Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Seharusnya hari itu Enzo sudah kembali ke kantor setelah libur panjang hari raya. Beberapa proyek besar menunggunya, dan para direktur sudah berkali-kali mengirim pesan menanyakan kapan ia datang. Namun pagi itu, Enzo tetap duduk di kursi samping ranjang rumah sakit.
Enzo menatap ibunya yang masih terbaring dengan kaki kiri dipasangi penyangga. Wajah Mami Elsa tampak lebih pucat dari biasanya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini hanya disisir sederhana oleh perawat.
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor jantung yang berdetak stabil.
Azalea sudah pulang lebih dulu sejak pagi. Bukan karena ia lelah, melainkan karena anak-anak. Elora masih sering rewel jika bukan Azalea yang mendandani atau membuatkan makanannya. Gadis kecil itu bahkan sempat menangis ketika bangun dan tidak menemukan ibunya di samping tempat tidur.
Enzo menarik napas panjang. Lalu, menatap ibunya. “Mami harus berterima kasih kepada Lea.”
Mami Elsa tidak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke arah jendela.
“Dia sudah mendonorkan darahnya,” lanjut Enzo pelan. “Dia juga yang mengurus Mami semalaman saat Mami tidak sadar.”
Beberapa detik hening. Kemudian Mami Elsa memalingkan wajahnya ke sisi lain. “Dia tidak tulus melakukan itu,” katanya dingin. “Pasti ada maunya.”
Enzo menahan napas. Jawaban itu tidak mengejutkannya. Tapi tetap saja membuat dadanya terasa berat.
“Apa Mami tidak bisa melihat kebaikan yang sudah banyak Lea lakukan untuk keluarga kita?”
Nada suara Enzo tidak tinggi, tetapi terdengar tegas. “Anak-anak sekarang lebih terurus. Mereka lebih sopan. Tidak suka ngamuk-ngamuk lagi seperti dulu.”
Mami Elsa diam. Bibirnya mengeras. Ia tidak mau mengakui hal itu. Dalam pikirannya, perempuan dari kampung seperti Azalea selalu punya tujuan tersembunyi. Selalu ada sesuatu yang ingin mereka ambil.
Enzo menatap ibunya lama. “Jika Mami berpikir Lea ingin harta kita, maka Mami salah.”
Mami Elsa sedikit mengernyit.
“Aku memberi dia uang bulanan tiga ratus juta,” lanjut Enzo.
Mami Elsa langsung menoleh. “Apa?”
“Dan dia tidak pernah memakai lebih dari tiga juta.”
Ruangan kembali sunyi. Enzo menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kalau dia memang matre, kenapa dia tidak gunakan uang itu untuk foya-foya?”
Mami Elsa tidak menjawab. Namun, kata-kata itu mulai mengusik pikirannya. Selama ini ia selalu percaya bahwa orang miskin dari kampung tidak tahu diri. Ditolong sedikit, langsung ngelunjak. Bahkan ada yang berani menusuk dari belakang demi keuntungan. Itu yang selalu ia yakini. Itu yang selalu ia takutkan.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Azalea masuk dengan langkah tenang. Ia membawa tas kain besar dan dua kotak bekal. Wajahnya terlihat segar meski sedikit lelah.
“Nyonya, makan dulu,” ucap Azalea lembut. Ia membuka tutup kotak bekal. Aroma bubur sumsum hangat langsung memenuhi ruangan.
Harum pandan, daun salam, dan gula merah membuat perut terasa lapar.
“Untuk Mas Enzo, aku buatkan ayam ungkep dan tempe bacem,” lanjut Azalea sambil menyerahkan dua kotak makanan.
Enzo tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Pria itu membuka kotak makanannya. Aroma bumbu rempah langsung tercium. “Kamu ikut makan sekalian.”
Azalea menggeleng pelan. “Aku sudah makan di rumah, Mas. Sambil menemani Elora.”
Wanita berjilbab itu tersenyum tipis. “Dia ngambek karena semalam aku tidak tidur dengannya.”
Enzo terkekeh pelan. “Semalam aku begadang karena Elora mengajak main boneka-bonekaan sampai jam dua.”
Azalea menutup mulutnya menahan tawa. “Dia memang begitu kalau sudah kangen.”
Suasana ruangan yang tadinya kaku sedikit mencair.
Azalea kemudian mendekati ranjang. “Nyonya, aku suapi, ya. Tangannya masih sakit, kan?”
Mami Elsa diam beberapa detik. Harga dirinya sebenarnya ingin menolak. Namun, perutnya benar-benar lapar dan kedua tangannya memang masih terasa nyeri. Akhirnya ia membuka mulutnya pelan.
Azalea menyuapi dengan hati-hati. Sendok kecil bubur sumsum masuk perlahan.
“Panas tidak?” tanya Azalea.
Mami Elsa hanya menggeleng sedikit.
Azalea meniup bubur di sendok berikutnya sebelum menyuapkannya lagi. Gerakannya sabar. Tidak tergesa-gesa. Seolah sedang merawat orang tuanya sendiri.
Setelah makan selesai, Azalea mengambil waslap hangat. “Nyonya, kita bersihkan wajah dulu.”
Azalea mengelap wajah dan tubuh Mami Elsa dengan lembut. Kemudian membantu mengganti pakaian dengan yang lebih bersih.
Enzo memperhatikan semua itu dari kursinya. Dadanya terasa hangat.
Azalea tidak pernah mengeluh. Padahal selama ini ibunya selalu bersikap dingin kepadanya.
Setelah semuanya selesai, Mami Elsa terlihat lebih segar. Tubuhnya terasa ringan. Rasa hangat dari makanan dan pakaian bersih membuat matanya mulai berat. Tanpa sadar ia tertidur.
Ruangan menjadi tenang kembali. Enzo menatap Azalea dengan penuh rasa terima kasih.
“Kamu tidak capek?”
Azalea tersenyum kecil.
“Kalau capek, nanti istirahat.”
Tak lama kemudian ponsel Enzo bergetar. Ia membaca pesan dari asistennya. Ada masalah mendadak di kantor yang tidak bisa ditunda.
“Aku harus ke kantor sebentar,” kata Enzo pelan.
Azalea mengangguk. “Pergilah. Aku di sini.”
Enzo berdiri. Sebelum pergi, ia menatap Azalea dengan lembut.
“Terima kasih sudah menjaga Mami.”
Azalea hanya tersenyum.
Setelah pintu kamar tertutup, ruangan kembali hening. Azalea duduk di kursi samping ranjang. Ia mengambil mushaf kecil dari tasnya. Lalu mulai membaca Al-Qur’an dengan suara pelan.
“Bismillahirrahmanirrahim…” Suara lantunan ayat suci memenuhi ruangan dengan tenang.
Sudah dua jam Mami Elsa tidur pulas. Matanya belum terbuka sepenuhnya. Namun, telinganya menangkap suara yang sangat familiar.
“Suara itu ...,” batin Mami Elsa.
Suara yang sering ia dengar di rumah setiap sore. Suara milik Azalea. Pelan-pelan Mami Elsa membuka matanya sedikit. Ia melihat Azalea duduk di kursi, membaca Al-Qur’an dengan wajah tenang.
Tidak ada paksaan atau kepura-puraan. Hanya ketenangan.
Mami Elsa menatapnya dalam diam. Entah kenapa, dia tidak merasakan kebencian yang biasanya muncul saat melihat menantunya itu.
***
Kira-kira kalau aku buat cerita ini, kalian akan baca nggak? Sedih sih ceritanya 🤭 . Komen, ya.
Enzo mau menerima masa lalu nya Lea 🤗
dn akhirnya kini Enzo tahu kalau Reza yg di maksud itu adalah Reza karyawan nya sndri 🤣
lagian nih ya walaupun Reza mendekati setengah mati si Lea juga GK bakal peduli maaassss 😂