Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.
Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.
Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.
Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memesan Kopi
Emily mengetik balasannya:
"Hai, Alexander. Ya, aku sedang bekerja di kafe sekarang. Kau ingin memesan apa, dan kemana harus kuantar?"
Setelah menekan tombol kirim, ia menatap layar ponselnya seperti orang bodoh.
Emily bergumam pada dirinya sendiri, ‘Ya Tuhan! Apa yang kulakukan sekarang? Kenapa aku membalasnya seperti itu?’ sambil menepuk ringan dahinya. Ia tidak percaya jari-jarinya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Ia menghela napas panjang dan dalam, sadar bahwa ia sedang dalam masalah—masalah yang ia ciptakan sendiri tanpa disadari.
Bagaimana bisa ia menawarkan untuk mengantarkan pesanannya? Bagaimana kalau dia berada jauh dari sini?
‘Ya Tuhan! Emi, kau harus meminta maaf padanya sekarang. Atau kau akan dalam masalah jika dia berada di Hidden City!’ Ia diam-diam memarahi dirinya sendiri.
Sebuah pesan lain masuk sebelum Emily sempat mengetik pesan untuk meminta maaf atas kesalahannya. Ia tidak lagi terkejut melihat pesan itu dari Alexander.
Jantungnya menegang saat ia membuka pesan itu:
"Iced latte. Dan buat dua. Aku parkir di gedung sebelah kafe tempatmu bekerja. Tolong antar ke sini. Terima kasih sebelumnya, Emi."
Mengetahui pria itu berada di dekatnya, ia merasa lega. Namun beberapa saat kemudian, ia merasa gugup dan penasaran. Kenapa dia tidak masuk saja ke dalam daripada meminta diantar?
Ia mengalihkan pandangannya dari ponsel untuk melihat ke luar, mencoba mencari mobilnya, tetapi ia tidak bisa melihat gedung sebelah dari posisinya.
Merasa tidak berdaya, Emily mengesampingkan rasa penasarannya dan bergegas kembali ke meja kasir untuk menyiapkan iced latte. Namun sebelum itu, ia meminta Rachel untuk membuatkan struk.
"Kak, ini iced latte untukmu?" tanya Rachel bingung. Kenapa tiba-tiba ia memesan padahal tidak ada pelanggan yang masuk dan mereka hampir menutup kafe?
"Ya, tolong. Jangan khawatir, Rachel, aku yang akan bayar..." Emily tersenyum melihat kebingungan Rachel.
Emily hendak membuat kopi, tetapi berhenti ketika melihat Rachel masih berdiri di sana menatapnya.
Menyadari Rachel tampak curiga, Emily buru-buru menjelaskan, "Temanku ada di luar. Dia tidak bisa masuk, jadi dia memesan lewat ponsel. Jangan khawatir, aku yang akan membayar pesanannya," katanya sambil mengeluarkan kartu bank dan menyerahkannya kepada Rachel.
"Maaf, aku bukan khawatir soal pembayaran. Aku hanya bingung kenapa kau tiba-tiba ingin memesan dan membayar," kata Rachel cepat, takut Emily tersinggung. "Kak, kau lupa? Kau bisa membuat kopi untuk dirimu sendiri tanpa membayar..."
"Apa maksudmu?" Emily terkejut. Ia tahu mereka bisa mendapatkan minuman gratis, tetapi hanya dari ruang staf.
"Oh, kau belum tahu?" Rachel sedikit mengernyit. "Bos Tessa mengatakan kalau kau ingin membuat kopi untuk dirimu sendiri, kau tidak perlu membayar," jelasnya.
Emily terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah mendengar hal itu dari Tessa sebelumnya.
"Apakah yang lain juga mendapatkan itu?" tanya Emily, khawatir ia melewatkan sesuatu dalam kontrak kerjanya.
"Tidak, hanya kau. Kurasa itu cara dia menghargai kerja kerasmu." Rachel tersenyum, merasa lucu melihat betapa terkejutnya Emily.
"Bos Tessa sepertinya menyukaimu, Kak. Dia selalu memuji betapa cepat dan rajinnya kau bekerja. Itu sebabnya dia memberi tahu kami para kasir untuk tidak pernah menagihmu untuk membayar kopi," jelas Rachel.
Emily terdiam. Ia merasa tersentuh mengetahui Tessa membuat pengecualian untuknya.
"Tidak apa-apa, Rachel. Tolong proses pembayarannya. Ini bukan untukku, tapi untuk temanku. Nanti dia akan menggantinya..." katanya sambil menyerahkan kartunya kepada Rachel.
Tentu saja, ia tidak akan meminta uang pada Alexander, pria itu sudah membantunya dua kali. Tetapi ia juga tidak akan memanfaatkan kebaikan Tessa.
Setelah Emily selesai membuat dua iced latte, ia menuju kantor Tessa untuk berpamitan. Ia berencana langsung pulang setelah bertemu Alexander.
"Hai, Tessa, maaf mengganggu," kata Emily. Ia berdiri di depan pintu, merasa tidak enak karena mengganggunya. Tessa tampak sibuk dengan pekerjaan administrasi.
"Tidak apa-apa. Aku sudah selesai... ada apa?" tanya Tessa.
"Kami sudah menutup kafe, dan aku akan pulang sekarang."
Tessa berdiri dari mejanya dan mendekati Emily di pintu.
"Kenapa terburu-buru, Emily? Mari makan malam dulu. Aku akan memasak untukmu diatas," tawar Tessa. Ia tahu Emily menjalani hari yang buruk dan berpikir makanan enak mungkin bisa membuatnya lebih baik.
"Terima kasih atas tawarannya, Bos. Tapi tidak hari ini," Emily tersenyum tipis, merasa bersalah karena menolak.
"Yakin?" tanya Tessa, masih khawatir.
"Ya. Sekadar informasi, temanku sedang menungguku di luar. Aku akan pulang bersamanya," Emily menelan ludah pelan mendengar ucapannya sendiri.
’Pulang bersama Alexander?’ Ia merasa geli dengan pikirannya sendiri. Beraninya ia berharap seperti itu?
Ia hanya mencari alasan agar bisa pergi dengan cepat. Ia ingin membiasakan diri dengan rumah barunya.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia lakukan di sana: membersihkan, memasak, dan menikmati kamar barunya. Ia merasa beruntung karena pemilik sebelumnya meninggalkan begitu banyak bahan makanan di kulkas sehingga ia tidak perlu berbelanja selama beberapa minggu.
Tessa menduga Emily ingin segera bertemu dengan orang yang menyebabkan suasana hatinya buruk.
"Aku mengerti. Baiklah, hati-hati dan sampai jumpa besok. Kau masuk shift dua lagi, kan?"
"Ya. Sampai jumpa besok, Bos..." Emily bergegas mengambil tasnya dari loker.
Setelah berbincang sebentar dan berpamitan pada Rachel, Emily meninggalkan kafe dan berjalan menuju gedung sebelah. Ia menyadari itu adalah gedung perkantoran yang tinggi.
Tidak sulit bagi Emily untuk menemukan kendaraan Alexander. Ia melihat pria itu bersandar pada SUV hitam—mobil yang sama yang ia gunakan saat mereka bertemu di Hidden City—dan ia tampak sedang membaca sesuatu di ponselnya.
Emily merasa lega karena Alexander belum menyadarinya.
Berusaha menyembunyikan kegugupannya, ia mendekatinya sambil menggenggam kantong kertas dengan erat. Ia berhenti beberapa langkah di depannya.
"Hai, Alexander..." sapa Emily dengan tenang, meski jantungnya menegang saat pria itu menatapnya dengan senyum hangat yang membingkai wajah tampannya yang nyaris sempurna.
"Ini kopimu..." katanya sambil menyodorkan kantong kertas itu.
Alexander tidak langsung mengambil kopi itu. Sebaliknya, ia bertanya, "Kau sudah selesai bekerja?"
"Ya, aku akan pulang sekarang."
"Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang," kata Alexander tanpa menunggu Emi menjawab. Ia membuka pintu kursi penumpang untuknya. "Silahkan."
Setelah mengambil kantong kertas darinya, Alexander berjalan menuju kursi pengemudi, meninggalkan Emily dalam kebingungan.
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk