Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
War
## SELAMAT MEMBACA ##
Ketenangan markas "The Unit" di Jakarta pecah saat sebuah peringatan berwarna merah berkedip di monitor raksasa milik Wira.
"Beep! Beep! Beep!"
Suara alarm yang nyaring membuat Arsen yang sedang membaca buku taktik dan Aurora yang sedang melatih ketepatan tendangan refleksnya langsung siaga.
"Wira, status!" perintah Arsen tegas.
"Seseorang mencoba menembus protokol perlindungan privasi yang kupasang di laptop Kak Aira di London," jawab Wira, jemarinya bergerak secepat kilat di atas keyboard. "Bukan peretas amatir. Orang ini menggunakan enkripsi berlapis. Dia tahu aku sedang mengawasinya."
Wira dengan sigap memasang pertahanan sistemnya. Jari jemarinya bergerak cepat bahkan sangat cepat untuk bertarung di jalur maya. Dia tidak segan-segan untuk memberikan serangan balik kepada lawan misteriusnya dengan memasang jebakan di berbagai titik tertentu.
"Wira, bagaimana?" Tanya Aurora.
"Sebentar, dia terus menyerangku. Tapi tenang saja, aku akan memberikan kejutan untuknya. Berani - beraninya dia ingin menerobos sistem keamanan yang aku buat. Aku sudah membuat sistem bayangan untuk mengecohnya."
*CTAK!*
Sentuhan terakhir pada tombol keyboard sebagai tanda bahwa Wira telah selesai memasang jebakannya.
"Oke, selesai! Kita tunggu saja tikus masuk ke kandang kita." Wira menyeringai puas.
"Kerja bagus, Wira. Jika kau kesulitan aku akan turun tangan juga", jawab Arsen.
"Sepertinya tidak perlu, kak. Aku sanggup mengatasi kekacauan kecil ini."
Arsen mengangguk sebagai jawabannya.
*
*
Di London, Aira sedang duduk di kamar asramanya yang nyaman, sama sekali tidak sadar bahwa di rumah sebelah asrama tersebut, seorang remaja laki-laki berkacamata bernama Oliver Johson—si jenius matematika pemenang olimpiade nasional Inggris—sedang asyik dengan komputernya. Oliver merasa tertantang karena sistem keamanan di asrama Aira memiliki firewall yang jauh lebih kuat daripada milik kementerian pertahanan.
"Siapa gadis ini? Kenapa laptopnya punya sistem keamanan tingkat militer?" gumam Oliver yang tidak sengaja menyentuh sistem keamanan di area salah satu kamar, yaitu Aira.
Kembali ke Jakarta, Arkan masuk ke markas sambil membawa camilan cokelat. "Ada perang ya, kok sibuk sekali kalian? Apa kalian perlu bantuan? Kalau boleh, aku bisa pakai teknik 'Hujan Pesan Singkat'! Itu hasil penemuan ku akhir-akhir ini. Ya... hitung-hitung sebagai uji coba. Hehehe...."
"Jangan, Arkan! Ini perang tingkat tinggi," cegah Wira. "Dia baru saja mencoba mematikan kamera pengawas di Kak Aira secara paksa. Aku sudah membalasnya. Aku barusan mengirimkan 'kado' kecil berupa virus pop-up wajah Kak Arsen yang sedang marah! Hahahaha.....ups" Wira keceplosan, ternyata disaat menjebak musuh dia masih berpikiran untuk usil terhadap ketua agennya. Sungguh laknat sekali. Tidak disangka Wira juga ketularan absurb Arsen dan Arkan.
Sedangkan di sisi Arsen, wajahnya merah padam kala mendengar ucapan Wira.
"WIRA! Apa yang kau lakukan?! Cepat hapus foto memalukan itu!!!" Suaranya terdengar dingin dan tajam. Tiba-tiba aura diruang 'The Unit' terasa begitu mencekam.
"Hehehehe.....i-ya Kak Arsen. Fotonya aku buat sedikit buram, kok." Bela Wira kepada Arsen.
"WIRA! Cepat hapus...atau kau ingin hukuman dariku?!!" tekan Arsen
"I-ya, ini aku ganti foto Monyet kok. Hehehe...peace kak", Wira lebih baik mengganti foto Arsen dengan monyet saja. Daripada nanti diberikan misi random lagi oleh Arsen.
"Pfffttt....rasain!" Ejek Arkan sambil menahan tawanya. Sedangkan Auorara menghela nafas karena sudah hafal dengan tabiat masing-masing anggotanya.
Pertempuran siber antar benua pun terjadi. Selama dua jam, Wira dan Oliver saling serang dan bertahan. Wira berhasil meretas lampu kamar Oliver dan membuatnya berkedip-kedip dalam kode morse yang berbunyi: *"GO AWAY"*. Oliver membalas dengan meretas speaker di markas Wira dan memutar lagu kebangsaan Inggris dengan volume penuh.
"Cukup!" seru Arsen. "Wira, kalau kau teruskan, Paman Galih akan mendeteksi aktivitas ilegal ini. Gunakan jalur diplomasi."
Wira akhirnya berhenti menyerang. Ia membuka sebuah jendela obrolan (chat box) yang muncul langsung di layar monitor Oliver di London.
Wira_Satya:** *"Who are you? Stop poking around my sister's system!"*
Oliver_LDN:** *"Your sister? I thought she was a secret agent. Her firewall is insane. I'm just your neighbor, mate. Oliver."*
[Wira_Satya:** *"Siapa kau? Berhenti mengutak-atik sistem kakakku!"*
Oliver_LDN:** *"Kakakmu? Kukira dia agen rahasia. Firewall-nya gila. Aku hanya tetanggamu, kawan. Oliver."*]
"SIAL! Kak, dia Oliver. Sepertinya dia tidak takut dengan sebuah ancaman." terang Wira.
"Aku akan turun tangan. Kalian setuju atau tidak, terserah! Ini menyangkut privasi kakakku!" sela Arkan yang merasa terpancing untuk ikut bertarung di dunia Cyber.
----Posisi London----
Aira, yang akhirnya menyadari laptopnya mengeluarkan suara aneh, membuka pintu kamarnya dan melihat ke rumah sebelah. Ia melihat Oliver melambaikan tangan dari balik jendela dengan wajah pucat karena baru saja melihat "virus" wajah Arsen yang terlihat matanya saja saat sedang melotot disusul gambar Monyet yang menyeramkan serta 'Hujan Pesan Singkat ' karya Arkan di layarnya.
Aira merasa ada yang tidak beres, kemudian dia kembali ke kamarnya dan mengecek apa yang terjadi. Dia syok dan lebih mencengangkan adalah pesan aneh yang disampaikan oleh adiknya kepada Oliver. Tentu saja Aira dapat melacak semua kejadian hari ini, dia juga jenius meskipun tak seahli Wira dan Arsen.
'Hujan Pesan Singkat ' dari Arkan : **"Your data has been encrypted by a mysterious hacker. Your digital death is near. You have been cursed online! The Kambing Congek Military Command (Khodam) is targeting your IP address! If you don't know 'Kambing Congek', he is the goat that inhabits the body of my beautiful sister, Aira. If you meet him, immediately wave your hand. If you don't want to be cursed to turn into stone."**
[""Data Anda telah dienkripsi oleh peretas misterius. Kematian digital Anda sudah dekat. Anda telah dikutuk secara online! Komando Militer (Khodam) Kambing Congek menargetkan alamat IP Anda! Jika Anda tidak mengenal 'Kambing Congek', dia adalah kambing yang mendiami tubuh saudari saya yang cantik, Aira. Jika Anda bertemu dengannya, segera lambaikan tangan Anda. Jika Anda tidak ingin dikutuk berubah menjadi batu."]
Aira segera menelepon ke Jakarta melalui jalur video. "Wira, Arkan! Berhenti mengerjai tetanggaku! Oliver itu anak baik, dia cuma ingin membantu memperbaiki koneksi internetku!"
Aira mencoba membela Oliver agar tidak kena mental oleh Arkan dan Wira.
"Membantu?" Wira mendengus. "Dia mencoba menembus pertahananku, Kak! Itu namanya deklarasi perang!"
"Kami hanya ingin melindungimu, kak" bela Arkan.
"Kalian, dengar!" potong Arindi yang tiba-tiba muncul di belakang Wira bersama Dania. "Tante Dania sudah memantau aktivitas kalian dari tadi. Dia bilang teknik peretasan Oliver cukup impresif."
Dania mendekati anaknya. "Wira, jangan dimusuhi. Rekrut dia. Kita butuh agen di London untuk memantau keamanan Aira secara fisik. Oliver bisa jadi mata - mata kita di sana."
Wira terdiam, lalu menatap monitornya lagi. Ia mengetik sesuatu.
Wira_Satya:** *"Okay, Oliver. You're good. If you want to keep your Wi-Fi alive, watch over Aira. If anything happens to her, I'll turn your computer into a toaster. Deal?"*
Oliver_LDN:** *"Deal, death boy from Jakarta. Deal."*
[Wira_Satya:** *"Oke, Oliver. Kamu hebat. Kalau kamu mau sistem mu tetap aktif, awasi Aira. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan mengubah komputermu jadi pemanggang roti. Setuju?!"*
Oliver_LDN:** *"Setuju, bocah kematian dari Jakarta. Setuju!"*]
Dani dan Arindi terkekeh saat tidak sengaja membaca kalimat pesan Wira dan Oliver. Akhirnya masalah kecil teratasi, Dania dan Arindi saling melirik dan menghela nafas.
Malam itu, "The Unit" mendapatkan sekutu baru di luar negeri. Arkan merasa sangat bangga. "Sekarang kita punya cabang internasional! Aku mau kirim seragam unit ke London untuk Kak Oliver!"
"Ck..... beberapa jam yang lalu emosi karena ada yang mengusik Kakaknya. Tapi sekarang, orang itu lupa dengan emosionalnya tadi." sindir Wira.
Mendengar ucapan Wira, Arkan menggaruk belakang kepalanya meskipun tidak gatal. Dia bingung karena tidak bisa menyela sindiran Wira.
"Boleh saja, Arkan. Tapi pastikan tidak ada pelacak tersembunyi di dalamnya," canda Ankara yang baru saja masuk yang ingin menyudahi perdebatan itu.
*
*
*
Di London, Aira akhirnya bisa belajar dengan tenang, sementara Oliver duduk di mejanya sambil menatap laptopnya dengan ngeri, menyadari bahwa gadis cantik di sebelahnya memiliki keluarga paling protektif (dan berbahaya secara digital) di dunia.
Arsen menutup laptopnya dan menatap adik-adiknya. "Misi selesai. Tapi ingat, ini baru permulaan. Dengan Aira di London, jangkauan operasi kita sekarang mendunia. Tidurlah, para agen. Besok kita punya ujian sejarah... dan Arkan, kau harus belajar matematika!"
Arkan hanya bisa cemberut, menyadari bahwa menjadi agen rahasia pun tetap tidak bisa menghindar dari tugas sekolah. Tiba - tiba HP-nya berbunyi, ternyata sebuah pesan dari Aira.
Aira : **"Arkan, aku beritahu ya. Kakakmu ini tidak punya kodam kambing congek! Jangan buat malu! Oliver masih terngiang dengan pesan randommu itu. Disangka aku dukun, dia sempat tidak berani menatapku. Dasar, adik laknat! SEKALI LAGI, JANGAN KAMU ULANGI LAGI!!!"**
Arkan hanya terkikik geli saat membaca pesan itu. Kemudian dia membalasa pesan kakaknya dengan kalimat yang lebih absurb dan tentunya tanpa dosalah.
Arkan : **"Ya....tidak janji sih. Oliver tidak kangen dengan 'Hujan Pesan Singkat' ku lagikah? Ehhe...."**
Aira : **"ARKAN! Aku aduin kamu ke Ayah!"**
Arkan : **"Yeeee... cantik-cantik tukang ngadu. Gak like!"**
Aira : **"Whatever!!!"**
Arkan : **"Ever ever what! Pfft"**
Mereka saling melontarkan pesan - pesan yang tidak bermanfaat sampai larut malam dan akibatnya Arkan lupa tidak belajar Matematika padahal besok ada ulangan. Kan....salah sendiri suka usil dengan orang sekitarnya.
*
Hingga alarm pagi berbunyi menandakan telah pukul 06.00 WIB. Arkan bangun dengan gontai, lalu melihat jam alarmnya. Seketika matanya melotot, ternyata dia bangun mepet sekali dan belum sempat belajar tadi malam. Dia sibuk menganggu kakaknya.
"Arrrghh....!!! Aku lupa belum belajar. Huffft...apa ini karma tadi malam ya? Ihhh...mandi saja sudah." Dia lari ke kamar mandi dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.
---
Bersambung....