NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 PERJAMUAN KASIH DAN JANJI SETIA SANG MONARCH

​Jumat, 2 Mei 2025, Musim Semi

​Satu minggu terakhir terasa seperti putaran badai yang tak kunjung usai bagi Olivia Elenora Aurevyn. Menjalankan peran ganda sebagai seorang ibu tunggal bagi Leon Alexander sekaligus pemilik butik yang tengah naik daun benar-benar menguras tenaganya. Lingkaran hitam tipis di bawah mata Hazel-nya menjadi bukti bisu betapa ia kekurangan tidur. Namun, di tengah keletihan itu, ada secercah kebahagiaan karena ia tidak lagi berjuang sendirian.

​Luna Calista, gadis lugu yang ia selamatkan dari kerasnya jalanan kampus, terbukti menjadi asisten yang luar biasa cerdas. Sebagai bentuk apresiasi dan kasih sayang, Olive memberikan kejutan kecil untuk Luna: sebuah ponsel terbaru dan sebuah sepeda listrik berwarna pastel.

​"Olive, ini terlalu banyak... aku tidak bisa menerimanya," tolak Luna dengan wajah pucat saat barang-barang itu tiba di butik dua hari lalu.

​Olive memegang pundak Luna dengan lembut. "Dengar, Luna. Ponsel ini bukan sekadar hadiah, tapi alat komunikasi agar kamu tidak perlu bingung menelponku lewat kantor pos jika ada urusan mendadak. Dan sepeda itu? Itu agar kau tidak perlu lari-larian lagi. Aku butuh asisten yang sehat, bukan asisten yang kakinya lecet karena berjalan jauh. Jadi, jangan menolak lagi, oke?"

​Hari ini, Olive mengabari Luna lewat ponsel baru itu bahwa ia tidak bisa datang ke butik. Ada acara keluarga besar yang sangat mendesak. Luna, dengan kecerdasan alaminya, langsung mengerti. Ia menjaga butik sendirian dengan sangat profesional, bahkan dengan tegas menolak beberapa pelanggan borjuis yang memaksa ingin memesan pakaian custom hanya karena Olive tidak ada di tempat. Luna tahu betul standar kualitas Olive; tidak ada desain yang keluar tanpa sentuhan tangan sang Golden Butterfly.

​Di mansion utama Aurevyn, suasana sedikit tegang. Bramasta Yudha Aurevyn, sang ayah, masuk ke kamar Olive saat putrinya itu tengah memilih pakaian.

​"Olive, pilih gaun yang paling sopan dan elegan. Malam ini adalah pertemuan dua keluarga yang sangat penting. Jangan sampai ada celah," ujar Bram dengan suara tegas namun penuh kasih.

​Olive hanya mengangguk menurut. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah malam penentuan takdirnya. Ia memilih sebuah gaun rajut panjang berwarna krem yang memeluk tubuh hourglass-nya dengan sempurna, dipadukan dengan riasan tipis yang menonjolkan kecantikan alaminya.

​Malam itu, Alex tidak ikut. Bocah kecil itu sedang merengek ingin bermain dengan bibi favoritnya, yaitu Zaylee.

Kebetulan Zee dengan senang hati menjemput Alex untuk menginap di kediaman Caelmont. Bagi Olive, setidaknya ia bisa sedikit bernapas lega tanpa harus mengawasi gerak-gerik aktif putranya di restoran mewah nanti.

​Perjalanan menuju restoran berbintang di pusat Monte Carlo ditemani oleh Brian Sterling. Kakaknya itu tampak sangat rapi dengan mantel wol panjangnya. Namun, Brian lebih banyak diam, seolah memberikan ruang bagi Olive untuk menenangkan pikirannya. Brian sendiri berencana langsung menghampiri Vera setelah acara makan malam ini selesai, mengingat kekasihnya itu sedang butuh perhatian lebih.

​Restoran mewah itu telah dipesan secara privat. Saat Olive melangkah masuk, mata Liam Maximilian Valerius langsung terkunci pada sosok wanita itu. Liam yang biasanya dingin bak kutub utara, malam ini tampak lebih 'manusiawi'. Ia mengenakan setelan tiga lapis buatan London yang membuatnya tampak seperti Dewa Yunani yang turun ke bumi.

​"Kau sangat menawan malam ini, Olive," bisik Liam saat Olive duduk di hadapannya.

​Makan malam berlangsung dengan sangat hangat. Tidak ada pembicaraan bisnis yang kaku. Hendrik Sebastian Valerius dan Zevanya Amelia Valerius menyambut keluarga Aurevyn dengan tawa lepas. Liam benar-benar menunjukkan sisi green flag-nya malam itu; ia memotongkan daging steak untuk Olive menjadi potongan kecil-kecil, memastikan wanitanya tidak kesulitan saat makan.

​Namun, di tengah suasana santai itu, Hendrik tiba-tiba berdehem. "Jadi, Bram... bagaimana kalau kita tentukan tanggal pernikahan mereka sekarang? Aku rasa tidak perlu menunggu lebih lama lagi."

​Uhukk!

​Olive tersedak seketika. Liam dengan sigap memberikan segelas air dan mengusap punggung Olive dengan lembut. Wajah Olive memerah, bukan hanya karena tersedak, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang. Ia menundukkan kepalanya, jari-jarinya meremas serbet di bawah meja.

​"Apa... apa keluarga Valerius benar-benar tidak keberatan dengan adanya Alex?" tanya Olive dengan suara bergetar. Ia takut statusnya sebagai ibu tunggal akan menjadi batu sandungan bagi keluarga sebesar Valerius.

​Vanya Amelia, ibu Liam, langsung meraih tangan Olive di atas meja. "Olive, Sayang. Lihat Bunda. Kami sangat menyukai Alex. Dia anak yang cerdas dan berbudi pekerti baik. Kami sudah menganggapnya sebagai cucu kami sendiri sejak pertama kali melihatnya. Kami tidak memandang status, yang kami pedulikan hanyalah kebahagiaan putra kami."

​Hendrik tertawa kecil, menambahkan. "Liam ini sudah terlalu lama membeku. Sifat dinginnya terkadang membuat kami takut dia akan menjadi es abadi. Tapi sejak ada kau dan Alex, dia berubah menjadi jauh lebih hangat. Kau adalah keajaiban bagi keluarga kami."

​Liam yang mendengar pujian ayahnya hanya tersenyum tipis. Ia menatap Olive dengan tatapan posesif namun penuh kasih. "Karena semua sudah setuju, aku mengusulkan agar pernikahan dipercepat. Bulan depan, tanggal dua puluh."

​"Kenapa terburu-buru, Liam?" tanya Brian sambil terkekeh, akhirnya membuka suara di sela-sela makannya.

​"Karena aku takut," jawab Liam jujur, membuat seisi meja terdiam. "Aku takut jika tidak segera diikat, ada laki-laki lain yang akan mencoba mengambil Kupu-Kupu Emasku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

​Tawa pecah di meja itu. Brian tertawa terbahak-bahak melihat sisi posesif sang Monarch, sementara para orang tua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Liam yang benar-benar sudah dibutakan oleh cinta.

​Di balik rasa malunya, hati Olive membuncah. Ia merasa sangat bersyukur. Setelah semua penderitaan di London, ia akhirnya menemukan pelabuhan yang tidak hanya menerimanya, tapi juga mencintai putranya tanpa syarat. Di batinnya, ia berjanji akan menjaga kebahagiaan ini selamanya.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!