"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketapel Kayu dan Air Mata Ibu
Di dalam kabin jet pribadi yang kedap suara dan sangat mewah, Juno tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kyra. Surat cerai yang baru saja dikonfirmasi oleh pengacaranya adalah dokumen paling berharga yang pernah ia pegang, melebihi kontrak bisnis triliunan rupiah mana pun.
"Ra... kamu dengar? Kamu sudah bebas. Secara hukum, secara fisik, kamu bukan lagi miliknya," bisik Juno.
Ia menarik Kyra ke dalam pangkuannya, menciumi wajah wanita itu tanpa henti—mulai dari kening, pipi, hingga ke sudut bibirnya yang lukanya kini mulai mengering. Ciuman Juno kali ini terasa berbeda; bukan lagi ciuman yang terburu-buru karena rasa takut akan kehilangan, melainkan ciuman kemenangan yang penuh kelegaan.
"Jun, malu... ada pramugari," bisik Kyra sambil tertawa kecil, meski tangannya melingkar erat di leher Juno.
"Biarkan saja. Seluruh dunia harus tahu kalau kamu milikku sekarang," Juno membenamkan wajahnya di ceruk leher Kyra, menghirup aroma yang selalu menjadi candunya. "Belasan tahun aku menunggu momen ini, Ra. Momen di mana aku bisa menciummu tanpa bayang-bayang pria brengsek itu."
Kyra mengusap rahang tegas Juno. "Terima kasih, Jun. Terima kasih sudah menjemputku dari neraka itu."
"Aku tidak menjemputmu, Ra. Aku hanya mengembalikanmu ke tempat seharusnya kamu berada," jawab Juno serius, sebelum kembali menyatukan bibir mereka dalam kemesraan yang panjang sepanjang perjalanan menuju Singapura.
Mount Elizabeth Hospital, Singapura.
Lantai VVIP itu begitu sunyi dan berkelas. Kyra berjalan dengan langkah gemetar menuju kamar nomor 1001. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut ibunya tidak mengenalinya, atau lebih buruk lagi, ibunya ketakutan melihatnya.
Juno menggenggam tangan Kyra, memberikan kekuatan. "Dia akan mengenalimu. Ibu selalu tahu mana anaknya."
Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman kota Singapura. Rambutnya sudah rapi, pakaiannya bersih, dan wajahnya tampak jauh lebih tenang. Namanya Saraswati, ibu kandung Kyra.
"Ibu?" suara Kyra pecah.
Wanita itu menoleh perlahan. Matanya yang dulu kosong, kini mulai menampakkan binar kesadaran. Ia menatap Kyra lama, lalu setetes air mata jatuh di pipinya yang mulai berisi.
"Kyra... Anak Kota-ku..." bisik Saraswati dengan suara parau.
Kyra langsung lari dan berlutut di kaki ibunya, menangis sejadi-jadinya di pangkuan wanita yang melahirkannya itu. "Ibu... ini Kyra, Bu. Maafin Kyra baru jemput Ibu sekarang..."
Saraswati mengelus rambut Kyra dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Kamu sudah besar... cantik sekali. Maafkan Ibu, Ra... Ibu membuatmu hidup sulit."
Juno melangkah maju, berdiri di samping Kyra. Ia menunduk hormat dengan sangat dalam. "Ibu, apa Ibu ingat saya?"
Saraswati menatap Juno. Ia menyipitkan mata, mencoba menggali memori dari belasan tahun lalu di desa Sukamaju. Tiba-tiba, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.
"Juno? Si anak nakal yang selalu bawa ketapel dan mangga curian?" tanya Saraswati lirih.
Juno terkekeh, matanya berkaca-kaca. "Iya, Bu. Ini Juno."
Saraswati meminta suster di dekatnya untuk mengambilkan sebuah kotak kecil di atas nakas. Dengan tangan yang gemetar, ia membukanya. Di dalamnya, tersimpan sebuah ketapel kayu tua yang permukaannya sudah halus karena sering dipegang.
"Setiap kali penyakit Ibu kambuh di panti, Ibu selalu pegang ini," ucap Saraswati. "Ibu menyimpannya karena Ibu tahu, suatu saat anak nakal ini akan datang untuk menyelamatkan anak Ibu. Terima kasih, Juno. Dulu, kekonyolanmu adalah satu-satunya alasan Kyra tetap tertawa. Kamu menyelamatkannya agar tidak turut gila seperti Ibu."
Saraswati menangis, menarik Juno ke dalam pelukannya bersama Kyra. "Ibu tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu, Juno. Hanya ketapel tua ini... dan satu-satunya harta Ibu, Kyrania. Tolong jaga dia."
Juno menerima ketapel itu dengan tangan gemetar. Ia berlutut di depan Saraswati, mencium tangan wanita itu dengan penuh takzim.
"Ibu, saya tidak butuh harta. Saya hanya butuh restu Ibu," ucap Juno tegas. "Mulai hari ini, saya memohon izin untuk menjadikan Kyrania sebagai istri saya, sebagai nyonya Allegra. Saya berjanji, selama napas saya masih ada, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitinya lagi. Termasuk ayahnya sendiri."
Saraswati mengangguk mantap sambil mengusap air matanya. "Ambillah, Juno. Dia milikmu. Dia selalu menjadi milikmu sejak hari pertama kalian bermain di sungai."
Di dalam kamar rumah sakit yang mewah itu, di tengah isak tangis yang melegakan, sebuah janji suci terucap. Kyra merasa jiwanya yang hancur kini telah utuh kembali. Ia memiliki ibunya, dan ia memiliki pelindungnya.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/