NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto di Dashboard

Matahari sore Aeryon City menggantung rendah, menyirami area parkir kampus yang mulai lengang dengan warna jingga keemasan yang hangat. Di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di bawah pohon mahoni besar, Seraphina Aeru duduk sendirian. Ia merasa bosan menunggu Dareen yang sedang mengantre es krim gelato di seberang jalan—sebuah permintaan manja Sera yang sebenarnya hanya alasan agar ia bisa memiliki waktu sendirian di dalam kendaraan ini.

Pandangan Sera menyapu interior mobil yang selalu rapi dan bersih, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang kaku. Namun, matanya tertuju pada sebuah celah sempit di sudut dashboard. Ada sudut kertas yang sedikit menyembul dari balik panel kulit yang tidak rapat.

"Apa ini?" bisik Sera pada dirinya sendiri.

Ia teringat saat-saat awal ia mencoba mengancam Dareen. Ia pernah melihat sekilas foto di sana, namun saat itu ia terlalu sibuk bersikap sombong untuk benar-benar memperhatikannya. Dengan jemari yang gemetar karena dorongan adrenalin, Sera menarik perlahan kertas itu.

Itu adalah sebuah foto fisik, sedikit kusam di bagian pinggirnya. Di sana, seorang pemuda yang sangat Sera kenali—Dareen Christ—berdiri dengan gagah mengenakan seragam militer kamuflase yang lengkap dengan baret hitam di kepalanya. Dareen di foto itu terlihat lebih muda, matanya belum sekelam sekarang, dan di sudut bibirnya ada sedikit garis senyum yang tulus.

Namun, perhatian Sera segera beralih pada pria di samping Dareen. Pria itu sedikit lebih tinggi, memiliki rambut cepak, dan sedang merangkul bahu Dareen sambil tertawa lebar ke arah kamera. Mereka terlihat seperti saudara kandung, atau mungkin lebih dari sekadar teman seperjuangan. Ada aura kehangatan dan kepercayaan yang memancar dari hubungan mereka dalam bingkai kecil itu.

"Siapa kau?" Sera bergumam, ibu jarinya mengusap wajah pria yang tidak ia kenal itu. "Kenapa Dareen menyembunyikanmu begitu rapat?"

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap di atas aspal terdengar mendekat. Sera tersentak. Melalui kaca spion, ia melihat sosok tinggi Dareen berjalan kembali menuju mobil dengan dua kerucut es krim di tangannya. Dengan gerakan kilat yang terlatih karena sering bersembunyi dari pengawasan Seldin, Sera melipat foto itu dan menyembunyikannya di saku rok pendeknya tepat saat pintu pengemudi terbuka.

Dareen masuk ke dalam mobil, membawa serta aroma udara segar dan manisnya vanila. Ia menyerahkan es krim rasa strawberry cheesecake kesukaan Sera tanpa sepatah kata pun. Wajahnya kembali ke setelan 'pengawal'—datar dan waspada.

"Terima kasih, Babe," ujar Sera, suaranya sengaja dibuat sedikit lebih manja dari biasanya untuk menutupi detak jantungnya yang masih berpacu karena hampir tertangkap basah.

Dareen hanya mengangguk pelan, matanya menyapu sekeliling area parkir sebelum ia memasang sabuk pengamannya. "Kita harus segera jalan, Nona. Tuan Seldin mengharapkan Anda di rumah sebelum jam tujuh."

Sera mendengus pelan, merasa kesal karena Dareen kembali ke mode kaku setelah keintiman mereka di motel beberapa waktu lalu. Ia menatap es krim di tangannya, lalu sebuah ide nakal muncul di kepalanya. Ia ingin memecah dinding es yang sedang dibangun Dareen, sekaligus memastikan pria itu tidak menyadari ada sesuatu yang hilang dari dashboard-nya.

Sera mulai menjilat es krimnya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat lambat, menutup matanya sejenak seolah menikmati rasa manis itu, namun sebenarnya ia sedang memantau reaksi Dareen dari sudut matanya. Ia membiarkan sedikit krim menempel di sudut bibirnya, lalu menyesapnya dengan gerakan lidah yang sangat sensual, mengarahkan pandangannya tepat ke arah mata Dareen.

"Ini manis sekali ... kau mau coba, Babe?" bisik Sera, suaranya serak dan provokatif.

Dareen sempat melirik ke arah bibir Sera, dan Sera bisa melihat jakun pria itu bergerak naik turun saat ia menelan ludah. Cengkeraman Dareen pada kemudi mengeras.

"Tidak, Nona. Saya sedang bertugas," jawab Dareen, suaranya terdengar sedikit lebih berat, tanda bahwa pertahanannya mulai goyah.

"Oh, ayolah. Hanya sedikit," Sera mencondongkan tubuhnya ke arah Dareen, membiarkan aroma parfum peony-nya menyerang indra penciuman pria itu. Ia menjilat kembali es krimnya, kali ini dengan tatapan yang lebih berani, seolah es krim itu adalah metafora dari sesuatu yang lain.

Rayuan maut Sera berhasil. Dareen akhirnya menoleh sepenuhnya, matanya yang gelap kini berkilat dengan gairah yang berusaha ia tekan. Napasnya mulai memburu, menghangatkan udara di dalam kabin mobil yang sempit itu.

"Sera ... berhenti bermain api," desis Dareen.

"Atau apa? Kau akan menghukumku?" Sera menantang, bibirnya yang merah kini hanya berjarak beberapa senti dari bibir Dareen.

Dareen tidak tahan lagi. Ia menyambar tengkuk Sera dengan satu tangan, menariknya ke dalam ciuman yang mendesak dan penuh rasa lapar. Es krim di tangan Sera nyaris jatuh, namun ia tidak peduli. Ia membalas ciuman itu dengan penuh kemenangan, merasakan bagaimana 'robotnya' sekali lagi bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di sela-sela pergulatan bibir mereka yang panas, Sera meraba saku roknya, memastikan foto itu masih aman di sana.

Ciuman itu berakhir dengan Dareen yang menyandarkan keningnya di kening Sera, napasnya tersengal. "Anda akan membuat saya gila, Nona."

"Memang itu tujuannya," bisik Sera sambil tersenyum puas.

Malam harinya, di dalam kamarnya yang mewah di kediaman Aeru, Seraphina tidak segera tidur. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat dan menarik kursi di depan meja riasnya yang kini telah berubah menjadi pusat komando kecil.

Sera mengeluarkan laptop tipis yang telah ia modifikasi. Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang Seldin yang posesif, Sera diam-diam belajar cara meretas dan menggunakan jaringan tersembunyi. Seldin mengira adiknya hanya mahasiswi manja yang hobi clubbing, padahal Sera adalah rubah kecil yang cerdik.

Ia meletakkan foto yang ia ambil dari mobil tadi di bawah lampu meja. Dengan bantuan alat pindai portabel, ia mendigitalisasi wajah pria misterius itu dan mulai menjalankan algoritma pencarian di Deep Web.

"Mari kita lihat siapa kau sebenarnya, Dareen Christ," gumam Sera.

Jari-jarinya bergerak lincah di atas papan ketik. Kode-kode hijau mulai mengalir di layar gelap laptopnya. Ia masuk ke dalam basis data militer yang telah dienkripsi secara berlapis. Setelah melewati beberapa firewall yang rumit—teknik yang ia pelajari khusus untuk mengelabui protokol keamanan Seldin—sebuah dokumen rahasia muncul dengan label merah menyala: RESTRICTED.

Mata Sera melebar saat membaca baris pertama.

PROJECT: CERBERUS

UNIT: THE CERBERUS UNIT – ELITE BLACK OPS DIVISION

Sera men-scroll ke bawah. Di sana, ia menemukan daftar personel unit tersebut. Di urutan ketiga, terpampang foto Dareen yang sama dengan yang ada di dashboard, namun dengan keterangan yang lebih detail.

Operator: Letnan Satu Dareen Christ.

Spesialisasi: Sniper, Taktis Jarak Dekat, Interogasi.

Status: Dishonorable Discharge (Diberhentikan Tidak Hormat).

Dan di samping foto Dareen, terdapat profil pria tertawa yang ada di foto tadi.

Operator: Kapten Elias Thorne.

Status: KIA (Killed in Action).

Tangan Sera gemetar. "The Cerberus Unit ... pasukan elit yang tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi militer?"

Sera menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak Pandora. Dareen bukan sekadar tentara biasa. Ia adalah bagian dari unit bayangan yang melakukan pekerjaan kotor pemerintah atau korporasi besar. Dan kematian Elias Thorne—pria yang tampak begitu dekat dengan Dareen—tampaknya adalah lubang hitam yang menghisap seluruh kebahagiaan dari hidup pria yang ia cintai.

Rasa penasaran Sera kini berubah menjadi ketakutan yang mendebarkan. Jika Dareen adalah mantan anggota unit seberbahaya ini, lalu mengapa ia bisa berakhir menjadi pengawal pribadi keluarga Aeru? Apakah Seldin mengetahui hal ini? Ataukah Seldin adalah bagian dari alasan mengapa unit ini hancur?

Sera menutup laptopnya perlahan. Ia menatap ke arah jendela yang menghadap ke paviliun tempat Dareen tinggal. Di sana, lampu kamar Dareen masih menyala. Sera menyadari bahwa pria yang sering ia panggil 'Babe' dan ia perlakukan seperti mainan sensual itu menyimpan beban dunia yang jauh lebih berat daripada yang bisa ia bayangkan.

"Aku akan membantumu, Dareen," bisik Sera pada kegelapan malam. "Aku akan membongkar siapa yang menghancurkan Cerberus-mu, meski aku harus menghancurkan kakakku sendiri untuk melakukannya."

Sera berbaring di tempat tidurnya, namun matanya tetap terjaga. Ia tahu, mulai malam ini, permainannya dengan Dareen bukan lagi sekadar tentang gairah atau status kuliah, melainkan tentang nyawa dan kebenaran yang terkubur dalam bayang-bayang masa lalu sang pengawal elit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!