Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kincir Angin
Suasana di backstage salah satu stasiun televisi Seoul terasa tegang, namun bukan karena persiapan panggung. Aura dingin justru memancar dari sudut sofa tempat Jake duduk. Ia terus-menerus memutar-mutar ponsel di tangannya, menatap layar yang gelap seolah berharap ada keajaiban yang membatalkan hari Sabtu di Amsterdam.
Jay, yang sedang memperbaiki letak aksesoris di jasnya, melirik Jake melalui pantulan cermin. Ia sudah tidak tahan melihat wajah sahabatnya yang ditekuk seperti cucian belum disetrika.
"Ada apa, Jake? Muka lo kayak belum gajian setahun," tanya Jay telak.
Jake menghela napas kasar, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan frustrasi. "Gue ngerasa ada yang ngerampas sahabat satu-satunya."
Niki, yang sedang asyik berlatih dance kecil di tengah ruangan, langsung berhenti. Telinganya yang tajam menangkap aroma drama. "Lah? Kenapa Hyung? Takara Noona kenapa?"
"Takara mau jalan sama cowok Belanda ke desa Zaanse Schans," jelas Jake dengan nada bicara yang dipercepat, seolah-olah menyebut nama desa itu adalah sebuah kutukan.
"Padahal desa itu rencananya mau dikunjungi sama gue kalau gue liburan ke sana nanti!"
Ruangan itu hening sejenak sebelum tawa kecil keluar dari bibir Jay. Ia membalikkan badan, menatap Jake dengan tatapan 'kasihan-tapi-lucu'.
"Emang udah pasti kapan kita libur? Yang ada itu desa keburu ganti nama deh kalau nungguin jadwal lo kosong," sarkas Jay tanpa ampun.
"Jay! Gue serius!" seru Jake, wajahnya memerah.
"Gue juga serius, Jake," balas Jay, kali ini suaranya lebih tenang tapi menusuk. "Lo egois kalau nyuruh dia nungguin lo yang jadwalnya aja diatur sama manajer tiap jam. Takara itu manusia, dia butuh sosialisasi. Dia di sana sendirian, kedinginan, terus ada cowok lokal yang ngajak jalan-jalan ke tempat bagus. Ya jelas dia mau."
Niki mendekat, ikut duduk di samping Jake. "Hyung, masalahnya bukan di desanya, kan? Masalahnya karena Takara Noona perginya sama cowok, bukan sama lo."
Jake terdiam. Kata-kata Niki telak menghantam ulu hatinya. Benar. Jika Takara pergi ke sana bersama sekelompok teman perempuan, Jake mungkin hanya akan merasa iri karena tidak bisa ikut. Tapi fakta bahwa ada satu nama pria, William, yang kini mengambil alih peran 'penjaga' Takara, membuat Jake merasa kehilangan kendali.
"Dia bilang cowok itu anak arsitektur juga. Katanya mereka mau diskusi soal kincir angin," gumam Jake lirih, mencoba mencari pembenaran.
"Diskusi arsitektur di tempat seromantis itu?" Jay tertawa lagi sambil memakai jaketnya.
"Jake, bangun. Cowok itu nggak mau diskusi soal kayu atau semen. Dia mau diskusi gimana caranya bikin Takara lupa sama lo."
Tepat saat itu, manajer masuk ke ruangan dan meneriakkan waktu briefing. Jake bangkit dengan berat hati. Ia harus memakai topeng bintangnya lagi, tersenyum, menari, dan bernyanyi di depan ribuan orang, sementara di kepalanya, ia terus membayangkan Takara sedang tertawa di bawah kincir angin bersama pria lain.
Sebelum naik ke panggung, Jake mengirimkan satu pesan terakhir.
**Jake: **Have fun ya, Ra. Tapi tolong, jangan pulang kemalaman. Amsterdam bahaya kalau malam (walaupun gue tahu lo bakal bilang nggak).
Jake mematikan ponselnya dan melangkah menuju cahaya lampu panggung, namun hatinya tertinggal di sebuah desa kincir angin yang bahkan belum pernah ia injaki.
———
Di kamar dorm-nya yang remang-remang, Jake berguling ke kiri dan ke kanan. Selimutnya berantakan, persis seperti pikirannya. Ia menatap langit-langit, mencoba menghitung berapa jam lagi hingga hari Sabtu berakhir di Amsterdam.
"Nyebelin banget... kenapa harus hari ini? Kenapa harus sama dia?" gerutunya pelan pada bantal.
Jake tahu ia harus tidur. Besok pagi ada jadwal siaran langsung (Live) untuk menyapa ribuan penggemar yang sudah merindukannya. Ia harus terlihat segar, ceria, dan penuh energi. Tapi bagaimana bisa ia memberikan cinta pada dunia kalau hatinya sendiri sedang dirongrong rasa cemburu yang kekanak-kanakan?
Baginya, William bukan sekadar teman baru Takara. William adalah pengingat bahwa ada dunia nyata yang tidak bisa Jake berikan pada Takara. Dunia di mana seseorang bisa menjemput di depan pintu tanpa takut dikejar paparazzi.
Di sisi lain bumi, Takara melangkah keluar dari houseboat-nya dengan ransel berisi kamera dan buku sketsa. Ia mengenakan beret hat yang membuatnya tampak sangat menyatu dengan suasana Eropa.
Tepat di ujung dermaga, William sudah menunggu dengan sepeda dan senyum lebar. "Ready for some windmill magic?" sapanya.
Perjalanan menuju desa Zaanse Schans diisi dengan obrolan yang membuat Takara terpana. William bukan hanya bicara soal "jalan-jalan", ia benar-benar paham arsitektur. Mereka berdiskusi tentang bagaimana kayu-kayu tua pada kincir angin itu bertahan melawan angin kencang selama berabad-abad, hingga filosofi di balik tata letak desa tersebut.
Begitu tiba di sana, Takara seolah kehilangan kata-kata. Deretan kincir angin raksasa berdiri gagah dengan latar belakang langit biru yang bersih.
"Gila... ini lebih cantik dari yang gue bayangin," bisik Takara.
Ia segera mengeluarkan kameranya. Takara bukan tipe orang yang mengambil foto selfie berlebihan. Ia lebih fokus pada detail: tekstur kayu yang melapuk, bayangan baling-baling kincir di atas rumput hijau, hingga kerajinan sepatu kayu (klompen) yang sedang dibuat perajin lokal.
"Lihat ini, Will. Garis simetrisnya sempurna banget," pamer Takara sambil menunjukkan hasil fotonya pada William.
William mendekat, berdiri cukup dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ia tidak menatap layar kamera, melainkan menatap wajah Takara yang sedang bersemangat. "Iya, sempurna. Everything about this moment is perfect," jawab William dengan nada yang lebih dalam.
Tanpa sadar, karena terlalu antusias, Takara mengirimkan salah satu foto detail kincir angin itu ke grup chat pribadinya dengan Jake. Ia ingin berbagi keindahan itu dengan "nadinya".
Namun, Takara tidak sadar bahwa di pantulan kaca jendela kincir angin yang ia foto, terlihat bayangan William yang sedang memegang payung dan botol minum milik Takara dengan perhatian.
Di Seoul, ponsel Jake bergetar di atas nakas. Jake langsung menyambarnya secepat kilat. Ia memperbesar foto itu, mencari-cari kesalahan, dan matanya tertuju pada bayangan pria di pantulan kaca itu.
Gigi Jake bergeletuk. Ia segera mengetik balasan dengan jemari yang gemetar.
Jake: Bagus fotonya. Tapi itu siapa yang megangin tas sama botol minum lo? Gue nggak suka dia terlalu dekat sama barang-barang lo, Ra. Lo udah nemuin pengganti gue sebagai sahabat ya?
Takara melihat pesan itu masuk saat ia sedang tertawa bersama William. Senyumnya sedikit memudar. Ia merasa Jake mulai melewati batas "sahabat", namun di sisi lain, ada bagian kecil di hatinya yang merasa... diinginkan.
Di kamar dorm yang sunyi, Jake membaca balasan itu berulang kali.
Takara: Itu namanya lo berlebihan, mana mungkin posisi lo sebagai sahabat gue sejak orok tergantikan. Makannya lo ada di sini dong, ya kali gue terus nungguin lo.
Jake terdiam. Kalimat "Ya kali gue terus nungguin lo" bergema di kepalanya, jauh lebih nyaring daripada sorakan penggemar di stadion. Ia tersadar bahwa selama ini ia telah bersikap egois; ia mengunci Takara dalam status "sahabat" agar gadis itu tidak pergi, tapi di saat yang sama, ia tidak bisa memberikan kehadiran fisik yang dibutuhkan Takara.
Ia ingin membalas, 'Gue pengen di sana, Ra. Gue pengen jadi orang yang megangin tas lo', tapi ia tahu itu hanya akan terdengar seperti janji manis yang tak kunjung ditepati.
Keesokan paginya, jadwal siaran langsung (Live) pun tiba. Jake duduk di depan kamera bersama member lainnya. Wajahnya memang sudah dipulas makeup mahal, tapi matanya yang kuyu tidak bisa berbohong. Ia berkali-kali melamun saat member lain sedang bercanda.
"Jake, lo kenapa sih? Dari tadi bengong terus," bisik Sunghoon di tengah-tengah siaran, mencoba menjaga profesionalisme.
Jake tersentak, lalu memaksakan senyum ke arah kamera. "Ah, nggak apa-apa. Cuma... lagi mikirin kincir angin."
Sontak, kolom komentar live itu meledak.
"Kincir angin? Apa dia mau konser di Belanda?"
"Jake looks so tired, is he okay?"
"Windmill? Is that a spoiler for the next comeback??"
Jay yang duduk di samping Jake hanya bisa menepuk dahi. Ia tahu persis kincir angin mana yang dimaksud. "Maksud Jake, dia lagi belajar tentang... fisika. Iya, putaran baling-baling," timpal Jay berusaha menyelamatkan suasana, meski terdengar sangat tidak masuk akal.