Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Sinar matahari pagi di Distrik Jing-an biasanya membawa harapan, namun pagi ini, ia membawa kengerian yang akan membekas di ingatan warga Shanghai selama puluhan tahun. Cahaya keemasan itu menyinari tiang listrik di seberang Klinik Medis Xue yang telah bengkok seperti pita baja yang dipilin paksa. Di tengah lingkaran besi itu, tubuh Utusan Mo terikat dengan rantai yang menembus bahunya, kepalanya terkulai lemas dengan mata abu-abu yang masih terbuka lebar, menatap kosong ke arah aspal yang basah.
Tulisan merah di dadanya, yang ditulis dengan darah yang mulai mengering, tampak berkilau di bawah sinar matahari: "SIAPA PUN YANG MENYENTUH KLINIK INI, AKAN MENJADI PAMERAN BERIKUTNYA."
Kerumunan orang mulai berkumpul dari jarak aman. Tidak ada yang berani mendekat. Para buruh pabrik, ibu rumah tangga, hingga pedagang kaki lima hanya bisa menutup mulut mereka dengan tangan. Mereka tidak tahu siapa yang melakukan ini dan mengapa orang ini terlihat mengerikan.
"Ya Tuhan... itu bukan manusia lagi," bisik seorang pedagang bakpao. "Lihat tangannya... tulangnya seolah menghilang di dalam kulitnya."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah memecah keheningan. Tiga unit SUV hitam dengan logo keluarga Lin berhenti tepat di depan klinik. Lin Qingyan keluar dengan setelan jas formal yang rapi, namun wajahnya yang cantik seketika berubah pucat pasi saat matanya menangkap pemandangan di tiang listrik tersebut.
"Master Xiao..." gumamnya, suaranya bergetar. Ia menoleh ke arah kliniknya yang hancur. Lemari obat yang kemarin masih tersusun rapi kini hanya menjadi tumpukan kayu bakar di lantai satu. Kursi-kursi tunggu hancur menjadi serpihan kecil, dan bau amis darah bercampur melati busuk masih menggantung di udara.
Lin Qingyan berlari masuk ke dalam klinik, mengabaikan peringatan dari pengawalnya. Di dalam, ia menemukan Xue Xiao sedang duduk dengan tenang di atas sebuah peti kayu yang masih utuh, satu-satunya benda yang selamat dari amukan semalam. Pria itu sedang menyesap teh pahit dari cangkir porselen yang retak, jubah rami hitamnya tampak bersih seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
"Anda... Anda benar-benar melakukannya," ucap Qingyan, napasnya tersengal. "Anda menghancurkan Utusan Mo dari Sekte Gagak Hitam. Anda tahu siapa mereka? Mereka adalah bayangan yang ditakuti oleh seluruh praktisi di Tiongkok Timur!"
Xue Xiao meletakkan cangkirnya perlahan. Suara dentingan keramik di ruangan yang sunyi itu terdengar seperti ledakan kecil. "Gagak hitam atau burung pipit, bagiku mereka semua sama saja saat tulang mereka mulai berderit di bawah jarum perakku. Mereka mengganggu ketenanganku. Itu adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan."
Qingyan menatap sekeliling dengan ngeri. Ia melihat bekas hentakan kaki di lantai semen yang membentuk kawah kecil, dan pilar beton yang retak hebat. 'Bagaimana bisa seseorang melakukan ini?' batinnya. 'Dia benar-benar monster yang menakutkan!.'
"Keluarga Wang tidak akan berhenti, Master Xiao," Qingyan mendekat, suaranya merendah. "Kakekku baru saja mendapat kabar bahwa Wang Xiong telah memerintahkan boikot total di seluruh pelabuhan. Tidak ada satu pun kapal yang membawa bahan herbal diizinkan bongkar muat jika tujuannya adalah klinik ini. Mereka ingin membunuhmu melalui kelaparan logistik."
Xue Xiao tertawa kecil, suara tawanya mengandung sarkasme yang dalam. "Kelaparan? Mereka pikir alkimiaku bergantung pada tanaman layu yang mereka monopoli?"
Xue Xiao berdiri, posturnya yang tegak membuat Qingyan merasa sangat kecil. "Utusan Mo tadi malam memberiku informasi menarik sebelum dia memutuskan untuk menjadi patung di tiang listrik itu. Wang Xiong memiliki sebuah gudang rahasia di pinggiran kota, di lereng Gunung Utara. Di sana tersimpan koleksi artefak kuno dan herbal berkualitas yang ia kumpulkan selama puluhan tahun."
Mata Lin Qingyan membelalak. "Gudang 'Harta Karun Hijau'? Itu adalah jantung dari kekuatan finansial keluarga Wang! Dijaga oleh sistem keamanan paling canggih dan setidaknya dua tetua tingkat Pemurnian Jantung!"
"Bagus," ucap Xue Xiao sambil mengambil payung bambunya. "Aku sedang butuh seseorang yang kuat untuk meningkatkan kepadatan tulangku. Dan kurasa, Keluarga Wang butuh pelajaran tentang hukum kehilangan. Jika mereka mengambil pasokanku, maka aku akan mengambil seluruh perbendaharaan mereka."
"Anda akan menyerang mereka sendirian?!" Qingyan berteriak, hampir tidak percaya.
Xue Xiao berhenti di depan pintu yang hancur, menatap matahari yang kini sudah tinggi. "Sendirian? Tidak. Aku membawa kemarahanku, dan itu sudah lebih dari cukup untuk meratakan sepuluh gudang seperti itu."
Tiba-tiba, dari lantai atas, Han Meiling turun dengan langkah ragu-ragu. Gadis kecil itu melihat reruntuhan kliniknya dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia berlari ke arah meja pendaftarannya yang kini hanya berupa puing kayu.
"Master... klinik kita... meja kerjaku..." isaknya.
Xue Xiao mendekati Meiling, ekspresinya melunak sedikit. Ia mengelus kepala gadis itu dengan lembut. 'Ah, aku lupa bahwa anak ini sangat mencintai meja kayu murahan itu,' pikirnya.
"Jangan menangis, Meiling," ucap Xue Xiao. "Meja itu sudah tua. Besok, aku akan membawakanmu meja kerja yang terbuat dari kayu gaharu hitam paling mahal dari gudang keluarga Wang. Dan untuk setiap botol obat yang pecah di sini, aku akan membuat mereka membayar dengan harga dua kali lipat."
Meiling mendongak, menghapus air matanya. "Benarkah, Master? Anda akan menghukum orang-orang jahat itu?"
"Tentu," Xue Xiao menyeringai gelap. "Sekarang, bantu Pak Tua Han membersihkan tempat ini." Setelah memberikan instruksi kepada Han meiling, Xue Xiao menoleh kearah Lin Qingyan," Buang mayat-mayat di pojok ruangan itu. Jangan biarkan baunya merusak selera makanku." dia berhenti sejenak, dan melanjutkan. "Berikan aku lokasi tepatnya, atau kau bisa diam di sini dan melihat bagaimana aku membakar separuh Shanghai dari kejauhan."
Lin Qingyan menelan ludah. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan pria ini. Jika ia tidak membantu, Xue Xiao tetap akan melakukannya, namun mungkin dengan cara yang lebih brutal.
"Aku akan mengantarmu," ucap Lin Qingyan dengan nada pasrah namun penuh tekad. "Tapi berjanjilah, Master Xiao... jangan bunuh semua orang. Ada beberapa orang di sana yang hanya bekerja demi uang."
Xue Xiao berjalan melewati Qingyan menuju mobil SUV hitam tersebut. "Di Alam Abadi, tidak ada istilah 'hanya bekerja demi uang' saat kau berdiri di jalur naga yang sedang marah. Tapi aku akan mempertimbangkannya... tergantung seberapa bagus sikap mereka nanti."
Perjalanan menuju pinggiran kota dimulai. Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin. Xue Xiao mengeluarkan sebutir pil hijau berkilau yang ia murnikan semalam dari sisa-sisa akar liar. Ia memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya seolah-olah itu hanya permen biasa.
'Energi spiritual di bumi ini memang menyedihkan,' gumam Xue Xiao di dalam hati. 'Tapi setidaknya, rasa sakit dari musuh-musuhku memberikan nutrisi yang cukup bagi jiwaku. Wang Xiong, kau telah berhasil membangunkan kemarahanku. Aku bukan sekadar tabib... aku adalah api yang akan memurnikan seluruh dosamu hingga menjadi abu.'
Lin Qingyan melirik ke arah Xue Xiao dari balik kemudi. Ia melihat pria itu menutup matanya, namun ia merasakan bahwa suhu didalam mobil semakin menurun yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Kita akan sampai dalam tiga puluh menit," ucap Lin Qingyan pelan.
"Bagus," sahut Xue Xiao tanpa membuka mata. "Pastikan kau parkir di tempat yang strategis. Aku tidak ingin pertarungan ku dengan mereka menghancurkan mobilmu yang mahal ini."
Matahari semakin terik, namun di arah Gunung Utara, awan hitam mulai berkumpul. Seolah-olah alam pun tahu, bahwa badai yang sesungguhnya, badai yang tidak bergantung pada angin maupun hujan, sedang menuju ke sana untuk menuntut balas.