itu, Saudara Hafiz. Robi meninggalkan sebuah dokumen yang memberatkan Anda secara hukum formal."
"Dia memberikan surat pernyataan yang Anda tandatangani, yang berisi bahwa semua transaksi keluar adalah instruksi langsung dari Anda sebagai CEO."
Hafiz memukul meja lagi, kali ini dengan air mata yang mengalir deras tanpa henti.
"Saya dijebak! Saya mabuk saat menandatangani itu! Dia memanfaatkan kesombongan saya!"
"Hukum tidak mengenal alasan mabuk, Pak Hafiz. Di atas kertas, Anda adalah otak dari semua kekacauan ini."
Petugas bank di samping penyidik itu pun angkat bicara, memberikan pukulan terakhir yang menghancurkan sisa-sisa mental Hafiz.
"Pihak bank juga sudah memulai proses lelang terhadap apartemen dan seluruh properti Anda untuk menutup kerugian."
"Mulai siang ini, Anda tidak lagi memiliki hak akses ke tempat tinggal Anda. Seluruh aset Anda sudah beralih fungsi."
Hafiz tertawa histeris. Tawanya terdengar seperti orang gila yang sudah kehilangan kewarasannya.
"Semuanya? Tanpa sisa sedikit pun? Jam tangan ini?" tanya Hafiz sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hanya pakaian yang Anda kenakan yang tersisa. Sisanya, adalah milik negara dan para kreditor."
Setelah pemeriksaan selesai, Hafiz dilepaskan dengan status tahanan kota karena penyelidikan masih terus berjalan.
Ia keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai, mengenakan kemeja kasmir semalam yang kini tampak sangat kusam dan berkerut.
Ia berdiri di trotoar, menatap mobil-mobil yang berlalu lalang. Ia tidak punya uang sepeser pun, bahkan untuk sekadar naik ojek.
Hafiz merogoh sakunya, berharap ada sisa uang receh, namun yang ia temukan hanyalah ponselnya yang sudah hancur layarnya.
Ia mencoba menghidupkannya, dan ajaibnya, ponsel itu masih menyala meskipun retak seribu.
Ada satu pesan masuk yang baru saja masuk. Hafiz membacanya dengan harapan ada seseorang yang mau menolongnya.
Pesan itu dari Cindy, kekasihnya yang semalam berjanji akan selalu mencintainya sampai mati.
Hafiz membuka pesan itu dengan jempol yang bergetar hebat. Namun, isi pesan itu justru menjadi sangkur yang menancap tepat di ulu hatinya.
"Fiz, kita putus. Jangan pernah cari aku lagi. Aku nggak sudi punya pacar narapidana miskin kayak kamu. Oya, kunci apartemenmu sudah aku kasih ke petugas bank tadi pagi. Selamat tinggal."
Hafiz terhuyung ke belakang, hampir
terjatuh ke aspal jika ia tidak segera berpegangan pada tiang lampu jalan.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu turun perlahan, memperlihatkan wajah Cindy yang duduk di samping seorang pria tua kaya raya.
"Minggir, orang miskin! Jangan halangi jalanku!" teriak Cindy tanpa ada rasa kasihan sedikit pun di matanya.
Hafiz mematung, menatap mobil itu melesat pergi meninggalkan kepulan debu yang mengenai wajahnya yang penuh air mata.
Tiba-tiba, suara petir menggelegar di langit Surabaya, seolah langit pun ikut menertawakan nasib sang raja yang kini jadi gelandangan.
Hujan turun dengan sangat deras dalam sekejap, membasahi jas kasmir tiga puluh juta rupiah milik Hafiz hingga ia tampak seperti tikus got yang menyedihkan.
Ia terus berjalan tanpa arah, hingga langkahnya terhenti di depan gedung apartemen mewahnya yang kini sudah dipasangi garis polisi dan segel bank.
Beberapa petugas keamanan yang dulu selalu menyapanya dengan hormat, kini berdiri tegak menghadang langkahnya.
"Maaf, Pak Hafiz. Anda dilarang masuk. Perintah atasan," ucap salah satu petugas dengan nada dingin.
"Tapi baju-baju saya di dalam! Obat-obatan saya! Semuanya di dalam!" teriak Hafiz di bawah guyuran hujan.
"Semuanya sudah disita, Pak. Silakan ajukan keberatan ke pengadilan. Sekarang, silakan pergi dari sini sebelum kami panggil polisi."
Hafiz terdiam. Ia menatap ke langit, membiarkan air hujan membasuh air matanya yang terus mengalir deras.
Ya Allah... apa ini balasan karena aku sudah menghina ibu dan menjauhi-Mu? batinnya mulai merintih.
Tepat saat itu, ponsel di tangannya bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat ia kenal.
Bukan Robi, bukan Cindy, bukan pula pengacaranya.
Nama di layar itu adalah: IBU.
Hafiz ragu untuk mengangkatnya. Ia malu. Ia hancur. Ia tidak tahu harus bicara apa pada wanita yang semalam ia maki-maki itu.
Namun, panggilan itu terus berlanjut seolah tak mau menyerah. Dengan tangan yang kedinginan dan tubuh yang menggigil, Hafiz menekan tombol hijau.
"Halo... Bu..." bisik Hafiz lirih, suaranya tenggelam di antara suara hujan yang deras.
"Hafiz... Le... kamu di mana?" suara ibu terdengar sangat khawatir, sangat tulus, seolah ia sudah tahu apa yang terjadi.
Hafiz tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia jatuh berlutut di atas trotoar basah, di depan gedung apartemen yang tak lagi miliknya.
"Bu... Hafiz salah, Bu... Hafiz hancur... Hafiz nggak punya apa-apa lagi..."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara lembut ibu kembali terdengar, membawa kehangatan yang tak pernah Hafiz hargai sebelumnya.
"Pulanglah, Le... Pintu rumah Ibu nggak pernah dikunci buat kamu. Sejauh apa pun kamu terbang, Ibu selalu punya tanah buat kamu mendarat."
Hafiz memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasa sangat berdosa, sangat kotor untuk kembali ke pelukan suci sang ibu.
"Ibuuuu!" teriak Hafiz sambil menyeret kakinya yang sudah mati rasa karena kedinginan yang menusuk hingga ke sumsum tulang
"Hafiz! Ada apa, Le....?