SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romi Sekolah Di SMA Harapan Bangsa
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan tahun berganti tahun—seolah waktu tanpa terasa berlalu begitu cepat. Sepuluh tahun telah terlewati dari kehidupan Romi dan emaaknya Susi, membawa dengan diri deretan kenangan yang tak terlupakan: mulai dari hari-hari Romi menjual es mambo dan membantu ibunya berjualan sayuran di pasar, hingga momen pahit ketika Pak Bayu—bapak Romi—meninggal mendahului mereka karena sakit paru-paru yang tidak kunjung sembuh sekitar dua bulan yang lalu. Kepergian ayahnya membuat dunia Romi seketika menjadi gelap gulita, namun tak lama setelah itu, sosok Paman Faisal—kakak kandung Bayu Buana yang tinggal di daerah Perumahan BSD—datang untuk memberikan bantuan.
Paman Faisal sangat sayang kepada Romi seperti anaknya sendiri. Dia menanggung segala kebutuhan sekolah Romi, mulai dari uang pangkal, biaya buku pelajaran, hingga seragam sekolah. Meskipun begitu, terkadang Romi merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik perhatian Paman Faisal yang begitu besar—seolah ada tujuan tertentu yang belum terucapkan. Wallahu a'lam bi syawab, ucap Romi dalam hati setiap kali merasa curiga, lalu dia segera mengusir pikiran itu dan bersyukur karena masih ada orang yang mau membantunya.
Sekarang mereka berdua telah hijrah dari rumah kontrakan lama di belakang pasar Sewon dan menyewa rumah kecil berlantai satu di Kampung Lengkong Wetan. Tempat ini terletak tepat di belakang kawasan perumahan elit BSD (Bumi Serpong Damai) di Kota Tangerang Selatan—tempat yang cukup jauh dari pusat kota tapi lebih tenang dan aman. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar kecil, satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai dapur, dan sebuah kamar mandi yang harus dibagikan dengan tetangga sebelah. Meskipun sederhana, Romi dan emaaknya merasa bahagia karena memiliki tempat tinggal yang layak.
Usia Romi kini genap 16 tahun, dan hari ini adalah hari yang sangat spesial baginya—hari pertama dia diterima sebagai siswa baru di SMA Harapan Bangsa. Sekolah ini bukan hanya sekolah biasa, melainkan sekolah terfavorit dan paling bergengsi di Kota Tangerang Selatan, bahkan di seluruh Provinsi Banten. Banyak anak-anak dari keluarga kaya dan berpengaruh yang bersekolah di sini, karena fasilitasnya sangat lengkap mulai dari laboratorium komputer canggih, lapangan olahraga standar internasional, hingga perpustakaan yang menyimpan ribuan buku dari berbagai negara.
Ketika Romi pertama kali menginjakkan kaki di halaman sekolah, matanya langsung terpana melihat gedung sekolah yang megah dengan warna putih bersih dan aksen kaca yang mencerminkan sinar matahari pagi. Taman di sekitar gedung penuh dengan bunga-bunga berwarna-warni dan pepohonan rindang yang memberikan kesegaran. Siswa dan siswinya berjalan dengan rapi mengenakan seragam yang rapi dan bersih—baju putih dengan dasi atau rok merah muda yang selalu terlihat baru. Selain itu, setiap siswa tampak memiliki aroma wangi yang segar dan konsisten, karena aturan sekolah yang sangat ketat tentang kebersihan pribadi dan penggunaan parfum atau deodoran yang sesuai standar.
"Masyaaa Allah... Waaah, amazing! Luar biasa sekali! Betapa indahnya sekolah ini!" hati kecil Romi bersuara penuh kagum. Dia merasa seperti berada di dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya sehari-hari. Namun rasa kagumnya segera sirna ketika suara kasar dan menggertak datang dari arah belakangnya.
"Hey, orang miskin! Kemari loe sekarang juga!!!" teriak seorang laki-laki dengan tubuh super gendut yang mengenakan seragam kelas 12C. Dia adalah Bowo, salah satu siswa kelas atas yang dikenal kasar dan sering menyiksa siswa baru. Rambutnya yang sedikit botak mengkilap terkena sinar matahari, dan wajahnya yang merah memerah karena sedang marah-marah. "Ayoo cepetan dong! Jangan lama-lama aja kayak orang gak punya kerjaan!" ucap Bowo sambil menggerakkan tangannya seperti ingin menarik Romi.
Romi merasa sedikit canggung dan segera berjalan kecil menghampirinya, tangannya yang memegang tali tas sedikit gemetar karena rasa tidak nyaman. Tasnya yang sudah lama digunakan terlihat kusam dan sedikit sobek di bagian tepi, berbeda jauh dari tas-tas merek terkenal yang digunakan oleh siswa lain. "Ya Kak, ada apa?" tanya Romi dengan sangat sopan, kepalanya sedikit menunduk sebagai tanda hormat.
"Ada apa? Ada apa? Sok kenal banget sih loe sama gue!" kata Bowo dengan nada menyengat, matanya melihat ke bawah ke arah Romi dengan pandangan menyindir. "Gue sudah memperhatikan loe sejak tadi dari jauh. Loe jelas beda sama siswa lain di sini. Sepertinya loe tidak mematuhi aturan yang sudah berlaku di SMA Harapan Bangsa! Kamu tidak merasa malu dengan penampilan loe yang jelek dan lusuh?"
"Aturan apa ya Kak? Apakah aku salah?" tanya Romi dengan wajah penuh kebingungan. Dia benar-benar tidak tahu di mana kesalahannya, karena dia sudah berusaha mengenakan seragam yang paling bersih mungkin—meskipun warnanya sudah mulai pudar akibat sering dicuci. "Aku tidak paham maksud Kakak. Tolong jelaskan saja Kak, biar aku bisa memperbaikinya."
"Dasar otak udang loe!!!" Bowo mulai naik darah, giginya bergeretak keras saat dia menahan amarah yang hampir meledak. Kedua tangannya mengepal erat sampai urat-urat di lengannya tampak jelas. "Nama loe siapa? Jangan bilang loe lupa nama sendiri!" tanyanya lagi dengan suara yang lebih keras, membuat beberapa siswa lain berhenti berjalan untuk melihat apa yang terjadi.
"Nama aku Kak?" Romi tidak sengaja balik bertanya, karena dia sedikit terkejut dengan sikap kasar Bowo. Dia memang belum terbiasa dengan orang yang berbicara dengan nada kasar seperti itu.
"Ya nama loe lah! Emang ada orang lain lagi selain loe yang berdiri di depan gue sekarang ini?" ujar Bowo dengan nada kesal, matanya melotot tajam ke arah Romi. "Jangan buat gue makin marah! Jawab aja yang jelas!"
"Nama aku Romi, Kak," jawab Romi pelan, suara sedikit bergetar karena takut. Dia mencoba tersenyum meskipun hatinya sudah mulai berdebar kencang.
"Nama lengkap loe? Jangan bilang hanya Romi aja!" tanya Bowo lagi tanpa mau berhenti, tubuhnya yang besar mendekat ke arah Romi sehingga membuatnya merasa tertekan.
"Buat apa tanya nama lengkap segala sih Kak?" tanya Romi kembali dengan rasa penasaran, tidak menyadari bahwa pertanyaannya membuat Bowo semakin kesal. Dia memang tidak mengerti mengapa seseorang harus meminta nama lengkap dengan cara yang begitu kasar.
"Dasar semprul loe! Otak loe taruh di dengkul ya? Gue tanya, loe wajib jawab—jangan balik tanya lagi ke gue seperti orang gak punya pendidikan!" seru Bowo dengan marah, tangannya hampir menyentuh bahu Romi.
"Udah bro, kita tidak usah banyak bicara deh. Kita sikat aja giginya sampai dia tahu diri!" ujar Yoga—teman Bowo yang lebih kurus tapi wajahnya sama saja kasar—sambil mendekat dari arah samping. Rambutnya yang panjang dan kusut membuatnya terlihat lebih tidak rapi dibandingkan Bowo.
"Pasti bentar lagi setelah gue tahu nama lengkap cecunguk ini, kita sama-sama bersihin giginya sampai bersih! Biar dia tidak berani sok tahu lagi dengan orang kelas atas!" ucap Bowo kepada Yoga sambil menatap Romi dengan pandangan yang penuh kebencian.
"Ayoo jawab sekarang juga! Jangan diam aja kayak ayam sayur yang mau disembelih! Kalau diam, berarti loe memang mengaku salah!" ledek Yoga sambil tertawa sinis, membuat beberapa siswa yang melihat juga ikut tertawa mengejek Romi.
"Oke Kak, aku akan jawab dengan jujur. Namaku Romi Arya Wisesa," ucap Romi dengan suara jelas dan tegas, meskipun hatinya masih sangat takut. Dia merasa tidak ada salahnya menyebutkan nama lengkapnya, karena itu adalah nama yang diberikan oleh bapaknya sebelum wafat.
"Dasar pecundang! Konyol banget sih loe! Gue tanya serius tentang identitas loe, tapi loe malah main-main jawabnya dengan menyebut nama keluarga besar!" Bowo semakin marah, wajahnya yang merah memerah kini semakin gelap akibat amarah. Dia mengepalkan tinjunya dan menggerakkannya dekat wajah Romi sebagai ancaman. "Apa loe pikir gue akan tertipu dengan nama belakang yang terkenal itu?"
"Aneh banget nih Kakak... Aku sudah jawab dengan benar sesuai dengan nama yang tercatat di Kartu Pelajar saya. Kenapa Kakak malah marah-marah?" sindir Romi dengan nada lembut tapi tegas, meskipun dia masih merasa takut. Dia tidak mengerti mengapa menyebutkan nama sendiri bisa membuat orang lain marah.
"Hadeeh hadeeh... Kamu tahu tidak siapa Arya Wisesa? Dia adalah pengusaha terkaya di Provinsi Banten lho! Pemilik ratusan perusahaan di berbagai bidang mulai dari pertambangan, pertanian, hingga teknologi informasi! Nah, loe siapa berani ngaku-ngaku keluarga dari Arya Wisesa yang terkenal itu?" ucap Yoga dengan suara penuh meremehkan, matanya melihat ke bawah ke arah Romi seperti melihat sesuatu yang tidak berharga.
"Aku tidak main-main, Kak. Namaku memang begitu sejak lahir—tidak ada satupun kata bohong yang telah aku katakan. Aku tidak perlu ngaku-ngaku jadi anak pengusaha, karena hidupku yang sederhana sudah cukup jelas menunjukkan siapa aku sebenarnya. Buat apa juga aku ngaku-ngaku punya hubungan dengan Pak Arya Wisesa yang bahkan aku tidak pernah lihat langsung?" jawab Romi dengan jelas dan jujur, matanya menatap lurus ke arah Bowo dan Yoga tanpa mau mundur.