NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Raya duduk termenung di samping jendela kamarnya. Hujan kecil mulai turun, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Pandangannya kosong menatap halaman belakang, sementara hatinya bergemuruh penuh kegelisahan. Jemari tangannya mengelus perutnya yang semakin membuncit, seolah mencari ketenangan dari kehidupan kecil yang tumbuh di dalam sana.

Perlahan, pikirannya melayang pada sosok Bu Atika dan suaminya. Meski baru beberapa hari tinggal di rumah ini, namun kasih sayang yang mereka berikan terasa begitu tulus dan hangat. Tidak ada kata kasar, tidak ada cibiran, tidak ada penolakan seperti yang biasa ia terima dari keluarga Hartawan. Bahkan ketika semua orang memandang rendah, mereka justru mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga.

"Bu Atika... Pak Harun..." bisik Raya lirih, matanya berkaca-kaca. "Aku jahat... aku menipu orang sebaik kalian."

Ia kembali mengelus perutnya. Suaranya kini sedikit bergetar, seperti seorang ibu yang berbicara pada anaknya, "Nak... ibu sudah terlalu banyak berbohong. Tapi ibu tidak ingin kamu lahir dalam kebohongan yang sama. Ibu ingin kamu tahu, kita harus jadi orang yang jujur... walaupun itu menyakitkan."

Air matanya menetes pelan. Perasaan bersalah itu semakin menghimpit dadanya. Ia sudah terlalu nyaman dengan perhatian yang diberikan, hingga melupakan bahwa semua ini hanya kesepakatan.

Kesepakatan yang penuh kebohongan.

Setelah menghapus air matanya, Raya bangkit dari duduknya, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kecil. Jarinya bergetar saat menekan nama Arya.

Ia menarik napas panjang sebelum menekan tombol panggil. Di telinganya terdengar nada sambung... satu kali, dua kali... hingga akhirnya terdengar suara dari seberang sana.

"Halo Assalamualaikum?" suara Arya terdengar sedikit tergesa, namun tetap tenang.

Raya sempat terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Walaiakumsalam, Arya... kamu sedang sibuk?"

"Aku masih di kantor, ada rapat barusan," jawab Arya. "Tapi aku sempat keluar, kenapa? Ada apa?"

Raya menggigit bibirnya. Suaranya sedikit bergetar. "Aku... aku ingin bicara. Tapi... lebih baik secara langsung."

Arya yang mendengar nada serius dari suara Raya langsung tahu, ini bukan hal biasa.

"Oke, aku akan pulang setelah selesai. Tunggu aku ya, jangan dipendam sendiri," kata Arya, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut dan menenangkan.

"Terima kasih..." jawab Raya lirih, sebelum akhirnya menutup telepon.

Ia memeluk ponselnya erat-erat, lalu menatap kembali ke luar jendela. Hujan masih turun. Tapi kali ini, tetesannya terasa seperti menyatu dengan air mata yang belum berhenti dari wajahnya.

Arya kembali memasuki ruang rapat dengan wajah serius. Tatapannya tertuju pada layar presentasi yang baru saja dimatikan. Ia mengambil kembali posisinya di ujung meja dan menatap klien mereka dengan tenang.

"Silakan lanjutkan," ucap Arya singkat.

Klien pun kembali menjelaskan beberapa poin terakhir dari proposal kerjasama yang sebelumnya tertunda karena panggilan telepon tadi. Arya mendengarkan dengan seksama, meski pikirannya masih sedikit tertinggal pada suara serius Raya di telepon. Ia mencoba fokus, mencatat poin-poin penting sambil beberapa kali mengangguk.

Tak lama kemudian, setelah beberapa lembar dokumen ditandatangani, kesepakatan pun tercapai. Para klien berdiri, berjabat tangan dengan Arya, dan meninggalkan ruangan dengan wajah puas.

Begitu ruangan kembali sepi, Irsyad mendekat dan bersiap memberikan jadwal pertemuan selanjutnya. "Pak, setelah ini ada jadwal pertemuan dengan-"

Namun Arya langsung memotongnya, merapikan jasnya sambil berdiri. "Batalkan. Saya harus pulang."

Irsyad menatap Arya dengan alis terangkat. "Pulang, Pak? Baru jam empat sore."

"Raya ingin bicara. Nada suaranya tadi... serius."

Mata Irsyad menyipit, lalu tersenyum penuh makna. "Wah... serius? Sepertinya bukan cuma pura-pura, ya. Emmm... sudah saya katakan kalau Bos ini sudah ja--"

Arya melemparkan tatapan tajam, seperti biasanya tiap kali digoda Irsyad. "Sudah kubilang, jangan sok tahu."

"Yah, saya cuma kasihan aja sama hati Bapak yang ngotot menyangkal, padahal wajahnya udah ngaku duluan," canda Irsyad, sambil mengangkat tangan menyerah.

Arya menghela napas kasar, lalu mengambil mapnya dan melangkah cepat keluar ruangan. "Saya pulang. Jangan ganggu sampai saya bilang bisa dihubungi."

"Siap, Pak!" sahut Irsyad sambil menahan tawa.

Begitu Arya meninggalkan kantor, Irsyad hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil. "Pura-pura, tapi perhatian... Ya ampun, kalau itu bukan cinta, saya nggak tahu lagi."

Sementara itu, Arya melesat dengan mobilnya menuju rumah. Pikirannya penuh tanda tanya apa yang ingin Raya bicarakan? Kenapa nada suaranya tadi begitu berat dan dalam? Rasa penasarannya bercampur dengan kekhawatiran. Apakah ada sesuatu yang membuat Raya merasa tak nyaman?

Jalanan sore itu tidak terlalu padat, dan Arya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, namun stabil. Di balik kemudinya, pikirannya terus melayang. Sekilas ia teringat bagaimana Raya memeluk perutnya beberapa waktu lalu, dan bagaimana dia tersenyum kecil ketika bersama keluarganya. Semua itu... tak terasa hanya pura-pura. Ada rasa nyata yang menyelinap, yang tak bisa lagi ia abaikan.

Beberapa menit kemudian, mobil Arya berhenti di depan rumah. Tanpa membuang waktu, ia segera keluar dan berjalan cepat menuju pintu utama.

Nafasnya sedikit berat, bukan karena lelah, tapi karena detak jantungnya yang terus berdetak kencang sejak tadi-membayangkan apa yang akan dikatakan Raya.

Sesampainya di depan kamar Raya, Arya mengetuk pelan. Tok... tok... tok...

Tak lama, pintu itu terbuka, menampilkan wajah Raya yang terlihat bingung sekaligus sedikit canggung.

"Mau bicara apa?" tanya Arya lembut, nadanya tenang.

Raya memiringkan kepala. "Di kamar?"

Arya mengangkat bahu. "Kalau kamu nyaman."

Raya sontak melotot. "Di taman belakang aja."

Arya terkekeh pelan, "Oke, oke."

Baru saja mereka melangkah ke arah taman belakang, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Bu Atika dan Pak Harun muncul, tampaknya hendak menuju kamar Raya. Mereka langsung terhenti saat melihat Arya dan Raya berdiri berdampingan.

"Oh, Arya? Kamu sudah pulang?" ujar Pak Harun dengan nada menggoda.

Arya mengangguk. "Iya, Yah. Baru sampai."

Pak Harun menyeringai. "Wah, belum jadi suami sah aja udah nggak sabar pulang, ya?"

Raya tersedak pelan mendengar itu, sementara Arya hanya bisa tertawa kecil. "Namanya juga calon suami bertanggung jawab," jawab Arya santai.

Raya mencubit pelan lengan Arya dari belakang, membuat Arya menahan senyum sambil tetap terlihat kalem di depan orang tuanya.

"Kami tadinya mau ajak Raya ikut ke pengajian, Arya. Daripada dia di rumah terus," ujar Bu Atika dengan wajah lembut.

Arya langsung menimpali dengan nada pelan namun mantap. "Ma, jangan terlalu sering mengekspos Raya dulu. Dia belum terbiasa. Kalau soal pengajian... saya punya banyak rekaman ceramah. Nanti saya kasih ke Raya. Temanya tentang menjadi ibu dan istri yang baik."

Raya langsung menoleh tajam ke arah Arya, matanya membelalak. "Istri?" bisiknya pelan, namun tajam.

Arya hanya menatapnya dengan senyum usil. "Iya, biar kamu siap. Kan latihan jadi istri yang baik itu penting."

Raya mendengus kesal, tapi tak bisa membantah di hadapan kedua orang tua Arya yang masih berdiri di sana. Bu Atika justru tersenyum senang.

"Ya sudah, kalau begitu Mama dan Ayah berangkat dulu, ya."

"Ati-ati, Ma, Yah," ucap Arya sambil mengangguk sopan.

Begitu kedua orang tua Arya berlalu, keheningan langsung menyelimuti mereka. Raya menatap Arya tajam sambil melipat tangan di depan dada. "Kenapa sih kamu suka--"

"Itu bagian dari permainan kita, hehehe." Arya tertawa pelan, menuruni dua anak tangga menuju taman belakang.

Raya mengikutinya sambil mendengus. Taman belakang rumah itu begitu asri. Angin sore berhembus pelan, dan langit mulai menguning keemasan. Di sana, di bawah pohon mangga tua yang rindang, mereka duduk berdua di bangku kayu.

"Aku serius, Arya," ucap Raya membuka percakapan. "Ada yang ingin aku sampaikan."

Arya mengangguk, menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku. "Aku dengar."

Raya menarik napas dalam. "Aku... merasa bersalah. Pada Ibu dan Ayahmu. Mereka terlalu baik padaku. Bahkan sejak aku datang, belum pernah sekalipun mereka membuat aku merasa rendah atau tidak berharga. Aku merasa... aku menipu mereka."

Arya diam, memandang wajah Raya yang mulai tertunduk. Ia bisa melihat rasa bersalah yang mendalam di matanya.

"Kamu nggak menipu mereka," ujar Arya lembut.

"Tapi aku berpura-pura, Arya," kata Raya lirih. "Berpura-pura jadi pacarmu. Mereka percaya padaku. Padahal semuanya bohong."

Arya menarik napas panjang, lalu menoleh menatapnya. "Raya, kamu berpura-pura karena aku yang memintanya. Ini semua rencanaku. Jadi kalau ada yang salah, itu salahku."

"Tetap saja... mereka memperlakukanku seperti anak sendiri. Aku merasa kecil tiap kali melihat kebaikan mereka."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Angin kembali berhembus, menyapu hijab panjang Raya yang tergerai.

"Aku nggak tahu harus sampai kapan semua ini akan berlanjut," bisik Raya. "Tapi aku tahu, aku nggak akan kuat terus menipu mereka."

Arya diam sesaat, lalu berkata dengan pelan, "Kalau kamu mau, kita bisa bicara soal ini. Pelan-pelan. Kita atur ulang semuanya."

Raya menoleh padanya, mata mereka bertemu dalam diam.

"Bukan hanya soal pura-pura ini, Arya... aku juga takut. Takut saat semuanya berakhir, aku nggak lagi punya tempat pulang."

Kalimat itu menusuk hati Arya. Ia menatap wajah Raya lama, ingin berkata sesuatu... namun bibirnya hanya mampu membentuk senyuman kecil.

"Kamu udah punya tempat, Raya. Di sini... selama kamu mau."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!