Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hari-hari setelah Lebaran selalu terasa riuh. Rumah-rumah masih terbuka lebar. Tawa terdengar di berbagai sudut kota, orang-orang saling mengunjungi, mengenang masa lalu, memperbarui hubungan yang sempat renggang.
Begitu pula Mami Elsa. Siang itu ia menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman-teman sosialitanya di sebuah restoran mewah di pusat kota. Interior restoran bergaya Eropa klasik, lampu kristal menggantung indah, dan pelayan berseragam rapi hilir-mudik menyajikan minuman.
Mami Elsa duduk tegak dengan blazer elegan dan tas bermerek di sampingnya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles make-up yang membuatnya tampak lebih muda dari usianya. Di meja bundar itu, obrolan mengalir ringan.
“Anakku kemarin ke Singapura sama menantunya,” ujar Bu Dewi bangga. “Cucuku sudah masuk preschool internasional.”
“Wah, hebat sekali,” sahut Bu Rya.
Mami Elsa hanya tersenyum tipis. Dia jadi ingat kedua cucunya yang sudah tidak tantrum atau marah-marah lagi, tanpa alasan yang jelas.
“Kalau cucuku,” lanjut Bu Rya, “setiap Lebaran pasti ke rumah. Menantuku pintar sekali masak.”
Semua tertawa kecil, membandingkan cerita menantu dan cucu dengan nada bangga. Mami Elsa meremas gelas jusnya pelan. Ia paling tidak suka topik itu.
Dua kali punya menantu. Dua kali pula bukan dari kalangan yang ia harapkan. Menantu pertama, Jasmine. Perempuan pekerja keras dari kampung. Menantu kedua, Azalea. Juga wanita lembut dari kampung. Seolah nasib sengaja mempermainkannya.
“Jeng Elsa,” tegur Bu Rya, “kenapa melamun?”
Mami Elsa tersentak kecil. “Cuma sedang memikirkan sesuatu.”
“Aku dengar Enzo sudah menikah lagi,” sela Bu Dewi dengan mata berbinar penasaran. “Siapa istrinya? Dari keluarga mana?”
Mami Elsa menegakkan punggungnya. “Enzo menikah dengan kerabat jauh,” jawabnya tenang. “Waktu itu sangat mepet, jadi tidak dirayakan besar-besaran.”
“Oh, begitu.” Bu Dewi mengangguk-angguk.
Namun dalam hati, Mami Elsa merasa panas. Kerabat jauh. Itu jawaban paling aman. Ia tak ingin menjelaskan bahwa menantunya berasal dari kampung kecil. Ia tak ingin kembali mendengar bisik-bisik meremehkan.
Mami Elsa punya alasan sendiri. Bukan sekadar gengsi ingin punya menantu dari keluarga terpandang. Bukan sekadar status sosial yang ingin ia jaga di hadapan teman-temannya.
Itu luka lama. Luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, hanya tertutup waktu dan kesibukan.
Ayahnya dulu seorang saudagar kaya. Pemilik beberapa gudang tekstil dan lahan perkebunan. Namanya disegani. Jika ia datang ke sebuah acara, orang-orang berdiri menyambut. Jika ia berbicara, semua mendengarkan. Di rumah, ia terlihat sebagai kepala keluarga yang tegas dan berwibawa.
Setidaknya, begitu yang Elsa kecil percaya. Namun, kehormatan itu runtuh ketika ia berusia enam belas tahun.
Awalnya hanya bisik-bisik pelayan. Lalu, tamu misterius di malam hari. Hingga suatu sore, ia melihat sendiri ayahnya turun dari mobil bersama seorang perempuan asing.
Perempuan itu sederhana. Kulitnya sedikit gelap karena matahari. Rambutnya diikat seadanya. Bajunya longgar dengan kain murah. Cara bicaranya masih kental dengan logat desa. Ia berdiri canggung di halaman rumah besar mereka, membawa tas kecil.
Elsa remaja berdiri di balkon lantai dua, memandang dengan jantung berdebar.
Beberapa minggu kemudian, semuanya menjadi jelas. Ayahnya berselingkuh. Perempuan itu bukan sekadar pekerja atau kenalan. Ia adalah simpanan sang ayah, bahkan kemudian diketahui telah memiliki anak dari ayahnya.
Ibunya mencoba bertahan. Ia masih ingat malam ketika suara piring pecah terdengar dari ruang makan.
“Aku istrimu yang sah!” teriak ibunya dengan suara parau.
“Aku bertanggung jawab pada semuanya,” jawab ayahnya dingin.
“Termasuk pada wanita itu?”
Tak ada jawaban. Yang ada hanya keheningan panjang yang lebih menyakitkan daripada teriakan.
Tak lama setelah itu, perceraian terjadi. Prosesnya cepat. Tanpa drama di pengadilan yang panjang. Ayahnya sudah menyiapkan segalanya.
Rumah besar itu bukan lagi milik mereka. Elsa masih ingat hari ketika koper-koper dikeluarkan. Pelayan-pelayan menunduk, tak berani menatap. Beberapa berbisik. Beberapa pura-pura sibuk.
Ibunya duduk di ruang tamu dengan wajah pucat. Tangannya gemetar ketika memegang tas tangan.
“Papa pilih dia,” kata ibunya bergetar, hampir tak terdengar. “Wanita kampung itu.”
Ayahnya berdiri tak jauh, wajahnya kaku. Ia tidak memeluk putrinya. Tidak meminta maaf. Bahkan tidak menoleh ketika Elsa menangis.
Sejak hari itu, sesuatu dalam diri Elsa berubah. Ibunya memang masih memiliki keluarga berada. Mereka tidak jatuh miskin. Secara materi, hidup mereka tetap layak. Namun, mental ibunya runtuh. Perempuan yang dulu anggun dan percaya diri itu berubah menjadi murung. Jarang keluar kamar. Kehilangan semangat hidup.
Elsa remaja harus tumbuh lebih cepat. Menahan malu di sekolah. Menjawab tatapan iba dan bisik-bisik teman. Semua karena satu perempuan yang menurutnya datang dari kampung dan merusak segalanya. Dan luka itu semakin dalam ketika ia mengetahui sejarah keluarga dari pihak ayahnya.
Kakeknya dulu melakukan hal serupa. Selingkuh dengan pembantu rumah tangga. Memberikan rumah kecil di pinggiran kota untuk gundiknya. Menghidupi anak-anak hasil hubungan itu dengan diam-diam.
Seolah pengkhianatan itu adalah warisan. Seolah perempuan sederhana dari kampung selalu menjadi “ancaman” dalam pikirannya.
Sejak saat itu, Elsa bersumpah dalam hati, Ia tidak akan pernah mempercayai perempuan kampung. Ia tidak akan pernah membiarkan keluarganya dihancurkan oleh “tipe yang sama”.
Maka ketika Enzo dulu memilih Jasmine, perempuan pekerja keras dari desa kecil, hatinya sudah menolak sejak awal. Meski Jasmine tak pernah berbuat salah, bayangan masa lalu terus menempel di wajahnya.
Dan kini, Azalea adiknya Jasmine. Perempuan sederhana dan lembut. Tidak berasal dari lingkaran sosialnya. Tidak memiliki latar belakang gemerlap.
Luka lama itu kembali berdenyut. Bukan karena Azalea melakukan kesalahan. Bukan karena ia tidak baik. Akan tetapi, karena setiap kali melihatnya, Mami Elsa seperti melihat bayangan masa lalunya sendiri. Bayangan perempuan yang pernah membuat ibunya hancur.
“Elsa, kamu tidak pernah cerita detail tentang menantumu yang sekarang,” ujar Bu Dewi lagi, penasaran.
Mami Elsa tersenyum tipis. “Yang penting anakku bahagia.”
Kalimat itu terdengar manis. Tapi dalam hatinya, ia sendiri tak yakin.
Setelah makan siang selesai, mereka memutuskan pindah lokasi ke rumah Bu Dewan untuk melanjutkan kumpul-kumpul.
“Aku yang bawa mobil,” kata Bu Rya.
Mereka tertawa-tawa ringan di dalam mobil mewah itu. Obrolan berlanjut tentang arisan, liburan ke luar negeri, hingga rencana reuni sekolah.
Mami Elsa duduk di kursi penumpang depan. Pandangannya kosong menatap jalan. Bayangan masa lalu terus muncul. Wajah ibunya yang murung. Tatapan ayahnya yang dingin. Dan perempuan kampung itu yang berdiri dengan wajah menang, seolah telah merebut segalanya.
“Semua perempuan kampung sama saja,” gumam Mami Elsa pelan tanpa sadar.
“Apa, Jeng?” tanya Bu Rya yang fokus menyetir.
“Tidak apa-apa.”
Mobil melaju cukup kencang di jalan besar. Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari menyeberang jalan dari arah kanan.
“Ya Allah!” teriak Bu Rya panik. Refleks, ia membanting setir ke kiri.
Suara decit ban memekakkan telinga. Mobil oleng. Semua orang menjerit.
BRAAAAK!
Mobil menghantam benteng pabrik plastik di sisi jalan. Suara benturan keras menggema. Airbag mengembang. Kaca depan pecah. Asap tipis keluar dari kap mesin.
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.
Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi