Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PEMUDA DI KAMAR KOS
Suara keyboard berdentang memecah keheningan malam.
"Ah sial, mati lagi!"
Kang Yun-seo, 19 tahun, membanting mouse dengan kesal. Layar monitor di depannya menampilkan karakter game yang baru saja tewas untuk keempat kalinya dalam satu jam. Boss raid malam ini benar-benar kacau. Party-nya tidak kompak, healer sibuk afk, dan tank tiba-tiba disconnect di tengah pertempuran.
"Yah, reset lagi deh." Ia menghela napas panjang, meraih mie instan di samping komputer. Sumpit plastik menusuk mi yang sudah mengembang—tandanya sudah terlalu lama didiamkan. Tapi Yun-seo tidak peduli. Mie tetap mie, dan perutnya keroncongan sejak satu jam lalu.
Kamar kosnya berukuran 3x4 meter, persis seperti yang ia tinggali sejak pindah ke Seoul tiga tahun lalu. Dinding penuh poster game dan anime. Kabel bergelantungan di mana-mana—kabel charger, kabel LAN, kabel headset, semuanya kusut jadi satu. Di pojok, tumpukan baju kotor menggunung, menunggu waktu yang tepat untuk dicuci. Waktu yang tepat itu entah kapan, karena sudah dua minggu gunungan itu makin tinggi.
Yun-seo sendiri tidak terlalu peduli dengan kerapian. Ia tinggal sendiri, orang tua bekerja di luar negeri—Ayah di proyek konstruksi Dubai, Ibu jadi TKW di Hong Kong. Setiap bulan mereka transfer uang, cukup untuk bayar kos dan makan. Lebih dari itu, urusan Yun-seo.
Di luar, hujan deras mengguyur Seoul. Suara rintik di jendela bercampur dengan musik game dari speaker murahan. Jam di pojok kanan monitor menunjukkan pukul 02.17. Yun-seo mengucek mata, mencoba bertahan untuk satu kali percobaan lagi.
"Harusnya tadi pakai skill itu lebih cepat," gumamnya, menganalisis kekalahan. "Atau mungkin harus farm dulu di dungeon bawah."
Ia membuka inventory karakter, menghitung perlengkapan. Lumayan, setelah seminggu grinding, gear-nya mulai bagus. Tinggal upgrade sedikit lagi, pasti bisa clear boss itu.
Tiba-tiba, tangannya berhenti bergerak.
Jari manis kirinya terasa hangat. Tidak, lebih dari hangat—panas, seperti terbakar. Yun-seo menoleh, melihat cincin besi di jarinya bersinar merah terang. Cincin itu dibelinya dua minggu lalu di pasar loak dekat kampus, cuma 5.000 won. Penjualnya, kakek tua dengan topi usang, bilang itu cincin antik dari zaman Joseon.
"Cocok untuk pemuda tampan seperti kamu," kata kakek itu waktu itu sambil terkekeh. "Mungkin suatu hari akan membawamu ke petualangan."
Yun-seo mengira itu cuma omongan pedagang biasa.
Sekarang, cincin itu bersinar seperti bara api. Panasnya menjalar ke seluruh tangan, ke lengan, ke dada.
"Apa-apaan—"
Dunia berputar. Kamar kosnya meleleh seperti cat air. Monitor, keyboard, tumpukan baju, semua berubah menjadi pusaran warna yang menyeretnya masuk. Yun-seo menjerit, tapi suaranya tertelan pusaran itu. Ia merasakan tubuhnya diregang, dipelintir, ditarik paksa melewati lorong yang tidak bisa ia pahami.
Lalu, gelap.
---
Dia membuka mata beberapa saat kemudian—atau mungkin berabad-abad kemudian, ia tidak tahu.
Langit merah darah membentang di atas. Bukan merah jingga seperti senja, tapi merah pekat seperti daging segar. Di kejauhan, bulan sabit biru aneh menggantung, terlalu besar dan terlalu dekat. Awan hitam bergerak cepat, sesekali menyambar petir berwarna ungu.
Yun-seo duduk perlahan. Kepalanya pusing, perutnya mual. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Di mana ini?"
Suaranya bergema aneh di tanah hitam yang terasa hangat di pantatnya. Ia mencubit pipi. Sakit. Berarti bukan mimpi.
Di sekelilingnya, reruntuhan bangunan bergaya kuno. Pilar-pilar batu dengan ukiran naga, atap genting yang hancur, tembok berlumut—semuanya mengingatkannya pada drama kolosal yang kadang ia tonton di TV. Tapi ada yang aneh. Bangunan ini terlalu gelap, terlalu... jahat? Ukiran naganya bukan naga biasa, tapi naga dengan sayap kelelawar dan tiga kepala. Di beberapa tempat, simbol-simbol aneh terukir, bersinar redup dengan cahaya merah.
"Ini pasti mimpi," pikirnya. "Mimpi yang sangat aneh."
Ia berdiri, mencoba merapikan bajunya. Hoodie abu-abu favoritnya, jeans robek di lutut, dan sepatu kets kotor—semuanya masih sama seperti saat di kamar. Di tangannya, cincin itu masih bersinar, tapi redup sekarang, seperti arang yang mulai padam.
Dari kejauhan, suara benturan senjata menggema. Teriakan perang, jeritan kesakitan, ledakan yang menggelegar. Perang? Di sini?
Insting Yun-seo sebagai gamer langsung aktif. Di game, kalau tiba-tiba di spawn di tempat asing, yang pertama harus dilakukan adalah mencari tempat aman dan mengamati lingkungan.
Ia berlari ke balik reruntuhan tembok, bersembunyi. Matanya mengamati sekitar dengan waspada. Jantungnya berdetak kencang—jantung yang sama yang biasanya cuma deg-degan pas boss fight, tapi sekarang deg-degan beneran.
"Tenang, tenang," bisiknya pada diri sendiri. "Ini cuma mimpi. Mimpi aneh. Bentar lagi pasti bangun."
Tapi ia tidak bangun-bangun.
Dari arah suara pertempuran, sesosok tubuh meluncur di udara—terbang—lalu jatuh dengan keras, menghantam tanah hanya sepuluh meter dari tempat Yun-seo bersembunyi. Debu beterbangan. Tanah hitam merekah.
Yun-seo hampir berteriak, tapi tangannya cepat menutup mulut sendiri.
Wanita itu—karena yang jatuh adalah wanita—tergeletak di tanah, bersimbah darah. Rambutnya panjang, putih perak seperti salju, tersebar di genangan merah. Di dahinya, dua tanduk kecil hitam mengilap, salah satunya patah. Dari punggungnya, sayap hitam lebar—seperti sayap kelelawar raksasa—robek di beberapa tempat, bulu-bulu hitam bertebaran.
Yun-seo membeku.
Iblis.
Di game, ia sudah ribuan kali membunuh iblis. Tapi di dunia nyata—atau apa pun ini—melihat makhluk seperti ini beneran di depan mata, itu lain cerita.
Wanita iblis itu mengangkat kepala. Matanya—merah menyala seperti batu delima—menemukan Yun-seo di balik reruntuhan. Bibirnya bergerak, berusaha berkata sesuatu. Lalu, dengan sisa kekuatan, tubuhnya terseret mendekat.
Yun-seo ingin lari. Kakinya seperti terkunci di tanah.
Wanita itu meraih pergelangan tangannya. Sentuhan itu dingin, seperti es, tapi juga membakar. Cincin di jari Yun-seo bersinar lagi, terang, menyilaukan.
"Kau... yang kupanggil..." bisik wanita itu, suaranya pecah. "Maaf... aku tidak bisa... menjadi pahlawanmu..."
"Apa? Maksudnya? Hei, apa yang—"
"Lari... mereka... datang..."
Wanita itu kehilangan kesadaran. Tangannya terkulai. Dan di depan mata Yun-seo, tubuhnya berubah. Tanduk di dahi menghilang. Rambut perak berangsur menjadi hitam pekat. Sayapnya mengerut, menyusut, lalu sirna. Wajahnya tetap sama—cantik luar biasa, bahkan dengan darah di mana-mana—tapi sekarang ia tampak seperti wanita biasa. Manusia biasa.
"DI SINI! ADA YANG SELAMAT!"
Suara teriakan dari kejauhan. Banyak suara. Langkah kaki mendekat cepat.
Yun-seo menoleh. Dari balik reruntuhan, sekelompok pria bersenjata lengkap berlari ke arahnya. Mereka memakai baju zirah khas Korea—gapjuk dengan anyaman besi, helm dengan bulu merah, pedang terhunus di tangan. Di dada mereka, simbol naga emas bersulam.
Prajurit?
Pemimpin rombongan, pria tinggi dengan bekas luka di mata kiri, sudah menghunus pedang ke arah Yun-seo. Ujung pedang hanya beberapa senti dari lehernya.
"Siapa kau? Dari sekte mana? Jawab!" bentaknya.
Yun-seo gemetar. Otaknya bekerja cepat—terlalu cepat, seperti saat panic mode di game dan harus mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Manusia. Iblis. Perang. Tawanan.
"Ia isteriku!" teriaknya tanpa berpikir.
Apa? Isteri?
Prajurit itu mengernyit. "Apa?"
Yun-seo menunjuk wanita pingsan di sampingnya. "Ia isteriku! Kami... kami ditawan iblis selama bertahun-tahun! Baru bisa kabur pas... pas perang tadi!" Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar yakin.
Prajurit bermata satu itu menatapnya tajam, lalu ke wanita itu. Wanita dengan pakaian aneh, berlumuran darah, tapi jelas manusia. Tidak ada tanduk, tidak ada sayap.
"Hei, Bang Jin-ho," bisik prajurit lain di belakang, "lihat pakaian mereka. Aneh, tapi mungkin korban selamat dari serangan iblis kemarin. Kata intel, iblis suka mengumpulkan manusia untuk dijadikan budak."
Jin-ho—prajurit bermata satu—menghela napas panjang. Pedangnya turun sedikit. "Kau... apa kau tahu di mana kau sekarang?"
Yun-seo menggeleng lemas. "Saya... saya tidak tahu. Mereka membawa kami ke mana-mana. Gelap terus. Saya cuma bisa bertahan demi istri saya."
Kebohongan ini keluar dengan lancar, seperti dialog option di game RPG. Yun-seo sendiri heran dari mana keberanian ini datang. Mungkin karena adrenalin? Atau karena ia benar-benar tidak punya pilihan lain?
Jin-ho menatap wanita pingsan itu lagi. Darah di sekujur tubuhnya—darah siapa? Darah iblis yang terbunuh? Atau darahnya sendiri? Yang jelas, wanita itu lemah, sekarat mungkin.
"Bawa mereka ke tenda darurat," perintah Jin-ho. "Panggil tabib. Cepat!"
Dua prajurit maju, mengangkat wanita itu dengan hati-hati. Yang lain menggiring Yun-seo. Ia tidak melawan—lagipula mau lari ke mana? Di dunia asing ini, ia bahkan tidak tahu arah utara selatan.
Saat berjalan melewati reruntuhan, Yun-seo melirik ke belakang. Di medan perang itu, mayat bergelimpangan—mayat manusia dengan seragam prajurit, dan mayat... sesuatu yang lain. Makhluk dengan tanduk, sayap, kulit gelap. Iblis.
Banyak iblis mati.
Dan ia, Kang Yun-seo, pemuda pengangguran dari Seoul, baru saja menyelamatkan—atau mungkin menculik?—salah satu dari mereka.
"Yah, jinjja daebak," batinnya getir. "Ini benar-benar di luar pay-to-win."
---
Di tenda darurat Aliansi Murim, Yun-seo duduk dengan selimut di pundak.
Seorang tabib tua memeriksa wanita itu. Di luar, suara aktivitas militer—perintah, langkah kaki, derap kuda—ramai seperti pasar. Tapi di dalam tenda ini, hanya ada Yun-seo, tabib, dan wanita misterius itu.
"Aneh," gumam tabib itu.
Yun-seo menegang. "Apa yang aneh, Pak?"
"Tubuhnya... tidak ada luka serius. Luka luar memang banyak, tapi semua dangkal. Kenapa dia pingsan?" Tabib itu menggeleng. "Mungkin karena kelelahan berat. Atau trauma." Ia menatap Yun-seo. "Kau benar-benar suaminya?"
"I-iya."
"Dia wanita yang kuat. Tulangnya padat, ototnya terlatih. Mungkin pendekar juga." Tabib itu tersenyum tipis. "Beruntung kau punya istri seperti dia."
Yun-seo hanya tersenyum kaku.
Setelah tabib pergi, ia duduk di samping wanita itu. Dalam cahaya lampu minyak, wajahnya terlihat lebih jelas. Cantik. Bukan cantik biasa, tapi cantik yang membuat orang terpaku. Alis lentik, hidung mancung, bibir tipis dengan bentuk sempurna. Bahkan dengan darah di rambut dan luka di pipi, ia tetap memesona.
"Kau iblis," bisik Yun-seo. "Tapi kenapa jadi manusia?"
Jawaban tentu tidak datang.
Ia meraih cincin di jarinya, memutarnya pelan. Cincin inilah yang menyebabkan semua ini. Tapi kenapa? Bagaimana? Apakah kakek di pasar loak itu tahu sesuatu?
"Pikirin nanti," putusnya. "Sekarang, selamatkan diri dulu. Terus cari cara pulang."
Tapi saat menatap wanita itu, sesuatu di dadanya berdesir. Wanita ini—iblis ini—memanggilnya. "Kau yang kupanggil," katanya. Maksudnya apa?
Yun-seo menghela napas panjang. Ini bukan game. Tidak ada pause button. Tidak ada load game kalau mati. Ini nyata—atau setidaknya terasa sangat nyata.
"Pokoknya," bisiknya pada diri sendiri, "aku akan bertahan. Aku akan cari cara pulang. Dan kau..." Ia menatap wanita itu. "Kau akan kubantu. Karena kau satu-satunya yang tahu apa yang terjadi padaku."
Di luar, hujan mulai turun. Anehnya, di dunia ini hujan juga sama—rintik di tenda, bau tanah basah, dingin yang menusuk. Yun-seo merapatkan selimut, bersandar di tiang tenda.
Matanya berat. Tubuhnya lelah. Tapi pikirannya terus berputar, menganalisis, merencanakan—seperti biasa saat akan raid boss baru.
"Welcome to the new world," gumamnya getir.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba, ia menangis diam-diam, air mata lelaki yang tak tahu apakah ia akan pernah pulang.
---