NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Screams Next Door

Malam itu, hujan turun lebih deras dari biasanya, seolah-olah langit sedang berusaha menenggelamkan kota dalam kesunyian yang mencekam. Di paviliun, suasana seharusnya sudah mulai membaik setelah rekonsiliasi antara Jungkook dan V. Namun, udara di sekitar Shine terasa statis, berat oleh listrik yang tidak kasat mata.

Shine sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah apartemen mewah di seberang tembok kediaman Kim. Apartemen itu milik seorang konduktor musik ternama yang baru saja pindah sebulan lalu. Dari luar, tempat itu tampak elegan, dengan lampu-lampu kristal yang berpijar hangat. Namun, bagi mata seorang Oracle, keindahan itu hanyalah topeng dari kegelapan yang pekat.

Jungkook sedang di dapur, menyeduh susu cokelat hangat dengan sedikit kayu manis untuk membantu Shine tidur. Namun, tangannya mendadak berhenti bergerak saat ia merasakan detak jantung Shine—yang entah bagaimana kini terhubung dengan frekuensi jantungnya—melonjak drastis.

"Shine?" panggil Jungkook.

Di dekat jendela, tubuh Shine mulai bergetar hebat. Jari-jarinya mencengkeram kain gorden begitu kuat hingga terdengar bunyi robek yang halus.

Zapp!

Penglihatan itu datang tanpa permisi. Bukan lagi sekadar kilasan, melainkan sebuah proyeksi realitas yang begitu nyata hingga Shine merasa jiwanya ditarik paksa menyeberangi tembok tinggi itu.

Dunia Shine berubah menjadi kabur, lalu mendadak tajam dalam warna-warna yang menyakitkan mata.

Ia berada di dalam apartemen seberang. Ruangannya berantakan. Vas bunga pecah, dan kelopak mawar putih berserakan di atas genangan cairan merah kental. Di sudut ruangan, wanita yang dilihatnya kemarin—istri sang konduktor—tersungkur di lantai. Wajahnya nyaris tidak dikenali. Pria itu, sang konduktor yang biasanya terlihat begitu karismatik di atas panggung, kini berdiri dengan napas memburu, memegang tongkat baton logam yang ujungnya berlumuran darah.

"Kau merusak tempo laguku lagi!" teriak pria itu dengan suara yang melengking gila. "Kau selalu merusak segalanya!"

Tongkat itu diayunkan lagi. Bunyi hantaman logam pada daging terdengar begitu memilukan. Wanita itu tidak lagi menjerit; ia hanya mengeluarkan suara desisan pendek yang penuh rasa sakit sebelum tubuhnya terkulai sepenuhnya di atas karpet mahal itu.

"TIDAK! HENTIKAN! TOLONG!"

Shine menjerit histeris. Suaranya pecah, memenuhi setiap sudut paviliun yang sunyi. Ia jatuh bertumpu pada lututnya, kedua tangannya menutupi telinga seolah-olah jeritan wanita dalam penglihatannya masih menggema di otaknya.

Jungkook melepaskan cangkir susu itu—membiarkannya pecah berantakan di lantai dapur—dan menerjang ke arah Shine. Ia tidak peduli pada pecahan kaca yang mungkin melukai kakinya. Pikirannya hanya terpusat pada gadis yang kini tampak seperti sedang mengalami kejang hebat di lantai.

"Shine! Shine, ini aku! Lihat aku!" Jungkook menarik Shine ke dalam dekapannya, merengkuh tubuh kecil itu dengan kekuatan yang putus asa.

"Darah... Jungkook, banyak darah di sana... dia akan membunuhnya! Dia sedang membunuhnya sekarang!" Shine mencengkeram kaos hitam Jungkook, kuku-kukunya masuk ke dalam kulit lengan Jungkook hingga menimbulkan luka gores, namun Jungkook tidak bergeming.

Shine mulai mengalami hiperventilasi. Matanya yang biasanya jernih kini memutih, tanda bahwa jiwanya masih terjebak di antara dua dimensi. Badai energi yang terpancar dari tubuh Shine membuat lampu-lampu di paviliun berkedip liar, dan beberapa bingkai foto di atas nakas jatuh tersungkur.

"Dengarkan suaraku, Shine! Hanya suaraku!" Jungkook menekan kepala Shine ke dadanya, mencoba menutup indra gadis itu dengan keberadaan fisiknya. "Kau di paviliun. Kau bersamaku. Kau aman. Tarik napas, Sayang... tarik napas untukku."

Jungkook menenggelamkan wajahnya di leher Shine, menyalurkan energi matahari yang paling murni ke dalam titik saraf pusat gadis itu. Ia membiarkan kontak kulit mereka terjadi secara maksimal, mencoba menjadi jangkar bagi jiwa Shine yang sedang hanyut dalam samudera rasa sakit orang lain.

Perlahan, getaran di tubuh Shine mulai mereda, meski isak tangisnya masih terdengar menyayat hati.

"Dia... dia masih di sana, Jungkook. Aku bisa merasakannya... napas wanita itu semakin lemah," rintih Shine di dalam pelukan Jungkook. "Kita harus melakukan sesuatu. Jika tidak, malam ini akan ada nyawa yang hilang."

Jungkook melepaskan dekapannya sedikit, menatap wajah Shine yang basah oleh air mata dan keringat dingin. Matanya berkilat dengan kemarahan yang tenang namun mematikan. Ia melirik ke arah jendela, ke arah apartemen di seberang sana.

"Aku akan pergi ke sana," ucap Jungkook. Suaranya dingin, jenis suara yang menjanjikan kehancuran bagi siapa pun yang menjadi targetnya.

"Jangan, Jungkook! Dia berbahaya, dia punya senjata!" Shine mencoba menahan lengan Jungkook.

Jungkook meraih tangan Shine, mencium telapak tangannya dengan lembut namun penuh otoritas. "Dia hanya seorang pengecut yang menggunakan tongkat untuk menyakiti wanita. Sementara aku? Aku adalah pria yang bersumpah untuk menjaga jiwamu, Shine. Jika pria itu membuatmu berteriak ketakutan seperti tadi, maka dia sudah mencari masalah dengan orang yang salah."

Jungkook mengangkat Shine dan mendudukkannya di sofa dengan hati-hati. Ia mengambil selimut wol dan membungkus tubuh Shine. "Tetap di sini. Jangan coba-coba mengintip lagi. Pejamkan matamu dan pikirkan aroma masku yang sedang kita buat tadi pagi. Kau mengerti?"

Shine mengangguk lemah, masih gemetar. "Cepatlah kembali... tolong..."

Jungkook tidak menjawab. Ia hanya memberikan satu ciuman singkat namun sangat dalam di dahi Shine—sebuah janji kepulangan. Kemudian, ia berbalik. Ia tidak mengambil kunci, ia hanya mengambil sebilah pisau dapur berukuran kecil yang ia selipkan di balik ikat pinggang belakangnya, tertutup oleh kaos hitamnya.

Di ambang pintu, ia berpapasan dengan RM yang berlari menuju paviliun karena mendengar jeritan Shine.

"Jungkook! Apa yang terjadi?" tanya RM dengan napas terengah.

"Jaga Shine. Jangan biarkan dia melihat ke luar jendela," perintah Jungkook dengan nada yang tidak bisa dibantah, bahkan oleh asisten kepercayaan keluarga Kim sekalipun. "Aku akan pergi ke apartemen seberang untuk menghentikan sebuah pembunuhan."

"Tapi—"

"Lakukan saja, Namjoon-ssi! Atau kau akan melihat Shine kehilangan kewarasannya malam ini!" bentak Jungkook.

Tanpa menunggu balasan, Jungkook menghilang ke dalam kegelapan hujan. Ia memanjat tembok pembatas dengan ketangkasan yang luar biasa, melompat menuju area apartemen mewah itu. Di dalam kepalanya, hanya ada satu melodi yang bergema: kemarahan yang terukur.

Di dalam paviliun, Shine meringkuk di bawah selimut, memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan energi Jungkook yang menjauh, namun anehnya, ia juga merasakan sebuah koneksi baru. Melalui kalung "JK" di lehernya, ia seolah bisa merasakan setiap langkah kaki Jungkook yang menginjak rumput basah, setiap detak jantung pria itu yang kini dipenuhi oleh insting untuk melindungi.

"Jungkook... tolong selamatkan dia," bisik Shine dalam kegelapan.

Malam itu, di apartemen mewah yang tampak tenang di permukaan, seorang konduktor musik akan segera menyadari bahwa tidak semua melodi bisa ia kendalikan. Karena malam ini, sebuah "instrumen" yang jauh lebih kuat dan berbahaya telah datang untuk mematahkan batonnya selamanya.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!