Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Debu kayu dari lemari obat yang hancur masih melayang-layang di udara, menari-nari di bawah sinar bulan yang menembus jendela klinik yang kini bolong. Bau melati busuk dari Utusan Mo semakin tajam, seolah-olah ia adalah mayat yang baru saja bangkit dari rawa terdalam. Xue Xiao berdiri di tengah kekacauan itu, jubah rami hitamnya sedikit ternoda oleh madu dan darah hitam para pengawal sekte, namun wajahnya tetap sedingin pahatan es.
Di lantai dua, Utusan Mo berdiri statis. Kulit wajahnya yang transparan memperlihatkan aliran darah yang tampak membeku. Ia tidak bernapas seperti manusia, dadanya tidak terlihat naik-turun. Ia hanya menatap Xue Xiao dengan mata abu-abu tanpa pupil yang memantulkan kekosongan abadi.
"Seni kematian..." Utusan Mo berbisik, suaranya seperti desis ular yang merayap di atas tumpukan tulang kering. "Kau bicara tentang seni, Xue Xiao? Kau hanyalah seorang kasar yang mengandalkan otot baja. Kau tidak tahu betapa indahnya saat jiwa seseorang ditarik keluar inci demi inci melalui pori-pori kulitnya."
Utusan Mo melompat dari balkon. Ia tidak jatuh seperti benda berat, melainkan melayang turun seperti sehelai bulu hitam yang tertiup angin kematian. Begitu kakinya menyentuh lantai kayu yang retak, sebuah lingkaran energi berwarna ungu gelap menyebar dari titik pijakannya, memadamkan sisa-sisa lilin yang masih menyala.
Xue Xiao menyipitkan mata. 'Teknik Bayangan Mengalir...' batinnya. 'Di dunia ini, ternyata masih ada yang mewarisi teknik sampah dari Sekte Pemakan Arwah. Memalukan. Jika gurunya di Alam Abadi melihat ini, dia pasti akan memilih untuk memotong urat nadinya sendiri daripada melihat teknik agungnya dipraktikkan oleh mayat hidup ini.'
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang wajahnya mirip pantat kuali," ucap Xue Xiao ketus. Ia merogoh laci meja yang hancur di sampingnya, mengambil satu set jarum akupunktur perak yang masih utuh di dalam kotak kayu. "Mari kita lihat, apakah seni tarik jiwa milikmu bisa mengalahkan teknik penyiksaan syaraf milik seorang Alkemis Agung."
"MATILAH!"
Utusan Mo bergerak. Tubuhnya mendadak terbelah menjadi tiga bayangan yang identik. Mereka melesat dari tiga arah berbeda, tangan mereka yang berkuku hitam panjang mengeluarkan uap racun Korosi Sukma. Racun ini tidak menyerang kulit, melainkan langsung membakar syaraf-syaraf halus di otak.
Xue Xiao tetap berdiri tegak. Ia tidak mencoba menghindar.
Jleb! Jleb! Jleb!
Kuku-kuku hitam Utusan Mo menghantam dada, leher, dan punggung Xue Xiao. Namun, alih-alih menembus daging, kuku-kuku itu mengeluarkan suara krak yang keras, patah seketika saat beradu dengan kepadatan otot Xue Xiao yang tidak masuk akal.
"Apa?!" Utusan Mo terbelalak ngeri. "Racun Korosiku... tidak bereaksi?!"
Xue Xiao menyeringai, sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk Utusan Mo merinding. "Racunmu? Aku pernah meminum empedu naga beracun hanya untuk menghilangkan rasa haus. Uap sampahmu ini bahkan tidak cukup kuat untuk membunuh lalat di hutan Shennongjia."
Xue Xiao menangkap kedua pergelangan tangan Utusan Mo. Dengan satu gerakan sentakan, ia memutar lengan pria pucat itu hingga terdengar suara retak yang nyaring. Tulang humerus-nya hancur menjadi belasan serpihan kecil di dalam dagingnya.
"AAARRGGHHH!" Utusan Mo menjerit, sebuah suara yang melengking tinggi hingga memecahkan sisa-sisa botol obat di rak.
"Jangan berteriak terlalu keras," ucap Xue Xiao tenang. "Tetangga bisa terganggu. Dan aku belum memulai pertunjukannya."
Xue Xiao menendang lutut Utusan Mo, memaksanya berlutut di atas puing-puing kaca. Ia kemudian membuka kotak jarum akupunkturnya. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, Xue Xiao menusukkan jarum perak pertama tepat di titik Tianling di puncak kepala Utusan Mo.
"Ini disebut Titik Gerbang Kesadaran," Xue Xiao menjelaskan dengan nada seperti guru yang sedang mengajar muridnya. "Fungsinya adalah untuk memastikan kau tetap sadar sepenuhnya, bahkan jika jantungmu berhenti berdetak. Kau tidak akan bisa pingsan. Kau akan merasakan setiap milimeter rasa sakit ini dengan kejernihan sepuluh kali lipat."
Jarum kedua melesat ke titik di bawah telinga.
"Dan ini... adalah Titik Penguat Sensori."
Seketika, Utusan Mo merasakan udara yang menyentuh kulitnya terasa seperti sayatan pisau cukur. Suara napas Xue Xiao terdengar seperti dentuman meriam di telinganya. Rasa sakit di tangannya yang hancur melonjak tajam, membuatnya ingin meledakkan kepalanya sendiri ke dinding.
"Lepaskan... kumohon... bunuh aku saja!" ratap Utusan Mo dengan air mata darah yang mulai mengalir.
Xue Xiao tertawa kecil, suara tawanya mengandung kekejaman yang murni. Menyiksa mahluk seperti ini adalah hiburan terbaik setelah lima tahun hanya berbicara dengan rusa dan pohon. Wang Xiong benar-benar memberiku hadiah yang luar biasa.
Xue Xiao mengambil jarum ketiga, namun kali ini ia melumurinya dengan sisa madu yang ada di lantai. "Kau tahu, Mo? Aku baru ingat, aku punya teknik yang lebih lucu. Di Alam Abadi, kami menyebutnya Simfoni Tulang Bernyanyi. Aku akan menusukkan jarum-jarum ini ke sumsum tulangmu, lalu menggetarkannya dengan frekuensi tertentu."
Xue Xiao menusukkan jarum itu ke tulang belakang Utusan Mo. Ia kemudian menjentikkan jarum itu dengan jarinya, mengirimkan getaran mikro-vibrasi dari kekuatan fisiknya.
Tunggg...
Utusan Mo mulai gemetar hebat. Tubuhnya mengeluarkan suara musik yang aneh, suara gemeretak tulang yang beradu satu sama lain dalam irama yang mengerikan.
"Hahaha! Dengar itu!" Xue Xiao tertawa terbahak-bahak. "Tulang rusukmu memainkan nada mayor, sedangkan tulang selangkangmu berada di nada minor! Kau adalah instrumen musik yang sangat berbakat, Mo!"
Penyiksaan itu berlangsung selama hampir satu jam di tengah kegelapan klinik. Utusan Mo terus tertawa, menangis, dan menjerit secara bergantian seiring Xue Xiao memainkan "alat musiknya". Seluruh tubuh Utusan Mo kini dipenuhi jarum perak, membuatnya tampak seperti landak manusia yang sedang sekarat.
"Cukup... cukup... Wang Xiong... dia... dia punya gudang rahasia di pinggiran kota..." Utusan Mo akhirnya menyerah, jiwanya sudah hancur total sebelum tubuhnya mati. "Dia... dia menyimpan artefak kuno di sana... tolong... hentikan getarannya..."
Xue Xiao berhenti menjentikkan jarum. Ia menatap Utusan Mo yang kini sudah menyerupai onggokan daging yang tak berbentuk. "Artefak kuno? Sekarang kau mulai menarik perhatianku."
Xue Xiao mencabut seluruh jarumnya dengan satu tarikan napas. Ia kemudian mencengkeram leher Utusan Mo dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kau ingin aku mengakhiri penderitaanmu?" tanya Xue Xiao.
Utusan Mo mengangguk lemah, matanya memohon dengan sisa-sisa kesadarannya.
"Baiklah. Tapi karena kau sudah merusak klinikkku..." Xue Xiao melirik ke arah pintu depan yang hancur. "Kau harus menjadi pesan untuk majikanmu."
Xue Xiao menyeret Utusan Mo ke depan klinik. Di luar, hujan sudah berhenti, meninggalkan genangan air yang memantulkan lampu jalan. Xue Xiao melihat tiang listrik besi di seberang jalan. Dengan kekuatan yang sanggup merobek baja, ia membengkokkan tiang listrik itu hingga membentuk lingkaran, lalu mengikatkan tubuh Utusan Mo di sana menggunakan rantai besi milik para pembunuh tadi.
Ia menuliskan sesuatu di dada Utusan Mo menggunakan darah pembunuh itu sendiri:
"SIAPA PUN YANG MENYENTUH KLINIK INI, AKAN MENJADI PAMERAN BERIKUTNYA."
Xue Xiao kembali masuk ke kliniknya. Ia melihat reruntuhan meja, lemari yang hancur, dan bau darah yang memuakkan. Ia menghela napas panjang.
Meiling pasti akan menangis melihat meja pendaftarannya hancur, batinnya dengan sedikit rasa bersalah. Mungkin aku harus meminta ganti rugi sepuluh kali lipat pada Keluarga Wang besok pagi. Dan gudang rahasia itu... kurasa naga ini perlu mencari sedikit camilan spiritual.
Xue Xiao naik ke lantai tiga. Ia melihat Meiling dan Pak Tua Han tertidur pulas karena teknik Tidur Abadi yang ia tiupkan tadi melalui celah pintu. Mereka tidak mendengar satu pun jeritan neraka di bawah.
Xue Xiao duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota Shanghai yang berkelap-kelip. Ia membersihkan pisau alkemisnya dari sisa-sisa daging Utusan Mo.
"Wang Xiong," bisik Xue Xiao pada angin malam. "Kau mencoba membakar hutan tempatku tinggal, maka jangan salahkan jika aku membakar seluruh istanamu hingga menjadi abu."
Matahari mulai mengintip dari ufuk timur. Esok harinya, seluruh Shanghai akan gempar melihat pemandangan di depan Klinik Medis Xue. Dan di dalam kegelapan kediamannya, Wang Xiong akan menyadari bahwa ia tidak hanya mengundang iblis ke rumahnya, tapi ia telah membangunkan dewa kematian yang paling kejam.