NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 26

Layar ponselku yang terang benderang seolah menelanjangi semua rasa takutku. Deretan notifikasi itu sebagian besar datang dari Tomi. Pesan-pesannya singkat namun penuh perhatian bertanya kabarku, menanyakan kenapa aku menghilang, hingga sekadar mengirimkan kata-kata penyemangat.

Aku hanya terdiam, mematung menatap rentetan nama itu tanpa keberanian untuk membalas satu pun.

​Sampai tiba-tiba, layar ponselku berubah. Nama Diva muncul dengan panggilan masuk. Jantungku berdegup kencang, dan entah mengapa, kali ini aku memutuskan untuk mengangkatnya.

​"HANA!!! KAMU KE MANA AJA SIH?!" suara Diva langsung meledak, memekakkan telinga.

"Sumpah ya, aku sama Dhea udah mau lapor polisi tau nggak! Kenapa ponsel mati terus? Kamu sakit? Kamu diculik? Atau jangan-jangan kamu pindah ke planet lain?!"

​Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut.

"Div... pelan-pelan. Aku nggak apa-apa, cuma lagi butuh waktu sendiri aja."

​"Waktu sendiri apa sampai berhari-hari begini, Han? Kita semua khawatir, apalagi Tomi! Dia nanyain kamu terus sampai kita bosen jawabnya!" cerocos Diva tanpa henti.

"Pokoknya aku nggak mau tahu, sore ini kita ketemu di kafe biasa. Kamu harus jelasin semuanya."

​Aku menghela napas panjang, berat rasanya untuk menggerakkan badan saja, apalagi harus keluar rumah.

"Maaf, Div... kayaknya aku belum bisa. Kondisiku benar-benar belum stabil. Badanku rasanya berat banget, aku cuma ingin di kamar dulu."

​Hening sejenak di seberang sana.

Diva terdengar sangat terkejut dengan nada suaraku yang parau.

"Han... suara kamu kok lemes gitu? Kamu beneran sakit ya?"

​"Bukan sakit fisik, Div. Aku cuma... butuh istirahat lebih lama."

​"Oke, kalau kamu nggak mau keluar, biar kita yang ke sana!" putus Diva tegas.

"Besok, aku sama Dhea bakal ke rumah kamu. Titik. Nggak pake tapi-tapian!"

​"Jangan, Div. Tolong, jangan sekarang..." aku mencoba menolak, namun Diva justru terdengar marah.

​"Hana! Kita ini sahabat kamu! Kamu nggak bisa terus-terusan nutup diri kayak gini dan biarin kita mati penasaran karena khawatir! Pokoknya besok sore aku sama Dhea sampai di depan rumah kamu, kalau perlu aku panjat pagar rumah kamu kalau nggak dibukain!"

Klik.

​Diva mematikan teleponnya begitu saja, meninggalkanku dalam keheningan yang semakin menyesakkan. Aku menatap ponselku lagi.

...----------------...

Aku terduduk lemas di tepi kasur, membiarkan ponselku tergeletak dingin di samping paha.

Rasanya seluruh tenagaku tersedot habis. Pikiranku benar-benar seperti benang kusut yang mustahil untuk diurai.

Di satu sisi, ada Tomi. Laki-laki yang sabar, yang mengirimkan rentetan pesan penuh perhatian, yang menungguku dengan tulus tanpa tahu betapa berantakannya batinku. Bayangan wajahnya yang hangat membuat dadaku sesak oleh rasa bersalah.

Dia layak mendapatkan wanita yang "utuh", bukan seseorang yang jiwanya masih tertinggal di masa lalu seperti aku.

Tapi di sisi lain... Wira.

Nama itu dulu adalah duniaku.

Tapi saat aku memberanikan diri melihat kabarnya, kenyataan justru menghantamku lebih keras dari tamparan mana pun. Dia terlihat sangat bahagia. Ada sosok wanita lain di sampingnya kekasih barunya. Mereka tersenyum lebar ke arah kamera, seolah-olah tahun-tahun penuh penderitaan yang aku lalui sendirian di sini tidak pernah ada harganya bagi dia.

"Sakit banget, Wir..." bisikku pedih. Air mataku jatuh tanpa permisi, membasahi sprei.

Ternyata selama ini cuma aku yang terjebak dalam ruang gelap bernama masa lalu. Cuma aku yang masih memeluk luka dan rahasia itu erat-erat, sementara dia sudah melangkah jauh dan menemukan cahaya baru.

Rasa sesak ini mendadak berubah menjadi rasa rendah diri yang luar biasa.

Aku merasa sangat bodoh. Aku menutup diri dari Tomi demi menjaga "kesetiaan" pada bayangan seseorang yang bahkan sudah lupa cara menyebut namaku dengan rasa yang sama.

Drrrtt...

Satu notifikasi masuk. Aku melirik malas. Ternyata pesan dari Tomi lagi.

[Han, aku nggak tahu kamu lagi lewat masa sulit apa, tapi aku cuma mau bilang... aku masih di sini kalau kamu butuh tempat untuk pulang dan aku masih setia kok, walaupun aku belum tau apa penyebab kamu tiba tiba pergi malam itu. Istirahat ya.]

Aku menutup wajah dengan kedua tangan, terisak pelan. Kenapa di saat aku merasa paling hancur karena Wira, justru Tomi yang datang menawarkan kenyamanan? Ini nggak adil. Benar-benar nggak adil buat Tomi, dan terlalu menyakitkan buat aku.

Aku menyeret langkah kaki yang terasa seberat timah menuju kamar mandi. Aku tidak sanggup lagi menahan sesak ini di atas kasur. Aku mengunci pintu dengan tangan gemetar, lalu menyandarkan punggung di dinding keramik yang dingin.

Aku menyalakan shower sekeras mungkin. Begitu air dingin mengguyur kepala dan seluruh tubuhku yang masih berpakaian lengkap, pertahananku runtuh total. Aku jatuh terduduk di lantai kamar mandi, memeluk lututku sendiri di bawah guyuran air.

Aku menangis sejadi-jadinya, menutup mulut dengan telapak tangan agar isak tangisku teredam oleh suara gemericik air. Aku tidak ingin Mama atau Papa mendengar kehancuranku malam ini.

"Nggak adil... ini nggak adil," bisikku lirih di sela isak tangis.

Rasanya tubuh ini begitu kotor, begitu tidak layak. Bayangan Wira yang tersenyum memeluk wanita lain terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.

Bagaimana bisa dia tertawa selebar itu sementara aku masih terperangkap dalam trauma yang dia tinggalkan? Bagaimana bisa dia melangkah sejauh itu sementara aku masih merasa seperti barang rusak yang tidak berani disentuh oleh siapa pun, termasuk Tomi?

Air dingin terus membasahi kulitku, tapi hatiku justru terasa panas terbakar api cemburu dan penghinaan pada diri sendiri. Aku merasa dikhianati oleh waktu. Aku menjaga rahasia ini, menjaga luka ini, seolah-olah itu adalah harta suci yang harus kusimpan demi dia. Tapi nyatanya? Dia sudah membangun istana baru di atas puing-puing hidupku yang hancur.

Aku memejamkan mata erat-erat. Di bawah guyuran air ini, aku merasa sangat kecil dan tidak berarti. Seolah-olah seluruh perjuanganku untuk bertahan hidup selama ini hanyalah sebuah lelucon besar.

"Kenapa harus aku yang menanggung semuanya sendiri, Wir?"

Aku meremas kausku yang basah kuyup di bagian dada, mencoba meredakan nyeri yang tidak kunjung hilang. Di luar sana, Tomi mungkin sedang menatap layar ponselnya, menunggu tanda bahwa aku baik-baik saja. Tapi di sini, aku merasa sudah mati rasa. Aku merasa tidak layak mendapatkan cinta Tomi yang tulus, dan aku merasa terlalu hancur untuk kembali membenci Wira.

Kegelapan perlahan-lahan menyelimuti pandanganku. Rasa dingin dari air shower yang terus mengguyur tak lagi terasa menusuk, berganti dengan rasa hampa yang luar biasa berat hingga kesadaranku hilang sepenuhnya.

...----------------...

Pagi harinya, suasana rumah yang seharusnya tenang mendadak pecah oleh kepanikan.

"Hana? Sayang, bangun... sudah siang, Nak. Kamu harus minum obat sayang biar cepat sembuh supaya bisa ngantor lagi kan?" suara Mama terdengar dari balik pintu, lembut namun mulai diwarnai kecemasan karena tidak ada jawaban.

Mama memutar kenop pintu. Tidak dikunci. Ia melangkah masuk, namun matanya membelalak melihat tempat tidur yang masih rapi tapi kosong. Sayup-sayup, suara gemericik air terdengar dari kamar mandi yang tertutup rapat.

"Hana? Kamu di dalam? Mandinya lama sekali, Nak?" Mama mengetuk pintu kamar mandi. Sekali, dua kali... tetap hening.

"Hana! Jawab Mama! Kamu nggak apa-apa?"

Perasaan tidak enak mulai menyergap Mama. Ia mencoba memutar kunci pintu kamar mandi, tapi terkunci dari dalam.

Mama mulai panik, tangannya memukul-mukul pintu dengan keras.

"PAPA! PAPA KESINI, PA! CEPAT!" teriak Mama histeris, suaranya melengking memenuhi lorong rumah.

Papa berlari kencang, napasnya memburu.

"Ada apa, Ma? Kenapa teriak-teriak?"

"Hana, Pa! Dia di dalam kamar mandi dari tadi, airnya nyala terus tapi dia nggak jawab! Mama takut terjadi apa-apa!" Mama mulai terisak, wajahnya pucat pasi.

Papa mencoba memanggilku sekali lagi dengan suara beratnya yang bergetar.

"Hana? Ini Papa, Nak! Buka pintunya!"

Tetap tidak ada suara. Hanya bunyi air yang menghantam lantai.

"Minggir, Ma! Papa dobrak!" Papa mengambil ancang-ancang.

BRAAAKKK! Satu hantaman bahu, pintu itu masih kokoh.

BRAAAKKK! Pada hantaman kedua, grendel pintu itu hancur dan pintu terbuka lebar.

"ASTAGA YATUHAN, HANA!!!" jerit Mama pecah seketika.

Mama jatuh terduduk melihatku tergeletak meringkuk di bawah kucuran air dingin. Wajahku sepucat kertas, bibirku membiru. Papa segera mematikan shower dan menyambar tubuhku.

"Ya Tuhan, badannya panas sekali, Ma! Hana demam tinggi!" seru Papa panik. Ia menggendong tubuhku yang basah kuyup dengan tangan yang gemetar hebat.

"Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit sekarang! Cepat!"

"Hana... bangun, Nak... jangan tinggalin Mama..." Mama terus meracau histeris sambil berlari mengikuti Papa yang membawaku turun ke parkiran.

Saat aku membuka mata, bau karbol yang menyengat langsung menusuk hidungku. Langit-langit yang kulihat bukan lagi plafon kamarku, melainkan ubin putih rumah sakit yang dingin. Aku mencoba menggerakkan tangan, tapi terasa ada tarikan sebuah jarum infus menancap di punggung tanganku.

Di samping tempat tidur, aku melihat Mama yang matanya sembab, sedang menggenggam tanganku dengan erat sambil tertidur karena kelelahan.

Sementara Papa berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan punggung yang tampak sangat rapuh.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
wahhh.....Tomi cowok keren tapi masih misterius nih
🌹Widian,🧕🧕🌹
haiiiii.......mampir nih !
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪
🌹Widian,🧕🧕🌹: mampir juga kak ke karyaku🙏
total 2 replies
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!