"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3. Jejak Digital Berdarah
Hana Tanaka mematikan ponsel tuanya dengan tangan yang terus bergetar hebat. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga dadanya terasa sangat sesak sekarang. Layar ponsel itu kini sudah menjadi gelap dan menyisakan pantulan wajahnya yang pucat. Dia masih bisa melihat bayangan wajah ibunya yang ketakutan di dalam kepalanya.
Pria berbaju hitam tadi benar-benar menunjukkan sebuah ancaman yang nyata bagi nyawa ibunya. Hana jatuh terduduk di atas lantai apartemennya yang berantakan karena digeledah orang asing. Dia merasa dunianya baru saja runtuh berkeping-keping tanpa menyisakan harapan sedikit pun.
Ini adalah bentuk gacha kehidupan (penentu nasib) yang paling buruk yang pernah dia terima selama ini. Dia lahir di keluarga yang miskin dan kini dia harus menghadapi para penculik kejam. Hana tidak pernah meminta untuk terlibat dalam masalah politik atau data rahasia sekolah. Dia hanya ingin hidup tenang dan bisa makan dengan kenyang setiap harinya bersama ibu.
Namun, sekarang ibunya justru menjadi sandera karena data yang dia sendiri tidak memilikinya. Hana merangkul lututnya yang masih berdarah karena jatuh di atap sekolah tadi sore. Dia menangis tersedu-sedu di tengah ruangan apartemennya yang kini terasa sangat asing.
Hana menyadari bahwa dia tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian sekarang juga. Dia harus menghubungi seseorang yang mengetahui tentang data donatur gelap sekolah tersebut. Nama Akane Sato langsung terlintas di dalam pikiran Hana yang sedang sangat kacau.
Akane adalah satu-satunya orang yang menunjukkan data rahasia itu di atap sekolah tadi. Hana merogoh tas sekolahnya untuk mencari nomor kontak Akane yang pernah dia simpan. Dia menemukan kartu nama kecil milik Akane yang terselip di dalam buku pelajarannya. Dengan jari yang gemetar dia menekan nomor telepon Akane dan menunggu jawaban panggilan.
"Halo... Akane... tolong aku," ucap Hana dengan suara yang hampir menghilang karena tangis.
Suara di ujung telepon terdengar sangat terkejut saat mendengar suara isakan dari Hana. Akane Sato segera menanyakan lokasi Hana berada dengan nada suara yang sangat cemas. Hana menceritakan kejadian penculikan ibunya dengan kalimat yang tidak beraturan karena panik.
Dia menyebutkan tentang pesan di cermin dan panggilan video yang sangat mengerikan tadi. Akane meminta Hana untuk segera meninggalkan apartemen tersebut demi keamanan dirinya sendiri. Akane menginstruksikan Hana untuk menemuinya di sebuah kafe internet di daerah Shinjuku.
Hana segera bangkit berdiri dan mengambil tas sekolahnya yang sudah sangat lusuh. Dia tidak berani membawa barang lain karena dia harus bergerak dengan sangat cepat. Dia berlari keluar dari apartemennya tanpa berani melihat ke belakang sama sekali. Dia menuruni tangga apartemen dengan terburu-buru hingga hampir terjatuh kembali.
Jalanan di pinggiran kota Tokyo terasa sangat dingin dan mencekam bagi diri Hana. Dia merasa setiap orang yang dia temui adalah bagian dari komplotan penculik ibunya. Hana naik ke dalam kereta terakhir yang menuju ke arah pusat kota Shinjuku.
Di dalam kereta api Hana mencoba mengatur napasnya yang masih sangat pendek. Dia melihat orang-orang kantoran yang baru pulang kerja dengan wajah yang sangat lelah. Mereka semua tidak menyadari bahwa ada seorang remaja perempuan yang sedang menderita di samping mereka. Hana merasa sangat terasing di tengah keramaian kota Tokyo yang sangat megah.
Ini adalah realitas sosial yang sangat menyakitkan bagi orang-orang kecil seperti dirinya. Tidak ada sistem keamanan yang bisa melindungi orang miskin dari ancaman para penguasa. gacha kehidupan (penentu nasib) benar-benar menentukan siapa yang layak dilindungi dan siapa yang boleh dibuang.
Kereta sampai di stasiun Shinjuku dan Hana segera melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Dia mencari papan nama kafe internet yang disebutkan oleh Akane di telepon tadi. Shinjuku pada malam hari terlihat sangat terang dengan jutaan lampu neon warna-warni.
Dia melewati area ‘Toho-yoko’ di mana banyak remaja seusianya sedang berkumpul liar. Beberapa remaja tampak sedang tertawa sambil merokok di sudut-sudut jalan yang gelap. Mereka terlihat sangat bebas namun Hana tahu mereka juga sedang lari dari kenyataan pahit. Hana tidak punya waktu untuk mempedulikan mereka karena nyawa ibunya sedang terancam.
Hana akhirnya menemukan pintu masuk kafe internet yang terlihat sangat kumuh tersebut. Dia menaiki tangga sempit yang baunya sangat menyengat dengan aroma rokok dan kopi. Di lantai dua dia melihat Akane Sato sedang berdiri menunggu di depan meja resepsionis.
Akane memakai topi hitam dan masker untuk menutupi wajahnya yang sangat mencolok itu. Dia segera menarik tangan Hana dan membawanya menuju sebuah ruangan privat di pojok. Ruangan itu sangat kecil dan hanya berisi sebuah komputer tua dan dua buah kursi.
"Maafkan aku Hana... ini semua adalah kesalahanku," kata Akane dengan nada suara yang penuh penyesalan.
Akane merasa sangat bersalah karena telah menunjukkan data itu kepada Hana di atap sekolah. Dia tidak menyangka bahwa musuh-musuhnya akan bergerak secepat ini untuk meneror Hana.
Akane menjelaskan bahwa data tersebut memang sangat dicari oleh banyak pihak yang berkuasa. Data donatur gelap itu berisi bukti korupsi besar yang melibatkan pejabat tinggi negara. Sekolah mereka hanyalah tempat pencucian uang bagi para politisi busuk di pemerintahan. Akane ingin menggunakan data itu untuk membongkar kebusukan mereka ke mata publik luas.
Pintu ruangan privat itu tiba-tiba diketuk oleh seseorang dari arah luar dengan pelan. Hana tersentak kaget dan hampir saja berteriak karena merasa sangat ketakutan sekali. Akane memberi kode kepada Hana untuk tetap diam dan tidak mengeluarkan suara apa pun.
Akane membuka pintu sedikit dan muncul seorang remaja laki-laki dengan kacamata tebal. Dia adalah Yuki Nakamura yang tadi namanya sempat disebut oleh Akane di atap sekolah. Yuki masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah laptop yang terlihat sangat canggih.
Yuki Nakamura adalah seorang jenius teknologi yang sangat tertutup di sekolah mereka. Dia jarang sekali bergaul dengan siswa lain dan lebih suka berada di ruang komputer. Wajah Yuki terlihat sangat datar dan dia tidak menunjukkan emosi yang berlebihan sekarang.
Dia segera meletakkan laptopnya di atas meja dan mulai menekan tombol-tombol dengan cepat. Yuki mulai melacak asal panggilan video yang diterima oleh Hana di apartemen tadi. Jarinya bergerak sangat lincah di atas papan ketik seolah dia sedang menari.
"Aku butuh waktu sepuluh menit untuk menemukan lokasi mereka," ujar Yuki dengan suara yang dingin.
Hana menatap layar laptop Yuki yang penuh dengan deretan angka dan kode yang rumit. Dia tidak mengerti apa pun tentang dunia peretasan digital yang sedang dilakukan Yuki. Namun dia menaruh harapan besar pada keahlian remaja laki-laki yang pendiam tersebut.
Akane memberikan segelas air putih hangat kepada Hana agar dia bisa sedikit tenang. Hana meminum air itu dengan perlahan sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Dia merasa sedikit lebih aman karena sekarang dia tidak sendirian lagi menghadapi penculik.
Yuki menjelaskan bahwa para penculik itu menggunakan jaringan telepon yang sangat rahasia. Mereka menggunakan server luar negeri untuk menyembunyikan jejak digital mereka dari polisi. Namun, Yuki telah menanamkan sebuah virus pelacak kecil di dalam file data donatur.
Setiap kali seseorang mencoba mengakses data itu maka lokasi mereka akan terdeteksi otomatis. Yuki berhasil menembus lapisan keamanan pertama dari jaringan penculik yang sangat kuat itu. Hana melihat sebuah peta digital muncul di layar laptop milik Yuki tersebut sekarang.
Sebuah titik merah kecil mulai berkedip-kedip di sebuah area pelabuhan di pinggiran Tokyo. Lokasi itu adalah sebuah gudang tua yang sudah tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun. Tempat itu sangat tersembunyi dan jauh dari pemukiman warga yang padat penduduknya.
Akane menatap titik merah itu dengan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan besar. Dia tahu bahwa tempat itu sering digunakan oleh mafia untuk melakukan transaksi gelap. Akane merasa mereka tidak boleh memanggil polisi sekarang karena nyawa ibu Hana terancam.
"Polisi tidak akan membantu kita karena mereka sudah dibayar oleh para donatur," kata Akane tegas.
Hana merasa sangat putus asa saat mendengar kenyataan pahit dari mulut Akane tersebut. Dia menyadari bahwa hukum di negara ini tidak berlaku bagi orang-orang yang berkuasa. Mereka bisa melakukan apa saja tanpa perlu takut akan hukuman penjara dari pemerintah.
Ini adalah bentuk ketidakadilan sistem yang sangat nyata dialami oleh rakyat kecil. Hana merasa sangat benci pada dirinya sendiri karena dia merasa sangat tidak berdaya. Dia ingin segera pergi ke gudang itu dan menyelamatkan ibunya dengan tangannya sendiri.
Yuki tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya dan menatap layar laptop dengan ekspresi serius. Dia menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan di dalam jaringan komunikasi para penculik itu. Ternyata ada orang lain yang sedang memantau percakapan mereka di kafe internet ini.
Seseorang telah memasang penyadap digital di ponsel milik Hana tanpa dia sadari sebelumnya. Yuki segera mematikan ponsel Hana dan mencabut baterainya dengan gerakan yang sangat kasar. Hana terkejut melihat tindakan Yuki yang sangat tiba-tiba dan terlihat sangat panik.
"Mereka tahu kita ada di sini sekarang juga," bisik Yuki dengan nada suara yang sangat cemas.
Suasana di dalam kafe internet itu mendadak menjadi sangat menegangkan bagi mereka bertiga. Mereka mendengar suara langkah kaki yang sangat berat menaiki tangga menuju lantai dua. Suara langkah itu terdengar seperti suara sepatu bot militer yang sangat keras tekanannya.
Akane segera mematikan lampu di dalam ruangan privat mereka agar tidak terlihat. Dia mengintip melalui celah kecil di pintu untuk melihat siapa yang sedang datang. Akane melihat dua orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam sedang berjalan.
Pria-pria itu membawa alat deteksi sinyal elektronik di tangan kanan mereka masing-masing. Mereka sedang memeriksa setiap ruangan privat di kafe internet itu dengan sangat teliti. Hana menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara napasnya tidak terdengar keluar.
Air mata Hana kembali mengalir karena dia merasa ajal mereka sudah sangat dekat sekali. Akane memegang sebuah botol kaca kosong yang dia temukan di bawah meja kecil itu. Dia bersiap untuk melakukan perlawanan fisik jika mereka benar-benar ditemukan oleh penculik.
Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari arah meja resepsionis kafe internet tersebut di depan. Seorang remaja laki-laki lain muncul dan mulai berteriak-teriak tidak jelas di sana.
Remaja itu terlihat seperti orang mabuk yang sedang mencari masalah dengan penjaga kafe. Dia menendang kursi dan menjatuhkan beberapa kaleng minuman di atas lantai dengan keras. Perhatian kedua pria berjaket kulit itu langsung teralih menuju arah suara kegaduhan. Mereka segera berlari menuju meja resepsionis untuk membungkam remaja yang berisik tersebut.
"Sekarang adalah kesempatan kita untuk lari dari sini," bisik Akane sambil menarik tangan Hana.
Yuki dengan cepat memasukkan laptopnya ke dalam tas punggungnya yang berukuran besar. Mereka bertiga keluar dari ruangan privat melalui pintu belakang yang menuju tangga darurat. Tangga itu sangat sempit dan gelap karena lampunya sudah mati sejak lama sekali.
Mereka menuruni tangga dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gaduh sedikit pun. Hana merasa sangat bersyukur karena ada remaja mabuk yang mengalihkan perhatian penculik tadi. Dia tidak tahu bahwa remaja mabuk itu adalah bagian dari rencana seseorang.
Mereka sampai di gang sempit yang berada di belakang gedung kafe internet tersebut. Di sana sudah menunggu seorang remaja laki-laki yang berdiri di samping sebuah motor. Remaja itu adalah Ren Ishida yang tadi sore mereka temui di atap sekolah.
Ren tidak terlihat seperti orang yang sedang cedera kaki lagi sekarang ini. Dia memberikan isyarat kepada mereka untuk segera masuk ke dalam sebuah mobil tua. Mobil itu terparkir di ujung gang dan mesinnya sudah dalam keadaan menyala.
"Masuklah ke dalam mobil itu secepat mungkin," perintah Ren dengan nada suara yang dingin.
Hana dan Yuki segera masuk ke dalam mobil tua itu melalui pintu bagian belakang. Akane duduk di kursi samping pengemudi sementara Ren yang menjadi sopir mobil tersebut. Ren segera menginjak gas dan membawa mobil itu pergi meninggalkan area Shinjuku.
Dia mengemudikan mobil dengan sangat lincah melewati jalanan sempit yang berliku-liku tajam. Hana merasa sangat bingung dengan kehadiran Ren yang tiba-tiba membantu mereka berdua. Dia merasa tidak ada orang yang bisa dipercaya sepenuhnya di sekolah mereka sekarang.
Ren menjelaskan bahwa dia adalah orang yang tadi pura-pura mabuk di dalam kafe. Dia sengaja melakukan hal itu untuk memberikan waktu bagi Akane dan Hana melarikan diri. Ren ternyata sudah lama memantau pergerakan orang-orang berjaket kulit hitam tersebut di sekolah.
Dia tahu bahwa Hana sedang dalam bahaya besar sejak dompetnya jatuh tadi sore. Ren memiliki agenda sendiri untuk menghancurkan yayasan sekolah yang telah merusak kariernya. Dia merasa memiliki musuh yang sama dengan Akane dan juga Hana Tanaka sekarang.
"Jangan percaya pada siapa pun tapi kita harus bekerja sama sekarang," kata Ren tegas.
Hana hanya bisa terdiam dan mendengarkan penjelasan dari Ren Ishida yang sangat misterius. Dia merasa gacha kehidupan (penentu nasib)nya kini telah mempertemukannya dengan orang-orang yang aneh. Namun, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti rencana yang dibuat oleh mereka. Perjalanan menuju gudang tua di pelabuhan akan memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Hana menatap ke luar jendela mobil dan melihat gedung-gedung tinggi yang berlalu cepat. Dia berdoa di dalam hati agar ibunya masih dalam keadaan sehat dan selamat.
Mobil tua itu melaju menembus kegelapan malam di jalan tol pinggiran kota Tokyo. Yuki kembali membuka laptopnya di dalam mobil untuk memantau pergerakan musuh mereka. Dia menemukan bahwa para penculik itu mulai bergerak meninggalkan gudang tua tersebut sekarang.
Mereka sepertinya menyadari bahwa lokasi mereka sudah berhasil dilacak oleh pihak lain. Yuki memberikan instruksi kepada Ren untuk mengambil jalan pintas menuju area pelabuhan. Mereka harus sampai di sana sebelum para penculik itu memindahkan ibu Hana pergi.
Hana merasa sangat cemas karena waktu mereka sangat terbatas untuk menyelamatkan sang ibu. Dia menggenggam tali tas sekolahnya hingga tangannya terasa sangat kaku dan pucat. Akane mencoba menenangkan Hana dengan memegang pundaknya dengan sangat lembut dan hangat.
Akane berjanji bahwa mereka akan menyelamatkan ibu Hana bagaimanapun caranya nanti di sana. Keberanian Akane memberikan sedikit kekuatan bagi Hana untuk terus bertahan hidup sekarang. Dia menyadari bahwa persahabatan ini mulai tumbuh di tengah badai masalah yang besar.
Dunia remaja mereka kini sudah berubah menjadi medan pertempuran politik yang sangat kejam. Mereka bukan lagi sekadar siswa yang belajar di dalam kelas yang membosankan itu. Mereka adalah para pejuang yang mencoba melawan sistem gacha kehidupan (penentu nasib) yang tidak adil.
Hana Tanaka bersumpah tidak akan membiarkan orang-orang jahat itu merusak keluarganya lagi. Dia akan menghadapi ketakutannya dan menunjukkan keberanian yang dia miliki sekarang juga. Masa depan mereka akan ditentukan oleh apa yang akan terjadi di gudang tua nanti.
Lampu-lampu jalanan mulai terlihat semakin jarang saat mereka memasuki area industri pelabuhan. Aroma laut yang asin mulai tercium masuk ke dalam kabin mobil yang pengap itu. Ren mematikan lampu depan mobil agar keberadaan mereka tidak mudah diketahui oleh musuh.
Dia menghentikan mobil di balik sebuah tumpukan kontainer besi yang sangat besar. Mereka semua keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat senyap dan hati-hati. Gudang tua yang menjadi target mereka sudah terlihat berdiri kokoh di depan mata.
"Ingat jangan melakukan gerakan tambahan tanpa instruksi dariku," bisik Ren kepada mereka.
Hana melihat beberapa pria bersenjata sedang berjaga di depan pintu masuk gudang tua. Dia merasa kakinya kembali lemas karena melihat senjata api yang sangat mengerikan itu. Namun dia melihat wajah ibunya yang menderita di dalam bayangan pikirannya sendiri.
Rasa cinta kepada ibunya jauh lebih besar daripada rasa takutnya terhadap kematian. Hana melangkah maju mengikuti jejak kaki Ren yang bergerak di balik bayangan kontainer. Pertempuran sesungguhnya untuk keadilan dan nyawa baru saja dimulai di pelabuhan malam ini.
Angin laut bertiup sangat kencang dan membuat rambut merah Akane berkibar dengan liar. Yuki terus memantau posisi musuh melalui perangkat pemindai panas di tablet miliknya sekarang. Mereka berempat berdiri di ambang maut demi sebuah data yang bisa mengubah negara.
Hana menyadari bahwa tidak ada jalan kembali lagi ke kehidupannya yang lama yang tenang. Dia harus maju dan memenangkan undian hidupnya kali ini dengan keberanian yang nyata. Kesunyian malam di pelabuhan Tokyo kini terasa sangat mencekam bagi siapa pun di sana.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍